Dunia Emak, Keluarga, Life Lesson for Mom, Momentum, Refleksi

Aksi Keseimbangan Seorang Ibu

Hari esok adalah hari libur terakhir menuju semester 2. Rasanya membersamai Khanza tak cukup hanya dengan 2 minggu. Entah mengapa sindrom yang selalu muncul tiap libur tiba adalah keinginan untuk full di rumah. Ya, saya full di rumah hanya Sabtu dan Minggu. Sisanya hampir 10 jam seharian waktu saya sebagai pengajar di full day school. Sindrom ini menguat begitu hebatnya. Galau mendera.

Pada dasarnya, aku memberi diriku sendiri asupan dosis rasa bersalah “seorang ibu pekerja”. 

Kutipan ini saya dapat dari buku “Life Lesson for Busy Moms”. Kala sindrom itu muncul, saya berusaha menyeimbangkan segala hal, antara impian-impian indah menjadi ibu dan realitas dari berbagai tugas, pekerjaan, serta kekacauan harian. Saya berusaha terus belajar menciptakan quality time dengan keluarga. Usaha di antara jeda rutinitas yang begitu terbatas terutama dengan si kecil. Menguatkan fisik saat harus kembali pada ritme antar-jemput Khanza di rumah neneknya dengan jarak yang cukup jauh dari rumah kontrakan. Resiko melawan angin jalanan sampai komentar orang saat melihat Khanza didekap dalam boncengan motor dengan selimut 2 rangkap, seperti bayi yang dibedong. Semuanya memang ikhtiar sepanjang hidup kan? Mengapa harus galau.

Kualitas waktu dalam membersamai Khanza ingin saya rawat dan tekuri setiap hari. Kualitas yang terasa saat melihat tawa riangnya, celotehnya, keluhannya, tangisannya, bahkan hujan pelukan yang selalu berujung dengan kalimat “Sayaang bundaa…” Semua itu mampu menyembuhkan lelah, mengisi energi untuk esok hari.

Bagaimanapun aksi keseimbangan ini harus terus berlanjut sampai Allah yang menentukan kapan harus berhenti. Bertekad dengan sepenuh kesadaran, saya bahagia jika mencintai keluarga sebaik yang saya bisa. 

#ODOPfor99days

Iklan