Desain Grafis, Semesta, Work by Work

Cinta DKV karena Payah Gambar Manual

Sejak punya komputer yang cukup canggih di masanya yaitu pentium D 😅, saya sudah jatuh cinta pada habit desain grafis. Mengulik corel dan photoshop menjadi sebuah keasyikan tersendiri. Yup, sejak duduk di bangku SMA saya otodidak mengulik sambil trial dan error. Anehnya buku tutorial khusus malah tak terpakai karena malah sulit dipahami. 

Kuliah ingin ke Desain Komunikasi Visual namun batal karena pertimbangan biaya masuk. Jadilah saya berbelok ke jurnalistik karena senang menguraikan tinta jadi lautan kata-kata 😀. 

Sejujurnya yang semakin membuat saya jatuh cinta pada desain bahwa saya sama sekali payah dalam menggambar manual. Namun, saya tercengang dengan kalimat DUSTA yang menghancurkan dalam buku “the Doodle Revolution”. Orang-orang sering bilang kalau:

1) Saya tidak akan pernah mampu menggambar, itu kelemahan genetis saya.

2) Doodle sifatnya anti intelektual dan bukan untuk para pemimpin/pemikir serius.

3) Penggunaan bahasa visual hanya untuk seniman sejati.

Saya semakin tertantang menyelami dunia desain dan semakin bersyukur pernah menyerap pembelajaran berharga sebagai “tukang setting”. 😄 Yups, saya 3 bulan pernah terjun bebas selepas wisuda dan melamar sebagai tukang desain setting di percetakan Pagarsih. Meski 3 bulan, ownernya begitu telaten dan toleran dengan saya yang masih trial-error. Wejangan yang takan pernah saya lupa adalah:

  1. Kamu harus tahu komposisi yang tepat dan buat desain seproporsional mungkin.
  2. Dilarang menarik gambar/font/objek foto yang merusak ukuran asli jadi gepeng atau gemuk.
  3. Selalu paham batas aman garis tepi layout, amankan 2 cm untuk desain apapun.
  4. Jangan banyak-banyak install font karena bikin coreldraw bisa ngehang, pakailah font navigator.

Dan sederet pelajaran lainnya, ini tak saya dapat dari perkuliahan desain komunikasi visual (DKV) tapi dari “bos” saya waktu bekerja dulu. 

Rasanya DKV membuat mata saya lebih berbeda dalam melihat berbagai karya visual. Billboard pinggir jalan, iklan di koran, desain manapun memberikan serpihan ide yang terserak. Ya, dunia desain begitu menggelorakan minat dan impian saya. Ingin mengolaborasikan semuanya dengan berbagai tantangan.

Di dunia pendidikan, saya belajar terus membuat media pembelajaran visual. Dunia emak-emak, ingin membuat semacam display untuk anak belajar di rumah. Dunia handmade, bikin desain branding sendiri. Dunia dakwah, ya dunia yang satu ini menjadi yang utama dalam memberikan infografis dari Al-Quran dan As-Sunnah. Inilah puzzle dunia desain yang saya inginkan. Meskipun saya lemah dalam mengukir pensil atau drawing pen, setidaknya saya menyelami kanvas virtual dan berkarya di sana sebisa mungkin.

#ODOPfor99days

Iklan