Dunia Anak, Dunia Emak, Keluarga, Life Lesson for Mom

Jelang Menyapih dengan Cinta

​Hari ini Khanza sudah melewati fase 22 bulan, yang artinya ada waktu 2bulan kedepan baginya untuk tetap menempel pada ASI. Yah… 2 bulan cukup singkat dibanding 22 bulan yang dilalui. Rasanya seperti ada yang hilang dari dekapan jika belum terbiasa dengan proses menyapih.

Banyak orang beranggapan kalau ASI tidak perlu dilanjutkan karena anak sudah mengonsumsi makanan yang terbiasa dimakan orang dewasa. Hal ini juga muncul di sekitar saya. “Udah disapih aja lebih awal biar nafsu makannya bagus.” ujar anggota keluarga saya.
*menghela nafas

Bukan tak ingin membuat nafsu makan Khanza meningkat, tapi saya benar-benar membutuhkan ruang untuk menyapih dengan alami sambil memahami perkembangan si kecil. Kadang menyusui memang sekadar membuatnya cukup mudah nengantuk dan tidak seintens pada usia sebelum MPASI. Asal menempel saja cukup menenangkan tangisannya saat rewel. Hal ini semakin saya rasakan setelah Khanza tengah sakit dan terkulai lemas. Tak mau makan kecuali dirayu dan dibujuk atau sambil menonton video kesukaannya. Tiba-tiba tebersit keinginan untuk menyapih lebih awal. 

*hampir menyerahkah saya…

Saat anak berusia 12-23 bulan, ASI sebanyak 448 ml memberikan: 29 % kebutuhan energi, 43 % kebutuhan protein, 36 % kebutuhan kalsium, 75 % kebutuhan vitamin A, 76 % kebutuhan folat, 94 % kebutuhan vitamin B12, dan 60 % kebutuhan vitamin C. (F. B. Monika dalam Buku Pintar ASI dan Menyusui) 

Sungguh saya ingin menghatamkan momentum menyusui sesuai ketentuan-Nya. Menghadapi tantangan dan anggapan orang tentang idealitas menyapih yang sempurna. Toh saya pun memiliki keterbatasan waktu penyusuan sejak berhenti pompa ASI untuk Khanza sejak usianya 10 bulan. Ya, saya menyusuinya hanya sesaat sebelum berangkat mengajar dan setelah pulang sore hari. Artinya 10 jam Khanza dibantu susu formula. Setelah saya pulang, si kecil bisa mengabaikan dot susu yang masih penuh dan berlari untuk menempel pada ASI. Saya merasa sangat dibutuhkan ketika itu, betapa Allah menciptakan keterikatan batin dan emosi lewat menyusui.

Tantangan menyusui setelah Khanza bisa dibilang bukan bayi lagi adalah kebiasaan menyusuinya yang semakin lincah dan akrobatik. Bundanya tidak boleh sedikitpun menyentuh benda lain termasuk ponsel sampai kakinya menahan tangan saya untuk tetap diam tak menyentuh apapun. 😅😆 Semakin ingin diperhatikan dan bisa cemburu. 

Belajar untuk bernegosiasi, itulah cara yang harus saya lakukan saat si kecil mulai terus ketergantungan ASI tapi tak mau makan sama sekali. Saya harus mengabaikan tangisannya dan berjuang mengalihkan perhatiannya sambil menyuapinya perlahan. Ya, ada hari-hari dimana sesuap nasi seolah menjadi hal yang mustahil. Bahkan dalam sehari Khanza hanya makan sekali. Sedih karena merasa gagal membujuk membuat nafsu makannya bertambah. Hmm, perjuangan sebenarnya baru saja dimulai. 

Menyapih dengan cinta harus saya lalui dengan berbagai tantangan di hadapan. Secara bertahap harus dilakukan dengan cara:

  1. Mengurangi frekuensi menyusui
  2. Tidak menawarkan menyusu dan tidak menolak saat si kecil minta menyusu
  3. Cari kegiatan pengganti menyusui seperti bermain bersama, berjalan ke luar rumah, dan lainnya.
  4. Mengenakan pakaian yang sulit dibuka (bagian dada) oleh anak
  5. Ajari si kecil belajar menunggu dan memberikan pilihan untuk melakukan kegiatan lain lebih dulu
  6. Buat kesepakatan mengenai hadiah yang diperoleh anak bila berhasil disapih. (F.B. Monika)

Berjuang bekerjasama dengan ayah untuk menyamankan Khanza keluar dari zona nyaman menyusui. Berbagai hal menunggu di depan mata. Di antara sentuhan sayang, pelukan, ciuman, dan pijatan untuk Khanza meski tak lagi menempel di dada untuk disusui. Kamu sekarang beranjak menjadi gadis kecilnya bunda, Nak.

#ODOPfor99days

Iklan