Keterampilan HT, MGMP Prakarya, Pendidikan

Pertemuan TIK dan Prakarya

Selama ini para guru yang mengampu prakarya kebanyakan berlatarbelakang non linear. Ada yang berasal dari jurusan seni tari, seni rupa, seni budaya, IPA, dan lainnya. Seperti saya yang non pendidikan, sarjana jurnalistik yang berganti mapel sejak awal mengajar. Tahun pertama Bahasa Indonesia kini keterampilan atau prakarya. 

Pertemuan koordinasi MGMP prakarya dan TIK ini di SMP 23 Bandung. Menurut saya, pertemuan ini tak akan memiliki titik temu yang menyamakan semua pihak. Kehadiran peserta 50% prakarya 50 % TIK yang memiliki arahan yang jelas berbeda. Prakarya identik dengan proyek kerajinan produk dan pengolahan pangan. Katakanlah olahan rujak cingur. Maka guru TIK tak akan mungkin mengajarkan materi tersebut dengan cara sekadar mengeprint foto rujak cingur dan pembelajaran selesai. Nah, TIK dan prakarya jelas punya jalur masing-masing. Tentu saja sarana prasarana yang dibutuhkan punya ciri khas tersendiri. 

Lalu, mengapa harus digabung? Ini persoalan krusial karena satu guru bisa mengampu dua mata pelajaran berbeda, akhirnya kondisi ini menurut dinas tak akan diakui legalitasnya. Seorang guru harus menentukan fokus utama mapel yang diampu. Terlebih jadi posisi sulit untuk mereka yang notabene PNS. Mempengaruhi poin dan dapodik terkait tunjangan profesi. Saya bukan PNS dan sebenarnya tak terlalu khawatir. Rasanya mengampu prakarya di kelas 7 dan TIK atau keterampilan multimedia kelas 8-9 menjadi tantangan tersendiri. Malah ide Bandung Smart School sebagai bagian inovasi TIK kota Bandung menjadi poin yang menarik minat saya. 

Apapun mapelnya tentu saja guru tak boleh berhenti mencari referensi dan berinteraksi dengan rekan guru sekolah lain. Pertemuan MGMP ini bisa menjadi momen mempertemukan ide dan saling berbagi dengan terobosan berbeda khas sekolah masing-masing. Namun nampaknya sekarang belum mencapai titik itu. Masih di tahap menyamakan langkah dan masih bertanya mau dibawa kemana arah MGMP prakarya dan TIK. Bagaimanapun saya ingin punya pilihan dalam mengintegrasikan dan menjadikan keduanya sinergis. Dalam arti TIK sebagai media digitalnya sementara prakarya sebagai konten yang disuguhkan. Ya meskipun dalam pandangan dinas tidak sesuai regulasi atau dianggap di luar jalur utama.

#ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s