Diposkan pada Essai, Refleksi

Iqra dan Al-Qalam

“Iqra!” Sesuai dengan titah-Nya yang agung dalam momentum turunnya Firman Allah yang pertama, manusia dituntut untuk senantiasa membaca dengan nama penciptaNya. Ya, senantiasa membaca dalam makna yang luas. Bukan sekadar membaca teks, namun juga membaca kehidupan (dunia). Membaca adalah bagian hakiki dari kehidupan.

Jika membaca membuat sudut pandang semakin luas, maka menulis membuat kita paham tentang konsep diri hingga bisa mengubah sesuatu. Lewat membaca dan menulis, konsep diri akan lebih jelas seiring proses pemilihan bacaan hingga gaya menulis tertentu. Semakin dalamkah atau sekadar di permukaan?

Menulis catatan harian menjadi contoh paling sederhana. Bagaimana manfaatnya terasa yaitu ketika kita mengevaluasi diri hari ke hari secara mengalir. Mengalami, menuliskan, dan belajar dari pengalaman. Menulis membuat dialog dalam diri semakin aktif. Selain itu, mampu mengurai gagasan yang berkelebatan dalam pikiran.

Menulis dan membaca ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

#ODOSfor99days

Iklan

Penulis:

Aku ingin punya ruang yang cukup tuk ekspresikan semua ide dan gagasanku untuk berbagi dengan yang lain. Di sinilah ruang itu...

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s