Menekuri Waktu

Menemukan buku ini di antara deretan buku bacaan masa lalu. Sudah 9 tahun buku ini saya miliki. Tapi saya malu saat membukanya. Ya, terlalu malu. Karena meskipun telah 9 tahun berlalu, saya masih belum tuntas membaca meresapinya sambil mengamalkan. Waktu yang bergulir begitu sia-sia karena mengabaikan sumber ilmu di rak buku sendiri. Astaghfiruka. 😢😭

Buku ini memberikan saya reminder penting tentang berharganya waktu yang dimiliki. Memacu diri untuk selalu menekuri putaran waktu yang dilalui. Sudahkah bertambah amalan kebaikan setiap hari berganti atau malah menyisakan PR dan amanah yang terus tertunda? 

Saya mencoba menganalisa sikap dalam kemampuan mengelola waktu. Namun ketika jawabannya malah lebih banyak “kadang-kadang”, maka komitmen saya dalam menjalankan skala prioritas yang telah direncanakan berarti belum seutuhnya kuat. 

Saya masih mudah terpengaruh oleh “iklan” sambil-lalu di luar rencana. Tergiur agenda orang lain, terpesona oleh kenikmatan jajan, belanja, dan keinginan semu lainnya. Tanpa sadar unduh aplikasi mubah yang digunakan tak sedikitpun kebaikan bertambah. Maka saya segera mendelete aplikasi smule yang awalnya untuk mengisi waktu dengan menyanyi lepas tetapi saya malah lupa untuk tilawah. 

Waktu memang begitu berharga tetapi mengelolanya butuh ketaatan maksimal bukan sekadar berpegang pada to-do-list lalu selesai. Karena jika ketaatan pada Allah telah tertambat dengan kuat, maka rintangan sesulit apapun bisa dilalui berbekal Bismillah. 

#ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s