Belajar dari Kerikil Kehidupan

img_20170212_090055_189

Seminggu kemarin pikiran saya disesaki berbagai kemungkinan yang terjadi. Kekhawatiran, ketakutan, dan mencoba mencari celah untuk bertahan di tengah ujian dariNya yang penuh hikmah terserak. Bulan Februari ini diawali dengan reminder berharga tentang pola makan, pola istirahat, dan kesehatan. Betapa Allah menyayangi keluarga saya lewat kerikil yang Dia hamparkan agar saya dan keluarga melangkah lebih berhati-hati.

Setelah saya sempat tumbang kelelahan karena asam lambung dan radang amandel, suami saya pun mesti berkunjung sejenak ke IGD untuk memastikan kondisi tubuh yang kehabisan cairan setelah muntah semalaman. Perawat yang sempat memasangkan gelang pasien itu membuat saya panik seketika. Muncullah pikiran bagaimana kalau harus dirawat inap, bagaimana kalau diagnosa dokter benar-benar gawat, dan sederet bagaimana kalau lainnya. Terlebih saya belum memiliki jaminan kesehatan untuk keluarga. Hanya 3 jam kurang kami di rumah sakit dan menunggu hasil cek hematologi keluar. Saya menunggu di dalam kamar rawat di samping suami yang tengah lemas setelah disuntik pereda rasa sakit dan diambil darah di lengan. Pikiran saya saat itu benar-benar kalut. Langkah yang belum tegak karena rasa sakit yang saya rasa, membuat saya lebih kuat melangkah dan mengurus ini itu untuk keperluan suami. Mungkin ini jalan dari Allah bagi saya agar lebih mencintai suami dengan berbagai dinamika yang ada. Mengecharge rasa cinta yang sering luput dari senyum dan pelukan hangat setiap pagi.

Alhamdulillah, Allah masih berikan kesempatan berharga karena masih aman berobat jalan. Hasil cek lab yang kedua kali, hasilnya suami positif dehidrasi dan sedang lemah daya tahan tubuhnya. Bagi saya yang kadang malas untuk mengisi tumbler minuman menjadi pelajaran tersendiri bagi habit minum air putih yang tidak mencukupi kebutuhan harian. Banyak minum air putih, kurangi dan hindari kopi.

Pelajaran lainnya adalah hadirnya anak benar-benar melengkapi bahagianya keluarga. Ya, Khanza sempat dititipkan tiga hari dua malam di neneknya, agar saya bisa full mengurus suami yang tengah sakit. Tapi tetap saja ada yang kurang meski dua hari tanpa celoteh dan lincahnya si kecil mengitari ruangan dan membongkar deretan rak buku. Khanza pelengkap keluarga kecil kami. Menemani Khanza bermain dengan spidol dank rayon berserakan membuat saya mengecharge rasa sabar sehari-hari. Tanpa keluhan mendarat, yang saya harus lakukan adalah membimbing si kecil ikut membereskan pernak-pernik yang dimainkan bersama-sama. Meski adakalanya ia mengelak dan membiarkan saya repot membereskan berulang kali.

Di tengah kondisi yang menguji ini, saya berada di komunitas matrikulasi Ibu Profesional Bandung. Dan disanalah Nice Homework#3 diberikan. Bagi saya, Nice Homework ini selalu menjadi sebuah titik balik becermin diri. Merangkai kata demi kata yang tak langsung selesai  atau impas begitu dikumpulkan. Setiap mengumpulkan NHW selalu menjadi awal memulai segalanya dengan perjuangan tanpa henti. Berkaca diri dalam setiap sesi dan review lanjutan. NHW#1  menuntut ilmu, NHW#2 tentang langkah harian sebagai indikator profesionalisme perempuan, dan NHW#3 membangun peradaban dari dalam rumah. NHW demi NHW ini melengkapi setiap gerak langkah untuk diri dan keluarga. Beruntung bisa bergabung dalam komunitas ini. Maka ketika ada perubahan di tengah perjalanan, semoga itu semakin menguatkan atau memperbaiki langkah yang direncanakan semakin matang.

#ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s