Perfeksionis Berubah Dinamis 

Ingin segala sesuatunya terencana, lengkap, dan sempurna. Itulah saya di masa lalu. Sejak kuliah, saya bisa berlama-lama depan tugas makalah hanya memastikan tak ada yang sedikitpun terlewat sampai titik koma sekalipun. 

Saat berada di rumah pun, rasanya pikiran saya dipenuhi target yang seolah tak berujung. Saya pun punya pandangan minor pada mereka yang lambat dan berleha-leha menjalani hidup. Saya dikepung rasa ingin selalu sempurna. Hingga suatu ketika saya sadar ini waktunya bersikap dinamis dan tak memforsir diri.

Allah memberikan saya jalan untuk membuat sisi perfeksionis ini tertampar dengan tempo anak spesial yang jauh berbeda. Saya pernah setahun mendampingi anak berkebutuhan khusus. Tantangan terbesar bagi saya untuk belajar menyelaraskan tempo dan membimbingnya perlahan. Mengikuti ritme konsentrasinya yang tak lebih dari 5 menit dalam dua jam reguler pembelajaran. Anak itu memberikan saya pembelajaran berharga tentang sisi lain di luar keinginan tentang kesempurnaan.

 Jauh dari itu, dia memiliki keterbatasan organ yang membawanya pergi tenang untuk selamanya. Allah lebih menyayanginya dibandingkan siapapun. Terima kasih Ya Rabb, Engkau ijinkan hamba mengenal dan belajar banyak darinya di masa-masa kritis. 

Sisi perfeksionis dalam diri semakin meluruh ketika saya bertemu pasangan yang jauh dari sifat ini. Karakter yang tenang, mencari kedamaian, cenderung easy going, itulah suami saya. Allah memang Maha Adil. Jetlag di awal pernikahan pasti selalu ada. Kami sama-sama belajar saling melengkapi dan berusaha berbincang sebelum tidur. Tentang segala hal. Kelucuan dan tingkah si kecil, rencana bulan-bulan kedepan, dan lainnya. 

Menghadapi Khanza (23 bulan), sisi sang penuntut ini pun melunak. Habitnya bermain dan mengacak barang di ruangan depan, membuat saya belajar mencharger kesabaran. Setiap hari membenahi yang berserakan saat dia mulai bosan. Sesekali Khanza mau diajak membereskan bekas bermainnya bersama-sama. 

Perfeksionis memang bukan kesalahan. Saya pun punya murid di kelas yang benar-benar perfeksionis. Tetapi ada satu gejala yang muncul dan gawat bila tak dikendalikan. Kadang sisi perfeksionis ini menuntut diri selalu sempurna dan akhirnya ragu untuk memulai karena merasa belum mapan untuk melangkah. 

Prinsipnya jalani. Lakukan, lakukan, dan lakukan. 

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s