Diposkan pada Momentum, Pendidikan, Sosial Media

Real Digital Learning

Kamis, 16 Februari kemarin saya mengikuti seminar dan mini workshop Real Digital Learning di Hotel Santika. Ada ekspektasi berbeda sesampainya di sana. Saya pikir keseluruhan acara didominasi tentang metode efektif pembelajaran digital. Ternyata inti dari pertemuan ini terpusat pada perangkat yang digunakan dan konten buku digital saja. Ya, meskipun demikian, yang masih tertanam dalam ingatan adalah tentang belajar itu sendiri, fenomena serba IT, dan sebuah roadmap. 

Saya termasuk generasi Y yang lahir di era 1977-1994. Generasi transisi sebelum era digital sekarang. Generasi Z yang lahir di era selanjutnya menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi saya jika memposisikan sebagai guru. 

Sejak SD hingga kuliah, saya terbiasa banyak mencatat saat di kelas. Bahkan buku-buku arsip zaman dulu begitu menumpuk sampai bisa dikilo ke tukang loak. Belum lagi binder kuliah yang bertambah tiap semester. Pokoknya saat itu tulisan tangan begitu berjaya. 

Kini, zaman sudah jauh berbeda. Anak-anak di kelas saya tak terbiasa mencatat lama-lama, apalagi berlembar-lembar banyaknya. Toh satu halaman juga kadang protes. Mereka lebih suka mengetik berpanjang-panjang di gadget-gadget masing-masing. Ini sudah zaman scroll atas bawah dan screenshoot. Ngapain mencatat segala? Mungkin itu jawaban mereka. Tapi, bagi saya ini tantangan tersendiri. Tulisan tangan tetap istimewa jika berkarakter doodling. 

Fenomena mencengangkan dalam pertemuan ini adalah orang Indonesia terbiasa pelototi smartphone mereka 5,5 jam sehari. Waw! Fantastis. 5,5 jam? Satu sisi saya merasa tertampar dengan realita bahwa angka itu justru tak seimbang dengan kadar literasi informasi digital. Bisa jadi seharian hanya pantang medsos dan menge-scroll WhatsApp tanpa menyerap apa-apa. Banjir informasi dan tenggelam di dalamnya. 

Digital ia happening. Kamu tak bisa menghindari kenyataan ini! Tapi selama memiliki roadmap, kita bisa punya kendali dan navigasi jelas memanfaatkan dunia serba digital. 

Maka di kala anak-anak kehilangan semangatnya untuk mencatat. Saya mencoba mendorong mereka memiliki jaringan lewat blog pribadi. Mendorong untuk terus memiliki kekuatan untuk berbagi. Memanfaatkan gadget mereka untuk tergabung dalam akun komunitas belajar. Misalnya, kelas fotografi dan grup komunikasi satu angkatan.

Keterampilan notabene pelajaran yang terkesan selalu handmade, saya improvisasi menjadi kemampuan belajar digital. Bagaimana anak-anak belajar input data lewat Google Drive. Bagaimana anak-anak tergerak membuat Video Blog (Vlog). Bagaimana anak-anak bisa menggunakan media sosial Instagram dan Facebook sebagai reminder tugas sekolah dan apresiasi interaktif atas inisiatif mereka yang selalu first and done. 

Digital memang masih terus berlanjut. Tapi etika segalanya. Roadmap yang matang menjadikan anak-anak bukan asal klik dan tetap berpacu di dunia nyata. Real Digital Learning yang efektif, pastinya tidak membuat anak-anak mudah baper, mager, dan impulsif di akun sosmed mereka. 

#ODOPfor99days

Iklan

Penulis:

Aku ingin punya ruang yang cukup tuk ekspresikan semua ide dan gagasanku untuk berbagi dengan yang lain. Di sinilah ruang itu...

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s