Keterampilan HT, Pendidikan, SMP Hikmah Teladan

Cerita di Kelas : Belajar Menerima

img_3630
7 Thalhah bin Ubaidillah

Ada pembelajaran menarik hari ini saat saya di kelas 7 Thalhah bin Ubaidillah. Pagi tadi saya membagi kelompok proyek pembuatan miniatur jembatan untuk Ujian Tengah Semester nanti. Teknis pembagiannya, saya lebih dulu memilih 5 leader untuk memimpin 5 kelompok. Leader dipilih bertugas untuk merekrut anggota dan bersama berunding jembatan apa yang akan dibuat miniaturnya.

Cara pemilihan leader ini berawal dari rekomendasi anak-anak yang memilih temannya yang dianggap pantas memimpin yang lain. Disebutlah beberapa nama, hingga seorang anak mengacungkan tangan mengajukan diri, meskipun tanpa direkomendasikan siapapun. Dengan tidak bermaksud mengecilkan inisiatif anak tersebut, saya pun menuliskan namanya. Seketika kelas riuh dan mulai ricuh karena anak-anak langsung bergerak menuliskan teman sekelompoknya. Ternyata oh ternyata… setelah 4 leader kelompok mengumpulkan daftar anggotanya, anak yang tadi justru kecewa karena teman-teman yang belum terpilih dalam kelompok manapun membuat kelompok sendiri. Intinya, timbul oposisi dua kubu. Sang leader merasa tak dihargai. Sedangkan empat temannya keukeuh tidak mau dipimpin dengan alasan ini itu. “Gamau Bu, da si itu mah gini… gitu… ga bisa diajak kerjasama.”

Nah, akhirnya saya dan Bu Eci, manajer kelas 7 Thalhah harus mengobrol duduk bersama mencari jalan keluar karena sudah ada air mata yang mengalir dari salah satu anak (baca = menangis terbawa perasaan alias baper). Kami bersama anak-anak yang tadi bermasalah dalam pembentukan kelompok, mencari akar permasalahan bersama. Mencoba mempertemukan anak-anak yang telanjur terbiasa menjudge temannya, memang cukup rumit. Tetapi, kami coba menanamkan sebuah pembelajaran berharga. Kalau di dunia ini, manusia tak pernah ada yang sama karakternya. Jadi, untuk berinteraksi dengan baik, ada kalanya kita harus siap menerima segala kekurangan dan kelebihan mereka.

“Tapi, kan, Bu, aku mah cape dari dulu selalu kayak gini,” timpal salah seorang anak yang cukup keras dalam berpendapat.

“Hmm… sekarang kamu usianya berapa?”

“11 tahun, Bu.”

“Perjalanan masih panjang, lho. Semuanya butuh proses, jangankan kamu. Ibu pun masih harus terus berjuang menerima dalam segala hal, mau karakter atau kondisi. Pokoknya, belajar menerima dan memahami itu perjuangan seumur hidup.”

Silence… semuanya terdiam. Jadi, gimana sekarang solusinya?

Anak yang tadi menjadi leader akhirnya mengalah hanya menjadi anggota dan mempersilahkan temannya untuk membuat formasi baru. Alhamdulillah, mereka bisa menerima setelah dipertemukan dan berbincang bersama.

“Gapapa Bu, aku aja jadi leadernya tapi FM (red=nama anak yang menangis tadi)  yang jadi wakilnya.”

Jalan tengah yang dipilih. Semoga tak ada lagi yang tersakiti hanya karena prasangka teman.

“Hey, ini baru awal, lho. Ayo nanti sama-sama kalian buktikan untuk menciptakan karya terbaik dengan kerjasama yang kompak.”

*memanfaatkan wi-fi sebelum gerbang sekolah ditutup Pukul 17.00 WIB

#ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s