Dunia Anak, Dunia Emak, Ilmu Komunikasi, Keluarga, Life Lesson for Mom

Diksi Berkomunikasi dengan Anak

Kalau diksi selama ini berlaku untuk proses memilih kata dalam menuliskan wacana, maka seiring pesatnya kosa kata Khanza di usia 2 tahunnya, diksi berperan maksimal. Khanza sangat begitu peka dengan setiap kata yang terucap dari orangtuanya dan lingkungan sekitarnya. 
Salah berucap atau kata-kata yang bagi saya biasa saja bagi Khanza berarti mengaduk emosinya. Mengubah emosi dari rileks jadi meledak-ledak. Khanza sangat kuat ingatannya. Saat ia sedang anteng sendiri jelang tidurnya, saya melagukan sebuah doa yang biasa Khanza tonton di laptop. Seketika ia memaksa sambil berteriak, “Bunda, mau laptop, mau nonton video doaa.” Wah, saya tak menyangka secepat itu responnya. Khanza benar-benar merekam semua yang ia dengar dan tonton. Semuanya dia ingat dengan baik.

Pembelajaran berharga untuk menyeleksi kata-kata. Harus berhati-hati saat membujuknya dengan rayuan spontan yang saya sendiri tidak bisa mengabulkannya dalam waktu cepat. Nak, mandi yuk nanti kita beli es krim. Nah, ternyata bahasa “nanti” yang orangtua ucapkan seringkali bermakna kapan-kapan. Sedangkan untuk anak, kata-kata itu sudah tertanam dalam benaknya, oh aku mandi dapat es krim. Saat es krim tak kunjung didapatkan, alhasil anak kecewa dan bisa jadi tantrum tak terkendali. Meskipun ia sendiri tak mengutarakan langsung. 

Khanza benar-benar peka dalam segala hal. Saat dibonceng di motor sekalipun, ia masih bisa berceloteh melihat kupu-kupu dan pesawat yang jauh seperti titik di langit. Ya, itu dia ucapkan saat motor cukup melaju kencang. Sesuatu yang seringkali luput dari pandangan saya dan suami. Segala hal baginya seolah selalu diapresiasi dan dirayakan. Kereta dan pesawat lewat, ia berceloteh, “Dadah eta, dadah awat.” Sesudah mandi, ia sering bersorak girang, “Dadah air.” ☺😅😆

Di tengah majlis ilmu yang saya ikuti hari ini benar-benar menantang karena Khanza ikut dibawa. Rentang konsentrasinya yang hanya 2 menit benar-benar membuat fokus saya terbagi. Saya harus sigap memantaunya berlari-lari. Ia memaksa ingin naik tangga di dalam ruang pertemuan. Saya ikuti perlahan dan terus memantaunya. Pembelajaran baru bahwa saya lupa kalau Khanza memang sedang lincah-lincahnya. Ia memerlukan perkakas pribadi agar konsentrasinya bisa disalurkan pada mainan yang mudah dibawa, cemilan saat lapar, dan perawatan khas balita dalam tas kecilnya. 

#ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s