Energi Working Mom

Waktu menunjukkan pukul 21.22 WIB, akhirnya Khanza tertidur pulas setelah berkali-kali ubah posisi dan request susu sebelum tidur. Energi saya sudah lowbat sebenarnya. Saat Maghrib baru sampai rumah, inginnya langsung memeluk Khanza dan tidur. Tapi… Khanza masih semangat mengajak main dan request ini-itu. Mau diayun ambinglah, mau jungkat-jungkit di atas paha bundanya, mau nonton di laptop, dan minta susu berkali-kali. Kalau menuruti ego sendiri, inginnya memaksa Khanza bobo apapun caranya. Tapi lagi-lagi saya harus tetap charger energi lebih seorang working mom. Ya, ladang amal seorang ibu teruji di sini. Bersabar mengikuti ritme anak. 

Khanza di usia 25 bulan ini mulai bisa diajak mengobrol pelan-pelan meski tidak fokus satu topik. Saya sounding rencana bulan depan tentang liburan Khanza bersama neneknya. “De, tanggal 10 nanti renang sama Enin, ya!” Awalnya dia menolak tapi ketika saya bujuk dengan bawa pelampung/ban bebek, barulah Khanza setuju sambil mengulang-ulang permintaannya. “Mau bawa ban bebek, Nda, ban bebek ya!” 

Khanza sudah punya cara sendiri dalam menghibur diri. Boneka jari dia selipkan di leher lalu haha-hihi merasa geli. Energi ini rasanya otomatis lebih terisi melihat canda-tawanya. Saya menunda segala tugas dan buku yang ingin dibaca sampai dia mengantuk dan terlelap. 

Sebagai working mom, Alhamdulillah Khanza bisa dibawa habit bangun lebih awal karena saya harus bergegas pergi mengajar. Bahkan sudah 2 bulan terakhir, Khanza bisa digendong depan oleh ayahnya naik motor, jadi rutinitas antar-jemput cukup ringan karena tidak usah bolak-balik dari kontrakan, sekolah, dan rumah neneknya Khanza. Awalnya Khanza pasti beradaptasi terhadap segala hal baru baginya. Proses adaptasi pertama kali diawali tantrum sepanjang jalan menangis karena digendong ayahnya. 

Yang belum tercapai saat ini adalah memanfaatkan weekend dengan mengaplikasikan program buku Rumah Main Anak bersama Khanza. Pekan lalu dan sekarang masih saja berjibaku dengan kesibukan jelang ujian akhir anak-anak. Kadang suami pun menasihati jangan terlalu ngoyo dalam beraktivitas. Tetapi saya seakan merasa bersalah kalau segala tugas belum tuntas dalam target terdekat. Insting workaholic saya baru mereda ketika Khanza menyambut saya pulang di ujung senja. Berlari ke arah pintu dan langsung memeluk mesra. 

It’s Khanza Time. Sejak saya pulang harusnya Khanza menjadi fokus utama saya tanpa diganggu pikiran tugas ini-itu. Setelah Khanza tertidur, barulah saya bisa melanjutkan me time seperti blogging dan memeriksa daftar joblist untuh hari esok. 
*menyemangati diri sendiri di ujung lelahnya hari-hari penuh kesibukan

#ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s