Diposkan pada Essai, Literasi, Review Book, Selaksa Rasa, Semesta, Semiotika

Menyerap Ide dari Buku Desi Anwar: Faces&Places 

Tergerak mengambil buku “Faces&Places” dari rak buku sekolah untuk menemani senggang waktu sebagai panitia UNBK. Ya, takdir membawa saya tetap stay satu pekan kedepan, di saat rekan lain menikmati liburan panjang imbas momen ujian kelas 9. Syukuri dan ambil hikmah yang terserak.

Begitu membuka lembaran buku yang ditulis Desi Anwar ini, saya dikejutkan oleh judul “Laut”. Bagi saya, ini seperti kepingan puzzle yang saya temukan pasca menguraikan catatan diri “Pertama Kali ke Pantai”.  

Saya tak pernah melihat sesuatu yang begitu besar, asing, dan menggentarkan. Juga begitu indah. Saya terjerat antara takut dan kagum. Ada bunyi yang baru bagi telinga saya. Bunyi debur gelombang. Ada iramanya, seperti jantung yang berdegup. Dan tak henti-henti. Lagi dan lagi. Tak pernah berakhir. -Faces and Places, Laut, hlm.23-

Rasanya seperti disadarkan selaksa cara pandang reflektif terhadap suatu tempat. Tempat manapun yang kita singgahi, bisa memberikan makna tersendiri kalau kita punya mata yang tak sekadar melihat. Lebih dari itu, menelisik nuansa dengan menyimak isyarat dan sesuatu di balik segalanya. Mendengar bukan saja headset yang bertengger di telinga dengan alasan menikmati musik seorang diri. Biarkan telinga memperluas ruang dengar dengan segala bunyi yang ada. Percakapan sembarang, setiap kata teman bicara, termasuk suara alam yang nyata. Hingga sampai ujung judul “Laut”, saya teringatkan pada sebuah kerinduan yang terus berulang. Hamparan pasir, deburan ombak, garis horizon laut dan warna langit di atas pantai, seakan membayang selalu dalam ingatan. 

Kemudian judul lain tentang sosok inspiratif bernama “Tony Buzan-Buku Pedoman untuk Otak”. Sebuah puzzle ide yang mendukung upaya mindmapping dan doodling. 

Sekolah adalah tempat anak-anak belajar banyak hal. Otak mereka dijejali “apa-apa” yang tak menarik, dan belajar jadi membosankan serta berat. 

Saya mengingat kembali masa-masa sekolah dan kuliah, ketika saya membuat setumpuk catatan di kertas, kartu pengingat, dan coretan-coretan di pinggir buku untuk memahami serta menata pengetahuan yang saya dapat. -Faces&Places, halaman 31-

Tambah lagi penguatan ide tentang upaya revolusi buku catatan ilmu. Selama ini, fenomena yang biasa terjadi adalah anak-anak malas mencatat, merasa puas hanya dengan selesai mengcapture tugas tanpa menggoreskan ide mereka di atas kertas. Saya ingin menularkan semangat pada mereka mencatat gaya baru ala doodling dan handlettering yang lebih dari sekadar mindmapping. 

Tampaknya ide-ide yang saya temukan malam ini tak cukup hanya disimpan dalam laci direktori otak. Ya, mereka harus diwujudkan dengan digerakkan dalam langkah nyata, agar tak sekadar mengendap dalam ingatan, lalu terbenam dalam alasan lupa. 

Buku ini memberi arti tentang cara pandang reflektif terhadap beragam sosok dan tempat yang menjejak dalam benak.

#ODOPfor99days

Iklan

Penulis:

Aku ingin punya ruang yang cukup tuk ekspresikan semua ide dan gagasanku untuk berbagi dengan yang lain. Di sinilah ruang itu...

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s