Essai, perjalanan, Selaksa Rasa, Semesta, SMP Hikmah Teladan, Tafakkur

Riak Perjalanan menuju Anyer

Perjalanan terasa hambar ketika segala hal yang tak cocok dengan warna diri dianggap begitu mengusik. Mengharapkan sebuah kondisi ideal di tengah mereka yang masih menemukan bentuk atau jati diri, perlahan membuat saya belajar bagaimana melebur sekaligus mengarahkan pada yang benar, atau minimal jangan sampai terbawa chaos. 

Begitupun menghadapi kondisi macet berjam-jam. Terjebak dalam antrian panjang kendaraan merayap di tol dalam kota. Bisa jadi sesuatu yang dirutuki dan dikomentari. Mengomentari macet, oh karena besok Kamis (11/05) libur Waisak, akhirnya berimbas pada volume kendaraan yang meningkat. Keluhan muncul ketika rasa sesal menyeruak, mengapa tak ambil jalur lain. Bisa saja terjadi. Semua memang pilihan. Mau bersikap reaktif atas realita atau mencari sisi lain dan memaklumi. Mencoba menari dalam hujan, bukan merutuki badai. 

Hal kecil seperti ruang dengar selama perjalanan berlangsung lagi-lagi mendatangkan secuil sesal. Sejak naik bis di awal pemberangkatan, suara lagu dangdut rakyat yang vulgar dan memekakkan telinga itu mengusik gendang telinga. Ah, kalau saja bawa flashdisk yang isinya musik positif. Ruang dengar selama perjalanan bisa menjadi sejuk dan menenangkan. Sayangnya lagi-lagi memaklumi kondisi. Akhirnya, daripada dangdut, beberapa anak menyetel lagu Barat dan pop Indonesia kesukaan mereka. Okay baiklah. Mencoba mengikuti riak perjalanan ini. 

Kalau pagi jelang siang, bis riuh penuh canda dan teriakan menggelegar khas remaja putri yang asik rumpi plus sindir sana-sini sambil gelegak tawa lepas. Menjelang sore, suasana bis mulai redup karena penumpang sudah lelah dan tertidur.

Jalan yang kami lalui mulai lancar setelah keluar tol Cikupa Serang. Namun, begitu memasuki jalan menuju anyer. Bis bergoyang perlahan di tengah jalan berlubang dan penuh kubangan air. Sayang sekali jalan pariwisata tak mulus dibangun dan dikelola. Bahkan, beberapa tikungan jalan, ada bapak-bapak yang menagih receh untuk uang jalan. Bisa jadi untuk perbaikan jalan. Tapi, saya jadi berpikir, bagaimana peran pemerintah di atas ruas jalan nasional yang dilalui kendaraan bermuatan besar saban waktu. 

Kami sempat singgah sekaligus makan siang dan sholat di area sekitar Keraton Kaibon. Ada seorang Bapak pemandu yang mendampingi kami sambil menjelaskan asal-usul tempat tersebut. Kami di sana tak terlalu lama karena gerimis turun cukup deras.

Alhamdulillah akhirnya sampai hotel Pkl. 17.15 WIB dengan rasa ingin cepat merebah di atas sofa. Perjalanan yang melelahkan namun dibayar dengan view laut lepas dan deburan ombak di balkon hotel.

#ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s