Diposkan pada Essai

Stuck Moment

Jenuh itu ketika waktu menunjukkan pukul 15.45 WIB sedangkan tugas belum kunjung selesai. Bawa kerjaan ke rumah, kecil kemungkinan dikerjakan karena hanya ada energi sisa sekaligus posisi menemani si kecil. 

Jenuh itu ketika ide-ide berkeliaran tak sempat diuraikan dalam tulisan karena diri sulit beranjak dari kursor dan tuts keyboard. Bergulat dengan data, foto, dan desain. 

Jenuh itu ketika malam-malam Khanza terbangun lagi karena gerah dan menangis tak jelas. Kalau kalap seakan lupa ilmu manajemen emosi. 

Jenuh itu orang-orang yang diharapkan membantu meringankan tugas terus-menerus mengulur waktu. Deadline semakin tersendat.

Jenuh itu saya yang sulit menerima kondisi. Jenuh itu saya yang memaksakan diri. Jenuh itu saat diri mulai penuh. Penuh tuntutan, penuh tekanan, penuh kegiatan. 

Ikhlaslah… Inilah kering-kerontangnya berperan. Jatuh bangun rasanya jika selalu diandalkan. Memperjuangkan sebuah kepercayaan. 

Kuatkan pundak dan hati ini Ya Rabb… Saat hati sulit menerima, segalanya seakan gelap tanpa celah bertahan. 

*di ujung senja sepulang mengajar

#ODOPfor99days

Iklan

Penulis:

Aku ingin punya ruang yang cukup tuk ekspresikan semua ide dan gagasanku untuk berbagi dengan yang lain. Di sinilah ruang itu...

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s