Dua Titik Kehidupan

Bertemu 2014, berpisah 2017. Ada tiga tahun di antara dua titik kehidupan. Waktu yang terasa singkat setelah berlalu. Meninggalkan tumpukan dokumen dan berkas tugas. Tiga tahun cukup menyita memori hardisk hingga ratusan gigaybyte. Namun, itu tak cukup pula untuk menampung semua kenangan yang ada. Terkadang di satu titik akhir ini, terselip penyesalan karena momen yang dilalui luput diabadikan. Luput karena tak meninggalkan jejak berharga lewat uraian kata.

Saya awalnya bukan siapa-siapa mereka. Namun begitu setahun lalu menjadi orangtua kedua di sekolah, semuanya begitu menggetarkan. Bahagia saat mereka bisa melalui tantangan dengan berani. Bangga ketika mereka yang sempat disebut gagal bisa berubah perlahan dalam tekanan. Kecewa juga pernah ada ketika belasan label minus tersemat saat mereka membuat onar dan berpaling dari ekspektasi orang sekitar. Akan tetapi, dari mereka jugalah sebenarnya saya banyak belajar. Di ujung hari, saya tengah dididik dengan sekelumit emosi. Bukan masalah administrasi persekolahan yang membuat lelah. Saat saya merasa sendiri, meyakinkan orang-orang untuk tetap percaya, sekaligus menegarkan diri, itulah yang rumit.

Bagaimanapun titik akhir dari pertemuan ini pasti tiba dan hidup terus berlanjut. Mereka segera menemukan zona baru putih abu. Derai tawa di awal pagelaran hiburan ditutup dengan tangis tak tertahankan. Mata dan wajah yang memerah sebagai bukti proses pelepasan. Melepaskan emosi dan rasa yang terpendam, menghaturkan maaf dan memaafkan, serta saling berpelukan seakan tak bisa bertemu kembali. Ijazah belum diambil lho, kita masih bisa bertemu kan. 😅😅 Tapi… Tetap saja berbeda sensasinya. Ruang bernama kelas akan asing bagi kita. Kantin tempat mengobrol atau sekadar menghindar saat jam pelajaran hanya tinggal kenangan. Kalian hanya bisa menapaki kembali untuk sekadar mengingat kebersamaan dan bernostalgia.

Dua titik kehidupan akan selalu ada sampai maut menjemput. Ukirlah jejak rekam terbaik dimanapun berada. Selamat berjuang anak-anakku. Terima kasih telah menjadi bagian episode berhargaku. Semoga suatu saat kita bisa kembali bertemu tanpa risih dan malu-malu. Semoga di Jannah-Nya kita bertemu kembali. Pastikan kalian telah menjadi sosok yang berperan dengan misi hidup yang kalian inginkan. Raga ini tak sanggup rangkul semua. Tetapi media sosial membuat semuanya menjadi haru biru rindu saat momen kemarin diposting kembali.

perpisahan dalam harmoni

#ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s