Reminder tentang Citizen Journalism

Menyimak laman kronologi medsos detik ini semakin meyakinkan saya bahwa peran wartawan/jurnalis telah bergeser jauh dari tempatnya. Semua orang pada hakikatnya bisa menjadi pewarta. Dengan cepat sepersekian detik mengabarkan setiap kejadian sekitar mereka lewat tulisan, foto, dan video. Baik postingan yang penting hingga remeh sekalipun. Anehnya semua bisa langsung viral begitu menarik perhatian para pengguna medsos. 

Segala hal begitu cepat tersiar namun belum tentu akurat dengan konten berintegritas. Melihat fenomena ini begitu menggelitik saya untuk membuka ulang Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia. Banyak terdapat pasal bagaimana seharusnya konten berita menjadi karya jurnalistik yang dipertimbangkan dengan matang. Jangan sampai publik dibodohi dengan konten yang jauh dari kualitas. 

Memang kode etik tersebut hakikatnya berlaku untuk wartawan yang bertugas di media massa, baik cetak, elektronik, maupun online. Namun, tidak ada salahnya mereka yang berperan sebagai bagian jurnalisme warga (citizen journalism) ikut berperan mematuhi segala aturan yang tertuang demi kepentingan bersama. Bukan sekadar ingin dianggap update kekinian, cari sensasi agar cepat viral, dan berharap jadi pusat perhatian di laman virtual. 

Geram itu ketika teganya jemari-jemari orang yang tak bertanggungjawab dengan mudahnya memposting foto dan video sadis korban bom bunuh diri. Kalau di televisi berlaku aturan sensor, maka lewat ponsel pintar semuanya terpampang jelas tanpa filter. Ya Rabb, tak kuasa melihat dan saya langsung meng-scroll bagian sadis yang seharusnya dilihat. Bagian tubuh tercerai-berai dan membuah resah. Lebih gilanya ketika arus informasi seperti itu bisa membanjiri pesan Whatsapp lewat broadcast tak bertanggungjawab. Kalau ponsel disetting Autosave, siap-siap saja ada gambar/video yang meresahkan. 

Solusinya, filter diri. Tak ada editor atau redaktur yang menilai isi postingan kita. Namun, sejatinya kita sendiri editor sekaligus wartawan era media sosial (tanpa surat kabar) dan ada malaikat Allah yang menjadi “redaktur” sepanjang hayat mencatat apa yang kita bagikan di laman maya. 

Maka sebisa mungkin, hindari dengan begitu mudahnya berbagi gambar yang tidak penting dan belajar menjadi jurnalisme warga yang memiliki integritas. Dalam arti berupaya menjadi pribadi jujur, arif, terpercaya dengan istiqomah. Serta mampu berpikir objektif dan berjiwa ksatria. Agar tak ada alasan dan ujung klise yang menyebalkan dengan frase “copas dari grup sebelah”. Memenuhi memori orang lain dengan foto atau video sepele sekadar gurauan bahkan untuk menakut-nakuti dengan nuansa sadis. Perbaiki iman dalam diri. Seringkali yang dibagikan menentukan kadar keimanan seseorang. 

#ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s