Essai, fitrah, Islam, Islam, Keluarga, ODOPers, Pendidikan

Serap Ilmu dari Kulwap BIncang seRU: Family Quality Time with Al-Qur’an

Alhamdulillah bisa bergabung kulwap BIRU (BIncang seRU) dengan tema “Emak Rempong Bisa Punya Balita Hafal Al Qur’an” yang diinisiasi Rumah Belajar Tahfidz Institut Ibu Profesional. Dengan padatnya aktivitas seharian di full day school dan pulang dengan energi sisa, saya tak sempat melontarkan pertanyaan dalam diskusi aktif malam kemarin. Kembali menjadi silent reader dan mulai scroll materi yang sudah jauh sampai 15 pertanyaan. Memanfaatkan tengah malam saat Khanza (26 bulan) sudah terlelap. Mulai menyerap perlahan dan doodling. Alhamdulillah beberapa poin rasanya terwakili oleh rekan lain yang sempat aktif tanya jawab.

Kagum pada Mbak Juditha Elfaj yang berhasil mendampingi balitanya hafal Qur’an di tengah padat aktivitasnya. Beliau memiliki 2 anak dan menjadi anggota Tim Ahli – Rumah Main Anak (2016). Selain itu, beliau juga penulis Ramadhan Kit for Kids (2015) dan Founder+ pengajar Taman Belajar Al-Huda (2005-2011). 

Berikut hasil sharing beliau tentang pencapaian balitanya dalam menghafal Qur’an.

Alhamdulillah, sulung saya telah selesai menyetor hafalan seluruh surah di juz 30 pada usia 3 tahun 9 bulan. Ananda juga pertama kalj mengkhatamkan tilawah 30 juz pada usia 4 tahun (kurang seminggu) dan berhasil mengkhatamkan bacaannya 2 kali saat usia balita (sebelum 5 thn). Ananda mulai menyetorkan hafalannya secara rutin setelah bicaranya lancar, panjang, dan dimengerti, yaitu pada usia 2 tahun 6 bulan. Kegiatan menghafal ini semakin seru dengan sambil bercerita isi surahnya, mengunjungi kebun binatang dan menjumpai binatang yang disebuntukan pada hafalannya (gajah, kuda, unta, dsb), wisata alam, dan mengaitkan ciptaanNya yang kami temui dengan ayat-ayat Allah (awan, matahari, laut, bumi, gunung, dsb). Ananda mulai belajar membaca Al Qur’an ketika sudah bisa diajak duduk manis selama 10-15 menit pada usia 3 tahun. Sebelumnya, belajar dengan permainan, membuat craft hijaiyah, dan cerita. Ananda mulai membaca mushaf Al Qur’an usia 3 tahun 5 bulan, dari sini kami mulai mengeksplor kisah para nabi dan teladan lainnya dari Al Qur’an.

*speechless* 

Masya Allah, begitu kerennya beliau mengkondisikan balitanya untuk akrab dengan Al-Qur’an. Reminder dan tamparan diri begitu keras. Sebuah kenyataan kalau saya pernah tak yakin, sempatkah saya membersamai Khanza untuk akrab dengan Al-Qur’an dengan waktu yang terbatas. Jawaban simpel dan mengena adalah sediakan quality time istimewa, bukan hanya sesempatnya. 

Jazaakillah khair Mbak Judith. Begitu berharganya sebuah komitmen dan pembiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam keluarga. Menyambut Ramadan di hadapan dengan meningkatkan progress amalan dan memperbaiki aktivitas menjadi bermanfaat. Al-Qur’an sebagai “software” istimewa dan isu utama agar keimanan selalu terinstall dalam diri.

Berikut ini hasil diskusi kulwap “Emak Rempong punya Balita Hafidz Qur’an”.

  • Interaksi anak dengan Al-Qur’an dimulai dari dibiasakan dengab menuansakan Al Qur’an di lingkungan sekitarnya, seperti dengan memperdengarkan bacaan Al Qur’an, memberi keteladanan bagaimana adab dan intensitas berinteraksi, membacakan kisah2 di dalamnya, dll.
  • Setiap anak memiliki start kesiapan tersendiri dalam memulai belajar dan rentang konsentrasi yang tidak panjang. Sebaiknya jangan dipaksa. Apalagi membaca adalah keterampilan yang cukup rumit yg membutuhkan kesiapan. Perlu dikuatkan penuansaan Al Qur’an di rumah agar kecintaannya berinteraksi dengan Al Qur’an semakin bertambah.
  • Fenomena penghafal Al-Qur’an namun tidak selaras dengan akhlaknya. Yang paling utama ditanamkan dengan kuat di usia dini adalah aqidah yang mengakar kokoh dari diri anak. Akhlaq dan adab adalah buah yg dihasilkan aqidah yang kuat. Pembiasaan2 adab ini yang juga perlu dibiasakan selama kita menanamkan aqidah pada si kecil. Al Qur’an adalah petunjuk bagaimana menjalaninya. Hati yg tershibghah atau tercelup dengan ayat2Nya akan lebih mudah menerima kebenaran dan nasihat. Oleh sebab itu, perlu berulang2 diluruskan niat dlm belajar dan mengajarkan Al Qur’an. Bukan semata untuk dibaca atau dihapal. Bukan untuk prestise di hadapan manusia. Karena ayat2Nya terlalu mulia untuk tujuan2 duniawi.
  • Interaksi pada anak usia 0-2 tahun (masa buaian/menyusui 》dominasi peran ibu)

• memberi keteladanan dengan menunjukan rutinitas ayah dan bunda berinteraksi dengan Al Qur’an

• memperdengarkan Al Qur’an pada berbagai kesempatan, terutama saat bunda sedang menyusui. Krn bukan hanya raganya yang haus, tapi jiwanya juga

• menunjukkan cara memuliakan Al Qur’an (menyentuhnya dengan penghormatan dan sopan, meletakkannya pada tempat yang tinggi dan mulia, dsb).

  • Interaksi pada anak usia 3-5 tahun (pasca anak disapih 》mulai masuk dominasi peran ayah)

• menceritakan kisah-kisah pada Al Qur’an

• bersabar menghadapi sikapnya dan menunda hingga ia siap jika masih menolak

• kreatif dalam mengajarkan Al Qur’an

• menjaga perbedaan karakter setiap anak (sulungku dan adiknya beda banget)

• mengapresiasi memberi reward atas usaha maupun keberhasilan ia dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Apresiasi ini usahakan lebih besar dibanding keberhasilan ia di bidang lainnya.

• membuat jargon untuk mengkondisikan anak. Misal, aku cinta Al Qur’an, anak sholih suka membaca Al Qur’an, dsb. 

  • Setiap anak memiliki keunikan, karakter, dan gaya belajar tersendiri. Maka orangtuanya yang paham dengan kondisi anaknya. Satu hal yang perlu dipahami bahwa tidak ada metode yang paling baik melainkan metode yang paling COCOK dan sesuai dengan anak kita. Namun, yang pasti cocok dan sesuai dg ananda pastilah doa orangtua (apalagi seorang ibu) yang insya Allah selalu mustajab dan tdk tertolak. Maka, jangan lupa selalu iringi ikhtiar kita mendidik anak dengan doa yang tulus.
  • Lingkungan sedikit banyak tentu memberikan pengaruh pada anak. Terlebih pada ananda yang belum tamyiz atau belum bisa membedakan yang haq dan bathil, sehingga masih suka “ikut2an”. Seharusnya, orangtua sebisa mungkin memberikan pengaruh yang dominan pada anak jika tidak ingin peran tersebut diambil oleh lingkungannya. Sebisa mungkin pilihkan sekolah yang sejalan dengan tujuan utama pendidikan orangtua di rumah, sehingga bisa saling menguatkan dan bersinergis.
  • Berikut adalah cara yang saya gunakan. Bisa jadi para bunda memiliki metode yang berbeda yang disesuaikan dengan karakter ananda.

membaca

Anak pertama saya baru diperkenalkan intens huruf hijaiyah sekitar usia 3 tahun (ngomongnya sudah jelas dan lancar, jadi bisa lebih mudah belajar makhroj dan sifat huruf). Ananda belajar membaca menggunakan iqro attaisir (rosm utsmani) pada usia 3 thn. Beberapa metode belajar sebelum pakai iqro :

♡ bikin2 DIY tema hijaiyah

♡ one day one huruf

♡ flashcard utk bbrp huruf yg mirip

menghafal

Sebelum dirutinkan menghafal dan murojaah, ananda terbiasa mendengar orang2 rumah melafalkan Al Qur’an, rutin dibacakan wirid Al Qur’an sebelum tidur, mendengar murottal, dsb. Setelah ananda siap dan mau dirutinkan, ananda menambah hafalan dengan metode talaqqi (menyimak langsung ayat yang dibacakan guru, dalam hal ini orangtuanya) sehingga ananda bisa memperhatikan  betul bagaimana sebuah huruf atau bacaan keluar dari makhrajnya, bagaimana ia terdengar dengan jelas, dsb.

  • Tentang pembagian peran. Pendidikan yang dijalani dalam keluarga (sebaiknya) merupakan kesepakatan bersama suami dan istri. Dalam hal ini, suami sebagai qowwam adalah captain yang bertanggungjawab ke arah mana keluarga ini akan dibawa. Di sisi lain, istri/ibu adalah orang yang paling sering berinteraksi dengan anak di rumah tentu menjadi garda terdepan dalam menjalankan amanah pendidikan dalam keluarga. Saya (berusaha) mengoptimalkan peran pendidik terlebih ketika suami kerja/bertugas di luar rumah. Seperti membiasakan adab, berkisah, mengisi sesi mengaji siang, menemani anak belajar, dsb. Ketika suami pulang, maka beliau yang berhadapan langsung dengan anak2 dalam mengajar, memberi nasihat, maghrib mengaji, subuh berkisah/menghafal, mengisi taklim keluarga kecil kami, dsb
  • Mendidik anak laki-laki berinteraksi dengan Al-Qur’an yang kadang dengan bercanda. Memang yang perlu ditekankan sebelum menyampaikan ilmu adalah menegakkan adab; terlebih adab kita kepada Allah (seperti dalam beribadah, doa, dan berinteraksi dengan kalamNya, dsb). Oleh sebab itu, majelis yang rutin kami jalankan dlm keluarga selain halaqoh Al Qur’an adalah pembahasan adab (dalam hal ini diambil dari buku Adabul Mufrod atau kisah2 shiroh.
  • Anak yang lebih antusias mendengar lagu dibanding mengaji. Al Qur’an tidak bisa menyatu dengan musik. Jika ayah dan bunda berkomitmen untuk memenuhi hati ananda Al Qur’an, sebaiknya dicukupkan dengan Al Qur’an saja. Apalagi mengingat ananda sudah memiliki ketertarikan dan daya serap yang sangat baik. Proses menghafal memang tidak perlu dipaksa. Hanya dengan terbiasa bahkan anak2 mudah menyerap apa yang mereka lihat dan dengar. Tinggal kitanya yang perlu selalu menjaga kelurusan niat dan keteguhan amal untuk konsisten. Luangkan waktu khusus. Sediakan, bukan sesempatnya.
  • Contoh jadwal harian aktivitas bersama Al-Qur’an.
    • Aktivitas harian kami seperti pada umumnya saja.

Bangun tidur (setelah subuh) : menambah hafalan baru

Pagi – siang : mandi, makan, main, dsb.

Siang (setelah zuhur) : tilawah siang (biasanya minta ditambabkan cerita tentang ayat atau surah yang dia baca.

Siang – maghrib : aktivitas harian seperti tidur siang, makan, mandi, dsb

Maghrib – menjelang tidur malam : tilawah, mengulang hafalan, taklim keluarga (membahas buku, berkisah, review/evaluasi kegiatan.

Contoh bahasan dalam Al Qur’an yang pernah kami angkat misalnya ketika ananda menghafal surah Al Fiil, maka kami ajak melihat langsung gajah di kebun binatang, membahas keunikan binatang tsb, menceritakan kisah tentang pasukan gajah, dsb.

#ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s