Essai

Ramadan Istimewa : Tahun Pertama di Rumah Sendiri

Ramadan tahun ini jauh berbeda dengan Ramadan 2016. Sebelumnya saya dan suami masih “numpang” di rumah orangtua. Saat itu Khanza masih berusia 1 tahun. Ada rasa cemas sekaligus tertantang. Bagi saya Ramadan kali ini berarti momen survive menempa diri. Kalau tahun kemarin masih di rumah ortu, segalanya tersedia mulai dari sahur dan berbuka. Kini, saya menyiapkannya sendiri dibantu suami. 
Alhamdulillah ini Ramadan pertama kami di rumah sendiri meski masih status mengontrak. Setidaknya kemampuan sebagai ibu rumah tangga yang cekatan benar-benar teruji. 

Mengenang Ramadan berarti saya belajar dari 25 kali bulan Ramadan silam. Masa kecil dipenuhi latihan dan paksaan ortu saat dibangunkan sahur. Beberapa momen pada waktu itu saya lewati dengan tertatih. Kala itu, Ibu saya sampai bingung menyiapkan menu apa yang bisa membuat anak-anak lahap saat sahur. Dibanding berbuka yang disambut lahap dan segala dimakan, sahur menjadi tantangan terberat bagi saya dan adik-adik.  

Melawan rasa kantuk begitu hebatnya hingga menunduk lesu di meja makan. Godaan dahsyat di siang hari karena lapar dan perilaku tengil saya menyembunyikan serbuk minuman di bawah bantal. Sembunyi-sembunyi saya menjilati serbuk minuman sampai ketahuan karena Ibu saya melihat lidah menjadi oranye. Konyolnya masa-masa itu. Fase Ramadan saat SD penuh latihan shaum sekaligus motivasi dari Bapak. Siapapun yang shaumnya full sebulan penuh berhak dapat uang saku saat Lebaran. 

Ramadan selalu menjadi momen istimewa dari waktu ke waktu dengan berbagai dinamika kejadian. Bedanya, kini saya mencoba berlatih agar produktif. Salah satunya dengan mengikuti Challenge Menulis #RamadhanInspiratif yang diadakan  Perlahan mindset saya terbuka tentang makna Ramadan itu sendiri. Tersadar pernah terselip pandangan keliru dan keinginan fana saat Ramadan silam. Sebelum menikah bahkan saya stand by depan TV untuk sekadar menghabiskan waktu menjelang Maghrib. Parahnya saya beralibi ngabuburit. 

Memperbaiki amalan dan menempa diri dengan maksimal, itu target Ramadan saya kedepannya. Sudah cukup aktivitas yang melalaikan. Perbanyak tilawah setelah sholat fardhu. Review buku-buku shiroh nabawiyah agar menyerap sebaik-baik kisah teladan. Juga mengenalkan Khanza agar terbiasa dengan habit mengaji. Lewat ikhtiar diri, semoga Allah menguatkan otot kesabaran dan kebersyukuran. 

Bismillah…

#RamadhanInspiratif #day1 #Challenge #Aksara #ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s