Dunia Anak, Essai, Keluarga, Momentum, ODOPers, Ramadhan Inspiratif

Level Tantangan Saat Ramadhan

Sudah berapa kali Ramadhan yang  dijalani? Ini Ramadhan yang saya jalani dalam usia seperempat abad. Ya, Ramadhan ke-25. Segala tantangan yang menghadang pun lebih variatif dan levelnya cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Rasa lapar dan dahaga masih menjadi tantangan utama bagi anak kecil yang baru melaksanakan shaum.

Ramadan Masa Kecil

Saat kecil dulu, adzan Maghrib begitu dinanti-nanti. Sekarang masih sama sih. 😅😂 Tapi perbedaan yang paling terasa itu segala makanan yang biasa saja jadi terasa indah dan menggoda di siang hari yang terik. Ibaratnya, remah-remah kerupuk di atas meja kok terlihat menggiurkan. Apalagi minuman serbuk renceng yang menggantung di warung ibu. Saya yang masih 7 tahun kala itu akhirnya goyah dan memboyong si Mari*** sembunyi-sembunyi ke kamar atas. Tantangan kedua itu rasa kantuk.  Karena mengantuk berat, sampai-sampai saat tarawih di mesjid, saya tak bangun-bangun dari sujud. Tertidur pakai mukena. Akhirnya dibangunkan tetangga yang nenek-nenek setelah tarawih selesai.  Bolonglah shaum dan tarawih saya hari itu. Ngakak sendirian di pojokan pokoknya kalau ingat Ramadhan masa kecil. 

Tantangan saat remaja dan belum menikah tidak terlalu saya ingat dengan jelas. Detik ini yang pasti tantangan di bulan Ramadhan jauh berbeda seiring peran sebagai ibu rumah tangga. Bukan lagi soal lapar dan dahaga. Ramadan kali ini ditemani Khanza (2 tahun 2 bulan) yang justru jadi tantangan utama. Tantangan itu bernama mogok makan. Mungkin Khanza terbawa suasana dan ingin ikut saum. Namun, saya sempat kalap dan bingung kehabisan cara saat seharian kemarin tak masuk nasi sedikitpun. Maunya minum air dan susu berkali-kali. Sayur tahu, lewat. Nasi pakai baso, diabaikan. Nasi hangat pakai kecap pun apalagi. Efeknya malam Khanza diare dan merengek terus. Suami terus mengingatkan untuk bersabar saat membujuk Khanza makan. Semakin dipaksa, semakin mengamuk dan menjauh. Saat sahur harus bolak-balik ke kamar mandi karena Khanza BAB lagi. Fhiuh, tantangan sebenarnya baru dimulai. 

Alhamdulillah, hari ini diare Khanza mulai mereda dan mulai mau makan. Caranya harus dibawa jalan-jalan dan mampir ke rumah bibi saya (nenek Khanza dari ibu). Mungkin karena sayur sop yang saya buat hari ini sedikit membuat Khanza kabita. Bentuk wortelnya memang sengaja dibuat mirip bunga. Kesimpulan baru atas habisnya makanan Khanza hari ini yaitu Khanza ingin suasana baru saat makan. Kadang sikapnya tak bisa ditebak. Saat shaum, tantangan itu makin jelas saat Khanza banyak inginnya tapi cuma menggoda sesaat. Susu yang saya buatkan kadang mendarat di wastafel tanpa diminum sedikitpun, padahal saat minta merengeknya minta ampun. *sabar atuh, Bun, kata ayahnya Khanza. 

Saat tilawah setelah sholat Dzuhur kemarin, tanpa banyak bicara Khanza menyimak dan duduk di pangkuan. Ternyata lama-lama mengantuk dan tertidur lelap di karpet. Wajah tenangnya begitu menyejukkan. Seakan lupa tantrumnya tempo lalu. Habit baru Khanza buat saya tergugah dan meleleh. Khanza memaksa ingin pakai mukena dan berdiri di samping saya sambil menirukan gerakan sholat. Masya Allah, fitrah keimanannya begitu terpancar.

Bagaimanapun tantangan di bulan Ramadan masih panjang di hadapan. Mau tenggelam dalam gerutu dan kekesalan atau merangkul semuanya dengan sabar. Apapun tantangannya dan jika keluhan meluncur, dinginkan kepala dan ingatlah Allah, niscaya hati menjadi tenang.

#RamadhanInspiratif  #challenge  #aksara

#ODOPfor99days 

Iklan

4 thoughts on “Level Tantangan Saat Ramadhan”

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s