Sabar Insidental 

Menikmati udara dingin hari Senin. Melangkahkan kaki di jalan tepi sawah. Kembali menapaki rutinitas di sekolah. Mengawasi ujian PAT (Penilaian Akhir Tahun) kelas 7 dan 8. Semalaman tadi saya memikirkan hakikat sabar. Jika sabar tidak terpancar sejak rumitnya mengawali hari, maka muncullah sabar insidental. Sabar yang terpaksa muncul di tengah keruwetan yang ada. Hadir tiba-tiba karena komentar orang atau reminder orang terdekat karena kita terlihat belum bersabar. Sabar insidental hadir karena tak ada pilihan lain. Akhirnya sabar sebatas mengiyakan tapi hati tak sepenuhnya menerima dan masih terselip pikiran, “Kenapa sih ini terjadi?” 

Itulah yang saya alami hari-hari yang lalu. Sabar insidental. Muncul karena kalap atas insiden yang sulit diterima. Biasanya lancar dan sesekali, Khanza buang air besar hingga 6 kali dalam sehari. Biasanya makan lahap atau minimal mau mengunyah walau lambat, ini berakhir dengan banyak sisa makanan dan penolakan mentah-mentah sejak sendok pertama. Ya Rabb, sabar ini rasanya bukan energi dari awal. Muncul karena tak ada pilihan lain. Jadilah mulut penuh keluhan, wajah ditekuk, dan penuh gerundel dalam diri. Astaghfirullah…

Harusnya sabar menjadi mental fighter yang disiapkan sejak awal, bukan pilihan akhir. Sabar ketika segalanya memang ditakdirkan agar ekspektasi diri teruji. Sabar menerima apapun resikonya sejak dini, agar bisa melakukan antisipasi tanpa sulit hati. Karena sabar itu dipupuk sejak akar, bukan buah yang tiba-tiba tumbuh karena cangkokan. Maka sejak sabar tertanam dalam jiwa, tak ada lagi gerutu meluncur saat terjebak hujan deras. Tak ada keluhan kala respon orang sekitar tak semanis yang diharapkan. Bagaimanapun sabar mengajarkan kita tentang das seis das solen. Tak selamanya realita berjalan sesuai harapan. Karena peran sebagai muslim membuktikan kebaikan pada segala aspek, baik yang manis maupun pahit. 

Terima kasih. Ungkapan yang layak dihaturkan pada siapapun termasuk yang sempat menorehkan luka. Luka yang terbalut karena kata, sikap, dan laku yang menumbuhkan akar kesabaran. Ya, meski pahit awalnya. Air mata jatuh dan hati sempat keruh karena momen menyakitkan. Harusnya tak usah ada rasa sakit hati yang dipelihara. Terima kasih untuk kalian yang sempat mengaktifkan radar sabar dalam diri. Sungguh pelan-pelan kesungguhan iman ini tengah teruji. 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali)“.

#RamadhanInspiratif #day3 #challenge #aksara #ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s