Essai

Game Level 1 Komunikasi Produktif Bunsay IIP_Day1 

Cerita hari ini membersamai Khanza di rumah begitu spesial. Selain karena momentum tanggal merah Hari Pancasila, jadi bundanya seharian di rumah. Memasuki Game Level 1 Komunikasi Produktif, segala gerak-gerik Khanza punya cerita tersendiri dan berhasil buat bundanya cenat-cenut sekaligus terharu. Rasanya hari ini poin komunikasi produktifnya bervariasi. Poin yang dijalani meliputi menunjukkan empati, mengendalikan emosi, observasi, dan BISA!

Aktivitas pertama sebenarnya tak sempat terekam kamera karena agak repot. Ya, dengan mendengarkan lagu #MaafIbu yang diputar di ponsel, membuat Khanza terbawa suasana. Peluk bunda berkali-kali sampai melantunkan lirik lagu tadi dengan logat balitanya. Hmm… Meleleh dibuatnya. Entah mengapa Khanza suka lagu itu di-play berulang kali.

Aktivitas selanjutnya kembali ke habit andalannya, coret-coret. Melihat bundanya mau doodling materi, Khanza ingin melakukan hal serupa. Nah, tadinya sih memaksa mau corat-coret di sketchbook bundanya. Alhasil, bunda selalu sediakan buku khusus buat Khanza corat-coret. 

Saat mengamatinya, Khanza bereksperimen menutup spidol yang bukan pasangannya sambil ketawa-ketiwi. Menutup pensil warna dengan tutup spidol. Terus coba tapi tak pas ukurannya. Akhirnya, saat beres-beres spidol Khanza mau membereskan spidol sendiri sampai menutup risleting cepuknya. Padahal bunda sudah menawarkan mau dibantu atau tidak. “Sendiri aja, Nda.” Kekaguman tumbuh diakhiri pelukan. “Khanza hebat bisa beresin sendiri.” 😍😊😚 

Khanza tadi urung bobo siang padahal sudah request susu dan saya menemaninya rebahan di kamar. Susu habis, kantuknya tak datang-datang, malah minta kue wafer. Turun dari kasur dan menuju ruang depan. Pelan-pelan Khanza pun mengemil kuenya sampai habis. Wafer kan ada lapisannya, nah lapisannya kadang Khanza buka satu per satu sampai tipis hingga tangannya penuh (bobolokot) coklat. Setelah itu Khanza berinisiatif cuci tangan sendiri sambil menuju kamar mandi.

Bagian yang paling melatih pengendalian emosi adalah kebiasaan Khanza melempar barang, misalnya buku-buku yang tersusun di rak.

Istilahnya repeating behavior. Pada perilaku ini, anak memang senang berulang kali menjatuhkan dan melemparkan benda-benda tertentu. Melalui perilaku berulang tersebut, anak sebenarnya sedang belajar mengenai pola sebab-akibat. Selain itu, ia juga belajar untuk mengontrol lingkungan dan melihat bagaimana lingkungan sekitar meresponnya. Sehingga, orangtua diharapkan sabar dan tetap memberikan respon positif pada anak untuk memaksimalkan proses belajat tersebut. (Dari buku Anti Panik Mengasuk Bayi 0-3 Tahun, #Ortu Belajar, Tiga Generasi, Jakarta:Wahyu media, 2016)

Apa respon saya sebelum ikut kuliah Bunsay? Respon saya kadang diam saja, agak kesal, gereget, dan cape lihat ruangan berantakan. Begitu Khanza meluluhlantakan satu deretan buku dari rak, saya coba berdialog dan tetap tenang. 

“Wah, Khanza mau lihat buku-bukunya, ya. Kita bikin menara, yuk!” 

“Menara apa, Nda?” ujar Khanza sambil merapat ke tengah buku-buku yang melantai. Saya pun mencontohkan menumpuk buku ke atas satu per satu. Akhirnya, Khanza mau bantu estafet buku-bukunya sekaligus membereskan tanpa dijuduli beres-beres. 😅😊 

Sekian game level 1 Komunikasi Produktif di hari pertama. Semuanya jadi istimewa karena dilandasi cinta, semangat belajar, mengelola emosi dan diksi. Semakin tertantang dari hari ke hari. Bismillah walhamdulillah…
#level 1  #day1  #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip #ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s