Game Level 1 Komunikasi Produktif Bunsay IIP_Day2

Dari ujung pagi ke ujung petang. Yup, itulah tantangan sebenarnya membersamai Khanza pada saat hari kerja. Bagaimanapun momen yang terbatas harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Alhamdulillah saat Bunda mau ke sekolah, Khanza sudah bangun sejak pukul 5. Mau dimandikan dan makan tanpa rewel sedikitpun. 

Babak poin komunikasi produktif baru dimulai saat Khanza mulai menonton TV jarak dekat sambil sentuh-sentuh layar dikira touchscreen. Nah, disitulah bunda harus mengaplikasikan intonasi dan suara yang ramah. 

“De, nontonnya mundur, sayang.” 
Khanza mulai mundur tapi masih dekat TV. Saya pun menariknya perlahan dan memberinya aba-aba duduk di ujung karpet plastik bermotif ikan. Alhamdulillah berhasil. Saat bunda bersiap-siap di kamar, tak lama kemudian Khanza merengek bilang sesuatu sambil menunjuk-nunjuk ke arah TV. 

“Nda, mau piper piper… Mau piper… Huhuhu.” Mencoba memahami apa yang dikatakannya sambil memgamati iklan apa yang baru saja Khanza tonton. Oalah, ternyata mau plester demam bermerk tertentu. Dengan sigap, saya mencari ke tempat kosmetik Khanza. Tidak ada. Ternyata dipakai ayahnya setelah Khanza menolak mentah-mentah tempel plester saat demam beneran. Mungkin geli karena dingin seperti gel. Saat lihat iklan selintas langsung merengek meminta. Aha, dicoba poin memberi pilihan akhirnya. 

“De, pipernya habis. Ini aja ya.” Plok, saya tempelkan kapas di jidatnya yang dibasahi dengan beberapa tetes baby oil. Ternyata rengekannya mereda. Sambil senyum-senyum sendiri. Hihi bisa diganti sama barang lain. Alhamdulillah Khanza nggak protes.

Poin selanjutnya KISS alias Keep Its Short Simple. Mencoba meminta Khanza menyimpan mangkok bekas makannya ke dapur. Awalnya ragu-ragu, tapi karena disemangati. Akhirnya Khanza mau menyimpan tempat makannya sendiri. Horeee bundanya bisa dengan jelas memberikan pujian, “Khanza hebat bisa simpan sendiri ya.”

Poin di atas aplikasi sebelum berangkat mengajar. Setelah pulang, energinya sudah berbeda. Meski lelah saya coba membersamainya sampai mengantarkan Khanza tidur. Sempat ada tangisan yang pecah karena Khanza memaksa ingin pakai sepatu merah milik adik saya yang SD. Okay baiklah, bunda bawa sepatu dari rak. Bunda baru bisa makan pukul 9 malam. Sejak pulang jelang Maghrib Khanza terus menempel kangen karena ditinggal seharian. 

Poin terakhir kembali tentang mengendalikan emosi. Selalu beraksi pada jam-jam jelang tidur. Khanza terlihat mengantuk berat tapi masih memaksakan diri beraktivitas. Dengan pelukan erat dan mengusap-usap punggungnya saat menangis kencang. Awalnya mungkin pernah ada gerutuan meluncur atau bentakan tak terkendali saat Khanza tantrum. Namun, saya harus terus belajar mengendalikan emosi. Sambil mendekapnya dan pelan-pelan menunggunya reda sendiri. Alhamdulillah Khanza bisa mengatakan yang diinginkan.

“Khanza mau apa?” 
Tak lama ia menjawab, “Mau susu, Nda.” 

“Iya, tunggu ya. Bundanya bikin dulu.” 

Akhirnya Khanza mau direbahkan di kursi depan sambil menunggu. Lama-lama susunya habis, Khanza pun jatuh tertidur. Alhamdulillah tantangan hari ini buat saya berlatih lagi. Tanpa henti.

#level1 #day2 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #bunsayiip

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s