Bunsay IIP, Dunia Anak, Dunia Emak, Foto dan Cerita, Ilmu Komunikasi, ODOPers

Game Level 1 Komprod Bunda Sayang IIP_Day3 : Intonasi dan Suara yang Ramah

Menjadi ibu bagi saya layaknya belajar olah vokal bak seorang dubber. Saat mengaplikasikan kaidah 7-38-55 Albert Mehrabian, sebenarnya saya benar-benar belum maksimal melaksanakannya. Rasanya jatuh bangun dan sangat menantang. 

Ada kalanya godaan muncul dengan nada suara meninggi kala Khanza mulai tak menangis tak jelas. Kadang dibuat serba salah, hingga selalu kalimat yang muncul refleks, “Mau apa sih, De!” Apa selanjutnya? Kalimat ber-enam suku kata itu justru buat tangisannya makin kencang. Karena ditambah sorot mata tajam gemas dan refleks tubuh yang belum satu level dengan anak. 

Hari ini masih ada tangis yang harus dihadapi dengan sabar dan terus berlatih intonasi. Suara ramah saat anak sedang santai lebih mudah dibandingkan saat mereka tengah mengantuk, ingin sesuatu, atau merasa tidak nyaman. Khanza sempat saya ajak melukis pertama kalinya. Alhamdulillah, dia begitu gembira berkenalan dengan kuas dan cat warna-warni yang sudah lama disimpan. Beberapa di antaranya mengeras. 

“Bun, bikin ikan.” 
“Bun, bikin anak kecil kucir.”

“Horeee.. Mau warna itu…warna ini…”

Khanza sudah banyak kemauan. Saya menjelaskan warna yang mengeras tambah air hangat saja. Awalnya dia memaksa kenapa warnanya tidak keluar. Setelah dipraktikkan sambil menjaga intonasi suara, Khanza mulai mengerti kalau catnya tidak semua warna bisa dipakai. 

Selanjutnya saat mulai bosan, Khanza meminta ke ruang bawah. Seperti biasa, habit kesukaannya. Menaiki kursi dan mulai memanjat teralis jendela. Panik? Sempat sih awalnya. Tapi saya coba tenang sambil memantau pergerakannya. 

“Hati-hati, ya.” Kalimat ini lebih ampuh memberinya kepercayaan dibanding, “Jangan naik. Awas jatuh.” 

Ternyata Khanza mau memegang bingkai foto yang terpajang sambil menyebutkan satu per satu yang ada di dalam foto. 😅😊😍
Momen-momen seperti ini kadang tak terduga dan membuat kagum terus tumbuh. Tapi di balik itu semua juga tersimpan tantangan untuk selalu menjaga intonasi tetap ramah di setiap kondisi. Saat anak berteriak dan mulai berintonasi meringis tak nyaman. Di situlah ujian komunikasi harus dihadapi. 

Saat anak mulai menguji intonasi suara, caranya satu level dengan anak. Coba gendong dan usap punggungnya. Tangisannya masih nyaring dan menceracau tak jelas, lebih baik bicara sampai anak mereda. Efek intonasi itu benar-benar berpengaruh saat berdialog dengan anak. Ini tahapan awal pula untuk berkomunikasi dengan pihak lain pada saat kita berpeluang untuk marah dan nada keras tapi kita memilih tenang. La Taghdob sampai diucapkan Rasulullah saw. hingga 3 kali. Ini sejatinya ujian komunikasi untuk setiap muslim.
#level1 #day3 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #bunsayiip

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s