Bunsay IIP, Essai, Keluarga, ODOPers, Pernikahan, Refleksi

Komunikasi dengan Pasangan : Tentang Cinta 8+6=14

Ramadhan ke-3. Ya, tepat tiga tahun berlalu. Malam jelang Shubuh penuh rasa berdebar di dada. Tak lama lagi saat itu kamu merapalkan janji. Sebuah home wedding segera dimulai. Ya, tepat 8 Juni 2014, saya dan suami menandatangani buku nikah. Saat itu beberapa minggu sebelum Ramadhan.

Hari ini kami hanya mengingat, menekuri, berkaca diri sejauh mana kami saling mempertautkan hati. Mungkin tak sempat merayakan untuk sekadar makan di luar dan menitipkan anak agar bisa kencan berdua. Kami hanya mengingat dan bermusabah bersama. 

Untuk cinta kami yang baru balita, seharusnya tak harus ada peribahasa “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Tak harus ada amarah kalau kita bisa saling mengalah. Tak harus gugur segala kebaikan sebelumnya karena ekspektasi terabaikan. 

Maafkan aku, cinta… Masih meluruhkan air mata hanya karena soal ekspektasi. Saling menggantungkan harapan itu memang pahit. Seharusnya kita saling memantaskan diri. Sama-sama berjuang menjadi pasangan idaman. 

Belajar dari komunikasi produktif perkuliahan Bunda Sayang IIP, saya sadar ada 5 poin yang mesti diperjuangkan demi kebermaknaan hubungan. 

Clear&Clarify

Menghilangkan ganjalan atau mengutarakan keinginan dengan jelas dan selalu bertabayyyun. 

Choose The Right Time

Pernah pergi bekerja dalam keadaan kalut? Saya pernah karena keliru menyampaikan pendapat pada pasangan saat pagi hari yang repot. Saat itu harusnya fokus mempersiapkan hari. Namun, melangkahkan kaki untuk bekerja pun menjadi gontai karena emosi yang terpendam keluar bukan pada muara yang tepat. Ternyata waktu yang ideal menyampaikan pandangan itu sesaat sebelum tidur atau hari libur agar kami sama-sama rileks mendengarkan.

Kaidah 7-38-55

Albert Mehrabian memberikan porsi ekspresi dan intonasi lebih banyak dibanding kata-kata. Kata-kata jelas tidak cukup. Perlu disampaikan dengan menarik lawan bicara. Ekpresi yang hangat dan intonasi yang ramah. Saya akui ini tantangan yang harus diperjuangkan. Ada kalanya kami saling berdiam diri jika komunikasi sebelumnya berujung meng gantung. 

Intensive of Eye Contact

Seringkali kami sama-sama bicara tapi tak menangkap kontak mata. Saya bicara di ruang depan sambil memegang laptop. Suami menjawab di kamar sambil main hp. Kadang kami mengobrol bersebelahan tapi tak berpandangan. Ah, kalau ingat-ingat lagi kondisi itu begitu mengikis kebersamaan yang sesungguhnya. 

I am Responsible for Communication Result

Jika lawan bicara tak begitu menyimak, bisa jadi penyampaian kita kurang meyakinkan. Apapun respon lawan bicara seharusnya membuat kilas balik terhadap gaya komunikasi pribadi. Setiap perbincangan bukan semata menghamburkan kata namun mendapatkan makna yang utuh agar hubungan semakin harmonis. 

#level1 #day8 #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip #ODOPfor99days #RamadhanInspiratif #day12 #challenge #aksara

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s