doodling, Essai, Lembaran Memori, Momentum, ODOPers, Pendidikan, Psikologi, Tafakkur

Surat Tentang Masa Depan

Masa depan ada di hadapan. Bisa jadi belum tentu dalam genggaman. Namun tak ada salahnya semua dirancang dengan penuh keyakinan dan persiapan. Misi spesifik seperti apa yang akan dilakoni nanti. Lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, akan jadi apa kita nantinya? 
Pekan ini anak-anak kelas 9 alias calon alumni SMP menjejakkan rencana mereka dalam bentuk surat tentang masa depan. Di ujung episode putih biru, mereka “dipaksa” menerawang jejak langkah selanjutnya. Rangkaian next episode sebagai sebuah epilog proposal hidup, ide besar yang digagas oleh Inspirator Sukses Mulia, Jamil Azzaini. 

Ada kekaguman merambat saat mengeja rencana demi rencana yang dituliskan anak-anak. Betapa mimpi besar, peran hebat, telah tertambat dalam surat masing-masing. Betapa berharganya sebuah tekad. Surat ini akan menjadi penuntun do’a orangtua mereka menyambung mimpi masa depan anak-anak. 

Dulu, saya tak pernah mengenal proposal hidup. Saat SMP saya hanya menyimpan mimpi di dalam benak. Membiarkan satu per satu menguap hingga terlupakan. Ada sesal menyeruak. Namun, saya yakin kini setiap kita layak menuliskan skenario hidup masing-masing. Persoalannya, sempatkah atau tidak. Kalau menuliskan saja tidak sempat. Mungkin selanjutnya menggapainya pun pasti diragukan. Jadi, tuliskan proposal hidupmu. Berbekal janjiNya yang pasti datang menyambut. Sebuah janji limit waktu yang Allah tetapkan dalam tabir rahasia. Kematian. Tak pernah ada yang tahu. 

Hari akhir pasti akan tiba. Hanya di sisi Allah pengetahuan tentangnya tersimpan rapat. Namun surat cintaNya telah mengabarkan sedemikian lengkap. Membayangkannya saja, dada bergetar hebat. Merinding menahan kengerian. Saat bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya. Dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya. Maka jadilah ia debu yang beterbangan. (QS. Al-Waaqi’ah:4-6) 

Allahu Rabbi… Betapa dahsyatnya hari itu. Kita tak pernah tahu kapan tepatnya itu terjadi. Tapi tak serta merta kita terus bersimpuh di atas sajadah tanpa melakukan sesuatu di dunia. Nabi tak mencontohkan hidup fatalistik. Ada yang harus dilakoni sebagai misi kebermanfaatan sebagai sesama. Ada gerak yang menuntut langkah untuk mudah bersedekah, bermuamalah, dan kembali pada sebuah peran masa depan. Menjadi anak, pasangan, orangtua, dan sosok seperti apa yang kita inginkan. Ah tidak. Sebenarnya, selami kembali, benarkah surat masa depan yang telah dituliskan benar-benar yang Allah kehendaki atau hanya sekadar ingin menggenggam reputasi dunia? 

#RamadhanInspiratif #day14 #challenge #aksara #ODOPfor99days #proposalhidup

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s