Catatan Diri, Essai, gaya hidup modern, Kesehatan, Momentum, ODOPers, perjalanan

Mie Instan : Antara Benci dan Candu

Sejak diultimatum sang dokter yang menangani pasien atas mobil di malam buta tengah kemacetan parah Rancabali-Ciwidey, saya memendam benci tak terkira pada mie instan dalam cup styrofoam. Ah, bukan itu saja. Tapi pada semua merek mie instan dalam cup, mangkok, atau sekadar menyertai gurihnya cuanki malam hari. Benci teramat sangat. Tapi… Bagaimana ini, ah kebencian itu seperti menelan ludah sendiri. Benci tapi candu. Kemarin saja saya sudah menghabiskan satu cup mi instan. Hari lebaran pertama semangkok mie instan plus kikil sapi.

Petang tadi benar-benar pembelajaran berharga tentang candu pada segala makanan yang membahayakan lambung. “Stop, jangan lagi makan mie, pedas, asam, dan kopi!” Begitu kata dokter. Makanan yang disebutkan itu bagaikan  blacklist menu yang menggoda tiada tara. Mungkin untuk saya masih aman, tetapi suami tidak. Saya pun belajar dari rasa sakit luar biasa membuat iba siapapun yang melihatnya. Reminder untuk diri menahan diri untuk tidak terus lari pada mie dan kopi. Lapar, malas masak, akhirnya godok mie. Menahan ngantuk agar cenghar, mengandalkan kopi. 😔😣

Lambung yang kena menjadi kewaspadaan tersendiri. Belajar mengendalikan candu yang terus dituruti. Membuat panik orang sekitar saat ulu hati mulai berkontraksi. Ya Allah Ya Rabb, ampuni diri yang seringkali melalaikan waktu sehat dan waktu luang. Menyeleksi cemilan, memilih makanan yang bergizi benar-benar punya efek jangka panjang untuk masa depan. 

Normalnya makan 1 porsi mie dicerna dalam waktu 4 hari karena sistem pencernaan dalam tubuh cukup bekerja keras mencerna dengan maksimal. Namun, ini dalam rentang waktu terdekat sudah 4 porsi dihabiskan. Terbayang sudah bagaimana kinerja lambung mencerna dengan berat. 

Sensasi kembung, mual, lalu memuntahkan semua isi perut begitu terbayang kemarin malam. Syafakallah, Ayah. Semoga momentum ini jadi pengingat kita setelah terjadi ketiga kalinya. Rasa nyeri ulu hati itu datang tak terduga tapi bisa dideteksi pemicunya. Ayo patuhi alarm bahaya terhadap kesehatan pribadi. Jangan mendzalimi diri sendiri demi mendapatkan enak di lidah tapi bahaya untuk perut. Mengontrol makanan yang masuk seperti mengendalikan hawa nafsu dalam diri. 

Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk yaitu perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”HR At-Tirmidzi (2380), Ibnu Majah 

#ODOPfor99days

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s