Family Project #13 : Mencetak Foto Kegiatan


Sebelum era digital, mencetak foto butuh waktu panjang dari mengafdruk sampai memprosesnya di ruangan gelap, kini serba digital, foto dengan mudahnya dilihat hasilnya begitu memotret. Kelemahannya adalah sensasi menunggu hasil jadinya berkurang dan kadang kita cukup puas hanya melihatnya secara virtual. Menyimpan begitu banyak galeri foto tanpa hasil cetakan asli. 

Nah, dalam membuat sebuah album sederhana dari kegiatan keluarga, saya memanfaatkan printer dan kertas foto inkjet di rumah yang sekian lama belum dipakai. πŸ˜… Hitung-hitung Khanza bisa melihat semua aktivitasnya semacam portofolio. 

Sambil menunggu foto demi foto diprint, Khanza dan ayah mengemil lengkeng bersama. Selesai cuci tangan, mereka pun sama-sama bermain di kamar ala-ala ucang angge πŸ˜†. Ayah itu kadang suka tiba-tiba jahil dan bikin Khanza menangis, tapi tetap saja mereka kalau lagi barengan ketawa-ketawa bikin bundanya cemburu, ditambah wajah mereka satu gen alias mirip. πŸ˜†πŸ˜„

Masih on the process pengerjaannya nih, berharap Khanza memiliki sesuatu yang berharga untuk dikenang saat beranjak sekolah dan dewasa kelak. 

#Day13 #Level3 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunsayIIP

Iklan

Titik Puncak Insomnia : Sebuah Kewarasan Menjalani


Ada yang masih belum selesai terpikirkan. Meski ingin kututup rapat mata. Lelah memikul beban sehari-hari. Fisik ingin merebah ketika batas waktu telah menuju dini hari. Tapi sedikitpun mata tak mau terpejam. Malah semakin berdenyar dengan segala yang berkelebatan dalam pikiran. 
Antara rutinitas, rencana sebuah momentum, menanggapi ritme fluktuatif si kecil, dan masa depan yang masih ragu untuk dijalani. Keterlaluan pikirku. Bagaimana mungkin sisi dalam diri memberontak ketika satu sisi lain mencoba menenangkan. 

Bertanya-tanya, “Bagaimana sebuah akhir menjadi hebat jika tak diawali dengan niat yang lurus?” 

“Bagaimana kamu memahami tanda dan ayat demi ayatNya di antara sekian alasan terlalu sibuk untuk semua yang fana?”

“Bagaimana bisa kamu terlalu khawatir dengan masa depan yang masih rahasia tapi tak memaksimalkan ikhtiar dan do’a?”

“Bagaimana bisa kamu menetapkan standar sebuah rejeki dengan batasan manusia padahal kemuliaan lebih layak diperjuangkan?” 

Allahu Rabbi… Ketika segala kerja keras kadang tak dihargai dengan setimpal bahkan malah sering direpotkan seorang diri, bantu hamba mencari celah untuk tetap mengambil hikmah yang terserak. Di antara prasangka, di antara percakapan sembarang yang menjadi ruang dengar pengikis keikhlasan tanpa sengaja. 

Jangan biarkan standar-standar mereka melangkahi segala niat yang tertancap kuat. Jangan biarkan niat ini memudar karena minimnya sebuah apresiasi. Karena tak ada satu pun yang pantas menimbang, tak ada satu pun yang layak menghisab dan menilai, semua hanya indikator-indikator subjektif buatan manusia. 

Segala yang menjadi ganjalan dan kerikil di jalan ini hanyalah serangkaian tantangan untuk membuat langkah kaki semakin kuat. Segala pilihan yang telah diambil mesti menjadi keberanian untuk menghadapi risiko yang ada. 

Stop memikirkan segala keduniaan terlalu dalam. Benahi momen pertemuan denganNya. Tapaki jejak langkah ikuti petunjuk risalahNya. Kewarasan ini terjaga karena ingat semua fana. 

Random ceracauan lewat tengah malam, di antara nyamuk yang berdenging cepat.

#ODOPfor99days