Essai, Review Book, Selaksa Rasa, Work by Work

Nyanyian Sunyi Seorang Introver

Kegelisahan yang sering kita rasakan seringkali merupakan buah dari berbagai bentuk ketidakmengertian kita… Padahal, jika kita lebih sering mengamati, menghargai, dan menikmati hal-hal kecil, kita akan lebih mengerti bagaimana hidup ini bekerja.

Mendengar Nyanyian Sunyi, Urfa Qurrota Ainy, halaman 119

Introver. Kata ini terngiang kembali dalam benak. Seolah memanggil memori masa lalu. Betapa saya begitu enggan berbicara lewat telepon. Kalaupun harus, suara terasa bergetar terdengar. Menulis pesan panjang membuat saya lebih nyaman.

Katanya introver tak suka terlibat banyak dalam pembicaraan. Namun, bermodal nekat keluar zona nyaman, saya bertahan di Jurnalistik. Sebuah bidang yang menuntut banyak interaksi dan komunikasi lintas manusia. Awal-awal kuliah, tak terbayang bahwa saya akan mewawancarai narasumber untuk keperluan berita. Bahkan untuk mengacungkan tangan saja saat diskusi, peluh sudah berkucuran deras, tangan basah berkeringat dingin. Ternyata saya bergerak ke luar zona introver. Alhamdulillah lambat laun berhasil berperan. Perlahan memberanikan diri berbicara depan umum.

Begitu menemukan buku “Mendengar Nyanyian Sunyi” yang ditulis Urfa Qurrata Ainy, rasanya seperti terpanggil dari relung jiwa. Binar kesepakatan berhembus seiring membuka halaman demi halaman. Ada 70 fragmen pikiran dari buku yang terbit pada cetakan ketiga awal tahun ini.

Benar. Sepakat. Kita sehati. Seolah buku ini membuka tabir yang tak tersingkap sejak lama.

Mengapa harus baca buku ini? Seorang teman memberi penilaian sekilas begitu membaca sinopsisnya. Ini buku yang menyuruh kita menyendiri, ya. Bagi saya ada benarnya. Namun, lebih dari itu. Kita diajak memahami alur pikiran orang lain yang berkepribadian introvert. Terlepas dari kita termasuk intovert atau ekstrovert. Toh setiap kepribadian memang memiliki timing untuk terbit dengan sendirinya. Ada kalanya kepekaan tak berguna di tengah mereka yang sibuk mengurusi hingar-bingar.

Ada yang bilang, paparan kata-kata dalam buku ini sulit dimengerti dan tak terjangkau. Bagi saya, justru tidak. Membacanya menjadi celah pintu kemana saja yang menguatkan makna meski perlu waktu untuk mencerna.

Saya makin sadar sisi introvert saya menguat di tengah orang-orang yang berbincang ragam hal yang viral. Tak ingin berlama-lama mendengar lalu mengalihkan diri menemukan sunyi. Mereka menganggap aneh kala saya tak bisa terbahak dengan humor lucu. Namun saya akan mudah tertawa bersama seseorang yang membuat saya nyaman. Sudut ruangan menjadi area ternyaman kala saya berada di suatu majlis.

Ingatan. Sebuah kekuatan seorang introvert. Entah kenapa saya seringkali memanggil memori masa silam begitu melihat wajah seseorang. Seolah ekspresinya dan kata-katanya, masih hangat hari kemarin. Padahal itu telah berlalu beberapa tahun kebelakang. Hingga saat harus berinteraksi dengan orang itu, rasanya agak kikuk tak nyaman.

Overthinking! Sesuatu yang akan terjadi pekan depan bisa jadi membuat otak berkecamuk sejak itu diagendakan. Bagaimana kalau, bagaimana kalau… Segala hal seolah mewujud kecemasan tanpa alasan. Seringkali saya terlampau memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Namun sisi lain saya pun berusaha meruntuhkan belenggu pikiran.

Emoticon bagi seorang introvert sangat berharga agar ia tak dianggap dingin di media sosial. Dengan ekspresi 😊 kesan ramah terlihat dalam kata. Oiya emoticon yang membuat saya lebih akrab saat mengirimkan pesan seperti berikut ini:

πŸ˜‚ Menertawakan diri sendiri. Lelah tapi berusaha melangkah

😍 Berbinar takjub melihat yang dianggap menginspirasi

😘 Sambutan hangat peluk cium untuk sahabat atau rekan seperjuangan (awas salah kirim pada yang bukan mahram ya 😁)

Barangkali dengan membaca buku ini, kita bisa menguraikan benang kusut kegelisahan yang meraja. Menguatkan diri dan menemukan makna di antara arus dunia. Menyimpan segala kecemasan bernama penilaian manusia. Juga menata satu per satu kemelut pikiran yang tetap ada meski raga ingin merebah lelah.

Sebagai intovert, semua yang melintas menjadi titik awal menyemai makna selanjutnya. Bisa dalam satu bait lagu, puisi, kisah, bahkan goresan sederhana. Saya kadang asik menggubah lirik dan menyanyikannya diam-diam. Bernyanyi di atas laju motor yang membelah jalanan Bandung-Cimahi dengan suara yang cukup didengar oleh diri sendiri. Suara dengan wajah tertutup helm. Ditingkahi deru kendaraan dan klakson kemacetan.

Terus melangkah, meski diri terlalu lelah…🎼🎡🎢

Sesekali menyalurkan energi dalam senandung lepas dengan headset di telinga. Satu sisi ingin terus bernyanyi, sisi lain cukup saja diri yang mengerti. Mungkin ini yang membuat saya nyaman sebagai introvert yang fleksibel. Sesekali harus menggaungkan suara merebut perhatian anak-anak di kelas.

*sejenak ‘terdistraksi’ buku menarik yang dipegang anak di kelas, kemudian membujuknya agar buku ini bisa menginap 2 malam di selasar hati

Nuhun, Pon! πŸ˜ƒπŸ˜Š

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s