I Love Math #10 : Sadar Posisi


“Mau ke atas!” Ujar Khanza sambil memohon-mohon. 

Seharian tadi Khanza ingin naik ke lantai 2, karena lihat bundanya menjemur. Lalu ayah menggendong Khanza dan pelan-pelan menaiki tangga kayu yang baru setengah jadi. 

“Ingin ayun-ayunan di sini,” ujar Khanza sambil memegang tali tambang yang memanjang. 

Ayahnya sudah mencoba cara bagaimana agar talinya bisa dipakai berayun. Namun, saya jadinya parno sendiri. Khawatir Khanza terjatuh karena pagar pembatas lantai 2 belum selesai. Akhirnya, Khanza bisa dibujuk untuk turun ke bawah dan diajak berayun dengan cara lain. 

Hasilnya seperti ini, “Horee?!” πŸ˜„πŸ˜… 

Sarung ayah yang dikaitkan pada tangga darurat berhasil membuat Khanza berayun pelan. Khanza sudah bisa memilih posisi paling nyaman untuknya. Ingin duduk di bawah atau di karpet. Selalu tergoda untuk naik ke atas. Bahkan memindahkan buku-buku dari rak ke lantai. Mungkin ceritanya ingin sortir buku dari posisinya. πŸ˜…πŸ˜†

Iklan

I Love Math #9 : Membuat 100 Kata Bertenaga


Yoyoyoyoo… Begitu koor serempak para rekan guru saat MC menyebutkan tagline, “Guru HT…” πŸ˜… Hari ini saya selesai mengikuti Teacher’s Writing Camp yang super mendebarkan. Di sana guru-guru dilatih untuk menuliskan 100 kata saja untuk mendeskripsikan apapun. 

Ya, 100 kata saja dulu. Tak usah banyak-banyak. Mulai dengan lead yang tajam dan menarik di awal tulisan. Makanya kami benar-benar belajar bagaimana bisa belajar mengalirkan apa yang terpikirkan setelah membayangkan segala hal dengan mata kamera. Menyebutkan satu per satu view yang terpampang di depan mata. 

Ketika salah satu karya rekan yang lebih dari 100 kata, Pak Bambang Widodo dan Pak Jimmy Paat, selaku fasilitator pelatihan ini, memandu pengeditan tulisan yang ‘dipermak’ sedemikian rupa. Banyak yang tak perlu dan kosa kata yang diubah agar tulisan lebih menggugah.

Di sini, saya juga belajar bahwa literasi bukan saja beban guru bahasa semata. Mengapa tidak memulai puisi dalam matematika? Mengaitkan segala sudut pandang dengan lebih unik. Matematika bercerita misalnya. Belajar nominal 100 kata berarti tulisan harus benar-benar diperhitungkan keunikannya. 

Selama pelatihan selama 2 hari 1 malam, membuat saya ingat bagaimana latar suasana saat kegiatan berlangsung. Mulai dari sambutan semilir  sepoi-sepoi hingga hempasan angin yang membuat segala objek bergoyang-goyang. Lampu gantung temaram dan gesekan antar pohon terdengar seperti sebuah latar suara. Sesekali membuat pelatihan menjadi mencekam dan memeluk dingin. 

Hari ini saya tidak akan lupa pada keajaiban 100 kata. Mulai mendalami lagi tesaurus dan meracik lead pembuka yang bisa membuat orang penasaran saat mulai membaca. Semangaaat! πŸ˜ŠπŸ˜„

#tantangan10hari #level6 #KuliahBunsayIIP #ILoveMath #MathAroundUs

I Love Math #8 : Kecepatan Rata-RataΒ 


Tak selamanya waktu tempuh dalam Google Maps sesuai realita yang ada. Buktinya jarak tempuh yang saya lalui hari ini meski hanya 18 km, perlu 2 jam untuk sampai ke lokasi. Padahal dalam peta, jelas-jelas waktu tempuh hanya 45 menit.

Jarak yang kita lalui tak selamanya sesuai ekspektasi. Ada hambatan dalam perjalanan berupa macet, cuaca, dan kejadian tak terduga lainnya. Seperti yang saya dan keluarga jalani tiap hari. Ya, kami pasti selalu harus berteman dengan jarak, jalan, dan angin. Meski jarak tempuh dari sekolah ke rumah ibu saya hanya 3,9 km. Tertera 7 menit waktu tempuh sesuai petunjuk GPS, berhadapan dengan padatnya jalanan pagi dan petang, membuat waktu tempuh menjadi dua kali lipat.

Berteman dengan jarak sehari-hari. Membuat saya belajar matematika sederhana yang tak selamanya sesuai realita. Angka itu pasti tapi terimalah jika tak sesuai ekspektasi.

#Tantangan10Hari #Level6 #KuliahBunsayIIP #ILoveMath #MathAroundUs

I Love Math #7 : Mengenal Angka dan BerbagiΒ 


Khanza hari ini request sesuatu sepulang saya mengajar. Katanya ingin kartu Little Pony seperti yang dimainkan sepupunya. Akhirnya saya mengajaknya memilih gambar dari Google tapi berubah judul. Cari berbagai gambar yang ia sukai dari video yang paling sering diputar. Yup, beberapa objek dari Little Baby Bum. Saya pun menyesuaikan angka dan jumlah gambar dalam kartu. 

Masing-masing dicetak dan ditempelkan di atas styrofoam bekas kemudian dipotong sesuai ukuran kartu. Khanza pun mulai membuat menjajarkan satu per satu kartu yang sudah jadi di atas lantai. 

Hari ini sebenarnya kegiatan bermatematika kami tak begitu lama. Pertama, Khanza mulai mengantuk dan request susu pake dot. Saya ingat betul kemarin diare awalnya karena minum susu yang terlalu sering. Jadi Khanza itu punya kebiasaan kalau keenakan minum pakai dot, terus ketagihan hingga minum susu sampai 4 kali dalam sehari. Akhirnya, saya coba mengalihkan perhatiannya dengan cara menawarkan minuman sereal di gelas. Berharap Khanza lupa nagih susu dan bisa terbiasa pakai gelas. 

Minuman sereal pun dibuat dan Khanza bersemangat minumnya hangat-hangat. Ia minum sereal lembutnya yang mengapung di bagian atas gelas sampai tidak bisa disendoki lagi. Ternyata eh ternyata, sereal yang tinggal airnya saja ia abaikan. Khanza bilang, “Udah ya, buat bunda aja.” Ckckck. Baru sepertiga seruputnya, Khanza benar-benar mengaplikasikan ilmu berbagi ibu dan anak. Makanan atau minuman sisa anak, ibunya yang pasti habiskan. Daripada mubazir, memang demikian yang terjadi. πŸ˜‚πŸ˜†πŸ˜… Lalu ia tanpa harus ngedot, alhamdulillah langsung tidur nyenyak. 😘😍

#Tantangan10Hari #Level6 #KuliahBunsayIIP #ILoveMath #MathAroundUs

I Love Math #6 : Mengikuti Petunjuk VisualΒ 


Hari ini Khanza tampak bersemangat mengikuti gerakan saat menonton video Little Baby Bum. Meski hanya gerakan sederhana memegang bagian anggota badan seperti perut dan pipi. 

Selanjutnya ia sibuk membaca majalah mini berjudul Buncil yang bertemakan tentang buah-buahan. Di sana Khanza menemukan berbagai jenis buah yang bisa ia sebutkan dengan lancar. Kecuali beberapa buah yang sama sekali belum ia lihat dan cicipi. Salah satunya durian. Jadinya pas membuka bagian bayangan satu per satu buah di halaman berikutnya, ia mulai bingung. “Ini apa ya?”, ujarnya. Disitulah Khanza mulai kenalan dengan buah durian. 

Meskipun Khanza belum terlalu bisa menghitung secara rinci jumlah buah yang terdapat di bukunya, ia bisa memberikan kesimpulan pada satu per satu jenis buah berikut warnanya. 

#Tantangan10Hari #Level6 #KuliahBunsayIIP #ILoveMath #MathAroundUs

I Love Math #5 : Menakar dan Menuang


Tak banyak kegiatan bermatematika hari ini. Khanza tidur siang cukup lama dan akhirnya bisa bangkit ke ruang depan karena saya mengajaknya terlibat untuk membuat jelly.

Efek diare yang cukup sering kemarin membuat Khanza hanya ingin merebah dan duduk santai. Alhamdulillah selera makannya sudah mulai lahap. Jika kemarin dia cuma mau makan lalapan buncis dan satu dua suap nasi, maka hari ini Khanza makan lahap sampai tiga kali. 

Menakar. Saya membantunya menakar beberapa sendok gula, sedangkan Khanza menuangkan bubuk jelly, gula, dan air putih dari gelas. 

Alhamdulillah diarenya berangsur membaik. Qadarullah punya rencana program toilet training dalam beberapa waktu kedepan. Tapi malah nekat saat Khanza sedang diare. Rasanya agak kewalahan juga ketika lepas diapers dan langsung bergegas membawa Khanza setengah jam sekali ke kamar mandi. Apalagi ia belum terbiasa bilang untuk pup dan pipis. Tahu-tahu saja air dan pupnya sudah meluncur di atas lantai. πŸ˜…πŸ˜‚ Itu sih kemarin. Akhirnya nyerah juga saat malam masih mengandalkan diapers khawatir merembes ke kasur. 

Hari ini coba lagi tanpa diapers dan sounding kalau pipis/pup bilang terus lari ke kamar mandi. Hasilnya, masih kecolongan saat tidur siang. Basahlah kasurnya. Seiring BAB encernya berkurang, Khanza mulai biasa memberikan kode kalau mau ke kamar mandi. Dengan cara ekpresi wajah agak aneh sambil melipir menjauh. Langsung lah saya bersemangat mengajaknya ke kamar mandi. Begitu dibuka, celananya masih aman dan kering. Tak lama kemudian, ia bisa pup di WC meski hanya sedikit. Horeee πŸ˜πŸ˜„ *timbul secuil kebanggaan. 

Bermatematikanya kami lanjutkan esok hari dengan semangat jelang petang. Yup, baru bisa berkegiatan setelah bundanya pulang mengajar. Kecuali hari ini saya sengaja ijin tak mengajar karena Khanza tak mungkin ditinggalkan dalam kondisi lemas.

I Love Math #4 : Memikul Berat


Hari ini aktivitas matematika sederhana bersama Khanza hanya sampai tengah hari. Pagi-pagi Khanza masih ceria kesana-kemari sambil bermain puzzle angka sampai membawa karpet plastik di pundaknya. Meskipun Shubuh tadi BABnya encer dan bolak-balik ke kamar mandi berkali-kali. Senyuman dan celotehnya terus menghiasi wajahnya. 

Hingga siangnya Khanza menyerah dan hanya merebah di kamar. Ternyata suhu badannya naik. Makan pun enggan. Tak mau bangkit sama sekali. Hanya mengiba dan merengek terus untuk ditemani. Sesekali saya membujuknya untuk keluar kamar hanya untuk membersihkan pupnya yang keluar tak tertahan. Setiap ia meringis dalam posisi telungkup berarti kode agar saya segera membawa Khanza ke kamar mandi. 

Memikul berat, pelajaran berharga hari ini. Khanza saat sehat sebenarnya anak yang kuat. Bahkan ia mampu membawa karpet plastik yang digulung sambil bermain peran sedang berjualan. “Bunda ini berat karpetnya. Ayo beli Bun.” πŸ˜…πŸ˜Š

Kemudian ia bergerak memasang puzzle angka dan memeragakan angka satu dengan jari. Diakhiri dengan ekspresi lucunya saat memeragakan diri seperti bunga, memasukkan wajah dalam lingkaran puzzle angka nol.

Makna berat bagi Khanza sangat sederhana. Sesuatu yang membutuhkan usaha lebih untuk meraihnya. Termasuk membawa karpet plastik yang mungkin ringan bagi orang dewasa. Cukuplah berat hanya menjadi sebutan atas realitas yang bisa diukur dengan angka. Bukan semacam apologi atau sebutan berbentuk keluhan. Mengenal berat berarti Khanza nantinya harus belajar makna ringan. Seperti setiap kesulitan yang dirasa berat akan berganti dengan ringannya kemudahan yang Allah gariskan. 

#Tantangan10Hari #Level6 #KuliahBunsayIIP #ILoveMath #MathAroundUs