Diposkan pada Catatan Diri, fitrah, Inspiring Report, Islam

Semangat Mengkaji dalam Jihad : Hidupkan Kembali Misi Kerasulan


Bismillah walhamdulillah. Semangat mengkaji seharusnya dipelihara. Tak perlu usang oleh waktu. Tak boleh terhenti meski status pelajar atau mahasiswa tak lagi dimiliki. Tak harus lagi ada alasan untuk tak sempat mendatangi. Meski hanya sepekan sekali menyimak, semoga langkah ini selalu istiqomah.

Viaduct – Bandung, 15 Oktober 2017 M/ 24 Muharram 1439 H

Hari ini kembali menjadi bagian para mustami‘ yang menyemut dan memenuhi Jihad (Pengajian Ahad) di Viaduct. Kembali setelah sekian lama bersembunyi di balik alasan demi alasan. Astaghfiruka Rabbi… 

Hidupkan kembali misi kerasulan, tema yang kupas cukup mendalam oleh Ustad Komarudin Shaleh, dosen Fakultas Dakwah Unisba sekaligus Mudir ‘Am Pesantren Persatuan Islam 259 Firdaus Pangalengan Kab. Bandung. 

“Dakwah” Taghyirulummah, sebuah misi Rasulullah yang mencakup segala aspek dalam kehidupan. Bagaimana caranya terus berupaya mengubah umat dari satu situasi pada situasi lain yang lebih baik, demi keselamatan dan kebahagiaannya di dunia dan akhirat. 

Bagaimana pelaksanaannya?

Tentu saja melalui amar ma’ruf nahyi munkar. Misi dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw. sebagaimana QS. Al-Jumu’ah ayat 2 meliputi:

  1. Membacakan/mengajarkan ayat-ayat Allah SWT (QS. Al-Baqarah: 208)
  2. Memfitrahkan manusia dengan Islam (QS. Ar-Rum:30)
  3. Memahamkan manusia pada Islam dengan ilmu dan amal (QS. Al-Baqarah: 268-269)

    Selengkapnya bisa disimak pada rangkuman Doodle di bawah ini. 

    Yang pasti, setelah menyimak kajian hari ini saya tersadarkan satu hal. Sejauh mana saya telah berperan dalam misi menyampaikan risalahNya?

    *renungan mendalam* 

    Atau alih-alih menjadi penyampai risalah, bahkan saya masih berkutat pada hal-hal dangkal yang menjenuhkan. Mengeluhkan keduniawian. Memprotes segala hal yang tak disukai dengan reaktif. Barangkali saya sampai pada sebuah titik dimana saya dikendalikan oleh asumsi keliru tentang dunia dan isinya. Bukan menjadikan risalahNya sebagai ukuran.

    *Beristighfar panjang*

    #ODOPfor99days

    Iklan
    Diposkan pada Artikel, Catatan Diri, Essai, potret buram, Tafakkur

    Merdeka dan Rasa Malu


    PhotoGrid_1502168459898

    Kata “Merdeka” kembali digaungkan dan menjadi hashtag populer di jagat maya ketika memasuki bulan Agustus. Merdeka dikaitkan dengan pernak-pernik yang identik dengan HUT RI. Semua orang memasang atribut serba merah putih di setiap penjuru negeri. Para pemuda karang taruna yang biasanya vakum kembali ke jalan menampakkan diri. Ya, menampakkan diri dengan membagikan air mineral atau sekadar menyodorkan kardus-kardus sambil berkostum nyentrik. Sebagian bermake up horror, dandan ala waria, dan mengecat seluruh tubuh. Tujuannya satu, menyambut kemerdekaan dengan meminta sumbangan.

    Maka ketika kata merdeka kembali kita tekuri lebih jauh. Sesungguhnya telah lama nilai-nilai kemerdekaan tercerabut dari bangsa ini. Merdeka secara fisik telah kita jalani 72 tahun silam, namun secara mental dan moral, kemerdekaan itu sendiri memudar seiring hilangnya rasa malu yang begitu berharga. Malu yang menjadi cabang dari keimanan, perlahan berganti dengan serba heboh dan cari sensasi. Demi menjadi viral, apapun dilakukan. Mengemis perhatian manusia dengan bertingkah tanpa rasa malu. Tak ada lagi kesadaran akan batas aurat dan menjaga kehormatan diri. Hal remeh-temeh menjadi topik utama. Berputar pada tren yang meletup-letup sesaat dan memudarkan esensi.

    Muncullah berbagai hashtag yang sempat menggegerkan jejaring sosial, dari #omteloletom, #etaterangkanlah, dan tren lainnya. Semua orang yang memiliki akses internet dalam arti netizen, larut dalam euforia kehebohan dan keseruan  bertingkah konyol yang mengundang ribuan like dan komen. Asal viral, semua dilakukan. Bebas tanpa batas. Apa yang menyebabkan semua tingkah cari sensasi semakin menjadi contoh serupa hari ke hari? Lanjutkan membaca “Merdeka dan Rasa Malu”

    Diposkan pada doodling, Essai, Islam, ODOPers, Ramadhan Inspiratif, Refleksi, Tafakkur

    Celaka Karena Takaran


    Allah telah jauh memberikan peringatan lebih dari 14 abad yang silam tentang kecurangan. Curang dalam menakar dan menimbang. 

    Dalam QS. Al-Muthaffifin ayat 1-3, Allah berfirman: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” 

    Sering kita dapati para oknum pedagang yang menjadi “aktor” utama dalam liputan investigasi. Bagaimana mereka menjajakan dagangan dengan mengurangi kualitasnya. Menggganti bahan yang seharusnya dengan kepalsuan atau tiruan. Dibuat semirip mungkin dengan pewarna buatan. Menggantikan kealamian dengan menaburkan pengawet mayat. Mereka seolah bangga membeberkan semuanya tanpa malu, meski dengan suara disensor. 

    Hingga diujung hari kita menjadi gemas dengan frase berbau curang seperti tahu atau mie berformalin, baso boraks, donat cairan lilin, kerupuk plastik, dan makanan mencolok dengan pewarna tekstil. Berhati-hati, iya. Tapi seringkali kita pun tak tahu bahan yang aman seperti apa. Karena para oknum pedagang ini pintar bersiasat dan menjual menyerupai aslinya.

    “Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar.”(Al-Muthaffifin: 4-5)

    Dari Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, bahwa mereka sama sekali tidak takut kepada hari berbangkit, yang di hari itu mereka akan diberdirikan di hadapan Tuhan Yang Mengetahui semua isi dan rahasia, untuk dimintai pertanggungjawabannya, yaitu di hari yang menakutkan karena banyak peristiwa yang dahsyat terjadi di hari itu lagi sangat mengerikan. Barang siapa yang merugi di hari itu, maka dimasukkanlah ia ke dalam neraka yang panas.

    (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (Al-Muthaffifin: 6)

    Yakni mereka berdiri dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, lagi tidak berkhitan di tempat pemberhentian yang amat sulit, sesak, lagi menyengsarakan bagi orang yang durhaka, karena mereka diselimuti oleh murka Allah yang tiada suatu kekuatan pun atau panca indra pun yang mampu bertahan terhadapnya.

    Hanya sebuah reminder di ujung malam, tentang perlunya berilmu agar mampu menakar dengan seimbang. Berhati-hati menetapkan ukuran. Karena balasan yang menyambut kelak, Allah tak pernah main-main dengan JanjiNya. 

    #RamadhanInspiratif #day18 #challenge #aksara #ODOPfor99days

    Diposkan pada Ayat Quran, Essai, Islam, Momentum, ODOPers, Ramadhan Inspiratif, Refleksi, Selaksa Rasa

    Sabar Insidental 


    Menikmati udara dingin hari Senin. Melangkahkan kaki di jalan tepi sawah. Kembali menapaki rutinitas di sekolah. Mengawasi ujian PAT (Penilaian Akhir Tahun) kelas 7 dan 8. Semalaman tadi saya memikirkan hakikat sabar. Jika sabar tidak terpancar sejak rumitnya mengawali hari, maka muncullah sabar insidental. Sabar yang terpaksa muncul di tengah keruwetan yang ada. Hadir tiba-tiba karena komentar orang atau reminder orang terdekat karena kita terlihat belum bersabar. Sabar insidental hadir karena tak ada pilihan lain. Akhirnya sabar sebatas mengiyakan tapi hati tak sepenuhnya menerima dan masih terselip pikiran, “Kenapa sih ini terjadi?” 

    Itulah yang saya alami hari-hari yang lalu. Sabar insidental. Muncul karena kalap atas insiden yang sulit diterima. Biasanya lancar dan sesekali, Khanza buang air besar hingga 6 kali dalam sehari. Biasanya makan lahap atau minimal mau mengunyah walau lambat, ini berakhir dengan banyak sisa makanan dan penolakan mentah-mentah sejak sendok pertama. Ya Rabb, sabar ini rasanya bukan energi dari awal. Muncul karena tak ada pilihan lain. Jadilah mulut penuh keluhan, wajah ditekuk, dan penuh gerundel dalam diri. Astaghfirullah…

    Harusnya sabar menjadi mental fighter yang disiapkan sejak awal, bukan pilihan akhir. Sabar ketika segalanya memang ditakdirkan agar ekspektasi diri teruji. Sabar menerima apapun resikonya sejak dini, agar bisa melakukan antisipasi tanpa sulit hati. Karena sabar itu dipupuk sejak akar, bukan buah yang tiba-tiba tumbuh karena cangkokan. Maka sejak sabar tertanam dalam jiwa, tak ada lagi gerutu meluncur saat terjebak hujan deras. Tak ada keluhan kala respon orang sekitar tak semanis yang diharapkan. Bagaimanapun sabar mengajarkan kita tentang das seis das solen. Tak selamanya realita berjalan sesuai harapan. Karena peran sebagai muslim membuktikan kebaikan pada segala aspek, baik yang manis maupun pahit. 

    Terima kasih. Ungkapan yang layak dihaturkan pada siapapun termasuk yang sempat menorehkan luka. Luka yang terbalut karena kata, sikap, dan laku yang menumbuhkan akar kesabaran. Ya, meski pahit awalnya. Air mata jatuh dan hati sempat keruh karena momen menyakitkan. Harusnya tak usah ada rasa sakit hati yang dipelihara. Terima kasih untuk kalian yang sempat mengaktifkan radar sabar dalam diri. Sungguh pelan-pelan kesungguhan iman ini tengah teruji. 

    Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali)“.

    #RamadhanInspiratif #day3 #challenge #aksara #ODOPfor99days

    Diposkan pada Essai, fitrah, Islam, Islam, Keluarga, ODOPers, Pendidikan

    Serap Ilmu dari Kulwap BIncang seRU: Family Quality Time with Al-Qur’an


    Alhamdulillah bisa bergabung kulwap BIRU (BIncang seRU) dengan tema “Emak Rempong Bisa Punya Balita Hafal Al Qur’an” yang diinisiasi Rumah Belajar Tahfidz Institut Ibu Profesional. Dengan padatnya aktivitas seharian di full day school dan pulang dengan energi sisa, saya tak sempat melontarkan pertanyaan dalam diskusi aktif malam kemarin. Kembali menjadi silent reader dan mulai scroll materi yang sudah jauh sampai 15 pertanyaan. Memanfaatkan tengah malam saat Khanza (26 bulan) sudah terlelap. Mulai menyerap perlahan dan doodling. Alhamdulillah beberapa poin rasanya terwakili oleh rekan lain yang sempat aktif tanya jawab.

    Kagum pada Mbak Juditha Elfaj yang berhasil mendampingi balitanya hafal Qur’an di tengah padat aktivitasnya. Beliau memiliki 2 anak dan menjadi anggota Tim Ahli – Rumah Main Anak (2016). Selain itu, beliau juga penulis Ramadhan Kit for Kids (2015) dan Founder+ pengajar Taman Belajar Al-Huda (2005-2011). 

    Berikut hasil sharing beliau tentang pencapaian balitanya dalam menghafal Qur’an.

    Alhamdulillah, sulung saya telah selesai menyetor hafalan seluruh surah di juz 30 pada usia 3 tahun 9 bulan. Ananda juga pertama kalj mengkhatamkan tilawah 30 juz pada usia 4 tahun (kurang seminggu) dan berhasil mengkhatamkan bacaannya 2 kali saat usia balita (sebelum 5 thn). Ananda mulai menyetorkan hafalannya secara rutin setelah bicaranya lancar, panjang, dan dimengerti, yaitu pada usia 2 tahun 6 bulan. Kegiatan menghafal ini semakin seru dengan sambil bercerita isi surahnya, mengunjungi kebun binatang dan menjumpai binatang yang disebuntukan pada hafalannya (gajah, kuda, unta, dsb), wisata alam, dan mengaitkan ciptaanNya yang kami temui dengan ayat-ayat Allah (awan, matahari, laut, bumi, gunung, dsb). Ananda mulai belajar membaca Al Qur’an ketika sudah bisa diajak duduk manis selama 10-15 menit pada usia 3 tahun. Sebelumnya, belajar dengan permainan, membuat craft hijaiyah, dan cerita. Ananda mulai membaca mushaf Al Qur’an usia 3 tahun 5 bulan, dari sini kami mulai mengeksplor kisah para nabi dan teladan lainnya dari Al Qur’an.

    *speechless* 

    Masya Allah, begitu kerennya beliau mengkondisikan balitanya untuk akrab dengan Al-Qur’an. Reminder dan tamparan diri begitu keras. Sebuah kenyataan kalau saya pernah tak yakin, sempatkah saya membersamai Khanza untuk akrab dengan Al-Qur’an dengan waktu yang terbatas. Jawaban simpel dan mengena adalah sediakan quality time istimewa, bukan hanya sesempatnya. 

    Jazaakillah khair Mbak Judith. Begitu berharganya sebuah komitmen dan pembiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam keluarga. Menyambut Ramadan di hadapan dengan meningkatkan progress amalan dan memperbaiki aktivitas menjadi bermanfaat. Al-Qur’an sebagai “software” istimewa dan isu utama agar keimanan selalu terinstall dalam diri.

    Berikut ini hasil diskusi kulwap “Emak Rempong punya Balita Hafidz Qur’an”.

    • Interaksi anak dengan Al-Qur’an dimulai dari dibiasakan dengab menuansakan Al Qur’an di lingkungan sekitarnya, seperti dengan memperdengarkan bacaan Al Qur’an, memberi keteladanan bagaimana adab dan intensitas berinteraksi, membacakan kisah2 di dalamnya, dll.
    • Setiap anak memiliki start kesiapan tersendiri dalam memulai belajar dan rentang konsentrasi yang tidak panjang. Sebaiknya jangan dipaksa. Apalagi membaca adalah keterampilan yang cukup rumit yg membutuhkan kesiapan. Perlu dikuatkan penuansaan Al Qur’an di rumah agar kecintaannya berinteraksi dengan Al Qur’an semakin bertambah.
    • Fenomena penghafal Al-Qur’an namun tidak selaras dengan akhlaknya. Yang paling utama ditanamkan dengan kuat di usia dini adalah aqidah yang mengakar kokoh dari diri anak. Akhlaq dan adab adalah buah yg dihasilkan aqidah yang kuat. Pembiasaan2 adab ini yang juga perlu dibiasakan selama kita menanamkan aqidah pada si kecil. Al Qur’an adalah petunjuk bagaimana menjalaninya. Hati yg tershibghah atau tercelup dengan ayat2Nya akan lebih mudah menerima kebenaran dan nasihat. Oleh sebab itu, perlu berulang2 diluruskan niat dlm belajar dan mengajarkan Al Qur’an. Bukan semata untuk dibaca atau dihapal. Bukan untuk prestise di hadapan manusia. Karena ayat2Nya terlalu mulia untuk tujuan2 duniawi.
    • Interaksi pada anak usia 0-2 tahun (masa buaian/menyusui 》dominasi peran ibu)

    • memberi keteladanan dengan menunjukan rutinitas ayah dan bunda berinteraksi dengan Al Qur’an

    • memperdengarkan Al Qur’an pada berbagai kesempatan, terutama saat bunda sedang menyusui. Krn bukan hanya raganya yang haus, tapi jiwanya juga

    • menunjukkan cara memuliakan Al Qur’an (menyentuhnya dengan penghormatan dan sopan, meletakkannya pada tempat yang tinggi dan mulia, dsb).

    • Interaksi pada anak usia 3-5 tahun (pasca anak disapih 》mulai masuk dominasi peran ayah)

    • menceritakan kisah-kisah pada Al Qur’an

    • bersabar menghadapi sikapnya dan menunda hingga ia siap jika masih menolak

    • kreatif dalam mengajarkan Al Qur’an

    • menjaga perbedaan karakter setiap anak (sulungku dan adiknya beda banget)

    • mengapresiasi memberi reward atas usaha maupun keberhasilan ia dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Apresiasi ini usahakan lebih besar dibanding keberhasilan ia di bidang lainnya.

    • membuat jargon untuk mengkondisikan anak. Misal, aku cinta Al Qur’an, anak sholih suka membaca Al Qur’an, dsb. 

    • Setiap anak memiliki keunikan, karakter, dan gaya belajar tersendiri. Maka orangtuanya yang paham dengan kondisi anaknya. Satu hal yang perlu dipahami bahwa tidak ada metode yang paling baik melainkan metode yang paling COCOK dan sesuai dengan anak kita. Namun, yang pasti cocok dan sesuai dg ananda pastilah doa orangtua (apalagi seorang ibu) yang insya Allah selalu mustajab dan tdk tertolak. Maka, jangan lupa selalu iringi ikhtiar kita mendidik anak dengan doa yang tulus.
    • Lingkungan sedikit banyak tentu memberikan pengaruh pada anak. Terlebih pada ananda yang belum tamyiz atau belum bisa membedakan yang haq dan bathil, sehingga masih suka “ikut2an”. Seharusnya, orangtua sebisa mungkin memberikan pengaruh yang dominan pada anak jika tidak ingin peran tersebut diambil oleh lingkungannya. Sebisa mungkin pilihkan sekolah yang sejalan dengan tujuan utama pendidikan orangtua di rumah, sehingga bisa saling menguatkan dan bersinergis.
    • Berikut adalah cara yang saya gunakan. Bisa jadi para bunda memiliki metode yang berbeda yang disesuaikan dengan karakter ananda.

    membaca

    Anak pertama saya baru diperkenalkan intens huruf hijaiyah sekitar usia 3 tahun (ngomongnya sudah jelas dan lancar, jadi bisa lebih mudah belajar makhroj dan sifat huruf). Ananda belajar membaca menggunakan iqro attaisir (rosm utsmani) pada usia 3 thn. Beberapa metode belajar sebelum pakai iqro :

    ♡ bikin2 DIY tema hijaiyah

    ♡ one day one huruf

    ♡ flashcard utk bbrp huruf yg mirip

    menghafal

    Sebelum dirutinkan menghafal dan murojaah, ananda terbiasa mendengar orang2 rumah melafalkan Al Qur’an, rutin dibacakan wirid Al Qur’an sebelum tidur, mendengar murottal, dsb. Setelah ananda siap dan mau dirutinkan, ananda menambah hafalan dengan metode talaqqi (menyimak langsung ayat yang dibacakan guru, dalam hal ini orangtuanya) sehingga ananda bisa memperhatikan  betul bagaimana sebuah huruf atau bacaan keluar dari makhrajnya, bagaimana ia terdengar dengan jelas, dsb.

    • Tentang pembagian peran. Pendidikan yang dijalani dalam keluarga (sebaiknya) merupakan kesepakatan bersama suami dan istri. Dalam hal ini, suami sebagai qowwam adalah captain yang bertanggungjawab ke arah mana keluarga ini akan dibawa. Di sisi lain, istri/ibu adalah orang yang paling sering berinteraksi dengan anak di rumah tentu menjadi garda terdepan dalam menjalankan amanah pendidikan dalam keluarga. Saya (berusaha) mengoptimalkan peran pendidik terlebih ketika suami kerja/bertugas di luar rumah. Seperti membiasakan adab, berkisah, mengisi sesi mengaji siang, menemani anak belajar, dsb. Ketika suami pulang, maka beliau yang berhadapan langsung dengan anak2 dalam mengajar, memberi nasihat, maghrib mengaji, subuh berkisah/menghafal, mengisi taklim keluarga kecil kami, dsb
    • Mendidik anak laki-laki berinteraksi dengan Al-Qur’an yang kadang dengan bercanda. Memang yang perlu ditekankan sebelum menyampaikan ilmu adalah menegakkan adab; terlebih adab kita kepada Allah (seperti dalam beribadah, doa, dan berinteraksi dengan kalamNya, dsb). Oleh sebab itu, majelis yang rutin kami jalankan dlm keluarga selain halaqoh Al Qur’an adalah pembahasan adab (dalam hal ini diambil dari buku Adabul Mufrod atau kisah2 shiroh.
    • Anak yang lebih antusias mendengar lagu dibanding mengaji. Al Qur’an tidak bisa menyatu dengan musik. Jika ayah dan bunda berkomitmen untuk memenuhi hati ananda Al Qur’an, sebaiknya dicukupkan dengan Al Qur’an saja. Apalagi mengingat ananda sudah memiliki ketertarikan dan daya serap yang sangat baik. Proses menghafal memang tidak perlu dipaksa. Hanya dengan terbiasa bahkan anak2 mudah menyerap apa yang mereka lihat dan dengar. Tinggal kitanya yang perlu selalu menjaga kelurusan niat dan keteguhan amal untuk konsisten. Luangkan waktu khusus. Sediakan, bukan sesempatnya.
    • Contoh jadwal harian aktivitas bersama Al-Qur’an.
      • Aktivitas harian kami seperti pada umumnya saja.

    Bangun tidur (setelah subuh) : menambah hafalan baru

    Pagi – siang : mandi, makan, main, dsb.

    Siang (setelah zuhur) : tilawah siang (biasanya minta ditambabkan cerita tentang ayat atau surah yang dia baca.

    Siang – maghrib : aktivitas harian seperti tidur siang, makan, mandi, dsb

    Maghrib – menjelang tidur malam : tilawah, mengulang hafalan, taklim keluarga (membahas buku, berkisah, review/evaluasi kegiatan.

    Contoh bahasan dalam Al Qur’an yang pernah kami angkat misalnya ketika ananda menghafal surah Al Fiil, maka kami ajak melihat langsung gajah di kebun binatang, membahas keunikan binatang tsb, menceritakan kisah tentang pasukan gajah, dsb.

    #ODOPfor99days

    Diposkan pada Dunia Anak, Islam, Pendidikan

    Ngaji (jangan) Mundur


    Sepercik semangat itu sempat padam!

    Ya, padam oleh ketakmengertian para orangtua yang tak mau susah-payah mendorong anaknya mengaji. Tanpa biaya pun, orangtua rasanya berat. Apalagi setelah saya melayangkan surat pemberitahuan. Ya, surat itu intinya saya meminta keikhlasan orangtua untuk berinfaq Rp 25.000,- per bulan. Infaq itu semata-mata untuk biaya operasional (kertas, bahan ajar, hadiah game) plus biaya kebersihan di masjid. Seketika sehari dua hari setelah surat diterima orangtua. Satu per satu anak yang mengaji mundur tanpa alasan. Mereka absen dan bilang saat berpapasan dengan saya, “Bu, saya mah keluar ngajinya, kata mamah mau pindah ke masjid A…” Yang lainnya tanpa kabar, tak datang-datang lagi ke masjid.

    Saya menghela nafas panjang.

    Dari anak 19 orang kini menyusut menjadi 5 orang.

    Saya beristighfar dalam hati. Salahkah saya memberikan surat tersebut? Atau memang sebagian orangtua tidak siap membayar sepeser pun untuk anak-anaknya mengaji. Mungkin orangtua berpikiran seperti ini, “Buat apa bayar dengan nominal sekian hanya untuk mengaji, toh sekolah negeri pun banyak yang gratis…” Baiklah benar demikian adanya. Tapi, setelah dipikir ketika porsi untuk jajan anak, mereka mampu memberi jajan Rp 10.000 per hari, mengapa untuk mengaji bayar Rp 1.000,- pun sulit? Bagi mereka, urusan mengaji adalah nomor kesekian. Tidak penting.

    Merenung. Dalam.

    Kini hanya 5 orang tersisa. Dengan mengumpulkan semangat yang berserakan. Saya mencoba untuk bertahan dengan kuantitas sedikit. Tidak terlalu menuntut orangtua untuk membayar. Karena dari awalpun, saya tidak mewajibkan infaq tersebut. Hanya memberitahukan orangtua jika berkenan.

    “Biarin 5 orang juga teh. Yang penting sungguh-sungguh. Buat apa banyak anak tapi malah tidak fokus.” ujar Ibu saya menyemangati.

    Kembali ke rumus “kualitas”. Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala… untuk menguji kalian semua siapa diantara kalian yang paling baik amalnya. Mencamkan dalam hati yang paling baik amalnya, bukan paling banyak amalnya.

    Maka, saya akan terus survive apapun yang terjadi untuk mengaji di masjid ini. 5, 4, 3, 2, bahkan satu orang pun, saya tidak boleh mundur begitu saja. Saya tidak boleh kalah karena kuantitas yang minim. Karena seorang mukmin diuji karena perjuangannya meraih kualitas amal, bukan kuantitas.

    Melihat anak-anak semangat mengeja huruf Alif Ba Ta Tsa, membuat semangat saya menyala. Langkah-langkah kecil mereka yang bergerak dalam gulitanya petang menuju masjid semoga menjadi titik awal tumbuhnya generasi Qur’ani. Alhamdulillah di antara puluhan anak yang berdomisili di RT/RW tempat tinggal saya, masih ada 4-5 anak yang giat mengaji dan tak terusik oleh tayangan kartun di TV di sela-sela adzan magrib. Alhamdulillah masih ada orangtua yang peduli dengan akhlak anak mereka dengan pembiasaan mengaji sejak dini.

    Dari merekalah, semangat ini terus bertahan walau redup. Ya, sangat redup…

    Mereka yang bertahan mengaji. Sumber semangat :-)
    Mereka yang bertahan mengaji. Sumber semangat 🙂

    Diposkan pada Islam, Literasi, Refleksi

    Mencari Ilmu tanpa Jemu


    Melihat buku tebal beratus-ratus halaman bahkan bisa diukur ketebalannya hingga 5 senti kadang membuat saya bergidik ngeri. Betapa tidak, stigma membaca buku jenuh sudah kadung melekat pada buku-buku teori dan sejarah, buku kuliah, dan buku-buku berat lainnya. Namun, saya memutuskan untuk menerobos stigma itu dengan harapan mencerna bahasa yang cukup berat untuk dicerna, “Sejarah Tuhan-nya Karen Amstrong” saya ambil dari deretan buku di lemari. Buku itu milik Roofi yang dibeli saat pameran buku. Entah mengapa adik saya yang satu ini selalu membeli buku-buku bertemakan sejarah yang notabene berwujud tebal. Saya selalu berpikiran, memangnya dia punya waktu untuk menamatkan buku-buku itu…

    ???????????????????????????????

    Saya pun memulai membuka halaman demi halaman Sejarah Tuhan diawali dengan peta-peta wilayah secara kronologis agama. Dengan kening yang tak berhenti berkerut seraya kepala berdenyut, saya terus meneruskan bacaan sampai sebuah alinea menyadarkan saya tentang, memperluas kesadaran. Alinea tersebut berbunyi begini, “ketimbang menanti Tuhan untuk turun dari ketinggian, saya mesti secara sengaja menciptakan rasa tentang dia di dalam diri saya.” Tiba-tiba berpikir, mengapa kadang saya berlaku sekuler meskipun secara verbal saya membenci sekularisme. Ya, terkadang saya lupa melibatkan Allah dalam setiap gerak langkah saya hingga muncul penyakit takut yang salah kaprah, cemas, niat yang tak tulus.

    Masih meneruskan bacaan…

    Oiya, stereotip yang pernah muncul saat melihat buku Sejarah Tuhan ini adalah nada minor dalam diri berkata bahwa buku tersebut bisa saja membawa saya terombang-ambing pada keyakinan agama yang gamang. Karena berbagai definisi dan konteks Tuhan dimunculkan secara berbeda menurut historis pemikiran manusia. Mulai dari kemunculan nama Tuhan, Tuhan yang satu, cahaya bagi kaum non-Yahudi, trinitas: Tuhan Kristen, keesaan Tuhan Islam, Tuhan para filosof, Tuhan kaum mistik, Tuhan bagi para reformis, pencerahan, kematian Tuhan, adakah masa depan bagi Tuhan?. Ya, dari 673 halaman buku, Karen Amstrong menyajikan bahasan menyeluruh yang cukup solid.

    Saya membaca buku tersebut secara random, karena tujuan saya membaca buku ini bukanlah menamatkan buku dengan jumlah yang banyak, tetapi apa yang bisa saya dapat dari buku ini. Ungkapan mana yang bisa menguatkan pemahaman tentang Tuhan dalam diri.

    Hingga saya bertemu kalimat tentang sholat, “gerakan-gerakan eksternal ini akan membantu seorang Muslim menanamkan sikap batin dan menetapkan kembali arah hidup mereka.” Saya teringat pada definisi khusyu’ dalam sholat yang bisa menjadi pengendali diri dari perbuatan keji dan munkar (fahsya wal munkar). Tentu saja khusyu’ ini bukan saja selesai dalam lisan, karena mengejar makna khusyu’ adalah perjuangan sepanjang hidup. Dan itulah yang selalu dimulai saban waktu yang lima.

    Masih membaca setia paragraf yang cukup berat untuk dicerna, hingga saya sampai pada secarik kertas yang menjadi pembatas halaman buku Sejarah Tuhan. Sebuah tulisan adik saya, “Teruslah mencari ilmu, jangan pernah merasa cukup, meskipun hari ini kau belum mengerti dan sulit mencernanya, suatu hari kau pun akan mengerti.”

    ???????????????????????????????Hening…

    Sungguh berat perjuangan Rasulullah saat mengemban amanah wahyu pertama untuk menerima titah membaca dari malaikat Jibril. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan – menciptakan manusia dari segumpal darah! Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam – Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-A’laq : 1-5)

    Bacalah…

    Umat muslim di era modern ini memiliki kemampuan yang lebih mumpuni untuk membaca berbagai ilmu pengetahuan dari sumber apapun. Buku, media massa, e-book, bahkan Al-Qur’an dan Hadits sekalipun yang telah memasuki wujud digital sehingga dengan sekali klik terbuka dengan lengkap dalam gadget tanpa harus membuka kitab-kitab tebal. Namun, seringkali kesadaran kita terlalu sempit untuk menghadapi keluasan informasi di hadapan mata. Terkekang oleh kemalasan teknologi yang membuat manusia melupakan firman Allah yang paling utama dan pertama. Bacalah! Sungguh, ilmu manusia dibandingkan ilmu Allah hanya seujung jari yang dicelupkan di samudera lautan yang luas.

    Jadi, sebenarnya tak pernah ada batas untuk berhenti belajar. Mencari ilmu bukan lagi proses seremonial dalam lingkup akademik. Sepanjang hayat, manusia berkewajiban belajar sebagai tonggak perjuangan dalam melakoni peran sebagai khalifahNya. Bacalah perlahan dan mulailah perluas kesadaran…