Diposkan pada Bunsay IIP, ODOPers, Pendidikan

Sebuah Code of Conduct


Sesi baru pada perkuliahan Bunda Sayang dimulai. Sebelum memasuki cawu dua perkuliahan, saya benar-benar diingatkan lagi tentang sebuah etika berharga dalam menuntut ilmu. 

Kembali diingatkan tentang kehati-hatian menyerap dan membagikan sumber ilmu. Terutama perkuliahan Bunsay. Teringat saat sesi matrikulasi dulu, begitu semangatnya saya membagikan hasil resume gaya Doodle di grup Whatsapp matrikulasi, sesekali di medsos IG dan FB. Ternyata semakin kesini saya mengerti bahwa niat baik tak selamanya sesuai jalur etika yang seharusnya. Cukup saja jadi bahan pembelajaran sendiri agar orang lain pun tak keliru memanfaatkan dan asal copas. Bahkan untuk yang belum bergabung menjadi member IIP. Bisa jadi punya asumsi tak usah bergabung saja karena materi inti dan resumenya pun sudah bertebaran di media sosial. 

Bersih-bersih area galeri virtual di medsos. Benar-benar menyaring mana yang perlu dibagi, mana yang cukup disimpan sendiri. Berjuang menjadi peserta yang bermartabat dan bertanggungjawab selama perkuliahan berlangsung. 

Terutama menjadi seorang peserta yang aktif saat sesi diskusi. Saya merasa belum maksimal karena sesekali masih harus scroll layar terlampau jauh karena tertinggal sesi diskusi. Akhirnya saya mengandalkan corat-coret materi belakangan saat yang lain sudah berbincang langsung on time diskusi.

Code of Conduct ini begitu penting dalam sebuah keberlangsungan komunitas. Bukan saja memahamkan tentang pedoman dan kesepakatan-konsekuensi namun benar-benar aktualisasi konsep adab sebelum ilmu. Ya, seperti yang Ibu Septi Peni Wulandani sampaikan, bahwa “Adab sebelum Ilmu dan Ilmu sebelum Amal, maka karakter adalah yang pertama dan utama dalam sebuah perkembangan sebuah komunitas pendidikan.” 

#ODOPfor99days

Iklan
Diposkan pada Bunsay IIP, doodling, Essai, Foto dan Cerita, Keluarga, ODOPers, Selaksa Rasa

Antara Kulwap, Ujung Tantangan, dan Anak Tangga Keimanan


Sudah dua sesi saya menyimak kulwap “Perjalanan Ibu Bahagia” dengan dua topik berbeda. Topik pertama tentang “Mengenali ME sebelum menentukan Me Time” dan topik kedua tentang “Me Time, YES! Depresi, NO!” Menyimak perlahan sebagai silent reader sambil merangkum. Merangkum apa yang bisa dipetik dari kedua topik dan membuktikan formulanya dalam keseharian. Semuanya kembali pada perjuangan melaksanakan kata-kata, mengaplikasi pemahaman untuk menggapai pengalaman bermakna.

Nyatanya saya harus langsung mempraktekkan dengan menekuri waktu yang Allah takdirkan. Qadarullah di ujung pengumpulan tantangan Kuliah Bunsay IIP Level 4, saya tuntas membersamai Khanza meski merapel tulisan karena dihimpit agenda sekolah dan persiapan penilaian tengah semester.

Setelah Khanza saya dampingi penuh gaya belajarnya, saya harus menyelami gaya belajar sesungguhnya. Belajar lewat apa yang Lanjutkan membaca “Antara Kulwap, Ujung Tantangan, dan Anak Tangga Keimanan” β†’

Diposkan pada Bunsay IIP, Dunia Anak, Essai, Foto dan Cerita, Keluarga, ODOPers

Gaya Belajar #17 : Meminta dengan Santun


Khanza kerapkali berteriak dan merengek jika membutuhkan sesuatu. Bundanya kadang kalap sendiri dan dibuat kesal. Tapi setelah menyibak pemahaman tentang manajemen emosi dan komunikasi produktif, saya mulai menata cara yang pas agar Khanza belajar meminta dengan santun. Menggunakan olah vokal yang benar-benar sesuai namanya. Tersemat nama tengahnya “Layyina” yang berarti bertutur kata lembut. 

Hari ini Khanza mengasah kinestetiknya dengan mendorong meja di ruang tamu πŸ˜…πŸ™Œ. Anak perempuan gagah. Eh, tahunya saat diminta mengembalikan ke posisi semula. Ia menangis dan ngambek. 

“Ini gimana, gak bisaa.. bunda.. Huhu..” 

“Coba Khanzanya pindah dulu ke ujung sana baru dorong lagi pelan-pelan,” ujar saya mengarahkannya untuk pindah posisi ke ujung meja yang lain. Kalau pindahin meja dengan cara ditarik, ya beratlah, Nak.

Mau request susu. Alhamdulillah bisa diberi pengertian untuk minum dari gelas sampai habis. Biasanya keukeuh ingin susu dot. Saat Khanza meminta dengan teriak atau agak marah, saya coba merangkulnya dan berdialog, “Coba bilangnya yang lembut ya.” Lalu, Khanza mulai menata kembali kalimatnya dengan artikulasi yang mengalun sedikit merayu. πŸ˜… 

“Unda sayang, mau minum susuuu.” 

“Boleeeh, pake apa?”

“Pakeee..dot.”

“Khanza bayi bukan?” 

Ia langsung geleng-geleng kepala. “Bukan, tapi anak-anak.” 

“Berarti pake???” 

“Gelaaass.” Khanza menjawab sendiri dengan semangat. πŸ™Œ

Alhamdulillah, Khanza bisa menghabiskan susunya sampai tetes terakhir. Cara lain jika ia mulai tantrum dan tak jelas minta apa. Coba trik berikut ini. Dekati anak, gendong, perlihatkan wajahnya ke cermin, dan mulai pasang wajah lucu. Niscaya tangisnya berubah jadi gelak tawa air mata 😁 karena tak kuat digelitik hingga tangisnya hilang. 

Catatan:

Tulisan di tantangan hari ke-17 ini menyisakan harapan dan do’a. Di balik keceriaannya, Khanza sedang kurang sehat. Hidung memerah terus diseka karena pilek, mata berair, dan suhu badan hangat. Berkilo-kilo meter dari sini, ayah pun sedang drop kondisinya karena kelelahan hingga harus diinfus. Laa ba’sa thohuruun insyaallah. Mudahkan Ya Rabb… Segera pertemukan kembali kami dalam kebersamaan di rumah dengan kondisi sehat wal Afiat. Aamiin.

#level4 #tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP

Diposkan pada Bunsay IIP, Dunia Anak, Essai, Foto dan Cerita, Keluarga, ODOPers

Gaya Belajar #16 : Mana yang Belum Aku Singgahi?Β 


Membawa Khanza ke sekolah hari ini begitu menantang sekaligus mengesankan untuk Khanza. Selain bisa menjelajahi beberapa area menarik baginya, Khanza bagaikan magnet yang membuat interaksi dengan orang sekitarnya semakin cair. Khanza awalnya malu-malu seperti biasa begitu sampai sekolah. Lambat-laun Khanza mulai bisa membalas sapaan orang lain, dengan senyuman, jawaban singkat, bersalaman, sampai mau diajak toss alias high  five di ujung sore sebelum pulang. 

Kalau tak dipantau sama sekali, langkah mungilnya sudah menjajaki tangga besi melingkar yang cukup rawan untuk dinaiki. Akhirnya, saya membawanya ke area terbuka seperti lapangan dan jalan pinggir sawah. Ia begitu senang saat melihat bunga bermekaran di vertikal garden sekolah. Menyebutkan warna dan menunjuk satu per satu bunga. 

Khanza sebenarnya tidak biasa lama-lama dalam ruangan kecuali sambil menonton atau pas tidur siang tadi di ruang guru. Baginya momen ke sekolah menjadi kesempatan kinestetiknya menjelajahi. Tempat mana ya yang belum aku singgahi? πŸ˜…

Ke kantin, perpustakaan, kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, sampai ke WC sekalipun untuk mandi sore. Mungkin yang belum itu lab IPA dan taman. Kalau taman sih makin menyempit karena dalam tahap renovasi bangunan sekolah. 

Yang pasti di sekolah, Khanza inginnya menjelajah. Tak tahan lama-lama depan layar kecuali beberapa menit sambil mengemil dan makan siang. Maunya sih bebas bergerak, sampai-sampai meja baca di perpus pun dinaiki juga karena dianggap panggung. 😁


#level4 #tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP

Diposkan pada Bunsay IIP, Dunia Anak, Essai, Foto dan Cerita, Keluarga, Life Lesson for Mom, ODOPers

Gaya Belajar #15 : Setia pada Satu Aktivitas


Khanza masih belum Move on nih dari karpet puzzle evamat. Entah karena nggak ada lagi pilihan (padahal ada piano dan playdough), atau Khanza memang memilih setia. πŸ˜πŸ˜˜πŸ˜… Apa sih Bun, mendadak melankolis. 😁 Soalnya setiap duduk di ruang depan, Khanza pasti langsung cari evamat dan langsung membuat kotak. Masuk di dalamnya dan kembali bergaya jual-jualan. Setelah itu kembali menaiki panggung dadakan sambil bergaya. 

Khanza perlu stimulasi lain sepertinya. Di saat bundanya banyak ide ini-itu untuk gaya belajar berbeda, ternyata dalam waktu yang sama energi bundanya sudah terkuras seharian oleh rutinitas di sekolah. Maafkan bunda, ya, Nak… Jadinya membersamai dengan aktivitas yang itu-itu saja dan minim stimulasi. πŸ˜‘πŸ˜Ά Pembelajarannya bulan ini banyak agenda yang membuat energi bunda terbatas membersamai. Ayoo sempatkan sebisanya. Menyediakan porsi yang tepat tanpa memforsir diri. 

Sungguh, di ujung kebersamaan hari-hari kemarin bersama Khanza, membuat bundanya malah pulas setelah ngelonin atau setelah membacakan cerita. Jadinya ikut tidur sementara setor tantangan tertunda berhari-hari. Rasanya badan ikut remuk ketika penat di sekolah karena banyak agenda ditambah urusan domestik rumah yang masih menumpuk. Allahuma yassirlii…

#level4 #tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP

Diposkan pada Bunsay IIP, Dunia Anak, Dunia Emak, Essai, Foto dan Cerita, Keluarga, ODOPers

Gaya Belajar #14 : Membuka KemasanΒ 


Khanza sudah mengenal istilah “tolong bukain, Bun.” Yup, maksudnya membuka kemasan apapun. Misalnya, bungkus camilan ringan atau kemasan mainan. Kali ini Khanza masih tahap menjelajah satu per satu buku little Abid yang masih terbungkus rapi plastic wrapping. 

Awalnya Khanza kesulitan dan bingung bagaimana agar bukunya bisa dibaca. Okay, bunda contohkan. Caranya letakkan ujung jari di tengah buku dan robek plastik dengan ujung kuku. Khanza mulai bisa mengikuti perlahan sambil benar-benar membuka bungkus bukunya dan taraaa… Bisa dibuka dan langsung baca buku little abid-nya. 

Pembelajarannya hari ini kinestetik visual. Khanza kadang hanya baca bukunya sekilas melihat gambar dan berpindah ke buku lainnya sambil berlatih membuka kemasan perlahan. Jadinya geli sendiri sambil membayangkan. Setiap barang baru apalagi paket onlineshop yang tertutup rapat sepertinya bisa jadi latihan Khanza membuka kemasan selanjutnya. πŸ˜…πŸ˜† Paling Khanza bingung sambil teriak-teriak, itu apa Bundaa?? Cepet bukaa.. πŸ˜πŸ˜‚

#level4 #tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP

Diposkan pada Bunsay IIP, Dunia Anak, Essai, Foto dan Cerita, Keluarga, Life Lesson for Mom, ODOPers

Gaya Belajar #13 : Benda Multi Fungsi


Suatu benda bagi Khanza kadang fungsinya bisa berubah seketika sesuai imajinasinya. Misalnya gelas bening yang ada di atas meja. Saya pikir Khanza meraih gelas itu dan langsung minta minum. Tapi… Apa yang terjadi? Khanza naik meja, meraih gelas, dan berdiri dengan kepala goyang kiri-kanan. Bak penyanyi di atas panggung. Oalah, gelas kaca berubah fungsi jadi microphone. πŸ˜„πŸ˜…πŸ˜†

Bundanya nggak bisa membiarkan Khanza berlama-lama pegang gelas dengan lincah dan bernasib serupa seperti mangkok yang pecah tempo hari. Pecah karena bergeser dari pinggir meja dan nyaris mengenai kaki Khanza. Kinestetik Khanza nampaknya berpadu dengan auditorinya. 

Sedang asyik nyanyi-nyanyi di atas meja, bundanya menyela sambil berkilah, “Pinjem gelasnya yaa, bunda mau minum.” Alhamdulillah Khanza mau nurut dan menyerahkan gelasnya. Coba kalimatnya begini, “Siniin gelasnya, nanti pecah gimana, nanti kena kaki, nanti bla.. bla.. bla..” πŸ˜… Saya yakin yang ada Khanza malah  badmood sambil meringis. 

Setelah selesai dengan aksi mic gelas (bukan mie gelas) πŸ˜†, Khanza meraih boneka beruang pink dan langsung duduk di atas gagang pinggiran kursi. Kemudian bersorak lagi, “Hayu naik motor yaa, Beno pink, ngeng.. ngeng.. ngeng..” Oh, lagi boncengan ternyata… 😁 Lagi-lagi kinestetik auditorinya berperan sambil main peran. 


Masih banyak benda yang menjadi berubah guna ketika Khanza berimajinasi. Semoga semakin dikuatkan dalam memahami dan membersamai imajinasi yang tanpa batas. Aamiin.

#level4 #tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP