Semangat Mengkaji dalam Jihad : Hidupkan Kembali Misi Kerasulan


Bismillah walhamdulillah. Semangat mengkaji seharusnya dipelihara. Tak perlu usang oleh waktu. Tak boleh terhenti meski status pelajar atau mahasiswa tak lagi dimiliki. Tak harus lagi ada alasan untuk tak sempat mendatangi. Meski hanya sepekan sekali menyimak, semoga langkah ini selalu istiqomah.

Viaduct – Bandung, 15 Oktober 2017 M/ 24 Muharram 1439 H

Hari ini kembali menjadi bagian para mustami‘ yang menyemut dan memenuhi Jihad (Pengajian Ahad) di Viaduct. Kembali setelah sekian lama bersembunyi di balik alasan demi alasan. Astaghfiruka Rabbi… 

Hidupkan kembali misi kerasulan, tema yang kupas cukup mendalam oleh Ustad Komarudin Shaleh, dosen Fakultas Dakwah Unisba sekaligus Mudir ‘Am Pesantren Persatuan Islam 259 Firdaus Pangalengan Kab. Bandung. 

“Dakwah” Taghyirulummah, sebuah misi Rasulullah yang mencakup segala aspek dalam kehidupan. Bagaimana caranya terus berupaya mengubah umat dari satu situasi pada situasi lain yang lebih baik, demi keselamatan dan kebahagiaannya di dunia dan akhirat. 

Bagaimana pelaksanaannya?

Tentu saja melalui amar ma’ruf nahyi munkar. Misi dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw. sebagaimana QS. Al-Jumu’ah ayat 2 meliputi:

  1. Membacakan/mengajarkan ayat-ayat Allah SWT (QS. Al-Baqarah: 208)
  2. Memfitrahkan manusia dengan Islam (QS. Ar-Rum:30)
  3. Memahamkan manusia pada Islam dengan ilmu dan amal (QS. Al-Baqarah: 268-269)

    Selengkapnya bisa disimak pada rangkuman Doodle di bawah ini. 

    Yang pasti, setelah menyimak kajian hari ini saya tersadarkan satu hal. Sejauh mana saya telah berperan dalam misi menyampaikan risalahNya?

    *renungan mendalam* 

    Atau alih-alih menjadi penyampai risalah, bahkan saya masih berkutat pada hal-hal dangkal yang menjenuhkan. Mengeluhkan keduniawian. Memprotes segala hal yang tak disukai dengan reaktif. Barangkali saya sampai pada sebuah titik dimana saya dikendalikan oleh asumsi keliru tentang dunia dan isinya. Bukan menjadikan risalahNya sebagai ukuran.

    *Beristighfar panjang*

    #ODOPfor99days

    Iklan

    Merdeka dan Rasa Malu


    PhotoGrid_1502168459898

    Kata β€œMerdeka” kembali digaungkan dan menjadi hashtag populer di jagat maya ketika memasuki bulan Agustus. Merdeka dikaitkan dengan pernak-pernik yang identik dengan HUT RI. Semua orang memasang atribut serba merah putih di setiap penjuru negeri. Para pemuda karang taruna yang biasanya vakum kembali ke jalan menampakkan diri. Ya, menampakkan diri dengan membagikan air mineral atau sekadar menyodorkan kardus-kardus sambil berkostum nyentrik. Sebagian bermake up horror, dandan ala waria, dan mengecat seluruh tubuh. Tujuannya satu, menyambut kemerdekaan dengan meminta sumbangan.

    Maka ketika kata merdeka kembali kita tekuri lebih jauh. Sesungguhnya telah lama nilai-nilai kemerdekaan tercerabut dari bangsa ini. Merdeka secara fisik telah kita jalani 72 tahun silam, namun secara mental dan moral, kemerdekaan itu sendiri memudar seiring hilangnya rasa malu yang begitu berharga. Malu yang menjadi cabang dari keimanan, perlahan berganti dengan serba heboh dan cari sensasi. Demi menjadi viral, apapun dilakukan. Mengemis perhatian manusia dengan bertingkah tanpa rasa malu. Tak ada lagi kesadaran akan batas aurat dan menjaga kehormatan diri. Hal remeh-temeh menjadi topik utama. Berputar pada tren yang meletup-letup sesaat dan memudarkan esensi.

    Muncullah berbagai hashtag yang sempat menggegerkan jejaring sosial, dari #omteloletom, #etaterangkanlah, dan tren lainnya. Semua orang yang memiliki akses internet dalam arti netizen, larut dalam euforia kehebohan dan keseruanΒ  bertingkah konyol yang mengundang ribuan like dan komen. Asal viral, semua dilakukan. Bebas tanpa batas. Apa yang menyebabkan semua tingkah cari sensasi semakin menjadi contoh serupa hari ke hari? Baca lebih lanjut

    Catatan Kecil dari Konferensi Ayah Bunda Platinum Morinaga : Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat


    Alhamdulillah, hari ini menyerap ilmu bermanfaat tentang tumbuh kembang anak. Menyiapkan sebaik-baik nutrisi dan stimulasi sejak dini. 

    Acara yang dimoderatori Teuku Zacky ini menghadirkan dua pembicara utama yaitu DR. dr. Ahmad Suryawan, Sp.A.(K) dan Dr. Rose Mini, M.Psi. Selain itu hadir pula DR. dr. Eddy Fadlyana, Sp.A.(K). 

    Dari acara ini saya baru tahu kalau dokter anak pun ada dua jalur. Jalur spesialis biasa dan khusus tumbuh kembang anak. 

    Sesi pertama tentang nutrisi yang penting sebagai perisai utama bagi 4 aspek dalam diri si kecil, yaitu meliputi : 

    1. Kecerdasan otak
    2. Pertahanan tubuh ganda (antibodi)
    3. Tumbuh kembang optimal
    4. Kesehatan saluran cerna

    Sesi kedua tentang 8 kecerdasan majemuk yang pertama kali dikenalkan Howard Gardner. Kecerdasan tak selamanya selalu bernilai dari segi akademik. 

    Kemudian stimulasi tepat saat bermain dengan anak. Bermain di sini dibagi menjadi 4 bagian sesuai tahap perkembangannya, yaitu:

    1. Bermain fungsional, seperti berlari, mengejar benda, rattle, pijat tubuh, dan bermain di taman.
    2. Bermain konstruktif, seperti menyusun balok, bongkar-pasang mainan, puzzle, dan lain-lain.
    3. Bermain peran, seperti main boneka, drama, masak-masakan, dan lain-lain.
    4. Bermain dengan aturan, seperti main kartu, ular-tangga, olahraga, catur, dan lain-lain. 

    Setelah mengikuti rangkaian acara konferensi ini, saya jadi berpikir ulang tentang nutrisi apa yang tepat untuk Khanza. Seringkali dihadapkan pada kondisi stuck karena bingung makan Khanza sedikit atau bahkan pernah GTM. Dari situ saya ingat kalau anak harus diberikan pilihan dengan variasi menu sehari-hari. Belajar memberikan nutrisi berarti membiarkan anak menjelajahi rasa yang disukai. 


    Terkait stimulasi berarti menyediakan momen berharga untuk benar-benar fokus untuknya dan di sisinya. Menyimak setiap detil ekspresi dan respon saat bermain. Tetap menerima kondisi saat anak mulai bosan karena rentang konsentrasi yang pendek sesuai usianya. 

    Dari sini saya kembali diingatkan tentang orangtua dan lingkungan sebagai teladan bagi anak yang ulung meniru. Jika kita membentak berarti memberikan anak kemampuan untuk membentak. Kadang dalam mengoptimalkan stimulasi di awal perkembangannya terutama saat bayi, orangtua harus ‘GILA’ dalam arti benar-benar total berekspresi. 😊 Banyak tersenyum dan mengajak anak berinteraksi meski belum berbicara.

    Alhamdulillah dari acara ini pula, saya dapat doorprize sebuah oven listrik. Rezeki Khanza agar bundanya belajar bikin kue. 


    #catatankecil #doodlenote #ODOPfor99days

    Mie Instan : Antara Benci dan Candu


    Sejak diultimatum sang dokter yang menangani pasien atas mobil di malam buta tengah kemacetan parah Rancabali-Ciwidey, saya memendam benci tak terkira pada mie instan dalam cup styrofoam. Ah, bukan itu saja. Tapi pada semua merek mie instan dalam cup, mangkok, atau sekadar menyertai gurihnya cuanki malam hari. Benci teramat sangat. Tapi… Bagaimana ini, ah kebencian itu seperti menelan ludah sendiri. Benci tapi candu. Kemarin saja saya sudah menghabiskan satu cup mi instan. Hari lebaran pertama semangkok mie instan plus kikil sapi.

    Petang tadi benar-benar pembelajaran berharga tentang candu pada segala makanan yang membahayakan lambung. “Stop, jangan lagi makan mie, pedas, asam, dan kopi!” Begitu kata dokter. Makanan yang disebutkan itu bagaikan  blacklist menu yang menggoda tiada tara. Mungkin untuk saya masih aman, tetapi suami tidak. Saya pun belajar dari rasa sakit luar biasa membuat iba siapapun yang melihatnya. Reminder untuk diri menahan diri untuk tidak terus lari pada mie dan kopi. Lapar, malas masak, akhirnya godok mie. Menahan ngantuk agar cenghar, mengandalkan kopi. πŸ˜”πŸ˜£

    Lambung yang kena menjadi kewaspadaan tersendiri. Belajar mengendalikan candu yang terus dituruti. Membuat panik orang sekitar saat ulu hati mulai berkontraksi. Ya Allah Ya Rabb, ampuni diri yang seringkali melalaikan waktu sehat dan waktu luang. Menyeleksi cemilan, memilih makanan yang bergizi benar-benar punya efek jangka panjang untuk masa depan. 

    Normalnya makan 1 porsi mie dicerna dalam waktu 4 hari karena sistem pencernaan dalam tubuh cukup bekerja keras mencerna dengan maksimal. Namun, ini dalam rentang waktu terdekat sudah 4 porsi dihabiskan. Terbayang sudah bagaimana kinerja lambung mencerna dengan berat. 

    Sensasi kembung, mual, lalu memuntahkan semua isi perut begitu terbayang kemarin malam. Syafakallah, Ayah. Semoga momentum ini jadi pengingat kita setelah terjadi ketiga kalinya. Rasa nyeri ulu hati itu datang tak terduga tapi bisa dideteksi pemicunya. Ayo patuhi alarm bahaya terhadap kesehatan pribadi. Jangan mendzalimi diri sendiri demi mendapatkan enak di lidah tapi bahaya untuk perut. Mengontrol makanan yang masuk seperti mengendalikan hawa nafsu dalam diri. 

    β€œTidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk yaitu perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”HR At-Tirmidzi (2380), Ibnu Majah 

    #ODOPfor99days

    Menyimak dengan Hati


    Saya akui pernah bersembunyi di balik alasan modalitas visual. Ya, saya tipikal visual yang banyak belajar dari aktivitas mata. Saya visual dan minim auditori. Kesulitan untuk menyimak dengan baik. Pernah saya beranggapan tanpa menyimak secara langsung, saya kesulitan mencerna arah pembicaraan. Ternyata, modalitas lain yang lebih penting setelah melihat adalah mendengar. Sekadar mendengar saja tak cukup, bagaimana caranya menyimak dengan hati.

    Menyimak adalah aktivitas paling mudah dan sederhana tak seperti halnya makan, mencium aroma parfum, dan melihat video yang menyedot kuota. Menyimak setiap orang yang mengutarakan isi benaknya, menyimak saluran radio, dan risalah pembicaraan dalam sebuah pertemuan. Kesulitan dalam menyimak adalah kemauan untuk memulai dan merasakan sudut pandang orang lain saat mereka bicara. 

    Dalam buku The Magic of Communication yang ditulis Muhammad Ahmad Al-‘Aththar, ada 5 tingkatan aktivitas mendengarkan, yaitu antara lain:

    1. Mengabaikan pembicaraan. Sibuk sendiri saat orang lain memaparkan pandangannya. Mengobrol di luar bahasan forum. Bermain-main saat guru tengah menyampaikan ilmu. 
    2. Pura-pura mendengarkan dan menatap kosong dengan pikiran yang berlarian kesana-kemari. Mengangguk-anggukkan kepala padahal tak paham apa yang disampaikan.
    3. Hanya mendengar bagian-bagian tertentu dalam pembicaraan. Menyimak informasi setengah-setengah. 
    4. Mencoba mendengarkan dan memahami apa yang dikatakan lawan bicara. 
    5. Menyimak dan mendengarkan dengan serius perkataan seseorang. Tingkatan tertinggi dari aktivitas mendengarkan ini berarti menyimak dengan empati. Masuk ke dunia orang lain, lalu melihat persoalan dari sudut pandangnya. 

    Menyimak dengan hati berarti mendengarkan perasaan, makna-makna, nilai-nilai, niat positif, dan tujuan seseorang dalam kehidupan. 

    Mengukur diri, sampai saat ini saya masuk ke tingkatan yang mana. Saya sadar sering hadir dalam rapat, sekadar menyimak dengan mata, namun jemari sibuk di atas laptop, dengan alasan mendesain, mengetik dokumen, dan lainnya. Saya lalai dan lupa kalau momentum rapat saatnya fokus menyimak topik pembicaraan. Seharusnya saya ikut andil dalam memberikan pandangan dan solusi. Bukan sekadar ikut apa kata orang tapi tak benar-benar mengerti keutuhan informasi. 

    Menyimak dengan hati rasanya berlaku pula saat menyimak grup WhatsApp yang sampai belasan. Rasanya sekadar membuka, sekadar read, tanpa menjawab. Sekadar ikut nimbrung sebagai silent reader. Tapi tak paham apa saja obrolan dalam grup. Tenggelam dalam banyak scroll layar yang menjenuhkan. 

    Benar, di antara beruntunnya informasi dan derasnya komunikasi. Menyimak menjadi kemampuan yang mahal meskipun mudah dilakukan. Dikepung berbagai berita yang menuntut perhatian. Bagaimanapun, tak ada alasan untuk tidak menyimak. Karena ini merupakan gerbang dari sebuah pemahaman dan pengalaman. Memperkaya sudut pandang dengan merasakan apa yang disampaikan orang lain. 


    #RamadhanInspiratif #day22 #challenge #aksara #ODOPfor99days

    Apa yang Kita Lalaikan


    Melafalkan satu per satu surat saat Tahfizh Camp membuat saya baper seketika ketika memaknai bacaan. Ada yang berdesir dalam benak ketika Allah memberikan peringatan demikian jelasnya lewat ayat-ayat dari Juz 30. 

    Bergetar saat membaca barisan ayat tentang kekacauan hari Akhir. Seolah semua terbayang dalam benak, Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. (QS. Al-Infithar:1-4) 

    Bagi saya, Allah memperingatkan tentang sebuah kualitas aktivitas dari hari ke hari. Apa yang telah dikerjakan? Apa yang telah dilalaikan? Saya akui, banyak hal yang masih terlewatkan karena saya merasa waktu 24 jam rasanya kadang tak cukup menuntaskan semua. Sibuk seharian di sekolah menyisakan sisa energi yang membawa diri untuk langsung merebah. Hingga tumpukan setrikaan dibiarkan menggunung, kain-kain jahitan terbengkalai, dan tersadar masih ada barang (janji) yang belum ditunaikan. Saat fisik menuntut rehat tapi belum seharusnya, yang ada malah lelah hati yang didapat. Aku mau istirahat, tapi memejamkan mata saja tak tenang, teriak batin. 

    Laa haula walaa quwwata illa billah. Maka saya paksakan melawan rasa kantuk. Mulai menuntaskan apa yang harus segera ditunaikan. Memohon kekuatan agar pundak lebih tahan memikul tanggungjawab. Menyiapkan segala sesuatunya esok hari. Menyiapkan tulisan sebagai jejak dan reminder diri. Menjaga emosi tetap terkendali. Mencoba menahan keluhan pada anak dengan kalimat yang tak berguna dan membuat anak kecewa. Bunda cape, De. Adek maunya apa sih. Kalimat itu pernah terlontar saat Khanza masih energik meski waktu sudah pukul 10 malam. Setelah kalimat itu meluncur, emosinya berubah menjadi tantrum, putus asa, dan tidak mau terima dengan perlakuan apapun. Kata-kata. Iya, kuncinya pada kata-kata. Kita memang harus jujur mengatakan tetapi lebih baik memfilter diri sesuai kondisi. Saat lelah lebih baik cukup diri saja yang membingkai semuanya dan menghantarkan do’a di atas sajadahNya. MakhlukNya tak harus tahu itu semua. Karena tak akan ada energi yang bertambah, tak akan ada tepuk tangan yang menjadi kekuatan, tak akan ada jawaban kasihan sebagai pengganti kelelahan. Apa yang kamu lalaikan hari ini segera tuntaskan. Memohon padaNya agar selalu dikuatkan menyambut janjiNya. 

    #RamadhanInspiratif #day19 #challenge #aksara #ODOPfor99days 

    Balada Bukber


    “Hey, Bro, bukber yuk!” ajak seorang teman lama saat kuliah. Ajakan serupa pernah dilontarkan oleh teman satu sekolah, kampus, organisasi, atau CSan. Bukber jadi habit dan lifestyle selama Ramadhan. Kadang momen ini juga dimanfaatkan untuk reuni. Hingga berbagai cafe dan rumah makan menyediakan paket khusus bukber dan free tajil. 

    Tahun-tahun lalu sebelum punya Khanza saya masih rutin ikut bukber atau buka bareng dengan teman-teman berbagai lini. Setelah menikah dan Khanza hadir, rasanya bukber menjadi suatu hal yang harus dipertimbangkan dengan matang. Mulai dari memilih spot makan yang nyaman, aman di kantong, dan siap-siap dengan kemacetan jelang berbuka di berbagai titik. 

    Pernah saya dan suami plus Khanza ikut bukber kawan satu sekolah dulu. Tepatnya saat usia Khanza kurang dari 1 tahun. Bukber gagal total karena ada misskom di antara kami karena tak ada yang booking tempat lebih dulu.

    Alhasil saat parkiran penuh dan tempat yang dituju sudah full pengunjung, akhirnya kami putar arah cari tempat lain. Sementara itu adzan Maghrib berkumandang setengah jam yang lalu. Dipilihlah Punclut sebagai opsi selanjutnya. Saya dan suami memilih mundur teratur karena khawatir malam makin dingin dan buat Khanza masuk angin. Akhirnya, saya dan suami berbuka puasa pukul 7 lebih karena muter-muter cari tempat makan yang cocok. Lucunya, kami pun ifthar di rumah makan dekat rumah. Hadeuh, ngenes juga sih. Tapi jadi pembelajaran tentang momen berbuka. 

    Kemudian masalah tempat mempengaruhi harga makanan. Porsi berbuka di cafe, menunya irit tapi harga cukup melangit. πŸ˜… Kadang terselip sesal untuk berbuka bareng saja harus merogoh kocek satu lembar uang merah. 😁 

    Berbuka shaum yang utama rasanya tetap di rumah. Apalagi kalau sudah menikah dan punya anak. Sebenarnya ada keinginan untuk buka di luar bersama keluarga. Tapi itu berarti kita harus mempersiapkan segalanya dengan siaga. Kadang mengikuti sekadar gaya bukber masa kini, hanya meninggalkan sejumput sesal. Lupa pada merasakan pertemuan lebih dulu menyambut adzan Maghrib dengan sholat di awal waktu. Larut dalam euforia orang-orang yang berbuka hingga Tarawih pun terlewatkan. Kadang jadi menggerutu karena dikepung macet dimana-mana. Toh semua orang pada saat yang sama, juga memburu momen bukber di setiap penjuru. 

    #RamadhanInspiratif #day8 #challenge #aksara #ODOPfor99days