I Love Math #4 : Memikul Berat


Hari ini aktivitas matematika sederhana bersama Khanza hanya sampai tengah hari. Pagi-pagi Khanza masih ceria kesana-kemari sambil bermain puzzle angka sampai membawa karpet plastik di pundaknya. Meskipun Shubuh tadi BABnya encer dan bolak-balik ke kamar mandi berkali-kali. Senyuman dan celotehnya terus menghiasi wajahnya. 

Hingga siangnya Khanza menyerah dan hanya merebah di kamar. Ternyata suhu badannya naik. Makan pun enggan. Tak mau bangkit sama sekali. Hanya mengiba dan merengek terus untuk ditemani. Sesekali saya membujuknya untuk keluar kamar hanya untuk membersihkan pupnya yang keluar tak tertahan. Setiap ia meringis dalam posisi telungkup berarti kode agar saya segera membawa Khanza ke kamar mandi. 

Memikul berat, pelajaran berharga hari ini. Khanza saat sehat sebenarnya anak yang kuat. Bahkan ia mampu membawa karpet plastik yang digulung sambil bermain peran sedang berjualan. “Bunda ini berat karpetnya. Ayo beli Bun.” πŸ˜…πŸ˜Š

Kemudian ia bergerak memasang puzzle angka dan memeragakan angka satu dengan jari. Diakhiri dengan ekspresi lucunya saat memeragakan diri seperti bunga, memasukkan wajah dalam lingkaran puzzle angka nol.

Makna berat bagi Khanza sangat sederhana. Sesuatu yang membutuhkan usaha lebih untuk meraihnya. Termasuk membawa karpet plastik yang mungkin ringan bagi orang dewasa. Cukuplah berat hanya menjadi sebutan atas realitas yang bisa diukur dengan angka. Bukan semacam apologi atau sebutan berbentuk keluhan. Mengenal berat berarti Khanza nantinya harus belajar makna ringan. Seperti setiap kesulitan yang dirasa berat akan berganti dengan ringannya kemudahan yang Allah gariskan. 

#Tantangan10Hari #Level6 #KuliahBunsayIIP #ILoveMath #MathAroundUs

Iklan

I Love Math #2 : Mengenal Bangun Datar


Hari ini Khanza girang sekali saat membongkar tas bundanya. Begitu ia dapatkan sesuatu yang menarik ia langsung menghampiri sambil bilang, “Bunda, ini buat ukur-ukur panjang ya”, ujarnya sambil menempelkan penggaris besi di dinding. πŸ˜…πŸ˜Š Ternyata Khanza ingat kalau pulang saya mengajar kami sama-sama berkegiatan menerapkan matematika sederhana. 

Saya mengganti penggaris besi yang Khanza ambil dengan mengalihkannya pada kegiatan lain. 
“Kita bikin bangun datar yuk.” Ia langsung antusias begitu bundanya buka laptop dan langsung print beberapa bangun datar dengan warna pilihannya sendiri. Sebelumnya Khanza juga sempat membereskan sedotan yang berserakan sebagai bahan belajar matematika. Khanza juga ikut membantu sedikit-sedikit dengan memberi lem di atas kertas.

Alhamdulillah Khanza bisa menyebutkan bamgun datar satu persatu yang ia tahu. Yang paling tertanam di kepala itu bentuk bintang. Sampai-sampai ia semangat naik meja sambil bernyanyi lagu bintang kecil. Pas bagian lirik 🎢jauh tinggiii…. Ia spontan mengangkat mainan barunya tinggi-tinggi. 

Meskipun bangun datar yang dikenalkan hari ini baru 5 bentuk meliputi lingkaran, persegi, bentuk hati, bintang, dan segitiga, Khanza bisa mengikuti dengan semangat. Tipikalnya yang mudah bosan memberikan tantangan buat bundanya agar tak henti memberikan stimulasi yang sesuai dengan tingkat perkembangannya. 

#Tantangan10Hari #Level6 #KuliahBunsayIIP #ILoveMath #MathAroundUs

Sudut Literasi #8 : Memahami Konsep Fitrah


Setiap manusia diberikan Allah dua potensi. Potensi menuju jalan dosa dan jalan taqwa. Apa tugas kita sebagai orangtua? Bukan melakukan sebuah sterilisasi atas fitrah yang sudah dianugerahkan. Namun, memikirkan cara terbaik membersihkan dua jalan tersebut agar keduanya bisa mengantar anak di pintu surga. Artikel Merawat Fitrah Anak (Ust. Adriano Rusfi) dalam buku Fitrah Based Education.

Membaca buku FBE ini, tak cukup hanya sekali. Perlu beberapa kali menekuri dan memahami setiap gagasan yang berisi. Membaca halaman konsep fitrah membuat saya mengingat masa kecil dulu yang Alhamdulillah Allah mengaruniakan orangtua yang begitu detil mencurahkan perhatian. Mulai dari habit mengaji, larangan pulang diatas Maghrib, larangan bermain lama-lama di rumah teman, dan sederet larangan lainnya yang awalnya membuat saya sempat terkekang. 

Ternyata orangtua saya hanya memainkan peranan penting bagaimana agar fitrah saya tetap terjaga. Meski lingkungan demikian liarnya, orangtua saya dalam arti keluarga tetap mendukung dan menjadi sebaik-baik tempat untuk pulang. 

Memahami konsep fitrah begitu penting. Karena ini sebuah lingkaran utama memahami aspek-aspek lainnya dalam menjalani kehidupan. Semoga Allah senantiasa memahamkan diri ini pada pengetahuan agama. Memberikan sebaik-baik bekal untuk sang buah hati agar fitrahnya terus terjaga. 

#GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBundaSayang #institutIbuProfesional #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Sudut Literasi #5 : Mengenal Perbedaan Gender dan Soal Habiskan Gaji


Hari ini Khanza belajar perbedaan gender lewat simbol dan pakaian yang identik antara laki-laki dan perempuan. Terutama pelan-pelan menerapkan pentingnya rasa malu. Dibalik puzzle yang jadi sudut baca dadakan, Khanza begitu asyik menunjuk setiap gambar yang terdapat dalam buku little Abid, “Aku Berbeda dengan Shafa”. 

Di sinilah, Khanza bisa belajar mengenal ciri khas perempuan dan laki-laki. Tetiba muncul pertanyaan dari bibir mungilnya, “Ayah kenapa nggak pakai kerudung?” 

“Kan ayah laki-laki,” ujar saya menimpali. 

“Khanza perempuan, pakai kerudung ya,” ujarnya sambil menyambung perbincangan. Saya tahu Khanza pun masih belajar juga betah pakai kerudung. Pakai kerudungnya semangat banget kalau mau keluar rumah alias jalan-jalan. Kalau di rumah pastilah nggak mau dengan alasan gerah. Nggak apa-apa ya, De. Mudah-mudahan bisa belajar terus sejak dini menutup aurat sebagai muslimah. 

Menerapkan rasa malu, mulai dari menumbuhkan habit saat keluar kamar mandi harus dibalut handuk. Atau sembunyi dari tamu atau orang lain ketika belum memakai baju. Yang ini PR bunda banget. Sekarang di usia 2,5 tahunnya, justru sering muncul ritual kejar-kejaran pas bundanya mau pakaikan baju. Mondar-mandir kesana kemari. Nah pas berhenti, tahu-tahu baju yang disodorkan bundanya ditolak mentah-mentah. Khanza sering merengek memaksa ingin pilih baju sendiri. Sudah mulai punya selera yang kuat rupanya. 

Soal Habiskan Gaji

Kalau Khanza belajar gender, hari ini bundanya menyiapkan diri mengubah mindset soal gaji yang tak lama lagi akan meluncur lewat rekening. πŸ˜…πŸ˜ Ya, dalam artian gaji bukan untuk disisakan tapi dihabiskan! Seperti yang disampaikan Ahmad Gozali dalam buku “Habiskan Saja Gajimu!”. Gaji memang harus dihabiskan pada jalan dan cara yang benar. Memprioritaskan pengeluaran mulai dari yang fixed sampai fleksibel. Pertama kali begitu dapat kucuran gaji, ingat-ingat ada 4 pos pengeluaran yang tidak boleh tertukar urutannya : 

Pertama, penuhi pengeluaran sosial atau hak Allah dalam Zakat, Infaq, Shodaqoh (ZIS). Kedua, penuhi hak orang lain dengan cicilan utang yang harus dibayarkan. Ketiga, penuhi hak kita sendiri di masa depan dengan konsisten menabung. Terakhir, barulah penuhi hak kita sendiri saat ini lewat pengeluaran biaya hidup yang bisa diatur sedemikian rupa. Ternyata benar, memenuhi gaya hidup itu urutan kesekian. Biaya hidup bisa saja dicukup-cukupi, tapi kalau biaya gaya hidup ini yang kadang menguras kantong bahkan mencekik keuangan keluarga. 

Yang paling menohok disini adalah seringkali kita selalu memiliki mindset orang miskin yang selalu merasa kekurangan dalam segala hal yang dimiliki atau didapatkan. Berbeda dengan mindset orang kaya, ghaniy, yang merasa cukup dan tidak membutuhkan sesuatu. Dalam arti qona’ah. Lagi-lagi semua kembali pada habit yang ditumbuhkan. Membenahi keuangan dengan memprioritaskan yang haknya. Bukan lagi terkurung pada masalah “kurang uang” bahkan mengulang habit “uang sudah telanjur dipakai”. πŸ˜‚πŸ˜‘

#GameLevel5  #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst #ODOPfor99days

Sebuah Sudut Literasi


Bismillah. Mengawali tantangan baru di level 5 ini mendebarkan dan semakin bersemangat menumbuhkan habit suka baca. 

Sebenarnya bentuk display tolak ukur habit ini harusnya pohon literasi. Tapi saya berusaha memanfaatkan yang ada di sekitar. Ya, dengan selembar banner bekas kegiatan jadilah papan sudut literasi. 

Khanza sendiri sudah sering menagih baca atau dibacakan buku sejak punya paket Little Abid. Meskipun dengan rentang konsentrasi cukup pendek. Setelah membolak-balik buku dengan random sambil berceloteh. Ia akan langsung bergerak lincah sambil menaiki apapun yang bisa dijangkaunya. Serasa naik panggung lalu bernyanyi dengan gaya khas. 

Hari ini ayahnya Khanza baru bisa membantu memasang papan literasi dan belum menyentuh buku. Agak sulit memang karena habitnya ayah Khanza ini lebih suka dibacakan buku daripada baca sendiri. πŸ˜‚πŸ˜‚ 

Alhamdulillah hari pertama ini Khanza bisa membaca sendiri, dalam arti menjelaskan gambar menurut persepsinya. Bisa merangkai kata sesuai apa yang dilihat dari buku. Gaya bacanya sebenarnya sudah diingatkan sambil duduk. Tapi Khanza malah keukeuh ingin baca sambil tiduran. πŸ˜‘

Keukeuh kalau mau baca sendiri tapi nggak mau sambil duduk nih bacanya πŸ˜‘πŸ˜‚ #khanzalayyina

A post shared by Wildaini Shalihah (@wildainish) on

Ini baru permulaan untuk lebih konsisten memberikan teladan dalam berliterasi. Bukan saja baca tapi mengasah kemampuan mendengarkan lebih jeli dan penuh perhatian. Selain itu, mengikat apa yang dibaca dengan menuliskannya dalam coretan bermakna.

#GameLevel5 #Tantangan10hari #KuliahBunsayIIP #ForThingsToChangeIMustChangeFirst

Emakdoodle


Sebuah inisiatif untuk berbagi dan mencari teman satu minat berliterasi visual, menjadi motif saya membuat grup WAG dan Instagram Emakdoodle. Selain, awalnya hanya mengisi waktu dari kejenuhan sebagai penunggu pasien di rumah sakit. πŸ˜…πŸ˜„ Ya, grup Emakdoodle ini saya buat ketika menunggui suami saat rawat inap pada 27 September lalu. 

Alhamdulillah ada 148 orang yang bersedia bergabung dengan saya yang masih amatiran dan nekat ini. Tantangan pertama sudah dilalui lewat Doodle Game membuat Infodoodle yang unik dan informatif. Dari sekian banyak infodoodle yang masuk, yang benar-benar terpilih yaitu komposisi visual yang pas dan kejelasan informasi yang digoreskan di atas kertas. 

Saya tak tahu mengapa muncul secuil kegembiraan ketika teman-teman yang baru saya kenal saling sharing dan mengapresiasi karya satu sama lain. Rasanya punya teman seperjuangan yang sama-sama suka mencorat-coret di sela kesibukan sebagai ibu rumah tangga. 

Banyak ide yang bermunculan begitu punya referensi lain dari komposisi doodle yang dibuat juga pertanyaan yang memancing banyak terobosan. Misalnya, ide membuat buku cerita anak lewat Doodle, ide doodling pelajaran tertentu agar lebih mudah dipahami, dan kini sedang menjajaki tantangan kedua bertema “Doodle for My Sweet Home”. 

Tantangan kedua ini mengusung display sederhana untuk hiasan rumah yang bermula dari goresan Doodle. Tak seperti tantangan pertama, tantangan kedua ini bisa jadi lebih rumit sekaligus simpel tergantung bagaimana kita memandangnya. Rumit karena bingung mengandalkan media apa dan menyesuaikan komposisi. Simpel karena Doodle yang dibuat aplikatif sebagai hiasan jadi sebenarnya tak perlu mengandalkan banyak objek. 

Mengenai banyak peserta WAG yang left dan baru bergabung tak jadi soal untuk saat ini. Saya mengerti setiap orang punya pilihan dalam minat dan ruang belajarnya. Meskipun sesekali ngenes juga saat ada anggota di grup yang meminta temannya untuk saya invite ke grup. Namun langsung left pada hari itu juga. Tak apalah. Khusnudzon saya beberapa di antara kita perlu bersih-bersih grup yang hanya menjadikan silent reader yang benar-benar silent. Perlu prioritas dan belajar bersikap bagaimana minimalnya merespon apa yang disampaikan dalam sebuah diskusi grup Whatsapp. Benar ternyata, tak mudah untuk menjadi seorang peserta yang active reader, terlebih langsung menjadi admin dan mengelola sebuah grup Whatsapp. Tapi bagaimanapun menjadi pembelajar yang terus memperbaiki dari hari ke hari itu yang diupayakan, seraya menyeimbangkan peran sebagai ibu sekaligus istri.

#ODOPfor99days

Gaya Belajar #14 : Membuka KemasanΒ 


Khanza sudah mengenal istilah “tolong bukain, Bun.” Yup, maksudnya membuka kemasan apapun. Misalnya, bungkus camilan ringan atau kemasan mainan. Kali ini Khanza masih tahap menjelajah satu per satu buku little Abid yang masih terbungkus rapi plastic wrapping. 

Awalnya Khanza kesulitan dan bingung bagaimana agar bukunya bisa dibaca. Okay, bunda contohkan. Caranya letakkan ujung jari di tengah buku dan robek plastik dengan ujung kuku. Khanza mulai bisa mengikuti perlahan sambil benar-benar membuka bungkus bukunya dan taraaa… Bisa dibuka dan langsung baca buku little abid-nya. 

Pembelajarannya hari ini kinestetik visual. Khanza kadang hanya baca bukunya sekilas melihat gambar dan berpindah ke buku lainnya sambil berlatih membuka kemasan perlahan. Jadinya geli sendiri sambil membayangkan. Setiap barang baru apalagi paket onlineshop yang tertutup rapat sepertinya bisa jadi latihan Khanza membuka kemasan selanjutnya. πŸ˜…πŸ˜† Paling Khanza bingung sambil teriak-teriak, itu apa Bundaa?? Cepet bukaa.. πŸ˜πŸ˜‚

#level4 #tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP