Diposkan pada Essai, ODOPers, Selaksa Rasa, Sosial Media

Diam Tak Selamanya Emas


Kalau ada pepatah bahwa Diam adalah Emas, tergantung kondisi yang melatarbelakanginya. Kalau berkata baik lebih utama, mengapa harus diam. 

Di ujung malam ini, saya menekuri hari-hari yang telah berlalu. Di antara ratusan chat yang tak sempat dibalas responsif. Di antara grup Whatsapp yang bertumpuk-tumpuk tanpa efektif. Di sana kadang saya memang hanya sebagai silent reader. Yang bahkan untuk beberapa grup diantaranya, mengomentari dan mengirim emoticon saja tak sempat. Sekadar buka tanpa dibaca. 

Alasan yang sering menyeruak adalah jam membersamai Khanza sebelum tidur menjadi penghalang saya ikut terlibat dalam diskusi malam. Tak sempat lagi menyentuh ponsel karena ketiduran. Ditambah kondisi lelah ingin merebah karena seharian aktivitas di sekolah. Tapi, sampai kapan mau seperti ini? 

Hanya cukup diam dan tak bisa ambil pelajaran. Astaghfiruka… Lalai dalam aktif belajar tentu saja bisa memudarkan kesungguhan menuntut ilmu. Logikanya, bagaimana mau mengerti materi jika tak sempat merespon dan aktif bertanya. 

Untuk beberapa grup Whatsapp lain, saya memang bertahan menjadi silent reader karena status sebagai guru yang diundang pada MGMP yang bukan mapelnya. Kadang bingung mau ikut berbincang karena bukan duniannya. Tapi mau left pun segan karena terkait urusan kedinasan. 

Untuk perkuliahan di Bunsay IIP saat ini, sudah waktunya untuk menjadi active reader dan menyediakan cadangan energi serta menyesuaikan trik jam diskusi. Trik disini adalah jangan sesekali membuat ponsel benar-benar senyap hingga tak terdeteksi bunyi notifikasi yang penting. Kalau bisa memang dibuat reminder schedule yang bisa terus diingat untuk terlibat diskusi. Selalu siapkan catatan kecil untuk menyerap materi agar bisa meninggalkan coretan bermakna. 

Sudah saatnya punya space khusus jurnal aktivitas online. Misal agenda diskusi dan mencatat beberapa hal yang harus ditindaklanjuti (follow up). 

Selalu ingat bahwa setiap grup Whatsapp punya tata tertib atau kode etik yang harus dipatuhi. Seperti jam-jam tertentu atau bahasan yang boleh dan tidak boleh diperbincangkan dalam grup. Kalau bisa bukan cuma diberi bintang karena nantinya akan scroll lagi dan lagi. Dicatat atau dipajang di jurnal aktivitas online lebih baik. 

Saya sering menemukan banyak nomor yang dikeluarkan seketika begitu promo tak tahu tempat di grup komunitas gruu belajar bahkan sharing sesuatu yang tidak pantas. Berarti etika berperilaku di online grup begitu berharga dan mencerminkan kepribadian kita. 

Hanya sebuah reminder diri sebagai silent reader yang berupaya menjadi active reader, agar obrolan yang berlalu sekian ratus dan memenuhi data statistik Whatsapp tak sia-sia dan tenggelam dalam diam. 

#ODOPfor99days

Iklan
Diposkan pada doodling, Dunia Emak, Essai, ODOPers, Sosial Media, Work by Work

Emakdoodle


Sebuah inisiatif untuk berbagi dan mencari teman satu minat berliterasi visual, menjadi motif saya membuat grup WAG dan Instagram Emakdoodle. Selain, awalnya hanya mengisi waktu dari kejenuhan sebagai penunggu pasien di rumah sakit. πŸ˜…πŸ˜„ Ya, grup Emakdoodle ini saya buat ketika menunggui suami saat rawat inap pada 27 September lalu. 

Alhamdulillah ada 148 orang yang bersedia bergabung dengan saya yang masih amatiran dan nekat ini. Tantangan pertama sudah dilalui lewat Doodle Game membuat Infodoodle yang unik dan informatif. Dari sekian banyak infodoodle yang masuk, yang benar-benar terpilih yaitu komposisi visual yang pas dan kejelasan informasi yang digoreskan di atas kertas. 

Saya tak tahu mengapa muncul secuil kegembiraan ketika teman-teman yang baru saya kenal saling sharing dan mengapresiasi karya satu sama lain. Rasanya punya teman seperjuangan yang sama-sama suka mencorat-coret di sela kesibukan sebagai ibu rumah tangga. 

Banyak ide yang bermunculan begitu punya referensi lain dari komposisi doodle yang dibuat juga pertanyaan yang memancing banyak terobosan. Misalnya, ide membuat buku cerita anak lewat Doodle, ide doodling pelajaran tertentu agar lebih mudah dipahami, dan kini sedang menjajaki tantangan kedua bertema “Doodle for My Sweet Home”. 

Tantangan kedua ini mengusung display sederhana untuk hiasan rumah yang bermula dari goresan Doodle. Tak seperti tantangan pertama, tantangan kedua ini bisa jadi lebih rumit sekaligus simpel tergantung bagaimana kita memandangnya. Rumit karena bingung mengandalkan media apa dan menyesuaikan komposisi. Simpel karena Doodle yang dibuat aplikatif sebagai hiasan jadi sebenarnya tak perlu mengandalkan banyak objek. 

Mengenai banyak peserta WAG yang left dan baru bergabung tak jadi soal untuk saat ini. Saya mengerti setiap orang punya pilihan dalam minat dan ruang belajarnya. Meskipun sesekali ngenes juga saat ada anggota di grup yang meminta temannya untuk saya invite ke grup. Namun langsung left pada hari itu juga. Tak apalah. Khusnudzon saya beberapa di antara kita perlu bersih-bersih grup yang hanya menjadikan silent reader yang benar-benar silent. Perlu prioritas dan belajar bersikap bagaimana minimalnya merespon apa yang disampaikan dalam sebuah diskusi grup Whatsapp. Benar ternyata, tak mudah untuk menjadi seorang peserta yang active reader, terlebih langsung menjadi admin dan mengelola sebuah grup Whatsapp. Tapi bagaimanapun menjadi pembelajar yang terus memperbaiki dari hari ke hari itu yang diupayakan, seraya menyeimbangkan peran sebagai ibu sekaligus istri.

#ODOPfor99days

Diposkan pada Bunsay IIP, ODOPers, Pendidikan

Sebuah Code of Conduct


Sesi baru pada perkuliahan Bunda Sayang dimulai. Sebelum memasuki cawu dua perkuliahan, saya benar-benar diingatkan lagi tentang sebuah etika berharga dalam menuntut ilmu. 

Kembali diingatkan tentang kehati-hatian menyerap dan membagikan sumber ilmu. Terutama perkuliahan Bunsay. Teringat saat sesi matrikulasi dulu, begitu semangatnya saya membagikan hasil resume gaya Doodle di grup Whatsapp matrikulasi, sesekali di medsos IG dan FB. Ternyata semakin kesini saya mengerti bahwa niat baik tak selamanya sesuai jalur etika yang seharusnya. Cukup saja jadi bahan pembelajaran sendiri agar orang lain pun tak keliru memanfaatkan dan asal copas. Bahkan untuk yang belum bergabung menjadi member IIP. Bisa jadi punya asumsi tak usah bergabung saja karena materi inti dan resumenya pun sudah bertebaran di media sosial. 

Bersih-bersih area galeri virtual di medsos. Benar-benar menyaring mana yang perlu dibagi, mana yang cukup disimpan sendiri. Berjuang menjadi peserta yang bermartabat dan bertanggungjawab selama perkuliahan berlangsung. 

Terutama menjadi seorang peserta yang aktif saat sesi diskusi. Saya merasa belum maksimal karena sesekali masih harus scroll layar terlampau jauh karena tertinggal sesi diskusi. Akhirnya saya mengandalkan corat-coret materi belakangan saat yang lain sudah berbincang langsung on time diskusi.

Code of Conduct ini begitu penting dalam sebuah keberlangsungan komunitas. Bukan saja memahamkan tentang pedoman dan kesepakatan-konsekuensi namun benar-benar aktualisasi konsep adab sebelum ilmu. Ya, seperti yang Ibu Septi Peni Wulandani sampaikan, bahwa “Adab sebelum Ilmu dan Ilmu sebelum Amal, maka karakter adalah yang pertama dan utama dalam sebuah perkembangan sebuah komunitas pendidikan.” 

#ODOPfor99days

Diposkan pada doodling, Dunia Anak, Essai, Keluarga, Sosial Media

Bunda, Jangan Main HP!Β 


Judul tulisan di atas jadi trending harian bersama Khanza. Bundanya benar-benar tak bisa berkutik kalau Khanza udah ngomel dan merasa dicuekin. πŸ˜‚ Akhirnya, pekan lalu blogging dan setor tulisan benar-benar tertunda meski ide tulisan sudah berkelebatan. *Alasan πŸ˜†

Jadilah saya sebagai silent reader yang makin silent sejak diultimatum tiap pegang HP meski baru beberapa detik. Benar-benar forbidden saat Khanza disamping dan masih ingin main. Alhamdulillah Khanza benar-benar peka dan justru tak mau lama-lama menonton kalau disuguhi video kartun. Akhir-akhir ini malah inginnya tidur tapi sambil disetel yang bisa membuatnya langsung terlelap. Bisa murotal atau lagu anak.

Membaca buku “Media Mons dan Digital Dads” yang ditulis Yalda T. Uhls, MBA, Ph.D ini, membuat saya merasa bersalah jika sesekali membiarkan Khanza menonton TV sedangkan saya tengah mencuci piring di dapur. Atau saat Khanza pernah memaksa lihat video little baby bum di YouTube karena pernah disetel suatu saat. Ya, merasa bersalah. Karena Khanza sempat diam terpaku menatap layar dan sulit untuk berhenti. Alhamdulillah detik ini lambat-laun Khanza justru lebih suka bergerak lincah dibanding duduk diam menonton. 

Itu jugalah yang menjadi motivasinya melarang bundanya untuk tidak pegang HP selama duduk di sampingnya. Jadinya membalas chat yang sekian ratus harus dipending dan dibalas satu persatu saat Khanza tidur. Mencoba untuk tetap proporsional tapi tak memutus kebutuhan bersilaturahmi dan berjejaring. 

Hingga 5 Peraturan Bermedia dalam buku di atas saya rangkum dalam sebuah infodoodle di bawah ini. 

Khanza sedang belajar mengajak bundanya memberlakukan aturan No Gadget Time. Dan ini berhasil membuat bundanya kejar setoran blogging atau pending membalas deretan chat. Tak apalah yang penting kebersamaan dengannya tetap terjaga dengan hangat dan interaktif. 😊 Terutama bunda dan ayah harus menjadi teladan untukmu dalam bermedia. Sungguh di zaman serba digital ini begitu menantang dalam pengasuhan. Bermedia bukan lagi sesuatu yang harus dihindari, namun dikelola dan diarahkan dengan baik. 

#ODOPfor99days

Diposkan pada doodling, Essai, MGMP Prakarya, ODOPers, Pendidikan, Semesta, SMP Hikmah Teladan, Sosial Media

Infodoodle Imajinatif


Doodle dan infodoodle, ayo jawab apa bedanya? πŸ˜…

“Doodle mah ngga ada infonya, Bu.” ujar seorang anak yang langsung celetuk tapi eh iya sih bener juga. 😁 Meskipun nggak dan infonya, Doodle juga menyimpan makna yang tersirat.

Pembelajaran Prakarya Kelas 8 pekan lalu sedikit berbeda karena mereka sejenak melepas kata-kata yang terngiang dalam benak dalam simulasi “tepuk-sambung-kata”. Awalnya, anak-anak belum tahu arah berkreasi ditentukan dari kata yang mereka sebutkan. Saking kagetnya, ada beberapa di antaranya yang menyesal karena menyebutkan kata yang sulit divisualisasikan menjadi infodoodle.

Memangnya gimana sih simulasinya? 😊

Anak-anak dikondisikan membentuk lingkaran kecil atau memastikan mereka saling terhubung dan bisa saling menepuk tangan ke samping temannya. Anak laki-laki dan perempuan berbeda timing dan posisinya. Mereka saling bergiliran menyimak temannya memulai. Jadi nuansa infodoodle yang dibuat semua ditentukan oleh orang yang menepuk dan menyebutkan kata pertama kalinya. Dari dua kelas bisa jadi dua tema besar berbeda, anak laki-laki memyambungkan kata bermula dari kata “Domba”, sedangkan anak perempuan menyebutkan kata yang berkaitan dengan kata pertama “Handphone”. 

Hasilnya, mereka sempat mentok ide karena aturan mainnya mereka sama sekali nggak boleh  googling untuk melihat contoh gambar dari kata yang disebutkan. Pokoknya mengandalkan imajinasi sendiri. πŸ˜ŠπŸ˜†

Alhamdulillah beberapa di antaranya memang berhasil melepaskan emosi lewat gambar dan apa yang ada di otak langsung digoreskan. Berharap mereka punya pemikiran begini, coba kalau aku banyak baca tentang kata “A” pasti visualisasinya lebih variatif dan nggak mampet ide.

Diposkan pada doodling, Essai, Momentum, ODOPers, Pendidikan, Sosial Media, Work by Work

Keyakinan yang Mengganggu tentang DoodleΒ 


Pernah terbersitkah di pikiran kita ketika melihat sekilas sebuah lukisan dan mulai berdecak kagum pada visualisasi yang wah di atas kanvas? Saya pun pernah mengalaminya. Kemudian mundur teratur dan memendam segala keinginan untuk ikut mengulaskan kuas dan bermain palet warna. “Saya nggak bisa melukis”, itu yang terngiang-ngiang​ hingga akhirnya saya benar-benar tak pernah menyentuhnya. Kecuali terakhir kali memegang kuas saat membersamai Khanza melukis. 

Akhir-akhir ini saya menemukan kegembiraan sederhana lewat “Doodle” sebagai bahasa visual. Bagi saya, seni rupa menuntut imajinasi brilian bahkan liar tanpa kendali (baca : abstrak). Saya sempat putus asa ketika menjalani pretest Ujian Seni Rupa hanya memperoleh nilai 53 dari 100 soal πŸ˜‚πŸ˜‚. Soal-soal yang dikerjakan seputar teori dan aliran seni rupa yang begitu sulit dijawab karena tanpa visualisasi nyata. Hanya sekadar klak-klik pada layar. Nah justru nilai UKG tahun lalu pada mapel TIK saya malah bisa mengerjakan dengan santai dan hasilnya, Alhamdulillah, 88. 😊 Soal-soalnya meliputi media internet dan penggunaan media grafis. 

Okay kembali ke Doodle. Dalam buku “The Doodle Revolution” yang ditulis Sunni Brown, sebenarnya ada tiga keyakinan mengganggu tentang doodle apalagi saat baru saja memulainya. Banyak orang yang masih menjaga jarak dengan aktivitas satu ini hanya karena alasan “Saya tidak bisa menggambar”. 

Pertama, seni rupa adalah kemewahan. Sebaliknya, bahasa visual bukanlah kemewahan namun sebuah aktivitas alami yang bisa hanya mengandalkan kertas dan pulpen biasa sekalipun. Kalaupun ada spidol dan palet warna hanya sebagai perangkat tambahan. 

Kedua, seni itu untuk para seniman “sejati”. Sebaliknya, bahasa visual berlaku untuk semua orang. Terbukti orang berbagai elemen bisa mengikutinya. Mulai dari dokter, guru, apoteker, ibu rumah tangga, pokoknya siapapun yang senang menggoreskan coretan bermakna yang lekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Ketiga, seni rupa adalah hasil inspirasi yang agung. Sebaliknya, bahasa visual adalah hasil kerja keras. Kerja keras karena ada kalanya kita harus benar-benar menyerap informasi dengan proaktif menemukannya. Bukan sekadar menunggu inspirasi itu datang. Bisa lewat membaca buku, menonton video/film, atau mendengarkan siaran radio. 

Intinya, Doodle sebagai bahasa visual tidak sama dengan seni rupa. Jangan takut bila membuat gambar yang tidak sama atau terkesan berantakan, yang penting Doodle atau infodoodle yang kita buat bisa memperjelas pemikiran kita atau sekadar membuat kita rileks bak mengurai benang kusut dalam pikiran. πŸ˜ŠπŸ˜‰

Kulwap WAG Emakdoodle 

Bandung, 7 Oktober 2017

#ODOPfor99days

Diposkan pada doodling, Essai, Foto dan Cerita, Inspiring Report, Keluarga, Momentum, ODOPers, Sosial Media, Work by Work

Dialog di Balik Tirai Rumah Sakit


Alhamdulillah suami diizinkan pulang Kamis sore kemarin (27/09). Hasil diagnosa USG dan Rontgen menunjukkan gambaran Ileus Paralitik. Lekosit tinggi 13.100 (normalnya 4.000-10.000) yang menunjukkan indikasi terjadinya radang pada usus.
Bagaimanapun, 4 hari menginap di RS ini membuat saya bersyukur. Pertama, ternyata suami tak membutuhkan operasi cukup serius karena bukan Ileus Obstruktif yang benar-benar meninggalkan luka fatal pada usus. Kedua, saya sempat belajar pada dialog yang berlangsung di balik tirai rumah sakit. Ya, pasien-pasien lain satu ruangan yang punya cerita berbeda dalam riwayat penyakitnya.

Ada seorang kakek yang menolak untuk operasi karena takut. Padahal Lanjutkan membaca “Dialog di Balik Tirai Rumah Sakit” β†’