Diposkan pada doodling, Dunia Anak, Essai, Keluarga, Sosial Media

Bunda, Jangan Main HP!Β 


Judul tulisan di atas jadi trending harian bersama Khanza. Bundanya benar-benar tak bisa berkutik kalau Khanza udah ngomel dan merasa dicuekin. πŸ˜‚ Akhirnya, pekan lalu blogging dan setor tulisan benar-benar tertunda meski ide tulisan sudah berkelebatan. *Alasan πŸ˜†

Jadilah saya sebagai silent reader yang makin silent sejak diultimatum tiap pegang HP meski baru beberapa detik. Benar-benar forbidden saat Khanza disamping dan masih ingin main. Alhamdulillah Khanza benar-benar peka dan justru tak mau lama-lama menonton kalau disuguhi video kartun. Akhir-akhir ini malah inginnya tidur tapi sambil disetel yang bisa membuatnya langsung terlelap. Bisa murotal atau lagu anak.

Membaca buku “Media Mons dan Digital Dads” yang ditulis Yalda T. Uhls, MBA, Ph.D ini, membuat saya merasa bersalah jika sesekali membiarkan Khanza menonton TV sedangkan saya tengah mencuci piring di dapur. Atau saat Khanza pernah memaksa lihat video little baby bum di YouTube karena pernah disetel suatu saat. Ya, merasa bersalah. Karena Khanza sempat diam terpaku menatap layar dan sulit untuk berhenti. Alhamdulillah detik ini lambat-laun Khanza justru lebih suka bergerak lincah dibanding duduk diam menonton. 

Itu jugalah yang menjadi motivasinya melarang bundanya untuk tidak pegang HP selama duduk di sampingnya. Jadinya membalas chat yang sekian ratus harus dipending dan dibalas satu persatu saat Khanza tidur. Mencoba untuk tetap proporsional tapi tak memutus kebutuhan bersilaturahmi dan berjejaring. 

Hingga 5 Peraturan Bermedia dalam buku di atas saya rangkum dalam sebuah infodoodle di bawah ini. 

Khanza sedang belajar mengajak bundanya memberlakukan aturan No Gadget Time. Dan ini berhasil membuat bundanya kejar setoran blogging atau pending membalas deretan chat. Tak apalah yang penting kebersamaan dengannya tetap terjaga dengan hangat dan interaktif. 😊 Terutama bunda dan ayah harus menjadi teladan untukmu dalam bermedia. Sungguh di zaman serba digital ini begitu menantang dalam pengasuhan. Bermedia bukan lagi sesuatu yang harus dihindari, namun dikelola dan diarahkan dengan baik. 

#ODOPfor99days

Iklan
Diposkan pada doodling, Essai, Foto dan Cerita, Inspiring Report, Keluarga, Momentum, ODOPers, Sosial Media, Work by Work

Dialog di Balik Tirai Rumah Sakit


Alhamdulillah suami diizinkan pulang Kamis sore kemarin (27/09). Hasil diagnosa USG dan Rontgen menunjukkan gambaran Ileus Paralitik. Lekosit tinggi 13.100 (normalnya 4.000-10.000) yang menunjukkan indikasi terjadinya radang pada usus.
Bagaimanapun, 4 hari menginap di RS ini membuat saya bersyukur. Pertama, ternyata suami tak membutuhkan operasi cukup serius karena bukan Ileus Obstruktif yang benar-benar meninggalkan luka fatal pada usus. Kedua, saya sempat belajar pada dialog yang berlangsung di balik tirai rumah sakit. Ya, pasien-pasien lain satu ruangan yang punya cerita berbeda dalam riwayat penyakitnya.

Ada seorang kakek yang menolak untuk operasi karena takut. Padahal Lanjutkan membaca “Dialog di Balik Tirai Rumah Sakit” β†’

Diposkan pada doodling, Essai, Keluarga, Kesehatan, ODOPers

Ileus : Saat Jalan Usus Terhalang


Ileus. Saya baru berkenalan istilah ini sejak suami diobservasi Ahad lalu (24/09). Diagnosa sementara bernama Ileus. Sampai detik ini kami masih menunggu hasil Rontgen dan ultrasonografi (USG), Ileus yang muncul termasuk jenis apa, ileus paralitik atau obstruktif. Perlu tindakan operasi atau cukup pengobatan biasa.

Ileus sebuah kondisi dimana jalan cerna usus tersumbat. Bisa karena gerakan peristaltik menurun atau adanya sumbatan di saluran cerna. Lebih lengkapnya bisa dilihatΒ disini.

Masih menunggu harap-harap cemas sebenarnya. Saya pikir awalnya Lanjutkan membaca “Ileus : Saat Jalan Usus Terhalang” β†’

Diposkan pada Bunsay IIP, doodling, Essai, Foto dan Cerita, Keluarga, ODOPers, Selaksa Rasa

Antara Kulwap, Ujung Tantangan, dan Anak Tangga Keimanan


Sudah dua sesi saya menyimak kulwap “Perjalanan Ibu Bahagia” dengan dua topik berbeda. Topik pertama tentang “Mengenali ME sebelum menentukan Me Time” dan topik kedua tentang “Me Time, YES! Depresi, NO!” Menyimak perlahan sebagai silent reader sambil merangkum. Merangkum apa yang bisa dipetik dari kedua topik dan membuktikan formulanya dalam keseharian. Semuanya kembali pada perjuangan melaksanakan kata-kata, mengaplikasi pemahaman untuk menggapai pengalaman bermakna.

Nyatanya saya harus langsung mempraktekkan dengan menekuri waktu yang Allah takdirkan. Qadarullah di ujung pengumpulan tantangan Kuliah Bunsay IIP Level 4, saya tuntas membersamai Khanza meski merapel tulisan karena dihimpit agenda sekolah dan persiapan penilaian tengah semester.

Setelah Khanza saya dampingi penuh gaya belajarnya, saya harus menyelami gaya belajar sesungguhnya. Belajar lewat apa yang Lanjutkan membaca “Antara Kulwap, Ujung Tantangan, dan Anak Tangga Keimanan” β†’

Diposkan pada Bunsay IIP, Dunia Anak, Essai, Foto dan Cerita, Keluarga, ODOPers

Gaya Belajar #17 : Meminta dengan Santun


Khanza kerapkali berteriak dan merengek jika membutuhkan sesuatu. Bundanya kadang kalap sendiri dan dibuat kesal. Tapi setelah menyibak pemahaman tentang manajemen emosi dan komunikasi produktif, saya mulai menata cara yang pas agar Khanza belajar meminta dengan santun. Menggunakan olah vokal yang benar-benar sesuai namanya. Tersemat nama tengahnya “Layyina” yang berarti bertutur kata lembut. 

Hari ini Khanza mengasah kinestetiknya dengan mendorong meja di ruang tamu πŸ˜…πŸ™Œ. Anak perempuan gagah. Eh, tahunya saat diminta mengembalikan ke posisi semula. Ia menangis dan ngambek. 

“Ini gimana, gak bisaa.. bunda.. Huhu..” 

“Coba Khanzanya pindah dulu ke ujung sana baru dorong lagi pelan-pelan,” ujar saya mengarahkannya untuk pindah posisi ke ujung meja yang lain. Kalau pindahin meja dengan cara ditarik, ya beratlah, Nak.

Mau request susu. Alhamdulillah bisa diberi pengertian untuk minum dari gelas sampai habis. Biasanya keukeuh ingin susu dot. Saat Khanza meminta dengan teriak atau agak marah, saya coba merangkulnya dan berdialog, “Coba bilangnya yang lembut ya.” Lalu, Khanza mulai menata kembali kalimatnya dengan artikulasi yang mengalun sedikit merayu. πŸ˜… 

“Unda sayang, mau minum susuuu.” 

“Boleeeh, pake apa?”

“Pakeee..dot.”

“Khanza bayi bukan?” 

Ia langsung geleng-geleng kepala. “Bukan, tapi anak-anak.” 

“Berarti pake???” 

“Gelaaass.” Khanza menjawab sendiri dengan semangat. πŸ™Œ

Alhamdulillah, Khanza bisa menghabiskan susunya sampai tetes terakhir. Cara lain jika ia mulai tantrum dan tak jelas minta apa. Coba trik berikut ini. Dekati anak, gendong, perlihatkan wajahnya ke cermin, dan mulai pasang wajah lucu. Niscaya tangisnya berubah jadi gelak tawa air mata 😁 karena tak kuat digelitik hingga tangisnya hilang. 

Catatan:

Tulisan di tantangan hari ke-17 ini menyisakan harapan dan do’a. Di balik keceriaannya, Khanza sedang kurang sehat. Hidung memerah terus diseka karena pilek, mata berair, dan suhu badan hangat. Berkilo-kilo meter dari sini, ayah pun sedang drop kondisinya karena kelelahan hingga harus diinfus. Laa ba’sa thohuruun insyaallah. Mudahkan Ya Rabb… Segera pertemukan kembali kami dalam kebersamaan di rumah dengan kondisi sehat wal Afiat. Aamiin.

#level4 #tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP

Diposkan pada Bunsay IIP, Dunia Anak, Essai, Foto dan Cerita, Keluarga, ODOPers

Gaya Belajar #16 : Mana yang Belum Aku Singgahi?Β 


Membawa Khanza ke sekolah hari ini begitu menantang sekaligus mengesankan untuk Khanza. Selain bisa menjelajahi beberapa area menarik baginya, Khanza bagaikan magnet yang membuat interaksi dengan orang sekitarnya semakin cair. Khanza awalnya malu-malu seperti biasa begitu sampai sekolah. Lambat-laun Khanza mulai bisa membalas sapaan orang lain, dengan senyuman, jawaban singkat, bersalaman, sampai mau diajak toss alias high  five di ujung sore sebelum pulang. 

Kalau tak dipantau sama sekali, langkah mungilnya sudah menjajaki tangga besi melingkar yang cukup rawan untuk dinaiki. Akhirnya, saya membawanya ke area terbuka seperti lapangan dan jalan pinggir sawah. Ia begitu senang saat melihat bunga bermekaran di vertikal garden sekolah. Menyebutkan warna dan menunjuk satu per satu bunga. 

Khanza sebenarnya tidak biasa lama-lama dalam ruangan kecuali sambil menonton atau pas tidur siang tadi di ruang guru. Baginya momen ke sekolah menjadi kesempatan kinestetiknya menjelajahi. Tempat mana ya yang belum aku singgahi? πŸ˜…

Ke kantin, perpustakaan, kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, sampai ke WC sekalipun untuk mandi sore. Mungkin yang belum itu lab IPA dan taman. Kalau taman sih makin menyempit karena dalam tahap renovasi bangunan sekolah. 

Yang pasti di sekolah, Khanza inginnya menjelajah. Tak tahan lama-lama depan layar kecuali beberapa menit sambil mengemil dan makan siang. Maunya sih bebas bergerak, sampai-sampai meja baca di perpus pun dinaiki juga karena dianggap panggung. 😁


#level4 #tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP

Diposkan pada Bunsay IIP, Dunia Anak, Essai, Foto dan Cerita, Keluarga, Life Lesson for Mom, ODOPers

Gaya Belajar #15 : Setia pada Satu Aktivitas


Khanza masih belum Move on nih dari karpet puzzle evamat. Entah karena nggak ada lagi pilihan (padahal ada piano dan playdough), atau Khanza memang memilih setia. πŸ˜πŸ˜˜πŸ˜… Apa sih Bun, mendadak melankolis. 😁 Soalnya setiap duduk di ruang depan, Khanza pasti langsung cari evamat dan langsung membuat kotak. Masuk di dalamnya dan kembali bergaya jual-jualan. Setelah itu kembali menaiki panggung dadakan sambil bergaya. 

Khanza perlu stimulasi lain sepertinya. Di saat bundanya banyak ide ini-itu untuk gaya belajar berbeda, ternyata dalam waktu yang sama energi bundanya sudah terkuras seharian oleh rutinitas di sekolah. Maafkan bunda, ya, Nak… Jadinya membersamai dengan aktivitas yang itu-itu saja dan minim stimulasi. πŸ˜‘πŸ˜Ά Pembelajarannya bulan ini banyak agenda yang membuat energi bunda terbatas membersamai. Ayoo sempatkan sebisanya. Menyediakan porsi yang tepat tanpa memforsir diri. 

Sungguh, di ujung kebersamaan hari-hari kemarin bersama Khanza, membuat bundanya malah pulas setelah ngelonin atau setelah membacakan cerita. Jadinya ikut tidur sementara setor tantangan tertunda berhari-hari. Rasanya badan ikut remuk ketika penat di sekolah karena banyak agenda ditambah urusan domestik rumah yang masih menumpuk. Allahuma yassirlii…

#level4 #tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP