Sudut Literasi #10 : Bertanya MengapaΒ 


Setelah pulih dari muntah dan diare karena masuk angin, alhamdulillah Khanza kembali antusias begitu membaca buku “My First Why” 100 Pertanyaan Anak Muslim. Buku yang berisi tanya-jawab seputar hal sederhana ini membuatnya membolak-balik halaman mengikuti gambar yang disukainya. Mulai dari bertanya tentang apa, kenapa, dan membandingkan dengan kondisi sekitar. 

#GameLevel5 #tantangan10hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Iklan

Sudut Literasi #8 : Memahami Konsep Fitrah


Setiap manusia diberikan Allah dua potensi. Potensi menuju jalan dosa dan jalan taqwa. Apa tugas kita sebagai orangtua? Bukan melakukan sebuah sterilisasi atas fitrah yang sudah dianugerahkan. Namun, memikirkan cara terbaik membersihkan dua jalan tersebut agar keduanya bisa mengantar anak di pintu surga. Artikel Merawat Fitrah Anak (Ust. Adriano Rusfi) dalam buku Fitrah Based Education.

Membaca buku FBE ini, tak cukup hanya sekali. Perlu beberapa kali menekuri dan memahami setiap gagasan yang berisi. Membaca halaman konsep fitrah membuat saya mengingat masa kecil dulu yang Alhamdulillah Allah mengaruniakan orangtua yang begitu detil mencurahkan perhatian. Mulai dari habit mengaji, larangan pulang diatas Maghrib, larangan bermain lama-lama di rumah teman, dan sederet larangan lainnya yang awalnya membuat saya sempat terkekang. 

Ternyata orangtua saya hanya memainkan peranan penting bagaimana agar fitrah saya tetap terjaga. Meski lingkungan demikian liarnya, orangtua saya dalam arti keluarga tetap mendukung dan menjadi sebaik-baik tempat untuk pulang. 

Memahami konsep fitrah begitu penting. Karena ini sebuah lingkaran utama memahami aspek-aspek lainnya dalam menjalani kehidupan. Semoga Allah senantiasa memahamkan diri ini pada pengetahuan agama. Memberikan sebaik-baik bekal untuk sang buah hati agar fitrahnya terus terjaga. 

#GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBundaSayang #institutIbuProfesional #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Sudut Literasi #7 : Berperan sebagai Ortu Era Digital


Menjadi seorang ortu yang melekat pada dunia digital adalah sebuah keharusan di jaman ini. Tak bisa tidak. Segala aspek di dunia berubah menjadi lebih dekat dalam jangkauan. Sekali genggam, ponsel bisa menumbuhkan kemajuan sekaligus kehancuran.

Hari ini saya kembali membuka buku Media Moms and Digital Dads yang ditulis Yalda T. Uhls, MBA, Ph.D. Cukup tertegun agak lama saat membaca dan mencatat poin penting bagaimana orangtua bisa membimbing anak dalam bermedia sosial. Teringat habit Khanza yang sempat menyeruak seperti menagih menonton video anak yang sempat viral dan disukai banyak orang yaitu baby shark. Bahkan sisi lain terbayang jelas dalam benak, bagaimana era digital saat Khanza kelak beranjak remaja. 

Mungkin aplikasi media sosial semakin canggih dan menarik kesadaran dari porosnya. Kembali pada sebuah prinsip, mana yang harus cukup diri yang tahu, mana yang pantas dibagi. Agaknya prinsip ini semakin lama semakin bias, hingga banyak kita temukan banyak hal remeh-temeh yang nampaknya terlalu nista diumbar saban detik di jagad maya. 

Tak henti mulut ini beristighfar ketika fenomena remaja bermedsos kian mengkhawatirkan. Mereka punya sekian banyak cara dan referensi tentang hal yang disukai. Disukai disini dalam tanda kutip. Sebuah candu berbahaya bernama pornografi yang terselubung namun tak berjudul porno. Dari music video, game online, tayangan anime, fanfiction seksual, dll. Sekian banyak cara dilakukan. Mulai dari mengunci setiap fitur ponsel dengan password khusus, DENGAN ALASAN PRIVASI. Bahkan orangtua yang membelikan ponselnya pun tak tahu-menahu tentang isi ponsel anaknya. Entah karena tak punya cukup waktu untuk memantau atau sekadar berteman di dunia maya. Atau mereka menganggap anak mereka baik-baik saja dengan habit ponsel dalam genggaman selama 24 jam.

Melarang saja dan benar-benar menutup akses, bukan solusi, jika tanpa edukasi. Minimal kita sebagai orangtua berteman dengan anak di medsos mereka dan bisa membuka keran percakapan, agar segala hal yang menarik penasaran anak, kita bisa masuk ke dalamnya dan mulai memberikan pembelajaran berharga. 

Khawatir saja tak cukup memang. Bagaimana bisa menyiapkan generasi yang kuat dan Istiqomah lewat nasihat dan menanamkan hikmah. 

#GameLevel5 #tantangan10hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Sebagaimana Allah berfirman dalam (QS.[4]. An Nisaaβ€˜: 9)  :  Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Ya Rabbi, siapkan kami menjadi sebaik-baik orangtua shalihah/shalihah yang bisa menyemai akhlak anak-anak kami pada jalan yang Engkau ridhoi. 

Sudut Literasi #6 : Membaca Waktu


Hari ini Khanza belajar membaca waktu. Dalam arti Khanza memilih beberapa judul buku berbeda dan fokus pada latar waktunya. Dari buku “I learn About Time”, Khanza fokus pada gambar dan bisa menyebutkan perbedaan siang dan malam dengan ciri terang dan gelap. 

Kemudian buku “Aku Tahu Darimana Aku Berasal”, ia langsung menyimak beberapa saat gambar bayi dalam rahim dan menyimpulkan sendirinya, “Ini kaya Dede Fawwaz ya, Nda.” Sambil menunjukkan lalu mengaitkan dengan memorinya dua hari yang lalu saat menengok sepupunya. 

Eh, tahu-tahu saja di ujung pembicaraan kali ini, Khanza tetiba meneruskan, “Mau punya adik bayi…” *Tiba-tiba hening* πŸ˜…πŸ˜‚ “Nanti ya kalau udah TK, biar teteh Khanzanya bisa ngasuh.” Jawab bunda sambil berharap Khanza tak terus mengiba dan menganggap permintaan sambil lalu. Khanza belajar tentang waktu dan momen di dalamnya. Mengaitkan bacaan dan ingatan yang menempel di benaknya. 

#GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Riak Emosi di Perjalanan


Dalam sebuah perjalanan, tak selamanya mulus adanya. Saat berteman dengan jalan, jarak, dan angin, pernah ada air mata yang bercucuran. Rasa ingin menolak memulai rutinitas baru tiap Senin pagi. Ya, Khanza ‘berhasil’ mengalirkan emosi lewat tangisan di awal pagi. Tepatnya saat matahari baru saja muncul di ufuk timur. 

Sebabnya satu. Di tengah tidur lelapnya, Khanza tak mau beranjak mengikuti ritme. Inginnya berselimut sambil dipeluk bundanya. Oh, siapa yang tak mau Nak, bermanja-manja sambil merebah menatap jendela? Sayangnya, Senin yang tiba, mau tak mau harus kita lalui dengan bergegas. Kamu harus bisa mengalahkan hasratnya untuk mendekur di atas kasur. 

Khanza pun menangis keras hingga setengah perjalanan. Saya tak bergeming. Omelan takan mampu membuatnya berhenti. Akhirnya ia lelah mengiba dan bisa menyesuaikan diri. Saya tahu Khanza hanya mengalami jetlag emosi dari bangun tidur hingga sepenuhnya sadar. Kalau kata orang Sunda, masih lulungu. 

Alhamdulillah, tangisannya berhenti sendiri dan sesampainya di rumah Bubu (panggilan untuk neneknya Khanza), ia bisa ceria lagi. 

Berteman dengan segala cuaca dalam emosi Khanza itu kuncinya. Tetap sabar menghadapi tanpa sedikitpun menyakiti. Berusaha mengimplementasikan la taghdhob walakal Jannah. Janganlah marah, maka bagimu surga. 

#ODOPfor99days

Sudut Literasi #4 : Mengenal Profesi Lewat Buku


Hari ini Khanza belajar tentang beragam profesi yang disuguhkan dalam buku seri Little Abid, berjudul “Aku Bangga pada Mereka”. Khanza bisa menyebutkan orang-orang yang punya peran berbeda dalam buku yang tengah dibaca. Menunjuk pak Polisi yang sedang bertugas mengatur lalu lintas dan menunjuk penjual sayur yang sedang menjajakan dagangannya. 
Setelah itu giliran bunda membacakan judul “Aku Mandi Sendiri” dan Khanza mulai tanya-jawab​ benda-benda yang biasa dipakai mandi seperti sabun, sampo, odol, dan sikat gigi. 

Membaca seri buku dari Little Abid ini baginya tak membuat bosan karena variasi judul yang dekat dengan keseharian. Habit Khanza sebelum tidur harus menyentuh buku dulu hingga nanti request susu setelah selesai baca. Meski durasinya tidak bisa lama-lama ditambah sesekali batuknya membuatnya tak nyaman banyak berceloteh. Khanza masih bisa menyesuaikan diri. 😍😘

#GameLevel5  #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Sudut Literasi #3 : Berteman dengan Buku Dimanapun Kapanpun


Hari ini kami sekeluarga berkunjung ke rumah nenek-kakeknya Khanza di Ciwidey. Selain melepas rindu, juga menengok uwaknya Khanza yang baru melahirkan putra ketiga. Sejenak meninggalkan sudut literasi di rumah tapi menemukan sudut lain dengan spirit yang sama. 

Yups, membaca kapanpun dimanapun. Meskipun kami tidak berbekal buku dari rumah, rasanya menemukan buku lain itu seperti harga karun yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Dalam waktu terbatas tanpa durasi pinjaman, kami benar-benar menikmati limit waktunya. Karena seiring berakhirnya waktu berkunjung karena esok hari harus pulang ke Bandung. Berarti buku yang dibaca setidaknya harus diserap dalam bentuk catatan sederhana. Setidaknya berlaku bagi saya karena Khanza masih baca-baca sekilas.

Khanza begitu semangat menunjuk bagian-bagian huruf dan gambar dalam buku alfabel. Seperti biasa, Khanza selalu berinisiatif meraih benda yang menarik baginya tanpa harus disodorkan terlebih dahulu. Tahu-tahu saja Khanza sudah membolak-balik buku milik sepupunya yang masih PAUD. Sesekali ayah menyebutkan huruf dalam buku saat Khanza bertanya berulang-ulang.

Saya pun memanfaatkan koleksi buku yang berderet di rak buku. Memilih satu buku yang menurut saya menarik sebagai angin segar soal referensi berkarir. Judulnya “Career Snippet” yang ditulis Rene Suhardono. Dari buku tersebut, saya disadarkan beberapa hal yang sering terlupakan dalam berperan di pekerjaan. Misalnya tentang pentingnya mengelola energi diri, bukan sekadar mengelola waktu. Kemudian keseimbangan antara pekerjaan dan “me-time”. 

Membaca menjadi sebuah keasyikan tersendiri saat kita menemukan momen yang tepat. Momennya harus tepat karena mempertimbangkan kondisi dan situasi. Ada kalanya kita harus menaruh buku sejenak dan bercengkrama dengan sanak saudara di rumah. Bukan sibuk sendiri terpaku pada buku dan mengabaikan interaksi sekitar. Saya pun baru bisa meneruskan bacaan yang sempat tertunda tadi siang dan membuat coretan setelah Khanza tertidur lelap. 

#GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst #ODOPfor99days