Bunsay IIP, Essai, Momentum, Motivasi, ODOPers, Selaksa Rasa, Semesta, Work by Work

Titik Puncak Insomnia : Sebuah Kewarasan Menjalani


Ada yang masih belum selesai terpikirkan. Meski ingin kututup rapat mata. Lelah memikul beban sehari-hari. Fisik ingin merebah ketika batas waktu telah menuju dini hari. Tapi sedikitpun mata tak mau terpejam. Malah semakin berdenyar dengan segala yang berkelebatan dalam pikiran. 
Antara rutinitas, rencana sebuah momentum, menanggapi ritme fluktuatif si kecil, dan masa depan yang masih ragu untuk dijalani. Keterlaluan pikirku. Bagaimana mungkin sisi dalam diri memberontak ketika satu sisi lain mencoba menenangkan. 

Bertanya-tanya, “Bagaimana sebuah akhir menjadi hebat jika tak diawali dengan niat yang lurus?” 

“Bagaimana kamu memahami tanda dan ayat demi ayatNya di antara sekian alasan terlalu sibuk untuk semua yang fana?”

“Bagaimana bisa kamu terlalu khawatir dengan masa depan yang masih rahasia tapi tak memaksimalkan ikhtiar dan do’a?”

“Bagaimana bisa kamu menetapkan standar sebuah rejeki dengan batasan manusia padahal kemuliaan lebih layak diperjuangkan?” 

Allahu Rabbi… Ketika segala kerja keras kadang tak dihargai dengan setimpal bahkan malah sering direpotkan seorang diri, bantu hamba mencari celah untuk tetap mengambil hikmah yang terserak. Di antara prasangka, di antara percakapan sembarang yang menjadi ruang dengar pengikis keikhlasan tanpa sengaja. 

Jangan biarkan standar-standar mereka melangkahi segala niat yang tertancap kuat. Jangan biarkan niat ini memudar karena minimnya sebuah apresiasi. Karena tak ada satu pun yang pantas menimbang, tak ada satu pun yang layak menghisab dan menilai, semua hanya indikator-indikator subjektif buatan manusia. 

Segala yang menjadi ganjalan dan kerikil di jalan ini hanyalah serangkaian tantangan untuk membuat langkah kaki semakin kuat. Segala pilihan yang telah diambil mesti menjadi keberanian untuk menghadapi risiko yang ada. 

Stop memikirkan segala keduniaan terlalu dalam. Benahi momen pertemuan denganNya. Tapaki jejak langkah ikuti petunjuk risalahNya. Kewarasan ini terjaga karena ingat semua fana. 

Random ceracauan lewat tengah malam, di antara nyamuk yang berdenging cepat.

#ODOPfor99days

Flashfiction, Selaksa Rasa, Sosial Media

Flashfiction #2 : Potret Buram


Sepasang insan saling berdampingan, menatap kamera dengan berbagai ekspresi dalam sebuah kolase. Kompak. Likers pada foto yang diunggah saat itu membuat mata berbinar. Ratusan orang menyukai. Belasan mengomentari. Langgeng, katanya. 

Lama-lama isyarat dalam potret makin dekat, pegangan makin erat, dan tepuk tangan orang yang melihat makin dianggap hebat. Bangga, rasanya. 

Betapa dekat dalam layar. Di balik semua itu tak terbayang sedekat apa lagi hubungan kedua insan muda yang masih putih biru.

Hingga tiba-tiba datang sebuah masa dimana postingan foto tak lagi berguna. Satu kalimat pahit membuyarkan semua kata langgeng dan bangga. 

“Sayang, kamu tahu kan sebentar lagi aku harus UN. Gugurkan saja.” 

Kalimat dalam WhatsApp itu tinggal kalimat tak berharga. Penerima pesan telah menorehkan guratan mendalam di urat nadi dan perutnya. 

Seorang pelajar SMP aborsi dan bunuh diri. 

doodling, Essai, Ilmu Komunikasi, ODOPers, Refleksi, Selaksa Rasa

Formalitas Saja Bagai Tanaman tanpa Akar


Totalitas dikerahkan demi sebuah seremoni. Sekadar memenangkan kompetisi tanpa memupuk konsistensi sehari-hari. Memoles segalanya pada satu kegiatan, tapi semuanya menguap di hari-hari biasanya. Segalanya terhenti pada atribut. Sekadar formalitas. Bukan habit yang ditumbuhkan. Seperti menanam kacang hijau pada kapas yang hanya tumbuh sekadarnya dengan cepat. Tetapi tak bertahan lama dibanding membuatnya mengakar ke tanah. 
Pernahkah kita terjebak dalam persiapan sementara? Menyiapkan segalanya dalam waktu singkat dengan memaksakan kemampuan diri. Mencoba tampil memukau sesaat tetapi lupa menempa diri dari hari ke hari. Astaghfiruka Rabbi…

Membangun habit adalah kuncinya. Bukan cuma menunaikan formalitas semata. Asalkan persyaratan tuntas. Asalkan ini… Asalkan itu… Belajar dari tanaman yang menghujam ke tanah. Membangun habit. Memecahkan kebekuan dan kejenuhan. Habit yang terus dilatih dari waktu ke waktu. Melatih diri berkomunikasi produktif, melatih kemandirian, dan membuat time schedule dengan menetapkan tujuan jelas atas segala tindakan. Karena formalitas saja hanya berujung dangkal di permukaan. 

Kembali pada hakikat keistimewaan komunikasi adalah ketika kita mau mengubah diri dan kebiasaan-kebiasaan dalam berinteraksi agar mengakar kuat dalam diri. 

-Muhammad Ahmad Al-‘Aththar, The Magic of Communication, Zaman, Jakarta:2012.

#RamadhanInspiratif #day23 #challenge #aksara #ODOPfor99days

Catatan Diri, doodling, Essai, Ilmu Komunikasi, ODOPers, Ramadhan Inspiratif, Selaksa Rasa

Menyimak dengan Hati


Saya akui pernah bersembunyi di balik alasan modalitas visual. Ya, saya tipikal visual yang banyak belajar dari aktivitas mata. Saya visual dan minim auditori. Kesulitan untuk menyimak dengan baik. Pernah saya beranggapan tanpa menyimak secara langsung, saya kesulitan mencerna arah pembicaraan. Ternyata, modalitas lain yang lebih penting setelah melihat adalah mendengar. Sekadar mendengar saja tak cukup, bagaimana caranya menyimak dengan hati.

Menyimak adalah aktivitas paling mudah dan sederhana tak seperti halnya makan, mencium aroma parfum, dan melihat video yang menyedot kuota. Menyimak setiap orang yang mengutarakan isi benaknya, menyimak saluran radio, dan risalah pembicaraan dalam sebuah pertemuan. Kesulitan dalam menyimak adalah kemauan untuk memulai dan merasakan sudut pandang orang lain saat mereka bicara. 

Dalam buku The Magic of Communication yang ditulis Muhammad Ahmad Al-‘Aththar, ada 5 tingkatan aktivitas mendengarkan, yaitu antara lain:

  1. Mengabaikan pembicaraan. Sibuk sendiri saat orang lain memaparkan pandangannya. Mengobrol di luar bahasan forum. Bermain-main saat guru tengah menyampaikan ilmu. 
  2. Pura-pura mendengarkan dan menatap kosong dengan pikiran yang berlarian kesana-kemari. Mengangguk-anggukkan kepala padahal tak paham apa yang disampaikan.
  3. Hanya mendengar bagian-bagian tertentu dalam pembicaraan. Menyimak informasi setengah-setengah. 
  4. Mencoba mendengarkan dan memahami apa yang dikatakan lawan bicara. 
  5. Menyimak dan mendengarkan dengan serius perkataan seseorang. Tingkatan tertinggi dari aktivitas mendengarkan ini berarti menyimak dengan empati. Masuk ke dunia orang lain, lalu melihat persoalan dari sudut pandangnya. 

Menyimak dengan hati berarti mendengarkan perasaan, makna-makna, nilai-nilai, niat positif, dan tujuan seseorang dalam kehidupan. 

Mengukur diri, sampai saat ini saya masuk ke tingkatan yang mana. Saya sadar sering hadir dalam rapat, sekadar menyimak dengan mata, namun jemari sibuk di atas laptop, dengan alasan mendesain, mengetik dokumen, dan lainnya. Saya lalai dan lupa kalau momentum rapat saatnya fokus menyimak topik pembicaraan. Seharusnya saya ikut andil dalam memberikan pandangan dan solusi. Bukan sekadar ikut apa kata orang tapi tak benar-benar mengerti keutuhan informasi. 

Menyimak dengan hati rasanya berlaku pula saat menyimak grup WhatsApp yang sampai belasan. Rasanya sekadar membuka, sekadar read, tanpa menjawab. Sekadar ikut nimbrung sebagai silent reader. Tapi tak paham apa saja obrolan dalam grup. Tenggelam dalam banyak scroll layar yang menjenuhkan. 

Benar, di antara beruntunnya informasi dan derasnya komunikasi. Menyimak menjadi kemampuan yang mahal meskipun mudah dilakukan. Dikepung berbagai berita yang menuntut perhatian. Bagaimanapun, tak ada alasan untuk tidak menyimak. Karena ini merupakan gerbang dari sebuah pemahaman dan pengalaman. Memperkaya sudut pandang dengan merasakan apa yang disampaikan orang lain. 


#RamadhanInspiratif #day22 #challenge #aksara #ODOPfor99days

doodling, Essai, Ilmu Komunikasi, ODOPers, Ramadhan Inspiratif, Selaksa Rasa

Lega Setelah Bicara


Menyimpan segala persoalan dengan diam hanya akan membuat kerikil-kerikil terpendam. Hingga saat melewati jalan di hadapan, betapa perihnya menapaki. Tak pernah ada kata yang terucap membuat hati terus berharap. Padahal belum tentu orang lain mengerti dengan hanya menunjukkan wajah yang gusar. Sekadar emosi dalam ekspresi. 


Daripada lelah tak dimengerti, lebih baik diam saja. Toh semuanya akan berlalu. Iya, berlalu dalam putaran waktu. Tapi lama-lama segala kecamuk dalam diri ibarat dinamit yang entah kapan meledak suatu saat. Memuntahkan emosi yang belum selesai. Menghembuskan segala dengus kesal yang memuncak. Sebenarnya aku ingin ini… Aku ingin itu…

Jangan menunda-nunda untuk bicara. Tentukan waktu yang tepat membuka saluran kata. Menyampaikan kalimat demi kalimat tulus yang santun tanpa tendensi. Mengatur sedemikian rupa ekspresi dan respon terbaik. Dengan siapapun. 

Bersembunyi dalam alibi, aku mah begini, aku pendiam, aku mah introvert, tak akan pernah membuat jaringan terbuka lebar. Kesempatan di hadapan tersia-siakan. Memilih untuk menyimpan deretan tanya di kepala saat perkuliahan, karena malu dan takut disudutkan. Memilih diam dalam rapat dan menganggap orang lain mewakili padahal berbeda pemikiran. Memilih diam dengan wajah kusut saat pasangan bersikap mengusik kenyamanan. Utarakan maaf, haturkan terima kasih dengan tepat.

Bicaralah. Bicara sesuai momen yang tepat. Mengutarakan rasa tak sreg di hati dengan tetap berhati-hati menata kata. Bicara sesuai proporsi dan kondisi. Bicarakan ide, kegiatan, dan solusi. Bukan bicarakan kelemahan orang lain, masalah pribadi, dan gaya hidup masa kini. 

Awali dengan Bismillah. 

#RamadhanInspiratif #day21 #challenge #aksara #ODOPfor99days

Ayat Quran, Essai, Islam, Momentum, ODOPers, Ramadhan Inspiratif, Refleksi, Selaksa Rasa

Sabar Insidental 


Menikmati udara dingin hari Senin. Melangkahkan kaki di jalan tepi sawah. Kembali menapaki rutinitas di sekolah. Mengawasi ujian PAT (Penilaian Akhir Tahun) kelas 7 dan 8. Semalaman tadi saya memikirkan hakikat sabar. Jika sabar tidak terpancar sejak rumitnya mengawali hari, maka muncullah sabar insidental. Sabar yang terpaksa muncul di tengah keruwetan yang ada. Hadir tiba-tiba karena komentar orang atau reminder orang terdekat karena kita terlihat belum bersabar. Sabar insidental hadir karena tak ada pilihan lain. Akhirnya sabar sebatas mengiyakan tapi hati tak sepenuhnya menerima dan masih terselip pikiran, “Kenapa sih ini terjadi?” 

Itulah yang saya alami hari-hari yang lalu. Sabar insidental. Muncul karena kalap atas insiden yang sulit diterima. Biasanya lancar dan sesekali, Khanza buang air besar hingga 6 kali dalam sehari. Biasanya makan lahap atau minimal mau mengunyah walau lambat, ini berakhir dengan banyak sisa makanan dan penolakan mentah-mentah sejak sendok pertama. Ya Rabb, sabar ini rasanya bukan energi dari awal. Muncul karena tak ada pilihan lain. Jadilah mulut penuh keluhan, wajah ditekuk, dan penuh gerundel dalam diri. Astaghfirullah…

Harusnya sabar menjadi mental fighter yang disiapkan sejak awal, bukan pilihan akhir. Sabar ketika segalanya memang ditakdirkan agar ekspektasi diri teruji. Sabar menerima apapun resikonya sejak dini, agar bisa melakukan antisipasi tanpa sulit hati. Karena sabar itu dipupuk sejak akar, bukan buah yang tiba-tiba tumbuh karena cangkokan. Maka sejak sabar tertanam dalam jiwa, tak ada lagi gerutu meluncur saat terjebak hujan deras. Tak ada keluhan kala respon orang sekitar tak semanis yang diharapkan. Bagaimanapun sabar mengajarkan kita tentang das seis das solen. Tak selamanya realita berjalan sesuai harapan. Karena peran sebagai muslim membuktikan kebaikan pada segala aspek, baik yang manis maupun pahit. 

Terima kasih. Ungkapan yang layak dihaturkan pada siapapun termasuk yang sempat menorehkan luka. Luka yang terbalut karena kata, sikap, dan laku yang menumbuhkan akar kesabaran. Ya, meski pahit awalnya. Air mata jatuh dan hati sempat keruh karena momen menyakitkan. Harusnya tak usah ada rasa sakit hati yang dipelihara. Terima kasih untuk kalian yang sempat mengaktifkan radar sabar dalam diri. Sungguh pelan-pelan kesungguhan iman ini tengah teruji. 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali)“.

#RamadhanInspiratif #day3 #challenge #aksara #ODOPfor99days

Essai, Momentum, ODOPers, Selaksa Rasa, Semesta

Di Anyer, Aku Pernah Berlayar


Pertama kalinya berlayar ke laut lepas dari pantai Anyer, hanya 20 menit saja, mampu meluruhkan segala keangkuhan diri. Antara rasa takjub dan takut menjadi satu. Melalui deburan ombak yang berayun membuat jantung berdebar. Bersabar pada setiap liukan karena beradu dengan derasnya ombak. Perlahan menjadi tenang saat perahu menjauhi bibir pantai.

Alhamdulillah ini kedua kalinya saya berkunjung ke laut. Kalau sebelumnya, saya beserta suami dan anak ke Pangandaran. Kini ke Anyer saya tanpa keluarga untuk mendampingi karya wisata anak-anak kelas 9. 

Allah, Engkau ciptakan samudera biru untuk manusia mencari karunia tak terhingga. Disuguhi birunya laut dan garis horison memanjang, membuat diri diam-diam menerawang. Menekuri segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia maritim. Betapa karuniaNya tak pernah lekang oleh waktu. 

Saat berada di tengah laut, seolah terbayang bagaimana nelayan yang berjibaku dengan gerak ombak tak terduga. Mendorong diri untuk mempelajari wawasan tentang kelautan. Bagaimana terjadinya ombak, pengaruh angin laut dan darat, dan renungan ayat-ayatNya. 

Pesisir pantai selalu membuat kerinduan tetap terjaga. Rindu memandang tepian air, pasir, dan ombak yang berdesir. 

#ODOPfor99days