MGMP Prakarya, SMP Hikmah Teladan, Sosial Media, Teknologi Informasi Komunikasi

Jejaring Blog Sevenation


header sevenation

Mengawali sebuah jejaring berarti membuat sebuah titik keberadaan bernama blog pribadi. Akan ada kebingungan memulai pada awalnya. Bahkan dengan perangkat canggih sekalipun, jika tak punya keinginan untuk mencari tahu caranya, gadget tak akan berguna maksimal.

Berani menjadi bagian jejaring inspirasi selagi muda. Belajar memfilter dan menciptakan konten yang berkualitas sedikit demi sedikit. Khusus angkatan 7 (Sevenation) silahkan isi formulir berikut ya.

Flashfiction, Selaksa Rasa, Sosial Media

Flashfiction #2 : Potret Buram


Sepasang insan saling berdampingan, menatap kamera dengan berbagai ekspresi dalam sebuah kolase. Kompak. Likers pada foto yang diunggah saat itu membuat mata berbinar. Ratusan orang menyukai. Belasan mengomentari. Langgeng, katanya. 

Lama-lama isyarat dalam potret makin dekat, pegangan makin erat, dan tepuk tangan orang yang melihat makin dianggap hebat. Bangga, rasanya. 

Betapa dekat dalam layar. Di balik semua itu tak terbayang sedekat apa lagi hubungan kedua insan muda yang masih putih biru.

Hingga tiba-tiba datang sebuah masa dimana postingan foto tak lagi berguna. Satu kalimat pahit membuyarkan semua kata langgeng dan bangga. 

“Sayang, kamu tahu kan sebentar lagi aku harus UN. Gugurkan saja.” 

Kalimat dalam WhatsApp itu tinggal kalimat tak berharga. Penerima pesan telah menorehkan guratan mendalam di urat nadi dan perutnya. 

Seorang pelajar SMP aborsi dan bunuh diri. 

Essai, ODOPers, Sosial Media

Demi Viral, Rasa Malu Diabaikan


Dengan mudahnya klik tombol “Bagikan” dan alasan “copas dari grup sebelah”, apapun bisa menjadi viral. Ya, apapun. Mulai dari hal yang inspiratif sampai provokatif. Semuanya tergantung si empunya ponsel. Ada juga yang memang sengaja membuat trending agar diperhatikan dan membuat geger dunia maya. Yang terakhir ini posting tingkah polah tanpa memikirkan akibatnya. Rasa malunya sudah terputus.

Sesak itu ketika saya menghadapi kenyataan. Negeri ini pongah dengan para aktor politik yang mengangkat generasi muda tanpa kompetensi sesungguhnya. Plagiarisme menjadi sebuah hal yang wajar. Di balik video tiruan warga asing, seorang Afi kembali membuat geger dengan postingannya. Seseorang yang dielu-elukan pada awalnya berujung caci-maki dan teriakan hina para warga maya. Saya tak bicara soal dia saja. Hanya kecewa dengan petinggi politik dan media yang mengusungnya bagai boneka di pelataran publik. Inilah anak bijak masa kini. Generasi berani yang menyuarakan suaranya. Anak istimewa dari kalangan bawah. 

Figur generasi muda di mana sebenarnya? Figur sosok yang hanya berani viral tanpa mementingkan urat malu. Bahkan, saya menggenggam sesal ketika anak-anak di sekolah ternyata hafal para selebgram yang bangga “postingan nakalnya” alias bad influence. 

Hati-hati dalam membagikan. Apalagi postingan. Menyimak beranda hari ini sungguh geram tak terkira. Masih saja ada orang yang posting tanpa filter untuk berita kejahatan. Posting korban pemerkosaan dan pembacokan. Biar apa? Biar orang lebih riil membaca berita. Biar orang menghayati sekaligus muak dan mual membaca. 

Satu-satunya ukuran yang membedakan postingan seseorang dengan yang lain adalah urat malunya sendiri. Muak dengan berbagai link berita yang seolah informatif namun malah tebar ghibah tak berujung dengan bumbu pers kuning sana-sini. Seolah gaya populer padahal bergerak pada genre picisan meliputi seks, konflik, dan kriminal. 

Sungguh mencermati media online sekarang menggugah rasa rindu saya untuk belajar tentang jurnalisme. Bagaimana memahami komunikasi politik, komunikasi antarbudaya, dan komunikasi massa dan membuat gambaran fenomena sesungguhnya yang terjadi saat ini. 

#ODOPfor99days

doodling, Essai, ODOPers, Refleksi, Sosial Media

Bijak Bermedsos : Antara yang Pantas Dibagi atau Cukup Dear Diary


Beranda makin penuh dengan berbagai platform. Kalau beranda virtual dibayangkan seperti beranda sesungguhnya di dunia nyata. Betapa padat bervariasi bahkan cenderung banjir informasi. Instagram membuat orang-orang berlomba secara tidak langsung pada   upload  story dan foto terbaru. Agar kekinian setiap menit diabadikan. Bahkan tak segan menyiarkan secara live apa yang sedang dilakukan. Kronologi Facebook pun sama halnya, dengan fitur tambahan, penggunanya bisa memakai latar beragam rupa saat update status. 
Lama-lama kok jengah ya dengan tampilan beranda yang semakin leluasa menampilkan yang tidak diinginkan. Seperti berita sadis tanpa sensor, iklan sponsor berturut-turut, atau sekadar berita populer picisan tentang hal remeh-temeh selebritis. Judul bombastis dan menipu seringkali muncul saat scroll layar. 

Reminder di ujung hari detik ini adalah habit saya dalam menulis diary​​​​. Sisi lain rutin posting tulisan di blog ini adalah catatan harian yang kosong dari evaluasi diri. Diary bukan saja tempat curahan isi hati namun juga perencanaan dan evaluasi yang teramat pribadi. Kalau dulu diary sekadar tumpahan emosi pada orang-orang yang disukai dan dibenci, maka sekarang fungsinya lebih pada mengukur diri. Sayangnya, banyak orang yang tak bisa menempatkan diri. Mana yang pantas dibagi, mana yang cukup ditulis dalam diary. Jadilah laman kronologinya penuh keluhan, respon tak senang dengan orang, bahkan sindiran pada pihak tertentu yang salah tempat. Kok rasanya tabayyun langsung pada orangnya jadi sekadar menuliskan status dengan sindiran meski tanpa men-tag orang bersangkutan. Fungsi tabayyun menguap seketika. 

Sisi lain tulisan viral adalah memancing komentar juga menumbuhkan benih perpecahan antar pengguna. Betapa mudahnya orang mengatai-ngatai pengguna medsos lain meski tidak kenal secara langsung. Semua karakter orang ditentukan oleh kelincahan mereka menjentikkan jemari di atas layar. Jemari berlandaskan iman atau hawa nafsu. Sekadar cuap-cuap komentar sampai puas atau meninggalkan jejak bijak yang berharga. 

#Duniagakharustahu. Iya, dunia tak selamanya harus tahu apa yang kita rasakan saban hari. Tak harus tahu kondisi terkini pribadi. Segala hal yang menjadi evaluasi diri dan madhorot bila orang lain mengetahuinya, cukup ditulis sendiri dalam diary. Terutama biarlah Allah yang menutupi aib kita. 

Reminder sebelum membagikan kiriman di beranda medsos, pikirkan lagi, apakah itu menginspirasi atau sekadar menginterupsi. Sekadar reminder pribadi.

#duniagakharustahu #edityouronlinepresence #ODOPfor9days

Berbenah, digital, Essai, ODOPers, Ramadhan Inspiratif, Sosial Media

Ramadhan Berbenah : Seberapa Besar Kapasitas Memorimu?


Penyimpanan data di era digital ini begitu berharga dan semakin canggih dari zaman ke zaman. Masih lekat dalam ingatan, dulu saya merasakan zaman disket yang berisi piringan hitam kecil. Saat itu kapasitasnya sebatas 4 megabyte. Hanya cukup diisi file ringan seperti office. Dari disket, ada flashdisk, kaset CD/DVD, dan SD Card. SD Card atau Micro SD sebagai amunisi utama sebuah ponsel dan kamera. Kapasitasnya beragam rupa. Mulai dari bergiga-giga hingga bertera-tera. Tercanggih, ada SD Card berkapasitas 1 terabyte. 

Siapa yang tak pakai SD Card di ponselnya? Mungkin hanya segelintir orang. Termasuk saya. Saya hanya mengandalkan memori internal 11 GB di ponsel karena slot SD Card dipakai oleh SIM 2. Jadi notifikasi yang sering muncul adalah “Ruang Penyimpanan Hampir Habis”. Mengapa tak pakai memori eksternal saja? Hmm… Saya memilih menyortir file atau berkas tak penting yang tak layak diabadikan dalam benda fana ini. 

Penasaran buka galeri pribadi, apa sih yang membuat memori saya tersita banyak? Ternyata aplikasi obrolan meliputi Whatsapp dan Line yang cukup banyak menyita memori karena disetting autosave. Belum lagi video aktivitas Khanza sampai 2,33 GB. Screenshot sampai 395 foto. Mulai memantau ulang? Apa sih pentingnya sampai harus meng-SS? Ternyata info lomba, bukti transfer, dan foto kecengan dari lapak online shop.

Semakin banyak momentum dan kebutuhan menyimpan data pasti memerlukan kapasitas besar untuk menampung. Flashback untuk diri sendiri, hardisk 1 terabyte apa kabar? Ternyata 200 Giga lagi tersisa. Kok rasanya jengah ya dengan bejibunnya file tapi hanya timbunan masa lalu yang kadang berwujud sampah data. Inginnya mengosongkan file-file sebatas foto iseng, lagu mellow, film tak penting, dan arsip lainnya. 

Sebuah pernyataan berbisik dalam diri, “Syukurlah Allah memberi otak manusia dengan kapasitas tak hingga. Kapasitas yang tak bisa diukur dengan ribuan giga dan terabyte.” Apa yang tersimpan dalam otak kita yang sedemikian canggihnya. Otak yang ibaratnya prosessor dari Allah, tak bisa langsung refresh hanya sekali klik. Otak ini perlu manual guide agar tidak berimajinasi dan berpikir di luar koridorNya. 

Ramadhan ini momentum yang tepat menyortir diri. Tetapkan fokus utama, apa yang mau disimpan. Kalau pilihan di laptop, sort by type/name/date, maka memori akan lebih berdaya guna penuh barokah jika di sort by useful and meaningful. Bisa jadi saat beberes file, kita temukan secercah inspirasi atau sumbu taubat karena sempat menyimpan file yang melalaikan. Kecuali kalau kita memang membutuhkan kapasitas lebih untuk menyimpan semuanya. Semakin banyak yang harus diingat, disitulah daya memori diperlukan. Kalau memori fisik, perlu bergiga-giga lagi. Otak kita hanya butuh skala prioritas. Karena tak semua hal harus ditumpuk dalam benak, karena otak mungkin terlalu sesak dengan sampah mental. Hingga pertanyaan mendasar yang paling mengusik iman adalah “Seberapa bermakna isi memorimu?” 

#RamadhanInspiratif #day12 #challenge #aksara #ODOPfor99days 

doodling, Essai, ODOPers, Ramadhan Inspiratif, Sosial Media

Diksi dalam Berbisnis Online


Kalau selama ini diksi berlaku untuk memilah-memilih kata dalam tulisan, maka dalam bisnis online diksi ini juga begitu penting. Ini sebuah poin berharga yang saya serap ketika mengikuti Semi Workshop Bisnis Online, Ahad lalu (4/6), Aula Barat ITB.

Acara yang diselenggarakan panitia Ekspedisi Mutiara Ramadhan 1438 H & Jasmine ini menghadirkan Teh Muri Handayani sebagai narasumber. Materi yang diberikan meliputi “Social Media Adv Basic”. Saat kegiatan, peserta difokuskan untuk mengelola bisnis online lewat akun Instagram. 
Dengan strategi dan kelincahan mengelola jaringan, para alumni SBO (Sekolah Bisnis Online) berhasil meraup omset hingga miliaran bahkan triliun. Teh Muri selaku founder SBO, menegaskan, bisnis online terkadang tak ditentukan oleh penampakan spot bisnis yang cakep. Seringkali toko online yang masih berantakan pun bisa mendatangkan omset, jika akun bisnisnya dikelola dengan baik. Bahkan banyak di antaranya yang belum memiliki alamat toko resmi karena basis rumahan. Dunia online peluangnya UNLIMITED. 
Mengapa mereka bisa beromset miliaran tapi kita tidak? Jawabannya Allah beri waktu 24 jam untuk semuanya, tetapi setiap orang punya impian dan perjuangam yang berbeda. Maka miliki keyakinan untuk sukses memenej waktu dan buktikan dengan totalitas ikhtiar. 

Kunci utama terletak pada profesionalitas akun yang kita kelola. Memantaskan diri dalam menampilkan “etalase” utama lewat DIKSI. Cermat memilih nama akun, keterangan di profil, penjelasan produk/brand yang dijual, dan nomor kontak yang bisa dihubungi. Lebih baik lagi jika dicantumkan website utama diawali kalimat “cek produk lengkap di www…”

Nama akun kita harus menunjukkan kata kunci atau produk yang sering dicari. Gunakan kata kunci sesuai target market, karena jualan itu bukan hanya suka-suka saja, tapi pada kebutuhan dan market yang jelas. Maksimalkan penggunaan hastag (#) pada setiap caption foto produk. Semakin spesifik #kata kunci yang digunakan, semakin besar peluang closing

Ternyata yang menunjang untuk punya follower tepat sasaran adalah dengan menggembok akun. Ini harus! Harus dikunci agar follower yang mengikuti benar-benar “kepo” alias penasaran dengan isi etalase produk yang dipajang. Follower yang mendukung berarti mereka yang sepersekian persen berpeluang membeli, bukan akun anak-anak alay atau robot. 

Mau unggah foto dari laptop/PC langsung ke Instagram? Cara mudahnya lewat aplikasi Gramblr. 

Gramblr merupakan aplikasi pengunggah foto untuk Instagram. Gramblr adalah aplikasi desktop untuk Windows dan Mac yang memungkinkan kamu meng-upload foto dari komputer ke akun Instagram kamu.

Bahkan dengan Gramblr, pebisnis online bisa mengupload foto-fotonya dengan pengaturan jadwal otomatis. Jadi tak heran kalau akun onlineshop bisa update foto-foto produk sementara pemiliknya tertidur pulas. Ini karena sistem yang diatur upload terjadwal otomatis. 

Meresapi materi demi materi saat semi Workshop kemarin membuat saya geregetan ingin memulai bisnis. Ide itu banyak berkelebatan dalam benak. Tetapi poin yang terpenting juga bagaimana menetapkan manajemen waktu dan skala prioritas. 

#RamadhanInspiratif #day11 #aksara #challenge #ekspedisiramadhan1438h #ODOPfor90days

Essai, Momentum, ODOPers, Pendidikan, Ramadhan Inspiratif, Refleksi, Semesta, Sosial Media, Tafakkur

Teruntuk Calon Alumni: Dunia Luar Lebih Liar


Ramadan lalu mereka masih di sini. Di ruang kelas yang penuh dengan dekorasi khas. Kalender akademik, mading dengan tempelan foto dan harapan, dan segala benda yang mereka pelihara di kolong meja hingga akhir tahun pelajaran. Mulai dari buku hingga sampah permen yang sering dijejalkan hingga meja penuh sesak. Itu Ramadan lalu. 

Ramadan kini mereka sudah berganti status menjadi calon alumni. Cap tiga jari tak lama lagi akan dijejakkan di atas ijazah mereka. Ya, kelas 9 yang saya pegang satu tahun kemarin sebenarnya cukup singkat. Hanya 9 bulan efektif yang ditempuh dalam kegiatan pembelajaran. Mulai Maret lalu mereka telah menjalani try out beruntun jelang USBN dan UNBK. 

Tulisan ini hadir karena ada geletar rasa cemas pada gerbang baru sepeninggal mereka dari dunia putih biru yang singkat. Setiap jenjang kehidupan segera mereka tapaki. Kemarin mereka masih alumni SD, kedepan menjadi alumni SMP. Akan banyak ruang dan rencana yang mereka buat lewat reuni. Reuni terbatas tanpa sepengetahuan guru tentunya. 

Guru tak lagi mampu mendampingi mereka karena dunianya sudah lain. Keluar dari gerbang sekolah, mereka seutuhnya milik orangtua dan bertanggungjawab atas perilaku sendiri. Guru? Kadang hanya tahu kronologi harian mereka lewat media sosial. Pelan-pelan saya temukan kenyataan, selepas perpisahan kelas 9 kemarin, banyak pernyataan cinta terselubung seorang anak lewat foto yang dimention untuk temannya yang sekelas lewat instagram. Oh ternyata mereka ada rasa pasca berpisah. 

Geletar cemas itu semakin menjadi ketika realita alumni yang lebih dulu lulus sudah benar-benar mencopot label diri sebagai anak yang tahu batas pergaulan dan izzah diri. Berubah 180 derajat dari kepribadian di sekolah. Siapa sangka yang terlihat alim dan menjaga awalnya, setelah lulus mulai berani merangkul dan larut bertwifie dengan sang pacar. Peluk sana, rangkul sini, beradu pipi, ditambah caption romantis seolah sudah halal. Kok rasanya berpose kelewatan dari yang sudah menikah. 😑😢😢 Ada juga yang lepas jilbab dan remaja putra yang bangga dengan rokok di jari tangan sambil mengepulkan asap ke udara. Mereka semua adalah alumni. Ya, alumni tempat saya mengajar. Setelah berkenalan dengan dunia luar, ada yang menjadi liar, bukan sosok teladan yang bisa dibanggakan sekolahnya terdahulu. 

Namun, dari kesekian “kasus” liarnya para alumni, masih ada beberapa yang memberikan setitik kekaguman yang tak disangka-sangka. Anak yang pendiam dan dianggap slow learner, di SMA-nya menjadi leader di antara teman-teman dengan menjabat ketua OSIS. Tetap ada harapan di antara sekian kesenjangan. 

Bagi saya persoalan berubahnya alumni ini tak kunjung selesai ditekuri. Setiap mereka yang lulus dari dunia akademik, selalu dihadapkan pada realita dunia yang penuh godaan dan tuntutan. Mau terbawa arus atau menegaskan identitas diri tanpa terwarnai. Toh jangankan sekolah umum, alumni pesantren saja beresiko menjadi liar selepas dia lulus. Kalau ustadz saya dulu, mereka yang jadi liar ibarat kuda yang lepas dari kandangnya, selama di sekolah dijalani bukan dari hati, tapi kadang dari keinginan orangtua semata yang berharap akhlak anaknya baik tanpa diimbangi iktikad sesungguhnya dari sang anak. Jadilah saya menemukan banyak sosok teman alumni yang jauh dari identitas santri saat sekolah dulu. 

Buka-bukaan aurat di medsos dan bermesraan kelewat batas. Tergantung sekolahkah realita demikian? Saya rasa tidak sama sekali. Setiap orang apapun sekolahnya, sereligius apapun label sekolah sebelumnya, yang menentukan adalah akhlak mereka sendiri. Akhlak yang berbenturan dengan lingkungan luar akan menemukan momen teruji imannya atau terbawa arus. 

Benarlah Allah dalam firmanNya yang berpesan jauh dari 14 abad silam jika manusia senantiasa diberikan kecenderungan untuk menempuh dua jalan. Jalan yang keliru atau jalan yang benar. Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q. S. al-Syams [91]: 7-10). 

Ujungnya kembali saya dapati pelajaran tentang tak henti meminta petunjuk untuk setiap jenjang kehidupan. Banyak hal yang bisa menarik seseorang pada jalan yang salah, maka selayaknyalah kita panjatkan pada Sang Pemberi Kehidupan, Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-batila batilan warzuqnaj-tinabah, bi rahmatika ya arhamar-rahimeen. Artinya : Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya. 

Do’a yang selalu dilantukan anak-anak saat dzikir petang jelang pulang dari sekolah ini semoga terus mengingatkan mereka tentang berhati-hati pada dunia luar selepas lulus. Dunia luar lebih liar dari yang dibayangkan. Terkadang tak ada penjaga akhlak di garda terdepan seperti guru di sekolah kecuali diri yang harus istiqomah di tengah arus zaman. Istiqomahlah, Nak. 

#RamadhanInspiratif #day5 #aksara #challenge #ODOPfor99days