Diposkan pada Flashfiction, Selaksa Rasa, Sosial Media

Flashfiction #2 : Potret Buram


Sepasang insan saling berdampingan, menatap kamera dengan berbagai ekspresi dalam sebuah kolase. Kompak. Likers pada foto yang diunggah saat itu membuat mata berbinar. Ratusan orang menyukai. Belasan mengomentari. Langgeng, katanya. 

Lama-lama isyarat dalam potret makin dekat, pegangan makin erat, dan tepuk tangan orang yang melihat makin dianggap hebat. Bangga, rasanya. 

Betapa dekat dalam layar. Di balik semua itu tak terbayang sedekat apa lagi hubungan kedua insan muda yang masih putih biru.

Hingga tiba-tiba datang sebuah masa dimana postingan foto tak lagi berguna. Satu kalimat pahit membuyarkan semua kata langgeng dan bangga. 

“Sayang, kamu tahu kan sebentar lagi aku harus UN. Gugurkan saja.” 

Kalimat dalam WhatsApp itu tinggal kalimat tak berharga. Penerima pesan telah menorehkan guratan mendalam di urat nadi dan perutnya. 

Seorang pelajar SMP aborsi dan bunuh diri. 

Iklan
Diposkan pada doodling, Fiksi, Flashfiction

Flash Fiction Perdana


Ada peluh yang menetes di kening. Satu per satu jatuh tanpa sempat kuseka. Jantung berdegup cepat. Jari-jari mendingin berembun keringat. .

Ah, kata-kata dalam benak seolah terus memaksaku bersuara. Dua sisi dalam diri menarikku dalam pusaran ragu. Bicara.. tidak.. bicara.. tidak. .

Dengar mereka lihai  merangkai kata  bertenaga buat nyaliku makin ciut. Diam saja, kamu bisa-bisa hanya berbusa tanpa makna, ujar nada minor dalam diri. Sementara sisi lain memintaku berani. Katakan saja, tak peduli mereka berkata apa.

.

Pa, menurut saya…

.

Ah, leganya setelah bicara. .

Jam-jam perdana sebagai mahasiswa. .

.

Flash Fiction perdana dalam WAG Mini Workshop bersama Mbak Carolina Ratri. .

.

Ilmu bermanfaat tentang perspektif berbeda merangkai fiksi. Terima kasih banyak ilmu ya Mbak @carra.artworks efeknya jadi pengen bikin lagi cerita sehari-hari dengan gaya FF. 😊

Ada rasa yang berbeda ketika berdikari dalam fiksi singkat. Dituntut untuk memanfaatkan keterbatasan kata tapi tak menghilangkan esensi cerita. Mungkin ini jalan pertama saya untuk menapaki fiksi setelah kesulitan membuat cerpen berlembar-lembar halaman. Cerita pendek saja mampu membuat kepala pening menguraikan alur yang kadang menggantung tak berujung. 

Ada sesuatu yang bisa diungkapkan lebih sederhana dengan gaya istimewa. Merangkum cerita sehari-hari dengan imajinasi yang liar. Menerobos realita yang jarang terungkap dalam sudut pandangan orang biasa. Katarsis diri bercabang di sini.

#belajarflashfiction #doodling #doodlenote #flashfiction