Bunsay IIP, Dunia Anak, Dunia Emak, Essai, Life Lesson for Mom, ODOPers

Family Projects #1 : Jelly dan Perut Kembung


Bismillah… 

Memulai jejak pertama pada level 3 kuliah Bunsay IIP, membuat harap-harap cemas. Sudah ada rancangan tentang proyek keluarga yang akan dilakukan selama dua pekan kedepan. Qadarullah, Khanza di usia 29 bulan ini sedang kurang sehat. 

Sepulang mengajar, ia hanya tergolek lemah tak mau makan apapun. Memilih duduk dan merebah saat ditawarkan nasi atau susu. Saya pun mencoba mengajaknya membuat jelly. Berharap Khanza bisa masuk makanan meski sedikit, karena sebelumnya nasi yang masuk keluar lagi karena muntah. Demamnya dua hari lalu sudah turun tinggal perutnya yang masih kembung. 

Alhamdulillah, Khanza masih mau membantu sedikit meski hanya menuangkan bubuk Jelly ke dalam panci. Sampai jelly-nya matang, Khanza justru tertidur lebih dulu. 

Segala sesuatu yang terencana hanyalah setitik ujian saat dibenturkan dengan takdirNya. Semakin mengerti bahwa anak punya masa-masa fluktuatif. Ada kalanya ceria lincah tak tertahan, ada kalanya tak bergairah sedikitpun. Hanya terdiam dengan tatapan sendu dan ingin selalu dalam dekapan. Syafakillah, Nak…
#day1 #level3 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunsayIIP #khanzalayyina #29month #ODOPfor99days

Bunsay IIP, Dunia Anak, Essai, Life Lesson for Mom, ODOPers

Melatih Kemandirian Hari ke-12 : Inisiatif Meminta


Di antara keinginan Khanza yang beragam dan tak terduga, sebenarnya saya pun sedang belajar darinya. Belajar untuk tak selalu meloloskan keinginannya, membimbingnya untuk mengendalikan diri, dan memberikan pengertian tentang tak semua yang diminta langsung terlaksana. 

Lalu apa yang terjadi jika saya langsung mengelak dari permintaannya? 

Kadang ia akan menangis dan berteriak. Lalu saya belajar satu hal lagi tentang pandai-pandai memberikan hal lain untuk mengalihkan perhatiannya. Misalnya, Khanza meminta naik permainan kuda saat saya mampir ke minimarket. Tadi itu sudah lewat Maghrib dan saya tak mungkin membiarkan Khanza kedinginan. Akhirnya saya coba berikan pengertian kalau malam kudanya sudah bobo. Nanti lagi ya. 😅

Di antara sekian keinginannya, saya belajar lagi dan lagi. Selain melatihnya mengendalikan diri juga belajar memberikan sejuta alternatif agar anak tetap dihargai tanpa dicederai hatinya. 

#Level2 #MelatihKemandirian #tantangan10hari #BunsayIIP #khanzalayyina #28month #ODOPfor99days

Bunsay IIP, Dunia Anak, Life Lesson for Mom, Momentum, ODOPers

Hari ke-9 : Observasi pada Komunikasi Produktif


Sesungguhnya saat lebih jeli mengamati, saya tengah mendidik diri sendiri. Belajar pada keunikan setiap pribadi. Menelisik lebih dalam, memerhatikan setiap detil keistimewaan. Pelan-pelan saya mendapati makna, benar sebuah lirik lagu dari Petualangan Sherina, 🎵lihat segalanya lebih dekat dan kau akan mengerti.🎵

Mendapati Khanza begitu gembira saat diajak ke sekolah tempo hari. Binar matanya dan langkah kecilnya menapaki tempat saya mengajar dengan riang. Baginya, berkunjung ke sekolah menjadi interaksi tanpa batas untuknya bebas berceloteh dan bergerak ke sana kemari. Qadarullah Jumat kemarin Khanza saya bawa karena ibu dan adik saya ada kepentingan mendesak. Akhirnya Khanza saya bawa dengan berbekal makan siang dan cemilan secukupnya. 

Mampir ke ruangan administrasi, Khanza menyapa rekan saya di ruangan itu dengan ceria. Saat ditawari menonton lagu anak di ponsel, Khanza memilih bermain beberapa kepingan lego. 

Di hari kemarin, Khanza benar-benar bereksplor maksimal. Penuh energi. Rasanya energi saya pun tak bisa mengimbangi kelincahannya. Menyambangi ruang guru dan membuat “kegaduhan” di sana 😅😆 dengan tingkah gemasnya. 

Saat dibawa rapat kegiatan, mata saya didera kantuk luar biasa, sementara Khanza berlari-lari kecil mengitari karpet. Ada rasa gereget ingin merayunya untuk bobo siang. Tapi dasarnya anak tak bisa dipaksa kalau belum waktunya. Toh malamnya pun Khanza terlelap sendiri tanpa dininabobokan. 

Pada hari ke-9 dari tantangan 10 hari ini, saya benar-benar dibimbing untuk belajar dari kebersamaan yang sesungguhnya. Dibimbing untuk benar-benar berubah dan memperbaiki interaksi hari ke hari. Mencoba membandingkan respon sebelum dan sesudah mengaplikasikan poin demi poin komunikasi produktif dalam perkuliahan Bunda Sayang IIP. 
#level1 #day9 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip #ODOPfor99days


Bunsay IIP, Dunia Anak, Dunia Emak, Essai, Life Lesson for Mom, ODOPers

Tantangan Hari ke-4 Komprod : Mengatakan yang Diinginkan


Tantangan hari-ke 4 ini tentang mengatakan yang diinginkan. Khanza memasuki usia 27 bulannya semakin banyak request dari hari ke hari. Banyak keinginan rutin yang harus segera dituruti, misal ingin susu, makan, minum, dan mandi. 

Nah, semakin hari banyak keinginan tak terduga dan cenderung impulsif karena langsung bereaksi ketika menolak. Dalam arti yang diinginkan tidak sesuai harapannya. Berontak seketika. Dengan cara merengek, menangis, dan teriak. Kadang kalimat ampuh meredakan rengekan dan mendeteksi keinginan dengan kalimat, “De, bicaranya yang betul, mau apa?.” Khanza pun perlahan menurunkan nada suaranya dan mulai mengatakan dengan jelas. 

Keinginan yang paling harus dikendalikan dan diarahkan adalah saat membawanya ke supermarket. Maunya Khanza menjelajahi lorong dan mengambil barang atau makanan yang warnanya mencolok. Tanpa bicara sedikitpun, Khanza dengan mudahnya memasukkan satu per satu ke keranjang belanja. 😅😂 Bundanya yang keteteran dan mengembalikan beberapa yang tidak perlu ke tempat semula. 

Hari ini keinginannya begitu banyak sepulang saya mengikuti acara di luar. Mulai dari minta timbangan berat badan sampai ingin menyuapi ayah dan bundanya. 

“Nda, timbangan mana?” 

“Ada, kenapa, De?”


“Mau timbang-timbang.” ujar Khanza sambil menaiki timbangan dan melihat angka di bawahnya seolah sudah paham berapa kilonya. Lucunya, Khanza langsung berlari meminta disuapi dan naik timbangan lagi. Sepertinya satu suapan menurut Khanza bisa menaikkan berat badan. 😁 

“Nda, mau kursi bebek.” Dia langsung membawa perlahan dan memindahkannya ke ruang depan untuk makan sambil duduk. Inisiatifnya tumbuh dan ada kalanya tak ingin dibantu. 
Yang terakhir, Khanza ingin menyuapi saya dan suami sambil bicara mirip gaya orangtuanya.

“Nda, ayah, ini ada helikopter, aa… aa…” Saya dan suami seketika menyambut nyam nyam dari sendok yang disodorkan Khanza. 

Perilaku keinginannya yang impulsif membuat tantangan tersendiri. Bagaimana caranya terus memahamkan dan mengarahkan bahwa tak setiap keinginannya harus dituruti lewat kompromi dan negosiasi. Tentu saja dengan diksi dan intonasi yang tepat. Mengalihkan perhatiannya sebisa mungkin saat keinginannya tak mungkin diwujudkan seketika. 

#level1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #bunsayiip #ODOPfor99days

Bayi, Dunia Anak, Dunia Emak, Life Lesson for Mom, ODOPers

Ledakan Kata dan Ekspresi Khanza di 26 Bulan


Apa sih yang bikin kesal sehari-hari? 

Bunda udah bikin susu saat Khanza request mimi berkali-kali di tengah malam yang larut. Eh saat disodorkan, Khanza malah berubah pikiran, susu tak diminum setetes pun. “Nggak mau, bobo ajah di perut Nda.” 

Rumah sudah berantakan dengan tumpukan setrikaan menggunung. Tadinya mau menyetrika, eh Khanza di ruang depan sedang menjatuhkan buku-buku yang berderet rapi. Makin kacaulah posisi rumah. 

Khanza nggak mau makan kecuali sambil jalan-jalan ke luar mengitari gang kecil. Saat lagi enak-enaknya menyuapi sambil mengejar Khanza lari-lari, eh, dia pup saat nasi sesendok lagi di piring. 

Bunda mau sholat. Saat sujud, susah bangkit karena ditumpangi Khanza bak kuda-kudaan di arena permainan. Pelan-pelan memastikan agar dia tak jatuh dengan menunggunya turun sendiri. 

Ledakan kata itu tak terbendung saat Khanza mulai bernyanyi-nyanyi dengan lirik lagu yang diubahnya sendiri sesuka hati. Merapalkan do’a yang paling diingat setiap melangkahkan kaki ke kamar mandi. 
Dari setiap tingkah polahnya hingga kini, seharusnya pertanyaan di awal saya ganti menjadi, “Apa sih yang tantangan saya sehari-hari?” 

Sebuah fase pembelajaran baru segera dimulai. Sebelum masuk kelas Bunda Sayang di IIP, saya ingin memperbaiki sikap dan cara pandang menghadapi ledakan kata dan ekspresi Khanza sehari-hari. Sesungguhnya darinya saya belajar mengasah sabar, dari kuat ingatannya saya belajar diksi dan menyaring emosi. Tanpa sadar, jika marah sudah terumbar, sekumpulan teori parenting menjadi hambar. 
Celotehnya semakin banyak di usia 26 bulan. Saat saya terlalu sibuk karena menjawab WA, ia langsung mengerutkan dahi sambil berteriak, “Tutup HPnya, Bundaa.” Ah, saya diingatkan anak kecil yang baru 2 tahun supaya berperan penuh membersamai tanpa gadget. Maafkan Bunda… 

Komunikasi produktif itu tak semudah menjawab soal uraian di kertas. Tak semudah menuntaskan mata kuliah berbelas-belas SKS. Tak semudah menuliskan teori komunikasi atas sebuah fenomena interaksi. Komunikasi produktif adalah PR besar saya selanjutnya. Belajar bersikap dan berinteraksi dengan anak, suami, dan lingkungan sekitar. Terutama komunikasi internal (dialog diri) dan transedental (komunikasi dengan Allah).

*selepas Khanza guling-guling di kasur cari posisi nyaman dan tertidur 
#ODOPfor99days

Dunia Anak, Dunia Emak, Essai, Life Lesson for Mom, Work by Work

Energi Working Mom


Waktu menunjukkan pukul 21.22 WIB, akhirnya Khanza tertidur pulas setelah berkali-kali ubah posisi dan request susu sebelum tidur. Energi saya sudah lowbat sebenarnya. Saat Maghrib baru sampai rumah, inginnya langsung memeluk Khanza dan tidur. Tapi… Khanza masih semangat mengajak main dan request ini-itu. Mau diayun ambinglah, mau jungkat-jungkit di atas paha bundanya, mau nonton di laptop, dan minta susu berkali-kali. Kalau menuruti ego sendiri, inginnya memaksa Khanza bobo apapun caranya. Tapi lagi-lagi saya harus tetap charger energi lebih seorang working mom. Ya, ladang amal seorang ibu teruji di sini. Bersabar mengikuti ritme anak. 

Khanza di usia 25 bulan ini mulai bisa diajak mengobrol pelan-pelan meski tidak fokus satu topik. Saya sounding rencana bulan depan tentang liburan Khanza bersama neneknya. “De, tanggal 10 nanti renang sama Enin, ya!” Awalnya dia menolak tapi ketika saya bujuk dengan bawa pelampung/ban bebek, barulah Khanza setuju sambil mengulang-ulang permintaannya. “Mau bawa ban bebek, Nda, ban bebek ya!” 

Khanza sudah punya cara sendiri dalam menghibur diri. Boneka jari dia selipkan di leher lalu haha-hihi merasa geli. Energi ini rasanya otomatis lebih terisi melihat canda-tawanya. Saya menunda segala tugas dan buku yang ingin dibaca sampai dia mengantuk dan terlelap. 

Sebagai working mom, Alhamdulillah Khanza bisa dibawa habit bangun lebih awal karena saya harus bergegas pergi mengajar. Bahkan sudah 2 bulan terakhir, Khanza bisa digendong depan oleh ayahnya naik motor, jadi rutinitas antar-jemput cukup ringan karena tidak usah bolak-balik dari kontrakan, sekolah, dan rumah neneknya Khanza. Awalnya Khanza pasti beradaptasi terhadap segala hal baru baginya. Proses adaptasi pertama kali diawali tantrum sepanjang jalan menangis karena digendong ayahnya. 

Yang belum tercapai saat ini adalah memanfaatkan weekend dengan mengaplikasikan program buku Rumah Main Anak bersama Khanza. Pekan lalu dan sekarang masih saja berjibaku dengan kesibukan jelang ujian akhir anak-anak. Kadang suami pun menasihati jangan terlalu ngoyo dalam beraktivitas. Tetapi saya seakan merasa bersalah kalau segala tugas belum tuntas dalam target terdekat. Insting workaholic saya baru mereda ketika Khanza menyambut saya pulang di ujung senja. Berlari ke arah pintu dan langsung memeluk mesra. 

It’s Khanza Time. Sejak saya pulang harusnya Khanza menjadi fokus utama saya tanpa diganggu pikiran tugas ini-itu. Setelah Khanza tertidur, barulah saya bisa melanjutkan me time seperti blogging dan memeriksa daftar joblist untuh hari esok. 
*menyemangati diri sendiri di ujung lelahnya hari-hari penuh kesibukan

#ODOPfor99days

Dunia Anak, Dunia Emak, Ilmu Komunikasi, Keluarga, Life Lesson for Mom

Diksi Berkomunikasi dengan Anak


Kalau diksi selama ini berlaku untuk proses memilih kata dalam menuliskan wacana, maka seiring pesatnya kosa kata Khanza di usia 2 tahunnya, diksi berperan maksimal. Khanza sangat begitu peka dengan setiap kata yang terucap dari orangtuanya dan lingkungan sekitarnya. 
Salah berucap atau kata-kata yang bagi saya biasa saja bagi Khanza berarti mengaduk emosinya. Mengubah emosi dari rileks jadi meledak-ledak. Khanza sangat kuat ingatannya. Saat ia sedang anteng sendiri jelang tidurnya, saya melagukan sebuah doa yang biasa Khanza tonton di laptop. Seketika ia memaksa sambil berteriak, “Bunda, mau laptop, mau nonton video doaa.” Wah, saya tak menyangka secepat itu responnya. Khanza benar-benar merekam semua yang ia dengar dan tonton. Semuanya dia ingat dengan baik.

Pembelajaran berharga untuk menyeleksi kata-kata. Harus berhati-hati saat membujuknya dengan rayuan spontan yang saya sendiri tidak bisa mengabulkannya dalam waktu cepat. Nak, mandi yuk nanti kita beli es krim. Nah, ternyata bahasa “nanti” yang orangtua ucapkan seringkali bermakna kapan-kapan. Sedangkan untuk anak, kata-kata itu sudah tertanam dalam benaknya, oh aku mandi dapat es krim. Saat es krim tak kunjung didapatkan, alhasil anak kecewa dan bisa jadi tantrum tak terkendali. Meskipun ia sendiri tak mengutarakan langsung. 

Khanza benar-benar peka dalam segala hal. Saat dibonceng di motor sekalipun, ia masih bisa berceloteh melihat kupu-kupu dan pesawat yang jauh seperti titik di langit. Ya, itu dia ucapkan saat motor cukup melaju kencang. Sesuatu yang seringkali luput dari pandangan saya dan suami. Segala hal baginya seolah selalu diapresiasi dan dirayakan. Kereta dan pesawat lewat, ia berceloteh, “Dadah eta, dadah awat.” Sesudah mandi, ia sering bersorak girang, “Dadah air.” ☺😅😆

Di tengah majlis ilmu yang saya ikuti hari ini benar-benar menantang karena Khanza ikut dibawa. Rentang konsentrasinya yang hanya 2 menit benar-benar membuat fokus saya terbagi. Saya harus sigap memantaunya berlari-lari. Ia memaksa ingin naik tangga di dalam ruang pertemuan. Saya ikuti perlahan dan terus memantaunya. Pembelajaran baru bahwa saya lupa kalau Khanza memang sedang lincah-lincahnya. Ia memerlukan perkakas pribadi agar konsentrasinya bisa disalurkan pada mainan yang mudah dibawa, cemilan saat lapar, dan perawatan khas balita dalam tas kecilnya. 

#ODOPfor99days