Diposkan pada doodling, Essai, Momentum, ODOPers, Pendidikan, Sosial Media, Work by Work

Keyakinan yang Mengganggu tentang DoodleΒ 


Pernah terbersitkah di pikiran kita ketika melihat sekilas sebuah lukisan dan mulai berdecak kagum pada visualisasi yang wah di atas kanvas? Saya pun pernah mengalaminya. Kemudian mundur teratur dan memendam segala keinginan untuk ikut mengulaskan kuas dan bermain palet warna. “Saya nggak bisa melukis”, itu yang terngiang-ngiang​ hingga akhirnya saya benar-benar tak pernah menyentuhnya. Kecuali terakhir kali memegang kuas saat membersamai Khanza melukis. 

Akhir-akhir ini saya menemukan kegembiraan sederhana lewat “Doodle” sebagai bahasa visual. Bagi saya, seni rupa menuntut imajinasi brilian bahkan liar tanpa kendali (baca : abstrak). Saya sempat putus asa ketika menjalani pretest Ujian Seni Rupa hanya memperoleh nilai 53 dari 100 soal πŸ˜‚πŸ˜‚. Soal-soal yang dikerjakan seputar teori dan aliran seni rupa yang begitu sulit dijawab karena tanpa visualisasi nyata. Hanya sekadar klak-klik pada layar. Nah justru nilai UKG tahun lalu pada mapel TIK saya malah bisa mengerjakan dengan santai dan hasilnya, Alhamdulillah, 88. 😊 Soal-soalnya meliputi media internet dan penggunaan media grafis. 

Okay kembali ke Doodle. Dalam buku “The Doodle Revolution” yang ditulis Sunni Brown, sebenarnya ada tiga keyakinan mengganggu tentang doodle apalagi saat baru saja memulainya. Banyak orang yang masih menjaga jarak dengan aktivitas satu ini hanya karena alasan “Saya tidak bisa menggambar”. 

Pertama, seni rupa adalah kemewahan. Sebaliknya, bahasa visual bukanlah kemewahan namun sebuah aktivitas alami yang bisa hanya mengandalkan kertas dan pulpen biasa sekalipun. Kalaupun ada spidol dan palet warna hanya sebagai perangkat tambahan. 

Kedua, seni itu untuk para seniman “sejati”. Sebaliknya, bahasa visual berlaku untuk semua orang. Terbukti orang berbagai elemen bisa mengikutinya. Mulai dari dokter, guru, apoteker, ibu rumah tangga, pokoknya siapapun yang senang menggoreskan coretan bermakna yang lekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Ketiga, seni rupa adalah hasil inspirasi yang agung. Sebaliknya, bahasa visual adalah hasil kerja keras. Kerja keras karena ada kalanya kita harus benar-benar menyerap informasi dengan proaktif menemukannya. Bukan sekadar menunggu inspirasi itu datang. Bisa lewat membaca buku, menonton video/film, atau mendengarkan siaran radio. 

Intinya, Doodle sebagai bahasa visual tidak sama dengan seni rupa. Jangan takut bila membuat gambar yang tidak sama atau terkesan berantakan, yang penting Doodle atau infodoodle yang kita buat bisa memperjelas pemikiran kita atau sekadar membuat kita rileks bak mengurai benang kusut dalam pikiran. πŸ˜ŠπŸ˜‰

Kulwap WAG Emakdoodle 

Bandung, 7 Oktober 2017

#ODOPfor99days

Iklan
Diposkan pada doodling, Essai, Foto dan Cerita, Inspiring Report, Keluarga, Momentum, ODOPers, Sosial Media, Work by Work

Dialog di Balik Tirai Rumah Sakit


Alhamdulillah suami diizinkan pulang Kamis sore kemarin (27/09). Hasil diagnosa USG dan Rontgen menunjukkan gambaran Ileus Paralitik. Lekosit tinggi 13.100 (normalnya 4.000-10.000) yang menunjukkan indikasi terjadinya radang pada usus.
Bagaimanapun, 4 hari menginap di RS ini membuat saya bersyukur. Pertama, ternyata suami tak membutuhkan operasi cukup serius karena bukan Ileus Obstruktif yang benar-benar meninggalkan luka fatal pada usus. Kedua, saya sempat belajar pada dialog yang berlangsung di balik tirai rumah sakit. Ya, pasien-pasien lain satu ruangan yang punya cerita berbeda dalam riwayat penyakitnya.

Ada seorang kakek yang menolak untuk operasi karena takut. Padahal Lanjutkan membaca “Dialog di Balik Tirai Rumah Sakit” β†’

Diposkan pada doodling, Essai, Momentum, Pendidikan, Review Book, Work by Work

Catatan Kecil dari Teach Like Finland


Lanjutan dariΒ Teach Like Finland, sebuah energizer berharga.Β 

Begitu membuka buku ini dan fokus pada tata letaknya, agak kesulitan awalnya untuk menyimak tulisan dengan font kecil. Kepala sempat dibuat pening. Namun, segera saya singkirkan dengan motivasi penasaran akan esensi buku yang ditulis Timothy D. Walker tersebut.

 

Nyatanya saya dibuat terhenyak dan tersadar dengan berbagai irisan inspirasi yang begitu kompleks. Terbersit rasa sesal atas pembelajaran lalu yang kurang maksimal, “Yang kemarin itu apa ya?” πŸ˜…Sambil mengingat-ingat, sudahkah anak-anak berhasil menemukan momentum AHA mereka saat belajar?

Buku yang memuat 197 halaman ini mampu membuat saya berjibaku sesaat dan larut di dalamnya, seraya meninggalkan catatan kecil ala doodling sambil menatap rencana ke depan. Irisan seperti apa yang bisa diaplikasikan dan disesuaikan saat membersamai anak-anak di kelas? Kemudian perjuangan sesungguhnya dimulai ketika memindahkan segala teori atau wacana agar membumi. Menyesuaikan segala pemahaman baru untuk membentuk pengalaman yang lebih bermakna.

Catatan kecil “Teach Like Finland” ini hanya secuil pengikat ingatan untuk berbagi. Silahkan yang ingin mengunduh, klik doodlingteachlikefinland. Semoga bermanfaat.

Diposkan pada Bunsay IIP, Dunia Anak, Essai, Foto dan Cerita, Keluarga, Momentum, ODOPers

Family Project #13 : Mencetak Foto Kegiatan


Sebelum era digital, mencetak foto butuh waktu panjang dari mengafdruk sampai memprosesnya di ruangan gelap, kini serba digital, foto dengan mudahnya dilihat hasilnya begitu memotret. Kelemahannya adalah sensasi menunggu hasil jadinya berkurang dan kadang kita cukup puas hanya melihatnya secara virtual. Menyimpan begitu banyak galeri foto tanpa hasil cetakan asli. 

Nah, dalam membuat sebuah album sederhana dari kegiatan keluarga, saya memanfaatkan printer dan kertas foto inkjet di rumah yang sekian lama belum dipakai. πŸ˜… Hitung-hitung Khanza bisa melihat semua aktivitasnya semacam portofolio. 

Sambil menunggu foto demi foto diprint, Khanza dan ayah mengemil lengkeng bersama. Selesai cuci tangan, mereka pun sama-sama bermain di kamar ala-ala ucang angge πŸ˜†. Ayah itu kadang suka tiba-tiba jahil dan bikin Khanza menangis, tapi tetap saja mereka kalau lagi barengan ketawa-ketawa bikin bundanya cemburu, ditambah wajah mereka satu gen alias mirip. πŸ˜†πŸ˜„

Masih on the process pengerjaannya nih, berharap Khanza memiliki sesuatu yang berharga untuk dikenang saat beranjak sekolah dan dewasa kelak. 

#Day13 #Level3 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunsayIIP

Diposkan pada Bunsay IIP, Essai, Momentum, Motivasi, ODOPers, Selaksa Rasa, Semesta, Work by Work

Titik Puncak Insomnia : Sebuah Kewarasan Menjalani


Ada yang masih belum selesai terpikirkan. Meski ingin kututup rapat mata. Lelah memikul beban sehari-hari. Fisik ingin merebah ketika batas waktu telah menuju dini hari. Tapi sedikitpun mata tak mau terpejam. Malah semakin berdenyar dengan segala yang berkelebatan dalam pikiran. 
Antara rutinitas, rencana sebuah momentum, menanggapi ritme fluktuatif si kecil, dan masa depan yang masih ragu untuk dijalani. Keterlaluan pikirku. Bagaimana mungkin sisi dalam diri memberontak ketika satu sisi lain mencoba menenangkan. 

Bertanya-tanya, “Bagaimana sebuah akhir menjadi hebat jika tak diawali dengan niat yang lurus?” 

“Bagaimana kamu memahami tanda dan ayat demi ayatNya di antara sekian alasan terlalu sibuk untuk semua yang fana?”

“Bagaimana bisa kamu terlalu khawatir dengan masa depan yang masih rahasia tapi tak memaksimalkan ikhtiar dan do’a?”

“Bagaimana bisa kamu menetapkan standar sebuah rejeki dengan batasan manusia padahal kemuliaan lebih layak diperjuangkan?” 

Allahu Rabbi… Ketika segala kerja keras kadang tak dihargai dengan setimpal bahkan malah sering direpotkan seorang diri, bantu hamba mencari celah untuk tetap mengambil hikmah yang terserak. Di antara prasangka, di antara percakapan sembarang yang menjadi ruang dengar pengikis keikhlasan tanpa sengaja. 

Jangan biarkan standar-standar mereka melangkahi segala niat yang tertancap kuat. Jangan biarkan niat ini memudar karena minimnya sebuah apresiasi. Karena tak ada satu pun yang pantas menimbang, tak ada satu pun yang layak menghisab dan menilai, semua hanya indikator-indikator subjektif buatan manusia. 

Segala yang menjadi ganjalan dan kerikil di jalan ini hanyalah serangkaian tantangan untuk membuat langkah kaki semakin kuat. Segala pilihan yang telah diambil mesti menjadi keberanian untuk menghadapi risiko yang ada. 

Stop memikirkan segala keduniaan terlalu dalam. Benahi momen pertemuan denganNya. Tapaki jejak langkah ikuti petunjuk risalahNya. Kewarasan ini terjaga karena ingat semua fana. 

Random ceracauan lewat tengah malam, di antara nyamuk yang berdenging cepat.

#ODOPfor99days

Diposkan pada Catatan Diri, Dunia Anak, Essai, Momentum, ODOPers

Catatan Kecil dari Konferensi Ayah Bunda Platinum Morinaga : Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat


Alhamdulillah, hari ini menyerap ilmu bermanfaat tentang tumbuh kembang anak. Menyiapkan sebaik-baik nutrisi dan stimulasi sejak dini. 

Acara yang dimoderatori Teuku Zacky ini menghadirkan dua pembicara utama yaitu DR. dr. Ahmad Suryawan, Sp.A.(K) dan Dr. Rose Mini, M.Psi. Selain itu hadir pula DR. dr. Eddy Fadlyana, Sp.A.(K). 

Dari acara ini saya baru tahu kalau dokter anak pun ada dua jalur. Jalur spesialis biasa dan khusus tumbuh kembang anak. 

Sesi pertama tentang nutrisi yang penting sebagai perisai utama bagi 4 aspek dalam diri si kecil, yaitu meliputi : 

  1. Kecerdasan otak
  2. Pertahanan tubuh ganda (antibodi)
  3. Tumbuh kembang optimal
  4. Kesehatan saluran cerna

Sesi kedua tentang 8 kecerdasan majemuk yang pertama kali dikenalkan Howard Gardner. Kecerdasan tak selamanya selalu bernilai dari segi akademik. 

Kemudian stimulasi tepat saat bermain dengan anak. Bermain di sini dibagi menjadi 4 bagian sesuai tahap perkembangannya, yaitu:

  1. Bermain fungsional, seperti berlari, mengejar benda, rattle, pijat tubuh, dan bermain di taman.
  2. Bermain konstruktif, seperti menyusun balok, bongkar-pasang mainan, puzzle, dan lain-lain.
  3. Bermain peran, seperti main boneka, drama, masak-masakan, dan lain-lain.
  4. Bermain dengan aturan, seperti main kartu, ular-tangga, olahraga, catur, dan lain-lain. 

Setelah mengikuti rangkaian acara konferensi ini, saya jadi berpikir ulang tentang nutrisi apa yang tepat untuk Khanza. Seringkali dihadapkan pada kondisi stuck karena bingung makan Khanza sedikit atau bahkan pernah GTM. Dari situ saya ingat kalau anak harus diberikan pilihan dengan variasi menu sehari-hari. Belajar memberikan nutrisi berarti membiarkan anak menjelajahi rasa yang disukai. 


Terkait stimulasi berarti menyediakan momen berharga untuk benar-benar fokus untuknya dan di sisinya. Menyimak setiap detil ekspresi dan respon saat bermain. Tetap menerima kondisi saat anak mulai bosan karena rentang konsentrasi yang pendek sesuai usianya. 

Dari sini saya kembali diingatkan tentang orangtua dan lingkungan sebagai teladan bagi anak yang ulung meniru. Jika kita membentak berarti memberikan anak kemampuan untuk membentak. Kadang dalam mengoptimalkan stimulasi di awal perkembangannya terutama saat bayi, orangtua harus ‘GILA’ dalam arti benar-benar total berekspresi. 😊 Banyak tersenyum dan mengajak anak berinteraksi meski belum berbicara.

Alhamdulillah dari acara ini pula, saya dapat doorprize sebuah oven listrik. Rezeki Khanza agar bundanya belajar bikin kue. 


#catatankecil #doodlenote #ODOPfor99days

Diposkan pada Bunsay IIP, Dunia Anak, Essai, Foto dan Cerita, Momentum, ODOPers

Melatih Kemandirian Hari ke-3 : Terlibat dalam BerbenahΒ 


Ibu pernah mengeluh karena setrikaan menggunung dan diacak-acak anak? Hari ini saya usai sudah keluhan dengan “mendaki” gunungan setrikaan dan mulai menjadikan “daratan” pakaian rapi. πŸ™ŒπŸ˜Š

Sebenarnya setrikaan ini sudah “fermentasi” alias dibiarkan di akhir pekan. πŸ™ˆ Yup, sudah seminggu tertumpuk tanpa tersentuh. Pekan ini baru selesai dari agenda lokakarya guru dan sempat tumbang karena demam plus radang hari-hari sebelumnya. 

Hari ini saya coba mengajak Khanza terlibat sesuai kemampuannya. Pertama, ia bisa meletakkan sendal bekas pakainya di rak. 

“De, tolong simpan di rak ya sendalnya.” 

Ia pun langsung menuju ruang belakang dan menaruhnya dengan sigap. 

Kedua, saya berusaha menaklukkan rasa malas dengan menggelar karpet untuk menyetrika di bawah. Khanza awalnya keukeuh ingin ikut menyetrika dengan kondisi setrika yang sudah tersambung listrik. Lalu saya mencoba memegang tangannya dan mendaratkan di alas kain setrika yang masih agak panas. 

“Nyetrikanya nanti aja ya kalau sudah besar. Sekarang sama bunda dulu. Nih coba sama Khanza pegang. Panas ya?” 

“Yang ini dingin Bun.” ujar Khanza sambil memegang ujung kain yang memang belum ditimpa setrika. 

Wah Khanza harus dikasih pilihan lain nih. Udah ada rasa bersiasat. 😁😎 

Baiklah, saya pun mencoba memberinya keranjang pakaian yang awalnya ditumpahkan semua ke karpet. Agar Khanza ikut terlibat dalam momen menyetrika sebisanya. Lalu ia pun memasukkan semua baju ke keranjang pakaian sampai karpetnya benar-benar bersih dari baju yang bergeletakan. 

Ketiga, Khanza juga ikut menurunkan baju-baju yang menumpuk di kasur. Tujuannya agar ia bisa langsung istirahat di kasur setelah bajunya sedikit berkurang. Meskipun tidak sampai beres, Khanza bisa dilibatkan tanpa paksaan. Akhirnya, Khanza request susu dan langsung tidur sendiri. Alhamdulillah bundanya masih harus terjaga dan mulai bergerilya menuntaskan setrikaan. 

Membersamainya hari ini memberikan saya pelajaran tentang melatih kemandirian tanpa paksaan namun menumbuhkan inisiatif sesuai kemampuannya. Meski kadang tidak selalu serapi dan seideal yang diinginkan, minimal latihan ini dimulai dengan cara sederhana agar Khanza bisa terbiasa dan bisa memaksimalkan potensinya. 

#Level2 #MelatihKemandirian #tantangan10hari #harike3 #khanzalayyina #28month #ODOPfor99dayw