Bunsay IIP, Essai, Momentum, Motivasi, ODOPers, Selaksa Rasa, Semesta, Work by Work

Titik Puncak Insomnia : Sebuah Kewarasan Menjalani


Ada yang masih belum selesai terpikirkan. Meski ingin kututup rapat mata. Lelah memikul beban sehari-hari. Fisik ingin merebah ketika batas waktu telah menuju dini hari. Tapi sedikitpun mata tak mau terpejam. Malah semakin berdenyar dengan segala yang berkelebatan dalam pikiran. 
Antara rutinitas, rencana sebuah momentum, menanggapi ritme fluktuatif si kecil, dan masa depan yang masih ragu untuk dijalani. Keterlaluan pikirku. Bagaimana mungkin sisi dalam diri memberontak ketika satu sisi lain mencoba menenangkan. 

Bertanya-tanya, “Bagaimana sebuah akhir menjadi hebat jika tak diawali dengan niat yang lurus?” 

“Bagaimana kamu memahami tanda dan ayat demi ayatNya di antara sekian alasan terlalu sibuk untuk semua yang fana?”

“Bagaimana bisa kamu terlalu khawatir dengan masa depan yang masih rahasia tapi tak memaksimalkan ikhtiar dan do’a?”

“Bagaimana bisa kamu menetapkan standar sebuah rejeki dengan batasan manusia padahal kemuliaan lebih layak diperjuangkan?” 

Allahu Rabbi… Ketika segala kerja keras kadang tak dihargai dengan setimpal bahkan malah sering direpotkan seorang diri, bantu hamba mencari celah untuk tetap mengambil hikmah yang terserak. Di antara prasangka, di antara percakapan sembarang yang menjadi ruang dengar pengikis keikhlasan tanpa sengaja. 

Jangan biarkan standar-standar mereka melangkahi segala niat yang tertancap kuat. Jangan biarkan niat ini memudar karena minimnya sebuah apresiasi. Karena tak ada satu pun yang pantas menimbang, tak ada satu pun yang layak menghisab dan menilai, semua hanya indikator-indikator subjektif buatan manusia. 

Segala yang menjadi ganjalan dan kerikil di jalan ini hanyalah serangkaian tantangan untuk membuat langkah kaki semakin kuat. Segala pilihan yang telah diambil mesti menjadi keberanian untuk menghadapi risiko yang ada. 

Stop memikirkan segala keduniaan terlalu dalam. Benahi momen pertemuan denganNya. Tapaki jejak langkah ikuti petunjuk risalahNya. Kewarasan ini terjaga karena ingat semua fana. 

Random ceracauan lewat tengah malam, di antara nyamuk yang berdenging cepat.

#ODOPfor99days

Catatan Diri, Dunia Anak, Essai, Momentum, ODOPers

Catatan Kecil dari Konferensi Ayah Bunda Platinum Morinaga : Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat


Alhamdulillah, hari ini menyerap ilmu bermanfaat tentang tumbuh kembang anak. Menyiapkan sebaik-baik nutrisi dan stimulasi sejak dini. 

Acara yang dimoderatori Teuku Zacky ini menghadirkan dua pembicara utama yaitu DR. dr. Ahmad Suryawan, Sp.A.(K) dan Dr. Rose Mini, M.Psi. Selain itu hadir pula DR. dr. Eddy Fadlyana, Sp.A.(K). 

Dari acara ini saya baru tahu kalau dokter anak pun ada dua jalur. Jalur spesialis biasa dan khusus tumbuh kembang anak. 

Sesi pertama tentang nutrisi yang penting sebagai perisai utama bagi 4 aspek dalam diri si kecil, yaitu meliputi : 

  1. Kecerdasan otak
  2. Pertahanan tubuh ganda (antibodi)
  3. Tumbuh kembang optimal
  4. Kesehatan saluran cerna

Sesi kedua tentang 8 kecerdasan majemuk yang pertama kali dikenalkan Howard Gardner. Kecerdasan tak selamanya selalu bernilai dari segi akademik. 

Kemudian stimulasi tepat saat bermain dengan anak. Bermain di sini dibagi menjadi 4 bagian sesuai tahap perkembangannya, yaitu:

  1. Bermain fungsional, seperti berlari, mengejar benda, rattle, pijat tubuh, dan bermain di taman.
  2. Bermain konstruktif, seperti menyusun balok, bongkar-pasang mainan, puzzle, dan lain-lain.
  3. Bermain peran, seperti main boneka, drama, masak-masakan, dan lain-lain.
  4. Bermain dengan aturan, seperti main kartu, ular-tangga, olahraga, catur, dan lain-lain. 

Setelah mengikuti rangkaian acara konferensi ini, saya jadi berpikir ulang tentang nutrisi apa yang tepat untuk Khanza. Seringkali dihadapkan pada kondisi stuck karena bingung makan Khanza sedikit atau bahkan pernah GTM. Dari situ saya ingat kalau anak harus diberikan pilihan dengan variasi menu sehari-hari. Belajar memberikan nutrisi berarti membiarkan anak menjelajahi rasa yang disukai. 


Terkait stimulasi berarti menyediakan momen berharga untuk benar-benar fokus untuknya dan di sisinya. Menyimak setiap detil ekspresi dan respon saat bermain. Tetap menerima kondisi saat anak mulai bosan karena rentang konsentrasi yang pendek sesuai usianya. 

Dari sini saya kembali diingatkan tentang orangtua dan lingkungan sebagai teladan bagi anak yang ulung meniru. Jika kita membentak berarti memberikan anak kemampuan untuk membentak. Kadang dalam mengoptimalkan stimulasi di awal perkembangannya terutama saat bayi, orangtua harus ‘GILA’ dalam arti benar-benar total berekspresi. 😊 Banyak tersenyum dan mengajak anak berinteraksi meski belum berbicara.

Alhamdulillah dari acara ini pula, saya dapat doorprize sebuah oven listrik. Rezeki Khanza agar bundanya belajar bikin kue. 


#catatankecil #doodlenote #ODOPfor99days

Bunsay IIP, Dunia Anak, Essai, Foto dan Cerita, Momentum, ODOPers

Melatih Kemandirian Hari ke-3 : Terlibat dalam Berbenah 


Ibu pernah mengeluh karena setrikaan menggunung dan diacak-acak anak? Hari ini saya usai sudah keluhan dengan “mendaki” gunungan setrikaan dan mulai menjadikan “daratan” pakaian rapi. 🙌😊

Sebenarnya setrikaan ini sudah “fermentasi” alias dibiarkan di akhir pekan. 🙈 Yup, sudah seminggu tertumpuk tanpa tersentuh. Pekan ini baru selesai dari agenda lokakarya guru dan sempat tumbang karena demam plus radang hari-hari sebelumnya. 

Hari ini saya coba mengajak Khanza terlibat sesuai kemampuannya. Pertama, ia bisa meletakkan sendal bekas pakainya di rak. 

“De, tolong simpan di rak ya sendalnya.” 

Ia pun langsung menuju ruang belakang dan menaruhnya dengan sigap. 

Kedua, saya berusaha menaklukkan rasa malas dengan menggelar karpet untuk menyetrika di bawah. Khanza awalnya keukeuh ingin ikut menyetrika dengan kondisi setrika yang sudah tersambung listrik. Lalu saya mencoba memegang tangannya dan mendaratkan di alas kain setrika yang masih agak panas. 

“Nyetrikanya nanti aja ya kalau sudah besar. Sekarang sama bunda dulu. Nih coba sama Khanza pegang. Panas ya?” 

“Yang ini dingin Bun.” ujar Khanza sambil memegang ujung kain yang memang belum ditimpa setrika. 

Wah Khanza harus dikasih pilihan lain nih. Udah ada rasa bersiasat. 😁😎 

Baiklah, saya pun mencoba memberinya keranjang pakaian yang awalnya ditumpahkan semua ke karpet. Agar Khanza ikut terlibat dalam momen menyetrika sebisanya. Lalu ia pun memasukkan semua baju ke keranjang pakaian sampai karpetnya benar-benar bersih dari baju yang bergeletakan. 

Ketiga, Khanza juga ikut menurunkan baju-baju yang menumpuk di kasur. Tujuannya agar ia bisa langsung istirahat di kasur setelah bajunya sedikit berkurang. Meskipun tidak sampai beres, Khanza bisa dilibatkan tanpa paksaan. Akhirnya, Khanza request susu dan langsung tidur sendiri. Alhamdulillah bundanya masih harus terjaga dan mulai bergerilya menuntaskan setrikaan. 

Membersamainya hari ini memberikan saya pelajaran tentang melatih kemandirian tanpa paksaan namun menumbuhkan inisiatif sesuai kemampuannya. Meski kadang tidak selalu serapi dan seideal yang diinginkan, minimal latihan ini dimulai dengan cara sederhana agar Khanza bisa terbiasa dan bisa memaksimalkan potensinya. 

#Level2 #MelatihKemandirian #tantangan10hari #harike3 #khanzalayyina #28month #ODOPfor99dayw

Catatan Diri, Essai, gaya hidup modern, Kesehatan, Momentum, ODOPers, perjalanan

Mie Instan : Antara Benci dan Candu


Sejak diultimatum sang dokter yang menangani pasien atas mobil di malam buta tengah kemacetan parah Rancabali-Ciwidey, saya memendam benci tak terkira pada mie instan dalam cup styrofoam. Ah, bukan itu saja. Tapi pada semua merek mie instan dalam cup, mangkok, atau sekadar menyertai gurihnya cuanki malam hari. Benci teramat sangat. Tapi… Bagaimana ini, ah kebencian itu seperti menelan ludah sendiri. Benci tapi candu. Kemarin saja saya sudah menghabiskan satu cup mi instan. Hari lebaran pertama semangkok mie instan plus kikil sapi.

Petang tadi benar-benar pembelajaran berharga tentang candu pada segala makanan yang membahayakan lambung. “Stop, jangan lagi makan mie, pedas, asam, dan kopi!” Begitu kata dokter. Makanan yang disebutkan itu bagaikan  blacklist menu yang menggoda tiada tara. Mungkin untuk saya masih aman, tetapi suami tidak. Saya pun belajar dari rasa sakit luar biasa membuat iba siapapun yang melihatnya. Reminder untuk diri menahan diri untuk tidak terus lari pada mie dan kopi. Lapar, malas masak, akhirnya godok mie. Menahan ngantuk agar cenghar, mengandalkan kopi. 😔😣

Lambung yang kena menjadi kewaspadaan tersendiri. Belajar mengendalikan candu yang terus dituruti. Membuat panik orang sekitar saat ulu hati mulai berkontraksi. Ya Allah Ya Rabb, ampuni diri yang seringkali melalaikan waktu sehat dan waktu luang. Menyeleksi cemilan, memilih makanan yang bergizi benar-benar punya efek jangka panjang untuk masa depan. 

Normalnya makan 1 porsi mie dicerna dalam waktu 4 hari karena sistem pencernaan dalam tubuh cukup bekerja keras mencerna dengan maksimal. Namun, ini dalam rentang waktu terdekat sudah 4 porsi dihabiskan. Terbayang sudah bagaimana kinerja lambung mencerna dengan berat. 

Sensasi kembung, mual, lalu memuntahkan semua isi perut begitu terbayang kemarin malam. Syafakallah, Ayah. Semoga momentum ini jadi pengingat kita setelah terjadi ketiga kalinya. Rasa nyeri ulu hati itu datang tak terduga tapi bisa dideteksi pemicunya. Ayo patuhi alarm bahaya terhadap kesehatan pribadi. Jangan mendzalimi diri sendiri demi mendapatkan enak di lidah tapi bahaya untuk perut. Mengontrol makanan yang masuk seperti mengendalikan hawa nafsu dalam diri. 

Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk yaitu perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”HR At-Tirmidzi (2380), Ibnu Majah 

#ODOPfor99days

Essai, Inspiring Report, Momentum, ODOPers, Ramadhan Inspiratif, Semesta

Kembali Menemui Pantai


Menemui pantai lewat jalur pegunungan itu rasanya nano-nano menggemaskan dan mengundang mual. Sepanjang perjalanan disuguhi hamparan kebun teh dari Rancabali, jalan berkelok-kelok, tikungan tiada henti di Balegede dan Naringgul, juga disambut view laut saat memasuki daerah Cidaun, Cianjur Selatan.

Hawa dingin saat berangkat menyelimuti. Gerimis turun cukup deras membasahi terpal mobil yang kami naiki. Ya, kami berdolak ria. Menaiki mobil buntung dan menggelar karpet di belakang. Tak lupa perbekalan lengkap dibawa, mulai dari nasi lauk-pauk, cemilan, sampai baju untuk menginap semalam.

Akhirnya kami tembus perbatasan Cianjur Selatan dan memasuki wilayah Garut. Suhu berubah begitu drastis. Dari dingin menggigil 15°C menjadi panas terik 28°C. Kami pun melewati beberapa pantai yang sudah disemuti pengunjung. Liburan hari kedua Lebaran cukup membuat semua orang melakukan tren yang sama. Memanfaatkan momen dengan jalan-jalan ke pantai berdolak ria, meski sebagian memakai mobil pribadi. Lebaran tahun ini jauh berbeda. Bukan saja menemui sanak keluarga, tapi juga menemui birunya laut dari titik pemberangkatan Ciwidey. Merasakan obrolan renyah sambil menyusuri perjalanan tentang nostalgia masa lalu tentang jalan yang dilalui.

Begitu sampai area pantai, hawa panas khas pantai mulai menyambut. Kami pun memilih penginapan di pesisir pantai Santolo Indah dengan tarif Rp 400.000 untuk 1 kamar per malam. Tarif cukup mahal mengingat masih dalam rangka Lebaran. Karena tarif sebelumnya Rp 250.000 pada hari-hari biasa. Kami pun memanfaatkan ruang yang ada dengan personil 5 orang dalam 1 kamar. Saya, suami, Khanza, dan Bapak Ibu mertua. Tarif snack ringan dan air minum pun melangit harga dobel. Kadang memberi harga seenaknya bak harga bandara/ rest area. 

Malam hari begitu gerah meski kipas angin sudah berputar di level paling besar. Suara deburan ombak menemani ruang dengar di malam hari saat terjaga.

Aktivitas orang-orang di pantai pun selalu serupa di setiap wajah pantai yang pernah saya temui. Bermain pasir, naik seluncuran di atas ombak, banana boat, dan sekadar melipir di warung pinggir pantai. Menantikan sunset pun tak terlihat karena cuaca mendung dan turun gerimis sore hari. Bedanya mungkin suara kembang api bersahut-sahutan sejak Maghrib menuju malam. Mengusik ketenangan di penginapan. Atau orang-orang yang insomnia memilih memandang deburan ombak di laut yang gelap.

Polisi perairan pun tak henti memperingatkan para wisatawan yang nekat ke tengah laut untuk berenang. Banyak kejadian yang terjadi hingga menjadi perbincangan polisi. Tentang seorang ibu yang asyik selfie di tengah, sedangkan anaknya ketakutan sendiri dikejar ombak. Terlalu beresiko melepas anak dari pengawasan. Peringatan penting tentang fokus pada keselamatan diri. Mementingkan view bagus untuk selfie tapi lupa pada spot yang aman. Karena kita tak pernah tahu kapan ombak besar tiba-tiba menggulung.

Menemui pantai berarti cobaan untuk tak terlalu euforia di atasnya. Istilah orang sunda mah jangan kamalinaan. Tetap menjaga kehormatan diri dimana pun kapan pun. Menjaga prinsip “ana muslimun qobla kullu syai’in”.
“Nanti bunda kalau nyebur dari banana boat, mau dipegang sama orang lain?” ujar suami. Reminder tentang pergaulan dengan non mahram di tempat umum. Iya ya cukup riskan juga kalau mengikuti keinginan sendiri tanpa dibentengi iman. 

Memandangi tepian laut membuat diri membayangkan banyak hal. Histori Nabi Musa tentang membelahnya lautan untuk jalan sekaligus menenggelamkan Fir’aun dan balatentaranya. Menemui pantai membuat saya rindu dan lagi-lagi disergap waspada. Maha Suci Allah yang menciptakan ombak bergulung-gulung. Menjadikan perahu berlayar dengan tenang di atasnya. 

*Menyusuri Santolo – Sayang Heulang, Garut Selatan, 27 Juni 2017

#RamadhanInspiratif #day30 #challenge #aksara #ODOPfor99days

Essai, Momentum, ODOPers, Ramadhan Inspiratif

Lebaran Lebur Liburan


Nuansa Lebaran sudah mulai terasa. Dari spanduk ucapan Selamat Idul Fitri, iklan TV yang berbau sirop, kukis, dan sendal baru, pesan maaf mengalir di grup Whatsapp, template foto profil berganti, serta status tentang “ngangetin opor”. Iklan sirop malah mengumumkan slogan Lebaran jauh-jauh hari sebelum Dewan Hisab dan Rukyat mengumumkan terlihatnya hilal. 

Lebaran melebur dalam liburan. Sebaliknya liburan lebur dalam nuansa lebaran. Liburan ini melenakan sebenarnya kalau tidak diplaning dengan matang. Hampir sebulan lamanya. Senin 17 Juli 2017 nanti baru masuk tahun ajaran baru. Kegiatan apa yang akan mengisi agenda liburan kita? 

  • Renang?
  • Jalan-jalan ke gunung, hiking?
  • Coret-coret media pembelajaran
  • Portofolio kegiatan anak selama liburan
  • Hunting foto dengan pesan tersirat
  • Membuat sesuatu?
  • Menyimak sesuatu dan mencatat
  • Desain sesuatu
  • Jahit baju
  • Buat desain agenda planner 
  • Review buku 

Ah itu terlintas begitu saja dalam benak. Mana yang lebih dulu dilakukan tergantung urgensi dan kebutuhan yang sesungguhnya. Bukan saja sekadar jeda untuk bersantai. Semoga liburan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Semangat memenangkan hati. Berkaca pada pengalaman sebelumnya. Kembali fitri dengan terus menempa diri. Ramadhan yang telah berlalu semoga spiritnya tetap terjaga dalam jiwa. 

#RamadhanInspiratif #day29 #challenge #aksara #ODOPfor99days

Essai, Lembaran Memori, Momentum, ODOPers, Pendidikan, Ramadhan Inspiratif, SMP Hikmah Teladan

Meretas Jalan Pecinta Al-Qur’an


Tahfizh Camp, sebuah momentum dalam mendekatkan diri dengan Al-Quran. Motivasi tentang metode HIKMAH yaitu meliputi H(Hati yang Ikhlas) – I(Iman yang Kuat) – K(Khusyu’ atau fokus) – M(Mengulang-ulang Hafalan) – A(Amalkan) – H(Hayati maknanya). Itulah metode menghafal Al-Qur’an yang disampaikan Ustadz Yopi Nurdiansyah, Lc pada talkshow motivasi pengantar Tahfizh Camp, Jumat (9/6). Kegiatan ini berlangsung selama 4 hari mulai dari Senin – Kamis, 12-15 Juni 2017 di SMP Hikmah Teladan Bandung.

Bagaimana usaha kita dalam mendekatkan diri meraih syurgaNya. Fokus pada Al-Quran. Kunci kecerdasan ada di sana. Mengasah kemampuan otak sesuai kehendak Allah. Curahkan energi dan biasakan dengan menghafal Al-Quran. Mulai dari juz 30. Tetapkan titik ideal paling tinggi.  Tidak menuntut rehat kalau belum maksimal ikhtiarnya. 

Menjadi mentor pada momentum ini membuat saya menyibak masa lalu pada spirit Sanlat masa kecil. Berlomba-lomba menghafal juz 30. Alhamdulillah saat itu saya bisa menyetor hafalan sampai surat An-Najm. Mencoba mereview hafalan terkini. Sesal begitu dalam ketika bertahun-tahun hafalan itu menguap begitu saja. Hanya bisa melafalkan dengan samar dan harus kembali membaca berulang kali. Ya Rabb… Ampuni kelalaian hamba saat berinteraksi dengan risalahMu. 

#RamadhanInspiratif #day15 #challenge #aksara #TahfizhCamp #ODOPfor99days