[[Karakter]]


Karakter adalah konsep diri yang paling dasar. Yang harus setiap orang lakukan adalah mengenali karakter dirinya terlebih dahulu. Seperti perkataan Ali bin Abi Thalib r.a., “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Rabb-nya.
Dulu, aku sering bertanya-tanya. Siapakah aku sebenarnya? Untuk apa aku ada di dunia ini? Aku tak pernah tahu jawabannya hingga aku sadar bahwa Allah yang telah menjadikan aku berada di sini. Aku di sini semata-mata untuk ibadah. Ya, itu yang Allah katakan dalam firmannya (QS. Adz-Dzariyat:56).  Namun, aku terkadang selalu bertanya-tanya dalam hati. Sudahkah seluruh hidupku bernilai ibadah… ataukah selama ini hanya dosa yang selalu aku perbuat. Wallahu’alam. Yang pasti, aku akan terus berbenah diri.
Jujur, aku punya karakter yang keras. Aku terbiasa dididik dengan tegas oleh ayahku. Kadang aku heran sendiri, sewaktu-waktu aku ini sangat egois dan keras kepala. Aku mirip dengan ayah yang sama-sama keras. Berbeda dengan ibu yang penuh kelembutan. Itulah yang menjadikan aku bercermin diri pada ibu yang selalu menjadi inspirasi dalam pengembangan karakterku.
Aku terbiasa dididik oleh ibu agar melakukan segala sesuatu dimulai dengan Bismillah agar dilakukan dengan ikhlas. Aku selalu ingat perkataannya bahwa pekerjaan sekecil apapun jika tidak ikhlas, tak akan bernilai apa-apa di sisi Allah. Aku sangat bersyukur punya ibu seperti beliau. Terkadang aku kesal pada nasihatnya dan rasa khawatirnya yang berlebihan. Hingga aku tahu yang sebenarnya adalah ibuku sangat mencintaiku, aku menyesal selalu mengabaikan ucapannya dan tak peduli akan kekhawatirannya jika aku belum pulang tanpa kabar. Maafkan… aku, Bu! Yang selalu membuatmu sedih dan gelisah akan kelakuanku.
Dulu, aku punya karakter pemalu dan minder. Di rumah aku egois. Namun, ketika berhadapan dengan dunia luar, aku sangat pemalu dan punya rasa minder yang cukup tinggi. Entah kenapa, pada saat itu, untuk menanyakan alamat pada orang saja, aku tak berani. Kalau mengingat masa-masa aku dulu, aku selalu tersenyum sendiri. Duh, bodoh sekali. Tapi, dari itu semua aku bisa mengambil hikmah dan mengambil kesimpulan bahwa sekarang aku telah berubah, bukan aku yang minder lagi!
Ada sesuatu yang mengubah karakterku yang minder menjadi percaya diri. Yaitu organisasi. Ketika duduk di bangku Mu’allimin (setingkat SMA), aku aktif di organisasi sebagai SDMO. Awalnya aku ragu, apakah aku bisa atau tidak. Pada awalnya memang aku masih merasa asing dalam organisasi. Namun, pada langkah selanjutnya aku sudah mulai terbiasa walaupun banyak masalah yang terus bermunculan dalam organisasi. Inilah yang membuat aku berpikir lebih dewasa dan percaya diri, dan aku bertekad, bahwa aku BISA karena BIASA. Aku akan meraih cita dengan segenap kemampuanku.
Setiap manusia punya rasa kuriositas (rasa ingin tahu). Semua penemuan dan inovasi yang dilakukan berawal dari rasa ini. Tentunya setiap jurnalis harus punya rasa yang satu ini. kalau tidak, bagaimana mungkin bisa membuat berita. O, iya, aku pernah bertanya-tanya pada diri sendiri saking ingin tahunya aku tentang ujung jalan Soekarno-Hatta dan ujung jalan Ahmad Yani. Konyol juga ya, setiap aku memandang sebuah jalan yang sangat panjang, aku selalu berpikir, dimana ya ujungnya? Atau sampai daerah mana jalan tersebut terhenti. Dan akhirnya, kini rasa ingin tahuku yang muncul sejak SD itu terjawab sudah setelah aku duduk di bangku kuliah. Ujung jalan Ahmad Yani dan Soekarno-Hatta sama-sama daerah Cibiru, tempat aku kuliah sekarang. O, jadi ini! itulah efek dari rasa ingin tahun Wilda kecil. Sekarang, masih banyak hal-hal yang belum aku ketahui, dan aku berusaha untuk mencari jawabannya, yaitu dengan belajar dan berpikir.
Aku adalah tipe orang yang sering mengerjakan sesuatu dengan cara sendiri. Dari dulu, aku terbiasa melakukan hal yang sekiranya bisa aku lakukan sendiri, maka aku langsung kerjakan. Seorang teman pernah berkata padaku bahwa aku orang yang independen, aku baru meminta bantuan orang lain jika aku benar-benar membutuhkannya. Kata dia, aku orangnya sulit untuk bekerja sama karena terbiasa bekerja sendiri. Misalnya saja dalam belajar, aku lebih nyaman belajar sendiri daripada belajar kelompok yang justru malah membuatku tak bisa menangkap pelajaran dengan konsentrasi. Sebenarnya tak baik juga sih, karena hal ini menghambatku bila bekerja dalam tim. Kebiasaan ini sulit aku hilangkan. Hingga saat ini kalau ada tugas kelompok, kadang aku mengerjakannya sendiri, karena justru ketika aku bersemangat mengerjakan tugas bersama-sama (karena ingin merubah kebiasaan yang individual), malah orang lain yang sulit diajak bekerja sama. Ya sudah, daripada menunggu orang lain yang tidak mau berusaha mengerjakan tugas, lebih baik aku kerjakan sendiri. Akhirnya, aku sering sakit hati juga. Yang kerja cuma aku, sedangkan orang lain yang tidak kerja, enak-enak mendapat nilai. Ya, ini konsekuensi yang harus kuterima jika aku tak bisa tegas dan belum merubah kebiasaan burukku. Aku mesti belajar dari kesalahan.

Ups, bicara profil lumayan bercerita panjang lebar. Yups, inilah aku… This is My Profile. Self  Character! ^_^

6 thoughts on “[[Karakter]]”

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s