I Love Math #3 : Perbandingan


Hari ini Khanza belajar membandingkan objek yang digunakan juga lewat bentuk yang dibuatnya. Oiya, salah satu hal yang paling berkesan hari ini adalah saat Khanza mengingatkan kalau helm saya ketinggalan di toko kue pinggir jalan.

“Ayah pake helm. Yang bunda mana?”, ujarnya begitu motor telah melaju beberapa ratus meter dari tempat awal kami membeli camilan. Saya pun refleks meminta suami memutar arah untuk membawa helm yang tertinggal di atas etalase toko. Antara kagum dan merasa lucu. πŸ˜€ Bisa-bisanya nih bunda yang lupa sendiri dan malah diingatkan sama si kecil.

Kemudian Khanza bisa membandingkan alat yang dipakainya hari ini. “Yang bunda satu, kalau yang Khanza dua,” ujar Khanza saat kami duduk bersama untuk menyeruput susu coklat siang tadi. Yang Khanza maksud adalah jumlah daun cangkir atau pegangannya.

Math Hari ke 3

Aktivitas berlanjut saat Khanza request anyang-anyangan alias alat masak miliknya. Bundanya masak di dapur, sedangkan ia juga menghidangkan.. Khanza belajar membentuk playdough yang mirip dengan wortel dan cabe. Bunda pun membantu mencetak ayam goreng dan meletakkan di wajan mainan miliknya. Khanza begitu semangat begitu bermain dengan objek yang berwarna-warni.

Math1 Hari ke 3

#Tantangan10Hari #Level6 #KuliahBunsayIIP #ILoveMath #MathAroundUs

Iklan

I Love Math #2 : Mengenal Bangun Datar


Hari ini Khanza girang sekali saat membongkar tas bundanya. Begitu ia dapatkan sesuatu yang menarik ia langsung menghampiri sambil bilang, “Bunda, ini buat ukur-ukur panjang ya”, ujarnya sambil menempelkan penggaris besi di dinding. πŸ˜…πŸ˜Š Ternyata Khanza ingat kalau pulang saya mengajar kami sama-sama berkegiatan menerapkan matematika sederhana. 

Saya mengganti penggaris besi yang Khanza ambil dengan mengalihkannya pada kegiatan lain. 
“Kita bikin bangun datar yuk.” Ia langsung antusias begitu bundanya buka laptop dan langsung print beberapa bangun datar dengan warna pilihannya sendiri. Sebelumnya Khanza juga sempat membereskan sedotan yang berserakan sebagai bahan belajar matematika. Khanza juga ikut membantu sedikit-sedikit dengan memberi lem di atas kertas.

Alhamdulillah Khanza bisa menyebutkan bamgun datar satu persatu yang ia tahu. Yang paling tertanam di kepala itu bentuk bintang. Sampai-sampai ia semangat naik meja sambil bernyanyi lagu bintang kecil. Pas bagian lirik 🎢jauh tinggiii…. Ia spontan mengangkat mainan barunya tinggi-tinggi. 

Meskipun bangun datar yang dikenalkan hari ini baru 5 bentuk meliputi lingkaran, persegi, bentuk hati, bintang, dan segitiga, Khanza bisa mengikuti dengan semangat. Tipikalnya yang mudah bosan memberikan tantangan buat bundanya agar tak henti memberikan stimulasi yang sesuai dengan tingkat perkembangannya. 

#Tantangan10Hari #Level6 #KuliahBunsayIIP #ILoveMath #MathAroundUs

I Love Math #1 : Mengenal UkuranΒ 


Tantangan di hari pertama ini cukup mendebarkan. Media belajar matematika sederhana belum dibuat jadi masih mengandalkan benda yang ada. Alhamdulillah posisi di rumah sudah lebih layak setelah pekan lalu berproses pindahan. Jadinya posisi Khanza berkegiatan lebih leluasa di ruang depan. Meski pada akhirnya Khanza meminta pindah ke kamar.

Pertama, Khanza mulai sibuk menyusun buku-buku Little Abid yang dipindahkan dari box container ke meja belajar. Satu per satu dilihatnya sekilas dan disusun bertumpuk menempel ke tembok. Saya hanya mengamati dan tetiba takjub sendiri begitu Khanza bilang, “Bundaa, bukunya jadi tinggi.” πŸ˜ŠπŸ˜…πŸ˜ƒ Wah, Khanza sudah mengenal ukuran tinggi lewat menyimpulkan apa yang dilakukannya.

Kemudian ia beralih menonton video Little Baby Bum yang menayangkan angka-angka dalam Bahasa Inggris. Sesekali ia tertawa melihat tingkah hewan yang lucu. Setelah menonton video karena bosan, Khanza pun mengoprek pembatas buku dari besi yang cukup berat untuk dibawa. Namun, ia tetap memaksa memisahkannya satu per satu. Khanza bisa menyebutkan mana pembatas yang besar, mana pembatas yang kecil. Horeee! πŸ˜ƒπŸ™†πŸ‘©

Nah, aktivitas​ terakhir Khanza mulai request main dengan bonekanya. Diraihnya dua boneka beruang sambil mengajaknya berbincang. Pelan-pelan ia mengambil selimut sendiri dari lemari lalu menyelimuti bonekanya. “Bunda ini Tedy boneka kecil. Kalau Beno boneka yang besar.” begitu Khanza bilang saat saya bertanya perbedaan ukurannya.

Hari ini ditutup dengan kebersyukuran mengawali tantangan di area yang baru. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan bagi kami sekeluarga pindah rumah ke tempat yang insyaallah lebih berkah. Jadi semangat ya Bundaa. Jangan galau lagi kalau Khanza masih adaptasi dan sesekali merengek tak jelas. Selalu ada jalan dalam setiap celah kesabaran.

#Tantangan10Hari #Level6 #KuliahBunsayIIP #ILoveMath #MathAroundUs

Dengan Matematika, Aku Belajar Logis


Bismillah. Begitu menyerap materi Bunda Sayang level 6 hari ini. Rasanya berdebar lagi. Seperti bertemu sesuatu yang sudah lama tak berjumpa. Teringat terakhir kalinya belajar hitungan lewat statistika sosial 6 tahun yang lalu saat kuliah. πŸ˜… Matematika, begitu dengar kata ini, jadinya super panik karena udah tersugesti duluan. Takut nggak bisa mengerjakan soal dengan berbagai rumus yang cukup rumit. Ternyata, mindsetnya dulu yang harus diubah. Ayo Bunda kembali raih kepercayaan diri belajar matematika. 😊

Sesi baru ini bernama “Menstimulasi Matematika Logis pada Anak”. Ternyata jadinya salah kaprah kalau kita ujug-ujug mengajarkan anak berhitung sejak dini. Misal usia TK langsung dipaksakan harus bisa berhitung dengan lancar. Hitung-berhitung menjadi bagian kecil dari matematika logis. Karena pada dasarnya disini kita menanamkan konsep matematika sederhana sesuai keseharian. 

Bunda panik karena anak begitu lincah menjelajahi setiap sudut? Wah, justru ini harus diapresiasi. Tandanya si kecil punya ciri-ciri kecerdasan matematika logis. Khanza sendiri kadang punya kecenderungan demikian. Ketika masuk rumah, ia bisa mengitari setiap sudut sambil menyentuh setiap benda yang menurutnya menarik. Khanza juga mulai bisa mengklasifikasi benda sesuai warna dan ukuran dengan sederhana. Misal saat berangkat pagi, Khanza bilang, “Asik jaketnya sama kaya punya Ayah. Warna biru. Tapi yang Khanza mah kecil jaketnya.” 

Semua area bisa menjadi stimulasi anak belajar matematika logis. Aktivitas sehari-hari yang relevan jadi tidak terpaku harus dengan buku, alat tulis, bahkan kalkulator. πŸ˜… Iyah, ngapain atuh Bun ngajarin anak 2,5 tahun ujug-ujug bikin rumus perkalian. πŸ˜‚ 

Anak-anak jaman now seringkali menghindari “ngotret” proses matematika karena terbiasa menggenggam ponsel yang punya fitur kalkulator. Mungkin ini jugalah yang bikin otak semakin tumpul. Saya akui, kadang sudah sebesar ini. Malas banget buat bikin kotretan untuk menjumlahkan sesuatu. Semuanya rasanya tergantung pada rumus digital. Terlebih kalau bersinggungan dengan olah data Excel. 

Sudah saatnya mengubah mindset matematika sulit dengan cara menyesuaikan stimulasi yang tepat untuk Khanza. Dan mulai berdoodling ria agar rumus-rumus matematika bisa dipahami. Ini PR besar sih kedepannya. Suami yang mengajar matematika juga bisa jadi partner asyik kalau komunikasi antara kami berlangsung produktif. Terbayangnya sih, bagaimana bisa:

  • Membuat media sederhana yang berkaitan matematika logis
  • Mewawancarai rekan guru yang mengajar matematika untuk berbagi tips dan trik belajar asyik matematika
  • Mewawancarai anak-anak yang suka dengan matematika (alasan suka dan gaya belajar)
  • Membuat coretan bermakna setelah belajar konsep dari matematika
  • Mengadakan kegiatan di luar rumah yang mendukung stimulasi matematika logis, misal ajak Khanza belanja

Tantangan terbesarnya adalah membuat Khanza bukan sekadar bisa namun suka dengan matematika. Bismillah semangaaat.  πŸ˜πŸ˜Š

Aliran Rasa dari Sebuah Sudut LiterasiΒ 


Namanya sudut literasi. Sesuai namanya, sudut literasi ini memang diposisikan menyerupai sudut siku-siku yang dikondisikan untuk baca santai keluarga. Dengan banner bekas yang terpajang di dinding untuk ditempelkan judul-judul buku yang sudah kami baca. Namun sayangnya di tantangan Bunsay level 5 ini, belum optimal memanfaatkan sudut yang disiapkan di awal tantangan. 

Sempat merapel pada hari ke 8 hingga 10. Kondisi Khanza yang sempat diare dan rumah yang cukup luluh lantak bak kapal pecah dengan ‘bongkahan’ kardus sana sini. Posisi kami memang sedang prepare untuk pindah rumah. Jadilah sudut literasi dengan banner yang berakhir dilipat masuk kardus dan belum sempat menempelkan judul buku yang harusnya memenuhi dinding literasi. 

Harapannya kedepan, sudut literasi ini bisa kami rancang lagi di rumah baru dengan semangat yang lebih berkobar. Literasi memang bukan saja menata deretan buku-buku atau bahkan sekadar baca sambil lalu. Literasi berarti bisa menyelaraskan pemahaman dari bacaan menjadi aksi. Untuk membuat sebuah perubahan, kita tergerak dari kalimat yang mana. Atau begini, sudahkah buku-buku yang kita baca menjadi landasan kuat dalam pemikiran dan langkah keseharian. Atau bacaan sekadar koleksi. *Instrospeksi diri

Alhamdulillah Khanza sendiri begitu antusias saat membaca dan memilih buku yang ia sukai dari serial Little Abid. Ia bahkan hafal judul karena ingat pada gambar setiap buku yang sudah dibaca. Tantangan terbesar adalah membuat suami suka baca. Ini masih PR besar. Suami tipikal orang yang lebih suka mendengarkan apa yang saya baca dan kami bisa diskusi sedikit-sedikit. 

Literasi keluarga menuju keluarga literasi. Sebuah perjuangan tanpa henti yang tak cukup selesai seiring selesainya tantangan ini. Karena titah Iqra dalam Al-Qur’an adalah amanah sepanjang hayat. Membaca buku juga kehidupan. 

#GameLevel5 #AliranRasaBunsay #ForThingstoChangeIMustChangeFirst #ODOPfor99days 

Outbound HT : Sang Pemimpin Penjelajah Semesta


🎡 Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya, hakikat manusia…🎡

-Ost Soe Hok Gie

Penggalan lirik di atas rasanya mewakili suasana ketika Outbound di Gunung Puntang tepat satu pekan yang lalu. Saya berperan sebagai panitia acara. Namun secara teknis anak-anak yang melaksanakan teknis kegiatan di lapangan. Mereka yang kelas 8 diberi kesempatan menjadi seorang pemimpin bagi adik kelas mereka yang kelas 7. Juga adanya tim 6 yang berperan mengatur jalannya acara sesuai kondisi yang memungkinkan. Ada beberapa agenda yang miss dari rencana karena hujan yang terus mengguyur kawasan perkemahan. Tapi secara keseluruhan, anak-anak bisa diandalkan dalam momen perdana mereka sebagai panitia.

Acara inti di sana berlangsung pada hari kedua dengan agenda Pos to Pos. Mereka harus mengumpulkan stiker puzzle dengan menyelesaikan tantangan dari enam pos yang dilalui. Dari sekian pos yang tersebar di area hutan, justru pos pertama yang dianggap sulit. Ada 8 kelompok yang gagal di pos tebak lagu. Jadi ceritanya anak-anak diminta menebak lagu yang nadanya digumamkan oleh ketua kelompoknya.

Nah, rata-rata mereka gagal di bagian tebak lagu nasional. Kalau ngga hapal judulnya, mereka juga salah menebak. Halo-halo Bandung disebut Bandung Lautan Api. πŸ˜…πŸ˜† Pokoknya kesimpulan akhir menyatakan anak-anak memang lebih peka lagu pop Indonesia dibanding lagu nasional. Hufh miris. Tapi memang jadi bahan evaluasi juga. Betapa rasa nasionalisme perlu ditingkatkan dari tahu dan bisa melafalkan lagu kebangsaan.

Pos to Pos lainnya bermuatan tantangan fisik, strategi, dan keberanian. Anak-anak bisa enjoy melaluinya meski cuaca mendung dan sesekali kabut turun menyelimuti. Semua pos berujung di sungai Gunung Puntang yang begitu jernih.

Outbound kali ini memang lekat dengan cuaca yang cukup menantang. Hujan yang terus mengguyur malah membuat beberapa tenda anak kebasahan karena rembesan air hujan dan letak tenda yang paritnya tidak pas mengalirkan air. Beberapa kelompok terlihat berjuang menggali parit memakai sekop. Sementara yang lain ada juga yang hanya menonton di dalam tenda atau sekadar ikut hujan-hujanan tanpa membantu. Semuanya memang kembali ke karakter asli saat berinteraksi dengan alam. Ada yang sehari-hari di sekolah selalu bikin kesal, tiba-tiba di sana ia bisa bertindak bijak dan care pada yang lain.

Selama tiga tahun mengajar, baru kali ini saya mengikuti outbound (tahun-tahun sebelumnya bertepatan cuti melahirkan dan pegang kelas 9 untuk Live In). Ikut momen seperti ini membuat daya jelajah saya kembali bangkit sekaligus mengenang masa dulu ketika sekolah. Pernah merasa jarambahπŸ˜… alias nekat menjelajah beberapa trek alam meski masih sekitaran Jawa Barat. Mulai dari kemping di Jayagiri, hiking ke Curug Payung Burangrang, CIC, Curug Cimahi, Karaha Tasik, Tangkuban Parahu, Kapolaga Subang, Perkebunan Teh Malabar, dan lain-lainnya. Setelah menapaki jejak di hijaunya alam, serasa mendapat energi baru di antara suara tonggeret khas nuansa hutan. Desiran air sungai menambah merdunya suasana. Maha Suci Allah yang menciptakan segalanya begitu indah dipandang mata dan simfoni yang merdu di ruang dengar.

#ODOPfor99days

Makro : Lanskap Detil yang Begitu Dekat


Ketika saya kenal logo makro berbentuk bunga pada kamera, saat itulah saya jatuh cinta. Ya, lebih suka membingkai setiap bentuk detil dari setiap objek, terutama tumbuhan dan binatang. Binatang disini pastilah yang aman untuk didekati. Sebut saja serangga, kumbang, semut, dan kawan-kawannya. πŸ˜…

Memotret gaya makro membuat saya menghela nafas sejenak dan kekaguman pada ciptaanNya semakin memancar. Benarlah Allah berfirman dalam surat cintaNya: Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS. Al-Mulk:3) 

Tak perlu jauh-jauh, pemandangan seperti ini Alhamdulillah masih bisa saya temukan di dekat sekolah tempat saya mengajar. Ya, masih ada petakan sawah yang masih dipertahankan pemiliknya di tengah kota Bandung yang semakin padat dengan polusi. Masih bisa saya temukan sesekali kerbau membajak sawah dan menjadi pusat perhatian orangtua siswa yang mengantar hingga area parkir. 

Menumbuhkan kebersyukuran lewat panca indera yang Allah anugerahkan untuk selalu menekuri ciptaanNya.