Aliran Rasa dari Sebuah Sudut Literasi 


Namanya sudut literasi. Sesuai namanya, sudut literasi ini memang diposisikan menyerupai sudut siku-siku yang dikondisikan untuk baca santai keluarga. Dengan banner bekas yang terpajang di dinding untuk ditempelkan judul-judul buku yang sudah kami baca. Namun sayangnya di tantangan Bunsay level 5 ini, belum optimal memanfaatkan sudut yang disiapkan di awal tantangan. 

Sempat merapel pada hari ke 8 hingga 10. Kondisi Khanza yang sempat diare dan rumah yang cukup luluh lantak bak kapal pecah dengan ‘bongkahan’ kardus sana sini. Posisi kami memang sedang prepare untuk pindah rumah. Jadilah sudut literasi dengan banner yang berakhir dilipat masuk kardus dan belum sempat menempelkan judul buku yang harusnya memenuhi dinding literasi. 

Harapannya kedepan, sudut literasi ini bisa kami rancang lagi di rumah baru dengan semangat yang lebih berkobar. Literasi memang bukan saja menata deretan buku-buku atau bahkan sekadar baca sambil lalu. Literasi berarti bisa menyelaraskan pemahaman dari bacaan menjadi aksi. Untuk membuat sebuah perubahan, kita tergerak dari kalimat yang mana. Atau begini, sudahkah buku-buku yang kita baca menjadi landasan kuat dalam pemikiran dan langkah keseharian. Atau bacaan sekadar koleksi. *Instrospeksi diri

Alhamdulillah Khanza sendiri begitu antusias saat membaca dan memilih buku yang ia sukai dari serial Little Abid. Ia bahkan hafal judul karena ingat pada gambar setiap buku yang sudah dibaca. Tantangan terbesar adalah membuat suami suka baca. Ini masih PR besar. Suami tipikal orang yang lebih suka mendengarkan apa yang saya baca dan kami bisa diskusi sedikit-sedikit. 

Literasi keluarga menuju keluarga literasi. Sebuah perjuangan tanpa henti yang tak cukup selesai seiring selesainya tantangan ini. Karena titah Iqra dalam Al-Qur’an adalah amanah sepanjang hayat. Membaca buku juga kehidupan. 

#GameLevel5 #AliranRasaBunsay #ForThingstoChangeIMustChangeFirst #ODOPfor99days 

Iklan

Aliran Rasa Family Project 


Alhamdulillah wa syukurillah, rasa yang mengalir bersemi dari kebersyukuran atas keberadaan Khanza dan ayah yang menemani hari-hari. 

Tak selamanya kami larut dalam keberlimpahan. Tak selamanya kami duduk bertiga bersama karena selalu ada jarak keseharian bernama rutinitas mengajar. Memanfaatkan waktu yang ada dengan kualitas ikhtiar. Berjuang merancang proyek sederhana yang bisa mengasah rasa sayang makin erat. Semakin mencintai kalian karena Allah. 😘😍

#KuliauBunsayIIP #MyFamilyMyTeam #BundaSayang

Aliran Rasa Melatih Kemandirian Anak 


Alhamdulillah setelah melalui tantangan melatih kemandirian hari ke hari, semakin yakin dengan proses yang tak ada habisnya. Terkadang harus menghadapi anak yang semakin kuat dalam setiap keinginan. Semoga semakin dikuatkan dalam mendampingi tanpa intervensi yang merusak.

Badge yang tersemat hanyalah setitik motivasi untuk terus menaklukkan tantangan hari demi hari. Masih banyak hal yang harus dijalani. Berteman dengan semua suasana tak terduga.

#MelatihKemandirian #tantangan10hari #aliranrasa #BunsayIIP

Aliran Rasa Menjadi Ibu Profesional


Ada rasa minder begitu besar ketika menyerap berbagai pencerahan di komunitas belajar Matrikulasi Ibu Profesional. Minder ketika kenyataannya saya masih harus meninggalkan keluarga hampir 10 jam per hari dari Senin sampai Jumat. Lalu bisakah saya menjadi ibu profesional dalam kondisi seperti ini? Seharusnya saya YAKIN dan BISA. Mengutip pernyataan Teh Ismi selaku fasilitator kelas kalau “Ibu profesional itu bukan ibu rumah tangga atau ibu bekerja, tapi ibu yang menjadi kebanggaan keluarga ☺”.

Sungguh saya mesti terus menggali pemahaman baru, meninggalkan sikap rendah diri, dan berikhtiar memposisikan diri dengan tepat.

Menajamkan jawaban bagaimana caranya bukan terus mempertanyakan mengapa harus begini. Khanza dan suami menjadi alasan penyemangat saya untuk tetap mencari celah bertahan sambil mempersiapkan diri planing dan strategi apa nantinya jika saya memutuskan berhenti bekerja.

Maka menyimak satu per satu materi demi materi matrikulasi ini, begitu memperluas jangkauan kesadaran internal saya sebagai seorang ibu yang (harus bisa) bermetamorfosa sebagai kebanggaan keluarga.

Lagi-lagi diingatkan untuk terus meningkatkan kualitas diri dalam 4 tahapan yang harus dilalui selama kurun waktu 4 tahun. Tahap utama dan pertama yaitu mendidik anak lewat tahapan Bunda Sayang. Kemudian Bunda Cekatan mendorong diri meningkatkan kualitas dalam mengelola rumah tangga dan keluarga menjadi keluarga yang unggul. Bunda Produktif, meningkatkan rasa percaya diri dengan senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidup di muka bumi. Selanjutnya tahap terakhir adalah Bunda Shaleha, bagaimana meningkatkan peran diri sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaan kita bermanfaat bagi banyak orang.

Masya Allah… Membayangkannya saja begitu terpacu dan excited. Menjadi seorang ibu bukanlah masalah berganti status dari lajang menjadi menikah dan punya anak lalu disebut sebagai ibu. Apalagi menjadi frase utuh Ibu Profesional. Ada perjalanan panjang yang harus diselami, ada gelegak rasa dan emosi saat kesadaran tersentuh hingga sanubari. Kuatkan semangat belajar ini Ya Rabbi…

Bersyukur dengan adanya komunitas Ibu Profesional ini menjadi titik awal penggerak utama untuk ibu berperan seutuhnya. Semoga Allah semakin mudahkan Ibu Septi Peni Wulandani selaku founder Institut Ibu Profesional dan semakin banyak ibu yang mau belajar menjadi kebanggaan keluarga.