Flashfiction #2 : Potret Buram


Sepasang insan saling berdampingan, menatap kamera dengan berbagai ekspresi dalam sebuah kolase. Kompak. Likers pada foto yang diunggah saat itu membuat mata berbinar. Ratusan orang menyukai. Belasan mengomentari. Langgeng, katanya.  Lama-lama isyarat dalam potret makin dekat, pegangan makin erat, dan tepuk tangan orang yang melihat makin dianggap hebat. Bangga, rasanya.  Betapa dekat dalam layar. Di … Lanjutkan membaca Flashfiction #2 : Potret Buram

Iklan

Flash Fiction Perdana


Ada peluh yang menetes di kening. Satu per satu jatuh tanpa sempat kuseka. Jantung berdegup cepat. Jari-jari mendingin berembun keringat. . Ah, kata-kata dalam benak seolah terus memaksaku bersuara. Dua sisi dalam diri menarikku dalam pusaran ragu. Bicara.. tidak.. bicara.. tidak. . Dengar mereka lihai  merangkai kata  bertenaga buat nyaliku makin ciut. Diam saja, kamu … Lanjutkan membaca Flash Fiction Perdana