Merdeka dan Rasa Malu


PhotoGrid_1502168459898

Kata “Merdeka” kembali digaungkan dan menjadi hashtag populer di jagat maya ketika memasuki bulan Agustus. Merdeka dikaitkan dengan pernak-pernik yang identik dengan HUT RI. Semua orang memasang atribut serba merah putih di setiap penjuru negeri. Para pemuda karang taruna yang biasanya vakum kembali ke jalan menampakkan diri. Ya, menampakkan diri dengan membagikan air mineral atau sekadar menyodorkan kardus-kardus sambil berkostum nyentrik. Sebagian bermake up horror, dandan ala waria, dan mengecat seluruh tubuh. Tujuannya satu, menyambut kemerdekaan dengan meminta sumbangan.

Maka ketika kata merdeka kembali kita tekuri lebih jauh. Sesungguhnya telah lama nilai-nilai kemerdekaan tercerabut dari bangsa ini. Merdeka secara fisik telah kita jalani 72 tahun silam, namun secara mental dan moral, kemerdekaan itu sendiri memudar seiring hilangnya rasa malu yang begitu berharga. Malu yang menjadi cabang dari keimanan, perlahan berganti dengan serba heboh dan cari sensasi. Demi menjadi viral, apapun dilakukan. Mengemis perhatian manusia dengan bertingkah tanpa rasa malu. Tak ada lagi kesadaran akan batas aurat dan menjaga kehormatan diri. Hal remeh-temeh menjadi topik utama. Berputar pada tren yang meletup-letup sesaat dan memudarkan esensi.

Muncullah berbagai hashtag yang sempat menggegerkan jejaring sosial, dari #omteloletom, #etaterangkanlah, dan tren lainnya. Semua orang yang memiliki akses internet dalam arti netizen, larut dalam euforia kehebohan dan keseruan  bertingkah konyol yang mengundang ribuan like dan komen. Asal viral, semua dilakukan. Bebas tanpa batas. Apa yang menyebabkan semua tingkah cari sensasi semakin menjadi contoh serupa hari ke hari? Baca lebih lanjut

Iklan

Filosofi Merdeka itu…



Bulan Agustus, identik dengan pernak-pernik agustusan. Tahun-tahun lalu, aku masih bisa melihat hiasan bendera kecil merah-putih menghiasi jalanan gang. Lengkap dengan aksesoris merah putih yang terpajang di setiap rumah. Kini, hanya bendera merah putih yang berkibar seadanya. Tanpa hiasan bendera kecil dan aksesoris agustusan. Mungkin karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, hawa agustusan tidak terlalu terasa, tersilap dengan suasana Ramadhan. Dan memang seharusnya demikian… Ya, keterlaluan dong, jika sampai masih ada yang nekad mengadakan perlombaan makan kerupuk atau balap-balapan khas agustusan di siang bolong. Batal dong puasanya… Heu,,,

By the way, mengenang pada masa kemerdekaan 17 Agustus 1945, bukankah pada waktu itu juga bertepatan dengan bulan suci Ramadhan… Masa-masa perjuangan begitu kental terasa. Para pejuang kemerdekaan Indonesia dulu sadar betul bahwa kemerdekaan yang sedang mereka usahakan hanya akan tiba dengan rahmat Allah swt. Akan tetapi ironisnya, generasi sekarang tidak sadar bahwa semaunya itu berkat pertolongan dan rahmat Allah. Buktinya, mereka malah menyambutnya dengan pesta dan hura-hura. Terlebih pada bulan Ramadhan ini, sudah seharusnya kita mensyukuri kemerdekaan yang telah Allah anugerahkan pada bangsa ini 65 tahun yang silam. Yaitu dengan meningkatkan kualitas diri sebagai hambaNya melalui ibadah individual dan sosial. Sholehkan diri lalu menebar manfaat pada yang lain.

Hmm… kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya kemerdekaan itu belum maksimal diraih. Mengapa? Indonesia memang telah merdeka 17 Agustus 1945, merdeka dari penjajahan kolonialisme dengan peringatan proklamasi oleh presiden Soekarno dan pengibaran sang saka merah putih. Namun, disadari atau tidak, sebenarnya penjajahan itu masih berlangsung sampai saat ini. Tepatnya penjajahan imperialisme. Bangsa ini sedikit demi sedikit kehilangan identitas sebagai bangsa yang luhur budi pekertinya. Generasi muda belum merdeka dari jajahan produk budaya asing. Rakyat kecil belum merdeka, masih dijerat harga-harga kebutuhan yang melambung tinggi, dan yang lebih ironis, diakui atau tidak, kita belum merdeka dari mempertuhankan hawa nafsu dan ego masing-masing. Jadi, sebenarnya kemerdekaan sejati itu seperti apa…?

Seiring waktu yang bergerak melesat cepat, Indonesia terus diramaikan oleh berita media yang silih berganti membentuk opini publik. Tempo lalu, media dihangatkan dengan kabar video porno Ariel-Luna-Cut Tari, dan berita itu seketika tersilap dengan isu terorisme dengan ditangkapnya Abu Bakar Ba’asyir seiring waktu memasuki bulan suci Ramadhan. Dan sebenarnya di luar berita tersebut, masih banyak berita lain yang beraneka ragam. Setiap harinya peristiwa yang layak menjadi berita sudah terlalu banyak, hingga tak semua disiarkan oleh media, dan yang semakin membuat miris, meskipun bulan suci Ramadan, berita kriminal terus terjadi. Masih ingatkah kita saat peristiwa pembunuhan mutilasi seorang istri yang diduga dilakukan suaminya? Berita kriminal di dunia ini seolah tak pernah habis diungkapkan.

Jadi, apakah benar Indonesia ini sudah merdeka? Tampaknya belum… Ah, sebaiknya kita memerdekakan diri saja terlebih dahulu dari cengkeraman ego dan hawa nafsu… Saatnya tunjukkan sikap sebagai bangsa yang luhur budi pekerti dan yang lebih utam, mari tunjukkan sikap kita yang sesungguhnya sebagai muslim sejati. Fastabiqul Khairat!!!