Diposkan pada Flashfiction, Selaksa Rasa, Sosial Media

Flashfiction #2 : Potret Buram


Sepasang insan saling berdampingan, menatap kamera dengan berbagai ekspresi dalam sebuah kolase. Kompak. Likers pada foto yang diunggah saat itu membuat mata berbinar. Ratusan orang menyukai. Belasan mengomentari. Langgeng, katanya. 

Lama-lama isyarat dalam potret makin dekat, pegangan makin erat, dan tepuk tangan orang yang melihat makin dianggap hebat. Bangga, rasanya. 

Betapa dekat dalam layar. Di balik semua itu tak terbayang sedekat apa lagi hubungan kedua insan muda yang masih putih biru.

Hingga tiba-tiba datang sebuah masa dimana postingan foto tak lagi berguna. Satu kalimat pahit membuyarkan semua kata langgeng dan bangga. 

“Sayang, kamu tahu kan sebentar lagi aku harus UN. Gugurkan saja.” 

Kalimat dalam WhatsApp itu tinggal kalimat tak berharga. Penerima pesan telah menorehkan guratan mendalam di urat nadi dan perutnya. 

Seorang pelajar SMP aborsi dan bunuh diri. 

Iklan
Diposkan pada Kesehatan, Refleksi, Work by Work

Potret Buram Kehidupan Modern


Sejak bangun hingga tidur kembali, orang modern disibukkan oleh dunia eksternalnya. Mencari kesuksesan duniawi, popularitas, menumpuk harta atau mengajar karier kadang mengabaikan tuntutan kebutuhan-kebutuhan diri sendiri.

Pola kehidupan yang artifisial, terpisah dan berselingkuh terhadap kodrat natural, larut dalam kesenangan adiktif potensial mengundang penyakit-penyakitkan menakutkan di usia senja. Warna kehidupan di kota-kota besar yang kompetitif dalam dunia kerja, sibuk dikejar-kejar deadline, waktu luang menjadi barang langka, dan ketika tersedia waktu yang dilakukan oleh banyak rumah tangga modern adalah menghabiskan kesempatan tersebut di depan televisi; menonton film petualangan tak berujung atau melihat tayangan-tayangan kekerasan, kriminalitas, huru-hara politik dan kisah-kisah tragis kemanusiaan serta berita-berita mengkhawatirkan tentang hari esok.

*menyimak buku “Rasululllah Saw. tidak pernah sakit” oleh dr. Ade Hashman (penerbit Hikmah, 2008)

Gaya hidup modern…

Frase ini mencengangkan sekaligus menjadi hal yang biasa karena orang-orang bergerak dalam pusaran yang sama. Modern identik dengan serba instan. Saya mau tak mau harus mengakui bahwa saya adalah bagian dari orang bergaya hidup modern yang tak lepas dari gadget, Wi-Fi, motor, televisi, kamera, dan seperangkat kecanggihan modern lainnya. Tetapi, lagi-lagi saya tertampar pada frase kesehatan orang modern.

Orang modern mencari kesehatan dengan suplemen instan tanpa pembiasaan gaya hidup sehat. Terkungkung pada rutinitas mekanis mengejar target tanpa memenuhi tanggungjawab nikmat sehat yang telah digariskan Allah.

Bergantung pada minuman suplemen untuk menjaga kondisi tetap prima di antara kejaran deadline yang menjerat tetapi lupa pada kualitas gizi makanan atau minuman yang dikonsumsi.

Lupa bahwa berislam adalah berdamai dengan kondisi natural. Menyesuaikan gerak langkah dengan fitrah-Nya. Maka jika kita telah bergerak sesuai fitrah-Nya, kita tak perlu bergaya hidup di luar itu. Tak perlu rutin pergi ke pusat kebugaran (fitness) karena ternyata gerakan sholat yang sempurna mampu menjadi gerakan harmoni yang menunjang kesehatan yang sejati.

Manusia modern adalah mereka yang reaktif setelah jatuh sakit tetapi tidak menjaga kesehatan dengan asupan nutrisi yang baik. Sibuk berobat kesana-kemari, konsumsi obat setiap hari, dan memiliki pantangan beberapa makanan demi menjaga kesehatan.

Barangkali kita lupa dengan kebersihan adalah pintu pertama menghadap Allah. Lupa pada adab mencuci tangan, adab menjaga kebersihan lingkungan. Saya ingat debu-debu yang menebal bergantung di lelangit kamar. Debu menebal di meja. Sampah berserakan depan rumah. Bukan tidak mungkin, semua itu menjadi biang penyakit pernafasan. Ya, Allah semata-mata berfirman tentang kebersihan untuk kebaikan hamba-Nya. Hidup seiring sejalan dengan firman-Nya.