Andalan

Podcast bersama Ingenio : Doodle untuk Kreativitas Pembelajaran & Kesehatan Mental Para Pendidik


Sesi Berbagi di Podcast Ingenio Belajar Online

Bismillah. Tak terbayang sebelumnya akan berbagi dalam podcast bersama Ingenio Belajar Online. Rasanya geumpeur sih, hehe… Alias berdebar-debar. Sesi berbagi secara online memang bukan pertama kalinya bagi saya, namun ada hal yang mendorong saya untuk menyambut setiap kesempatan berbagi. Yaitu tentang berbagi energi dari pengalaman yang dirasakan lewat aktivitas doodling.

Aktivitas doodling ini jadi sesuatu yang mengajak saya mengukur lebih dalam. Sudah berapa dalam impactnya? Maka saya mencoba menguraikannya dalam podcast di atas. Bukan dalam bentuk cara teknis menggoreskan namun pada sebuah keputusan memilih Doodle sebagai passion diri.

Jadi kalau teman-teman menyimak video di atas, pastinya akan diajak untuk mendengar saya cuap-cuap dulu tentang sebuah titik balik saya menjadi guru. Betapa tak terbayangnya akan berlanjut hingga kini di jalur menantang sebagai seorang pendidik. Ya, ini tahun ketujuh saya menyelami segala hal di dunia pendidikan. Bagi saya yang bukan bertitel S.Pd, jalan ini saya lalui bermodal nekat memang. Nekat keluar zona nyaman sebagai desainer grafis yang cukup berhadapan dengan komputer dan costumer. Tak perlu ketemu dengan seabreg berkas administrasi A-Z. Tak perlu pusing berhadapan dengan murid beragam karakter. Namun saya berhenti pada titik ada yang salah dengan rutinitas saya pertengahan 2013 lalu. Jiwa interpersonal saya meronta. Interaksi komunikasi tak terasah sama sekali. Bukan berarti di kantor saya bekerja saat itu tak bisa diaplikasikan, namun lebih pada kerinduan untuk berkomunikasi sekaligus berbagi ilmu yang didapat. Maka menjadi guru bagi saya jalan hidup yang penuh binar tantangan bahagia.

Doodle My Day. Hari-hari kugoreskan makna. Kalau dulu lebih pada goresan random asal jadi, asal corat-coret apapun. Kini saya rasa doodle ini lebih pada healing dan daily routine. Segalanya bisa digoreskan tapi sebelum itu pastikan deep why kita melakukannya. Semakin dalam alasan besarnya, semakin mantap saat berproses.

Semoga sesi berbagi kali ini menjadi ruang tanpa henti untuk selalu meng-upgrade pemahaman diri dan menambah jam terbang pengalaman dalam menggoreskan makna. Terima kasih Ingenio!

Andalan

Lecutan Berkarya


Seringkali aku mengunggah sesuatu yang senang kubuat dan membutuhkan waktu sangat lama, tetapi tanggapannya hening. Aku kemudian mengunggah hal lain yang kupandang agak payah dan tidak memerlukan upaya sedikit pun dariku, tetapi nyatanya ia viral.”Austin Kleon dalam Buku Keep Going

Digital Doodle for Keep Going

Prolog

Ada yang menggelitik dari buku ini. Buku yang tanpa sengaja saya ambil begitu saja ke kasir tanpa baca sinopsisnya. Alasannya 2, pertama saya familiar dengan gaya tulisan Austin Kleon dari Steal Like an Artist dan Show Your Work. Kedua, saya butuh gagasan baru agar punya bahan ulik selama liburan.

Setelah Baca Buku Ini

Rasanya banyak hal yang sekiranya bisa jadi tamparan keras buat diri sendiri. Hei berkarya itu ternyata sederhana, yang bikin rumit adalah standar orang lain, ekspektasi diri, dan indikator palsu.

Dalam dunia yang serba transparan dan penuh notifikasi ini, ada kalanya kita perlu waktu hening membangun kesadaran diri. Bukan saja soal ruang yang tenang memang, tapi ada waktu bagi kita rileks merancang hari.

Kutipan dari “Keep Going” ini juga pas untuk diri yang kerap galau dengan penerimaan orang. Aku tuh yah udah bikin karya itu panjang prosesnya. Sulit rumit menguras tenaga. Eh pas udah dipublis taunya ditanggap B aja. Nggak gebyar dan nggak dapet aplaus. Nah pas unggah yang remeh aja macam selfie langsung deh banyak yang like. Duuuuh… Ini bakal gawat kalau jadi membelokkan indikator berkarya. Sama aja dengan isme yang penting bikin gebyar meski ambyar.

Buku ini sebenarnya bikin pembaca sadar dengan dualisme momen hidup. Ada yang momen bikin kita enjoy bahkan ada saat terpuruk namun kita harus terus melakukan sesuatu. Penting ternyata untuk memulai waktu dengan waras menuliskan apa yang akan dituntaskan hari itu. Tersindir sangaaat ketika Austin Kleon menuliskan, “Aku terbangun dan mengecek berita di ponselku.” Ini mah aku banget kalau lihat HP pas bangun dan langsung cek notif dari beberapa aplikasi. Argh… Hasilnya ada kalanya terintimidasi postingan orang. 😢

Kalau mau kreatif dan merasa harus meninggalkan rutinitas harian, kamu tuuh keliru gaes. 😣 Kreatif itu bukan tujuan tapi sarana biar tetap waras berkarya hari ke hari. Misalnya ini mah suka melukis terus nggak ngelakuin hal lainnya. Anak dibiarin nangis, kerjaan di kantor numpuk, pasangan ngerasa dicuekin. Berkarya memang lahir dari kegetiran diri tetap bertanggungjawab pada orang-orang di sekitar. Senangnya kalau lihat anak-anak yang tak gentar mencoba meski jatuh berkali-kali saat bermain. Banyak bertanya tentang hal menarik di dunia.

Belajar dari putri kecil saya yang beranjak 5 tahun. Hari ini dia keukeuh ingin coba sepatu roda milik sepupunya. Bundanya yang asing dengan benda satu ini memilih mundur karena tak bisa mengajari. Alhasil dia minta bantuan ayahnya untuk dipegangi dan berlatih jalan selangkah demi selangkah. Sesekali dia pegang pinggiran kursi dan jatuh menggelosor karena sepatu yang licin. Begitu ditawari untuk lepas sepatu roda, dia geming. Dunia baru baginya untuk mencoba sesuatu dimulai kembali.

Jadi mau sampai kapan dikepung kegelisahan saat berkarya. Butuh keahlian bagi kita untuk melambatkan laju sambil terus maju. Menelisik apa yang perlu dibenahi dan dibiarkan bebas.

Andalan

Pikiran yang Berbenah


Bismillah.

Jelang penghujung 2019 ini begitu menggembirakan dan melegakan. Impian punya domain dan hosting terwujud setelah 10 tahun punya blog gratisan di jundiurna92.wordpress.com. 😅 Blog yang dibuat saat saya masih kuliah semester 3. Blog yang semacam gado-gado tanpa niche khusus karena segala hal tumplek di sana. Mulai dari tugas kuliah yang plek dicopas 1 makalah. Yampuun siapa lagi yang mau baca tugas orang. Eh ternyata tugas kuliah itu emang subjek yang dicari sampai dikomen beberapa pembaca blog. 😅

Nah, mungkin memang ini keseriusan bikin web yang tak disangka-sangka. Dengan punya domain baru, bukan berarti blog lama dilupakan. Saya hanya perlu membenahi postingan sambil meneropong kebutuhan pembaca. Naluri anak jurnalistik menguat di sini. Mencoba kembali belajar menjadi jurnalis warga alias citizen journalism yang baik juga peka. Peka sama hal-hal yang penting untuk diangkat. 😃

Berbenah Kategori Tulisan

Banyak hal random yang sering diangkat tapi tak fokus dengan tujuan yang kuat. Awalnya blog saya memang kebanyakan berisi esai kontemplatif beragam tema. Berangkat dari keseharian sebagai daily worker sampai curhatan emak-emak. Nah… di wildainish.com ini rasanya sayang banget kalau harus menceracau hal-hal yang menyita bandwidth yang terbatas.

Media Library Efektif

Jika sebelumnya paling hobi aplot gambar-gambar besar untuk postingan. Kini saya belajar untuk terbiasa memilah gambar yang resolusi ringan tapi cukup jelas. Maklum gais… Space area website terbatas.

Moment are Special Timing

Berita punya limit waktu tersendiri. Begitu pula cerita. Banyak hal terlewatkan padahal momennya sedang aktual untuk diangkat. Saya akan coba peka dengan hal ini dengan mengabaikan faktor hastag #latepost. Biar apa coba? Biar nggak kebanyakan nostalgia. 😅 Cerita lama cukup disimpan di blog gratisan saja. Eaaaa… 😃

Membenahi pikiran sama dengan menata kata. Hari-hari yang dirangkum dalam blog ini semoga selalu berawal dari spirit berbagi kebaikan.

Apa misi yang Allah titipkan kali ini untukku?


Misi. Berkaitan dengan visi. Jangan jauh-jauh dulu ah. Misi harian sebagai ibu. Betapa setiap milestone perkembangan anak mengajarkan ibunya untuk belajar. Belajar mendampingi. Belajar memahami. Belajar menyesuaikan diri dengan kondisi. Hari ini saya belajar menyederhanakan ekspektasi. Inginnya diri semua beres di awal hari. Ah nyatanya ada yang lebih urgent untuk ditangani. Alarm alami itu bernama tangisan si kecil.

Saat menggendong bisa dialihkan ke ayahnya sebagai delegasi, saya bisa dengan tenang menuntaskan satu demi satu cucian piring kotor pagi hari. Menyapu karpet, mengepel lantai, dan membereskan barang kembali ke habitatnya. Ah betapa nikmat melihat semuanya rapi.

Tapi sungguh… Misinya belum selesai. Selagi memberi ASI saya baru mampu menuliskan isi pikiran di blog ini. Belum bisa menyentuh laptop untuk siapkan bahan ajar. Luar biasa memang tantangannya mencari timing. Timing selama 24 jam betapa berharganya. Menatap senyuman anak 4 bulan yang mulai merespon ceria setiap ekspresi. Menatap nanar kerjaan yang belum kunjung kelar.

*Masih ngASI sambil menunggu si kakak dan ayah pulang untuk temani anak bayi agar bundanya bisa menuntaskan misi. 🙃

Kayzastory #4 : Adaptasi Rutinitas


Bismillah. Hari ini Kayza memasuki usia 4 bulan lebih 4 hari. Artinya dia sudah harus beradaptasi dengan rutinitas dititipkan ke neneknya karena bundanya kembali mengajar. Qadarullah momen ini menguji imunitasnya. Mungkin sebagai awal pembiasaan yang jadi tantangan untuk Kayza dan saya sendiri.

Pekan lalu kami batuk pilek silih berganti. Saya coba membawanya ke klinik dan konsultasi karena selama ditinggal mengajar tidak ada ASIP yang masuk. Sudah dicoba pakai sendok, dot, dan pipet. Mungkin karena batuknya membuat Kayza nggak nyaman menelan selain menghisap ASI langsung dari bundanya. Alhasil 2 hari saya coba rehat dulu sambil mengencerkan dahak dan gempur ASI selama ijin tidak kerja. Alhamdulillah Jumat ketika ditinggal lagi ada satu botol yang masuk. Libur Sabtu Ahad jadi mengubah rencana pribadi. Segala hal yang harusnya tenggat di akhir pekan harus tertunda karena seharian kemarin dekap Kayza tanpa henti. Sesekali menangis meski sudah dipangku. Suhu badannya 39 membuatnya merengek dan banyak mengigau saat tidur.

Senin pagi saya coba memulai lagi bentuk mengajar dari rumah sambil menemani Kayza yang perlu ASI langsung untuk turunkan demamnya. Sungguh masuk usia 4 bulan ini banyak pelajaran untuk kita ya, Nak. Alhamdulillah tetehnya sesekali menemani adiknya yang tengah menangis saat ditinggal ke kamar mandi atau saat sholat. Lekas membaik ya sayang. Biar bunda bisa kembali mendengar celoteh ceriamu dan renyah tawamu kala digelitik saat bermain. 🥺

Habis Cuti, Terbitlah Adaptasi


Bismillah. H-4 cuti berakhir. Rasanya baru kemarin lahiran, melalui malam-malam menantang begadang momong bayi. Kini mesti bersiap kembali merasakan ritme aktivitas tatap muka yang kelak akan 100 %. Yup kembali full day. Qadarullah… Pandemi mengajarkan imunitas diri dalam hadapi situasi tak terduga sesuai grafik kesehatan bersama.

Lalu apa yang mesti dipersiapkan? Mental? Pastinya. Fisik jangan ditanya. Perlu adaptasi juga dong ya. Shubuh nanti anak bayi mesti sudah siap diwaslap, anak SD juga mesti siap-siap bergegas. Ayah bundanya harus siaga lebih awal. Jangan lupa sarapan sebelum memulai kegiatan. Biar kuat hadapi kenyataan 😅

Namun masa cuti ini justru mengajarkan saya jeda berharga tentang sederhana. Sederhana merangkai satu demi satu kegiatan. Anak bayi bobo pulas jadi tujuan harian. Biar aktivitas lain bisa direngkuh segera, sedang anak-anak sudah lelap rebahan. Damainya ketika pagi tiba, lantai sudah kesat wangi. Cucian piring sudah tuntas. Sarapan tinggal bikin yang mudah diolah. Berangkat dengan hati riang penuh harapan tanpa rusuh kesiangan. Ya namanya juga ikhtiar yaa… Berjuang beberes sebelum merebahkan diri.

Adaptasi rutinitas itu jadi perjuangan sehari-hari. Bagaimana agar bisa konsisten menyusui sebelum berangkat. Anak bayi butuh sarapan sebelum dititipkan ke neneknya. Maafkan ya Bu sekian kalinya merepotkan🥺 Bersiap jalani siklus cuci popok tiap hari. Adaptasi hati lebih rumit lagi. Jangan baperan bund. Biasanya dekap anak bayi seharian, kini baru ketemu selesai pulang ngajar. Pekan terakhir weekday bisa pelukan siang-siang sama de Kay.🥰

Berjuang itu sebenarnya pasti akan menemui fase jatuh bangun. Yup… Setiap fase mengajarkan proses menerima kondisi. Melatih daya juang. Berteman kembali dengan angin jalanan dan cuaca tak terduga. Merutinkan diri dengan pompa ASI untuk stok Kayza ditinggal kerja. Adaptasi segala ya Bund. Semoga Allah kuatkan langkah diri. Merangkai hari demi hari dengan peran diri untuk misi gapai ridho Illahi.

Kecamuk Pikiran


Bismillah. Setiap masa dan momentum punya kecamuk pikirannya sendiri. Apa maksudmu? Ya, jika kamu merasa pikiranmu penuh pada satu waktu tentu saja karena segala hal kau biarkan tumpang tindih tanpa henti. Membiarkan dirimu terjebak dalam labirin kecemasan. Tanpa ampun menyeretmu dalam ragu.

Seperti saat ini. Aku terhenti sesaat. Menekuri apa yang selama ini membuat kusut otak berhari-hari. Bukan karena urusan perut ternyata. Lebih dari itu. Soal porsi beragam hal yang memaksa diri berpikir keras. Bergulat di dalamnya malah menghabiskan energi. Hingga aku bertemu sebuah kutipan dari buku Daun-Daun yang Berserakan. Penulisnya Muhammad Rizqan Akbar. Dalam bukunya di halaman 112 tertera, “Jika kita masih terjebak dengan hal-hal rendah, kita tidak akan merasakan hal-hal yang tinggi.” Aih betapa tertamparnya aku dengan bunyi kalimat ini. Kemarin itu… Aku sibuk berkecamuk dengan hal-hal rendah yang bisa kutangani tanpa harus memusingkan diri sendiri.

Bukan berarti kamu merendahkan dirimu. Bukan berarti kamu menihilkan segala tantangan di hadapan. Bukan… Ini soal pembagian porsi yang pas agar energimu bisa tersalurkan sesuai kapasitas.

Membayangkan segala hal menjadi istimewa untuk meraih ridhoNya, sungguh bekal energi harian. Lebih tinggi menetapkan tujuan, semakin besar harapan bertahan. Baiklah… Semua begitu indah begitu dibingkai pelan-pelan. Kuharap ini jadi pengingat agar kamu bisa membagi setiap warna dalam porsinya. Agar kecamuk pikiran tidak menggulungmu hingga kehabisan energi untuk berbagi penuh kesadaran.

Kayzastory #3 Belajar Memerhatikan Sekitar


Bismillah. Hai Nak… Bulan ini makin bikin kagum dengan perkembanganmu. Maasyaa Allah… Rasanya haru bahagia begitu senyuman tergambar di wajahmu ketika diajak bercengkrama. Sesekali ikut bergumam saat menyimak orang yang sedang mengobrol.

Kayza 3 bulan

Mulai rutin memasukkan tangan ke mulut dan ngeces banyaak bingit sampai harus diseka berkali-kali. Bulan ini waktunya rutinkan tummy time. Idealnya memang dilakukan di atas lantai dengan alas. Nah baru bunda praktikkan di atas sajadah dialasi selimut tipis. 😅 Ternyata baru sedikit sedikit angkat kepala meski durasinya belum lama. Yuk bisa yuk belajar tengkurap.

Jarak pandangan mulai meluas. Sekarang kayza suka tengok kanan kiri begitu ada suara. Alhamdulillah celotehnya sering terdengar lembut meski belum juga tertawa kencang. Baru sebatas banyak bergumam, berdecak, dan aah ooh. 😅 Kadang ia suka senyam-senyum lihat lemari plastik bergambar di kamar. Guling di sampingnya sering diajaknya berceloteh pake bahasa bayi. Setiap lihat bayangan sendiri di cermin auto senyum sesekali malu malu nundukin kepala. Maasyaa Allah…

Ritme tidur pun mulai terbentuk polanya. Jika pagi bisa pulas hingga pukul 8. Baru bisa mandi pagi dan menyusu kemudian bobok lagi. Siangnya main, ngobrol celotehan, dan bisa anteng duduk di sofa bayi. Lalu menyusu dan minta gendong sebelum bobok. Malamnya Kayza tidur cukup panjang tanpa bangun nangis nyaring seperti awal lahir. Hanya mimik ASI sambil mata tetep merem😅. Setelah itu pulas lagi. Alhamdulillah… Kecuali memang pasca imunisasi DPT bulan lalu, itu bener-bener mesti digendong karena suhu badannya panas.

Begitu dibawa keluar untuk jemput tetehnya dari sekolah, Kayza nggak bobo lagi seperti biasanya. Ia mulai melihat sekitar dari balik gendongan saat dibawa jalan kaki. Gendong posisi M yang membantu biar bunda nggak pegal tangan sebelah. Meskipun nih badan tuh rasanya ringkih pasca melahirkan. Pegal dan panas pinggang saat dibawa jalan. Kode mesti banyak olahraga😅

BBnya semoga naik ya De Kay. Kerasa sih sekarang pas gendong lebih berat dibanding bulan lalu. 🥰 InsyaAllah Bunda siap sedia menyambut MPASI Maret tahun depan. Sekarang mesti semangat ngumpulin bekal ilmu biar nggak panik saat hadapi tantangan MPASI. 😘

Sensasi Ibu Anak Dua


Bismillah. Mumpung anak-anak udah pada bobok. Waktunya emak mendaratkan isi pikiran. Leganya bisa menulis agar tetap ‘waras’ kala banyak yang menguji batas. 😅

Alhamdulillah hari ini sesuatu sekaliiiih. Bisa melangkah keluar sambil gembol anak bayi untuk jemput kakaknya pulang sekolah. Anak bayi nangis kenceng ditinggal bundanya mandi. 🥺 Ya Rabb… Suka sedih kalau dia kelamaan nangis padahal bundanya mesti kelarin satu urusan. Yups memang tangisan bayi kini menjadi alert alias alarm utama dalam beraktivitas. Maka segala hal yang dinamakan me time itu menjadi sesuatu yang mewah saat ini. Setiap si kecil berhasil bobok, doa harian selalu terucap kala saya tengah tuntasin domestik rumah. Ya Rabb dedek jangan dulu bangun sebelum kerjaan ini kelar. Ternyata iya dong, udah kelar, anak bayi nangis kenceng. Hihii padahal baru aja mau ngemil, jadi deh disambil pangku. Kadang sambil ngASI, tangan satunya sibuk masukin cemilan. Bayi lapar, busui makin lapar.

Dua Hadiah Terindah

Lalu apa sih yang suka menguji batas? Padahal bukanlah sabar kalau ada batasnya. Iya nih… Bunda yang harus belajar mengasah diri kendali emosi dan menata hati. Anak pertama lagi gemesin merasa kasih sayang bundanya berkurang hanya untuk adik karena dia taunya seharian kok adik lagi yang dikelonin. Kok adik mulu yang diurusin. Padahal bundanya juga mesti siapin ini itu buat keperluan sekolah kakak. Aah kenapa jadi baper gini sih. 😢 Nyess rasanya pas kakak bilang pengen jadi anak kedua aja. Sungguh kritis ini anak. Tempo hari bikin gemes karena dia tidur di atas kasur bayi. Sengaja menekuk badan biar pas di bawah kelambu. 😂 Padahal adiknya aja udah nggak pernah bobok di kasurnya. Kadang kalau ngomong kakak suka pake nada ala-ala balita biar lucu. 😅 Padahal emang masih lucu sih. Cuma jujur aja nih bundanya sering bersitegang dengan anak pertama.

Anak pertama sungguh sensasi pertama. Pertama jadi ibu, ya pola asuhnya belum mumpuni. Masih banyak yang harus diperbaiki. Stimulasi belum maksimal. Masih bergantung pada orangtua karena serumah. Kini jadi ibu anak dua. Lebih berdinamika. Menyeimbangkan peran agar proporsinya pas untuk dua anak dengan rentang usia berbeda. Qadarullah wa maasyaa af’ala… Allah berikan jeda 6 tahun jarak keduanya. Membuat saya mesti belajar lagi dari nol tentang pengasuhan dan serba-serbi merawat bayi.

Bismillah… Semoga diri diberikan kekuatan untuk terus menggali ilmu sebagai bekal berjuang sehari-hari bersama buah hati.

Resume Sharing Online | Gambar Anak : Tentang Karya dan Cerita | Bersama Kak Della Naradika


Bismillah. Hari ini pertama kalinya setelah momen persalinan, bisa mendarat di pertemuan online diskusi literasi bersama @lingkar.baca. Alhamdulillah betapa beruntungnya bisa menyerap sharing ilmu bersama Kak Della Naradika di sela-sela rutinitas menyusui. Berbincang tentang gambar anak dan seluk beluknya.

Bertepatan dengan momentum hari guru di bulan November, saya tertegun menyimak cerita Kak Della di awal sharingnya. Soal ketertarikannya pada dunia senirupa bermula dari gurunya saat SMA yang memotivasi untuk ikut lomba gambar. Guru tersebut nyata mengapresiasi setiap goresan yang dihasilkan meski hanya diawali menggambar bentuk garis atau lingkaran. Maasyaa Allah sangat related banget sih ini dengan dunia gambar-menggambar. Kadang lupa untuk memberikan ruang imajinasi yang lepas untuk anak agar tak sebatas ukuran kertas. Lupa suka mendikte apa maunya kita pada anak hingga potensi mereka terkungkung pada teknik semata. Jadi tukang gambar iya, kreator belum tentu.

Saya begitu tertarik pada paparan Kak Della soal gambar karya anak yang orisinil. Adakalanya orangtua memaksakan apa yang ada di pikiran untuk mengintervensi pengalaman berkarya mereka. Hingga sebuah kanvas di lomba pun bisa terpampang ide ortunya secara tersirat. Wah jangan jangan saya selama ini pernah berlaku demikian. Maafkan Bunda ya Nak😢

Kemudian soal media gambar anak. Mendingan mana, ngasih buku mewarnai atau media kosong yang luas untuk menggambar? Saya pernah kasih dua-duanya sih. 😅 Ternyata kalau hanya mewarnai, imajinasi dan daya cipta anak kurang tergali karena tinggal mengulaskan warna bukan memulai gambar dirinya. Memberikan media yang lebih luas bisa membuat anak leluasa menumpahkan apa yang ada di kepala. Saya pernah mempraktikkan ini saat anak sulung masih berusia 3 tahun. Kala itu banner bekas ukuran 3 meter jadi media corat-coretnya pakai spidol besar. Betapa cerianya dia menggoreskan spidol dengan goresan abstrak yang mungkin sulit dimengerti.

Tentang gambar dan cerita. Nah ini sih yang masih jadi PR besar. Kenapa? Karena seringkali gambar anak hanya sekadar tertuang tanpa difollow up untuk digali latar di baliknya. Menyimak Kak Della menceritakan temuan-temuan bersama komunitasnya buat saya terenyuh. Betapa gambar bisa melukiskan apa yang anak rasakan dan pikirkan tentang dunianya secara tidak langsung. Lebih mendalam sih. Upaya literasi bermula dari sini. Jika tulisan mungkin lebih kompleks, gambar justru bisa dimulai lebih mudah untuk mengasah kekuatan bercerita.

Jadi ingat pas Teh Khanza bikin jurnal harian dengan menggambar saat masih TK. Kala itu ada jurnal pagi dan jurnal siang. Anak diminta untuk menggambar apa yang dipikirkan setiap awal masuk kelas dan jelang pulang sekolah. Jurnal yang dibuat temanya bebas. Alhamdulillah guru TKnya begitu rapi membuat arsip gambar selama 2 semester. Namun kadang baru sebatas arsip justru. Sedihnya saya belum bisa menggali secara detail untuk setiap gambar yang dibuat anak. Padahal kalau ditelisik lebih jauh, jurnal yang Khanza buat begitu variatif dan imajinatif. Bismillah harus belajar istiqomah gali lagi interaksi lewat karyanya.

Sebagai orangtua, menghadirkan pengalaman visual menjadi bekal berharga anak untuk belajar mencipta dan berkarya. Seharusnya membuat anak lebih rileks dan percaya pada potensi dirinya. Berkaca pada gambar anak membuat kita memahami lebih dekat pada setiap detil warna unik anak kita dan bisa menyesuaikan sikap.

Terima kasih sharing pengalaman luar biasanya Kak Della. Terima kasih atas kesempatannya menyimak ulasan buku inspiratif bersama Kak Dhea dan Kak Jogi dari komunitas @lingkar.baca. Jadi penasaran ingin baca lebih dalam bukunya Kak Della nih. 🥰 Semoga bisa menjadi pemantik bercerita lewat gambar.

Fighting Days with Kids


Bismillah. Pagi hari bahagianya bisa kelar cuci piring dan masak jam 7 tepat. Anak dan suami udah sarapan. Anak bayi baru bangun saat bunda udah hampir selesai. Alhamdulillah dengan bertambahnya personil baru jadi belajar gesit setiap hari. Meski adakalanya rencana harian ambyar karena banyak iklan momong bayi ataupun nemenin kakaknya belajar online.

Semangaaat mengasah skill keibuanmu bund. 🥰 Punya anak dua dan tidak serumah dengan ortu bikin terlatih apa-apa mesti dilakoni sendiri. Kadang suka nangis kalau muncul riak emosi yang hadir di tengah lelahnya diri. Tak apa memang beginilah jalannya. Jalan juang sebagai ibu sekaligus guru pertama untuk anak-anak. Ya Rabb… Mantapkan hati. Kuatkan pemahaman agar bisa melakukan ikhtiar yang Engkau ridhoi.

Hari-hari yang dijalani tak selamanya mulus sesuai ekspektasi. Seringnya ‘lari-lari’ ikuti ritme anak bayi dan jadwal online kakaknya. Tangisan bagai alarm aktivitas. Nyuci belum kelar pending karena de Kay haus. Mandi sesuatu yang mewah tapi dilakukan sekilat mungkin😅 karena di antara bunyi keran air, bunda halu dengerin tangisan si kecil padahal anaknya bobok anteng.

Masa penuh perjuangan itu serasa lebih lekat saat ini. Mungkin karena masa cuti yang dijalani 24/7 di rumah penuh waktu. Rutinitas ngASI, cuci popok, masak sebisanya, dan selonjoran sambil pangku de Kayu yang pengen terus didekap.

Kadang ada drama tentang tarik menarik keinginan si kakak yang suka dianggap bertingkah membuat keruh suasana. Ah… Kalau dipikir lagi. Kenapa mudah sekali tersulut emosi dan sulit menyunggingkan senyuman kala ia tengah labil. Tangisannya lebih sering terdengar karena menagih perhatian. Maafkan Bunda teteeeh… Selalu ingin mengulang masa kita bercengkrama saat kamu beranjak balita. Mulai senang bercerita ini itu. Kini waktu rasanya begitu cepat mengubah suasana. Kamu lebih suka main bersama teman seiring masuk sekolah dasar. Sedang belajar bersosialisasi dan mengasah emosi juga interaksi dengan teman main.

Semua memang ada masanya. Kini harusnya bunda lebih sadar penuh dan hadir utuh agar tidak merutuki waktu. Mensyukuri setiap detil kondisi.

StorywithKayza#2 Bulan Penuh Ekspresi


Bismillah. Hai Nak… Hari ini tepat kamu memasuki usia 2 bulan. Betapa leganya Bunda karena waktu bermainmu di siang hari bikin Bunda dan kakak berseri-seri. Sudah mulai celoteh oh ah dan senyum lebar-lebar. 😍 Alhamdulillah tidur siang agak lama setelah bermain. Hingga Bunda bisa menuntaskan sortir buku di rak kayu. Baru terbangun sore hari seiring gumoh dan BAB di popok. 😅

Jam tidur de Kay mulai stabil saat malam. Hanya terbangun untuk mimik ASI dan bisa kembali rebah di atas kasur. Kabar gembiranya kasur bayi terpakai hanya 1 minggu pertama dong😅. Guling bayi kadang dia tangkis jauh-jauh. Pengen leluasa gais… Gaya tidur andalan dua tangan ke atas atau nahan pipi yang chubby. Sesekali senyum lebar pas tidur atau meringis kayak mau nangis.

Sofa bayi adalah media empuk untuk ngajak main memang🥰. Cuma biar tidurnya lebih lelap dipindahin langsung ke kasur biasa. Bahagianya Bunda ketika de Kay abis nenen, langsung bobok auto nyenyak begitu beres. Malam pas bobo de Kay sering ngulet alias menggeliat kayak mau bangun tapi ternyata cuma ganti posisi badan.

Bulan ini de Kay banyak senyum pas lihat barang berwarna cerah di sampingnya. Mulai suka ngemut tangan sampai basah. Aah bulan penuh menggemaskan. 🥰

Masa Cuti = Charging Moment


Bismillah. Memasuki usia 2 bulan anak bayi menyadarkan saya tentang satu hal. Waktu rasanya berjalan lambat awalnya. Betapa momen khas newborn begitu berat dilalui dengan rutinitas jetlag dan jam tidur tak menentu. Kini justru setelah 2 bulan berlalu, putaran masa rasanya bergerak cepat hari ke hari. Masa cuti telah saya lalui setengahnya. Saatnya menuliskan apa yang dilalui agar bisa membenahi diri setiap hari berganti.

Alhamdulillah masuk bulan kedua de Kay, jam tidurnya mulai stabil saat malam. Tidak terlalu sering terbangun dan bisa tidur tenang. Siang pun bisa dipakai beberes sedikit-sedikit meski banyak iklan khas busui. Menyusui, tepuk tepuk anak bayi sambil gendong, ataupun main sebentar sambil mengajaknya berceloteh.

Ada titik jenuh yang muncul karena rasanya saya seolah tak bisa mencapai apapun dalam arti kegiatan yang produktif. Hanya sanggup mencicil satu demi satu pekerjaan rumah tangga kadang kalau sudah lelah duluan, hanya mampu beli makan lewat aplikasi online. Semua hidup saya tertumpu pada kondisi anak bayi dan kakaknya yang baru masuk SD. Saat jalan-jalan tak sebebas dulu. Saat kegiatan diri harus mempertimbangkan dulu kondisi si kecil. Saat semua pencapaian terpusat pada kesehatan dan kenyamanan anak. Dibuat waswas saat anak lebih sering gumoh dan nangis kejer terlalu lama.

Makna bahagia rasanya bergeser bagi saya saat ini. Bahagia ketika bisa tuntas cuci jemur baju bayi sementara anaknya anteng tidur pulas. Bahagia ketika de Kay bisa langsung sendawa selesai disusui. Bahagia ketika bisa rapi rapi rumah meski sambil gendong. Beberes semampunya. Bahagia ketika beres ngASI, si kecil bisa bobo seketika dalam dekapan. Bahagia ketika celoteh anak bayi terdengar lembut dengan wajah sumringah. Ah bahagia yang sederhana versi saat ini.

Masa cuti segera berakhir 2 bulan lagi. Yup, seiring tahun berganti, saat itu pula saya kembali mengajar di semester 2. Alhamdulillah, Allah berikan episode hidup ini untuk saya belajar lagi sebagai seorang ibu. Ibu yang sudah punya anak 2 jauh berbeda sensasinya dibanding baru punya anak satu. Menyesuaikan diri dan kesabaran harus terus dicharge seiring regulasi emosi kakak yang sedang menguji. Hingga ia bilang suatu ketika, “Kenapa aku nggak jadi anak kedua aja. Gamau jadi anak pertama.” Deg, begitu mendengar ucapannya. Khanza kesal seolah dunia saya yang awalnya selalu tercurah padanya, kini harus terbagi porsinya dengan adik bayi. Tugas Bunda mesti banyak merangkul dan sounding tentang cinta kakak adik. Maaf ya Teteh… Bunda perlu banyak memperbaiki cara komunikasi dan bahasa kasih untukmu. Akhir akhir ini emosi Bunda sering memuncak karena lelah. Padahal ada waktunya untuk teteh tetap dalam dekapan Bunda tanpa mengesampingkan sikap teteh yang seolah terus cari perhatian.

Masa cuti ini sungguh berharga untuk saya kembali memaknai peran sebagai ibu. Menghargai segala kemampuan diri dan tak lupa mengapresiasi diri juga keluarga. Mengingat setiap detil perjuangan masa hamil, persalinan, hingga kini, betapa Allah berikan begitu banyak nikmat dan kesempatan untuk terus bersyukur dikelilingi orang tersayang.

Khanza Kayza
%d blogger menyukai ini: