Essai, Momentum, ODOPers, Ramadhan Inspiratif

Lebaran Lebur Liburan


Nuansa Lebaran sudah mulai terasa. Dari spanduk ucapan Selamat Idul Fitri, iklan TV yang berbau sirop, kukis, dan sendal baru, pesan maaf mengalir di grup Whatsapp, template foto profil berganti, serta status tentang “ngangetin opor”. Iklan sirop malah mengumumkan slogan Lebaran jauh-jauh hari sebelum Dewan Hisab dan Rukyat mengumumkan terlihatnya hilal. 

Lebaran melebur dalam liburan. Sebaliknya liburan lebur dalam nuansa lebaran. Liburan ini melenakan sebenarnya kalau tidak diplaning dengan matang. Hampir sebulan lamanya. Senin 17 Juli 2017 nanti baru masuk tahun ajaran baru. Kegiatan apa yang akan mengisi agenda liburan kita? 

  • Renang?
  • Jalan-jalan ke gunung, hiking?
  • Coret-coret media pembelajaran
  • Portofolio kegiatan anak selama liburan
  • Hunting foto dengan pesan tersirat
  • Membuat sesuatu?
  • Menyimak sesuatu dan mencatat
  • Desain sesuatu
  • Jahit baju
  • Buat desain agenda planner 
  • Review buku 

Ah itu terlintas begitu saja dalam benak. Mana yang lebih dulu dilakukan tergantung urgensi dan kebutuhan yang sesungguhnya. Bukan saja sekadar jeda untuk bersantai. Semoga liburan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Semangat memenangkan hati. Berkaca pada pengalaman sebelumnya. Kembali fitri dengan terus menempa diri. Ramadhan yang telah berlalu semoga spiritnya tetap terjaga dalam jiwa. 

#RamadhanInspiratif #day29 #challenge #aksara #ODOPfor99days

Essai, Keluarga, ODOPers, Ramadhan Inspiratif

Mudik 43 KM


Jika orang lain memakai kereta api lintas kota dan provinsi yang memakan waktu berjam-jam dan ada juga yang memakan waktu seharian berlayar menyeberangi lautan, maka 2 jam cukup bagi saya dan keluarga menempuh jarak hanya 43 KM antara Cimahi-Ciwidey. 

Dengan barang bawaan khas orang mudik, saya tertegun sendiri dibuatnya kalau mudik dan menginap kurang dari sepekan saja perlu 5 tas bawaan. Inginnya ringkas dalam satu koper, apa daya karena tak punya. 😁😅 Alhamdulillah syukuri saja. 

Kami menelusuri jalan pinggiran kota sebagai jalan pintas menuju Kabupaten Bandung. Memasuki Jl.Kebon Kopi – Cijerah – Cigondewah – TKI – Pameuntasan – Kopo Cipatik – Soreang – Ciwidey. 

Kembali menemui keluarga suami di Ciwidey bagi saya waktu seperti bergerak melambat. Padahal sama saja seperti di Bandung/Cimahi. Suasana pedesaan dan habit keluarga yang tenang membuat saya dibuai alias dipepende keadaan. Tak seperti di kota yang penuh hiruk-pikuk manusia yang saling berlomba merebut perhatian dan diskonan. Mungkin lain lagi ceritanya kalau saya mampir ke takoci (taman kota ciwidey) dan melipir ke pasar tumpah sekitar Alun-Alun Ciwidey. 

Seperti biasa di sana banyak pedagang yang menjual beragam rupa dagangan, mulai dari makanan, sandang, dan mainan. Terlebih jelang Lebaran, orang-orang berduyun-duyun memburu ketupat dan baju baru. 

Mudik dan merekatkan kembali interaksi dengan sanak keluarga. Membangun hubungan dengan banyak pertanyaan empati bukan sekadar basa-basi. Meluangkan waktu untuk masuk dan bergaul menyesuaikan diri. 


*Sejenak reminder diri agar tak banyak berdiam di kamar. 

#RamadhanInspiratif #day28 #challenge #aksara #ODOPfor99days

Essai, ODOPers, Ramadhan Inspiratif, Work by Work

Meja Kerja dan Metode 5S


Rabu lalu, 21 Juni 2017, saya membereskan meja kerja agar saat masuk suasana meja kerja lebih ‘manusiawi’ 😅😁 dan nyaman untuk ditempati. Meja kerja ini bagaikan area kerja dalam lingkup lebih kecil. Pernah saya membiarkan meja kerja kacau balau dengan alasan terlalu sibuk dan tak sempat berbenah. Hingga saya menemukan pernyataan dari buku 99 Perbedaan Cara Mengelola Waktu Miliarder VS Orang Biasa. Jleb rasanya saya memang orang biasa. 😂 Namun tak ada salah coba memperbaiki habit seperti para miliarder membenahi area kerjanya. Mulai dari meja kerja.

Meja kerja itu ibarat miniatur area lain yang lebih luas seperti ruangan dan rumah. Ada metode 5S yang diadaptasi dari perusahaan-perusahaan Jepang yaitu meliputi:

  1. Seiri artinya ringkas. Memilah berbagau barang yang dimiliki. Mana yang berfungsi, mana yang tidak. Mana yang urgen dan rutin, mana yang sesekali dipakai.
  2. Seiton artinya rapi. Menyimpan barang sesuai kategori yang sudah ditentukan. Ini berguna saat kita mencari barang saat dibutuhkan.
  3. Seiso artinya membersihkan. Membersihkan barang-barang yang sudah tertata rapi agar tidak cepat kotor dan rusak. 
  4. Seiketsu artinya merawat. Harus ada jadwal khusus merawat barang dan alat kerja dengan baik. 
  5. Shitsuke artinya rajin. Dalam hal ini fokus dan konsisten meningkatkan kesadaran diri dalam menjalankan metode 5S sehari-hari. Lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja yang bersih, rapi, dan terorganisasi dengan baik merupakan salah satu cara mengelola waktu yang kita miliki serta memudahkan kita dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. 

Resolusi tanpa henti adalah membenahi semuanya. Bukan saja meja kerja tapi mulai dari  isi ransel hingga setiap ruangan. 

#RamadhanInspiratif #day27 #challenge #aksara #ODOPfor99days

Bunsay IIP, doodling, Dunia Anak, Essai, Keluarga, ODOPers, Ramadhan Inspiratif

Aliran Rasa Komunikasi Produktif : Menata Hati dan Kata


Subhanallah walhamdulillah. Tiba di penghujung bulan Ramadhan ini bertepatan dengan rampungnya materi Komunikasi Produktif Bunda Sayang IIP. Pencapaian dengan mendapatkan badge “I’m Responsible for My Communication Result” rasanya seperti alarm diri agar lebih ingat poin-poin KomProd dalam keseharian. Baik terhadap sesama terutama keluarga. 

Ladang Jihad Tanpa Henti 

Bermula dari pagi. Sesekali dihiasi jeritan, teriakan, dan tangisan Khanza enggan diajak mandi padahal bundanya perlu berangkat lebih pagi. Kadang kehabisan cara kalau sudah begini. Tapi begitu ingat tantangan 10 hari, saya perlu memperbaiki apa dan bagaimana setiap kalimat meluncur dari lisan. Sekadar memaksakan kehendak pada anak ataukah mengajak anak dan masuk ke dunianya? Bujukan, rayuan, bahkan pelukan kadang tak manjur karena tangisnya tetap membahana. Sejenak saya tinggalkan Khanza dengan masuk kamar mandi lebih dulu untuk mengatur nafas dan air muka agar lebih tenang. Begitu Khanza mengejar dan mengetuk pintu dengan terisak, saya membuka dan memeluknya. 

“Khanza main waterbeads. Yuk.” 

Tangisannya mulai mereda. Akhirnya ia bisa diajak mandi tanpa diberi judul, MANDI. 

Tantangan dengan anak mulai bisa dijalani. Namun dengan suami tak semudah yang dibayangkan. Ada malam-malam dimana kami tak saling bicara. Sibuk memendam emosi masing-masing ketika pembicaraan berujung menggantung. Hingga akhirnya suami memeluk dari belakang saat saya memilih menangis sendirian. Ada yang harus diperbaiki dalam diri. Mengutarakan keinginan tak butuh banyak kata terkadang, cukup dengan pelukan hangat dan mengawali dengan jujur, apa yang harus disampaikan dengan baik. 

Tantangan 10 hari memang sudah berlalu, tapi tidak dengan tantangan sebenarnya. Hari-hari kedepan tak selalu mulus. Tetap menata hati dan kata, apapun kondisinya. Menuntut terus-menerus agar suami dan anak sesuai ekspektasi hanya membuat lelah hati. Saatnya terlebih dulu memantaskan diri dengan mengamalkan apa yang sudah dipelajari agar tak sekadar teori.

Titik awal itu bernama komunikasi. Bukan sekadar bicara, namun menata kata, suara, dan muka. Menata semua dalam interaksi sehari-hari.

#RamadhanInspiratif #day26 #challenge #aksara #ODOPfor99days #aliranrasa #kuliahbunsayIIP

Essai, MGMP Prakarya, ODOPers, Pendidikan, Ramadhan Inspiratif

Ramadhan dan Amunisi Pembelajaran Prakarya


Saat rekan yang lain mulai mudik asyik dan sudah bersua dengan keluarga di kampung halaman, saya masih ngulik asyik dengan perangkat pembelajaran dalam pertemuan MGMP Prakarya. Saya beserta guru-guru Prakarya yang hadir pada Senin-Selasa, 19-20 Juni 2017 lalu di SMP Muhammadiyah 8 Bandung, bersama merumuskan media pembelajaran sejak pukul 08.00-13.00 WIB.

Ada keraguan di awal untuk mengikuti agenda ini. Tempat yang cukup jauh dari ujung ke ujung. Ya walaupun berangkat Cihanjuang menuju Antapani. Namun saya ingat tahun pelajaran mendatang membutuhkan amunisi di awal agar pembelajaran bisa dipersiapkan lebih matang. 

Ramadhan pada pekan terakhir ini sudah seharusnya menjadi bekal amunisi di bulan-bulan selanjutnya. Memperbaiki segala kebiasaan dari latihan menempa diri di bulan suci. Termasuk menyiapkan kebutuhan pembelajaran dan memperbaiki tindakan kelas.

Melangkahkan kaki ke luar zona nyaman berarti bersiap pada hal tak terduga dan hikmah yang terserak. Banyak yang saya dapatkan dari pertemuan kemarin, antara lain: 

  • Kekaguman pada guru yang lebih senior puluhan tahun mengajar dan selalu siap pada perubahan kebijakan dari tahun ke tahun. 
  • Inisiatif memperjuangkan hak guru berupa urusan kedinasan simpkb.
  • Dalam mapel prakarya, kunci utama berkarya adalah memberdayakan sarana yang ada dan menyesuaikan dengan kondisi di sekolah. 
  • Guru memunculkan antusiasme di awal pertemuan dengan topik literasi yang memunculkan rasa ingin tahu.
  • Menyerap suasana lain dengan visual branding menarik di setiap sudut sekolah.

Alhamdulillah MGMP Prakarya berinisiatif sempat mengadakan pertemuan kali ini. Di saat yang lain sudah libur, kami mendapatkan bekal berharga menata pembelajaran lebih awal dan memikirkan segala hal yang menunjang life skill berharga dalam mapel Prakarya.


#RamadhanInspiratif #day25 #challenge #aksara #ODOPfor99days

Bunsay IIP, doodling, Essai, Keluarga, ODOPers, Pendidikan, Ramadhan Inspiratif

Upgrade Diri Tiada Henti


Memperoleh nilai IPK beryudisium cumlaude (3,63) lima tahun silam membuat saya menekuri diri sepanjang hari. Ingin rasanya membongkar file kuliah, tumpukan arsip makalah, dan buku-buku komunikasi yang tersimpan rapi di rak teratas. Sebagian menguning dengan bercak memudar. Ciri khas buku yang telah lama tersimpan. Nilai di atas ijazah itu menuntut pembuktian seorang sarjana yang kini berperan sebagai ibu. 
Sudahkah nilai itu seimbang dengan ikhtiar hari ini? Sudahkah deretan mata kuliah berpuluh-puluh SKS ada jejak aplikasinya dalam keseharian? Atau hanya tercantum indah. Ah, betapa naifnya berbangga diri pada sesuatu yang berlalu. Berpuas diri pada pencapaian sementara. Berdiam pada sebuah titik ilusi kejayaan masa lalu tanpa mengupgrade diri seiring waktu.

Hari ini saya menemukan kampus sebenarnya sebagai seorang ibu pembelajar. Mereview materi perkuliahan Institut Ibu Profesional tanpa berharap sebuah transkrip nilai. Menyerap materi demi materi yang menguatkan peran sebagai madrasah pertama peradaban dari keluarga. 

Sesi pertama tantangan 10 hari telah dijalani. Sepuluh hari ini sebuah limit terendah dalam menyelesaikan tantangan. Ya, karena limit sebenarnya adalah menyelesaikan tantangan dihadapan sepanjang hidup. Tanpa ada yang menilai dan menyuruh. Tanpa berharap indeks pretasi kumulatif, karena anak dan suami menjadi penilai sebenarnya yang langsung merasakan manfaat ilmu yang dipelajari. Terasa manfaatnya atau hambar dalam berinteraksi. 

Belajar sesungguhnya baru dan akan terus berlangsung. Cara mengupgrade diri lewat ibadah, membaca, mencoba keahlian baru, dan membuat jaringan untuk berbagi. Tetapkan target realistis tapi jangan terlalu mudah. Karena menetapkan target terbawah sama dengan berhenti pada limit kemampuan yang rendah. 

#RamadhanInspiratif #day24 #challenge #aksara #komunikasiproduktif #ODOPfor99days #kuliahbunsayIIP

doodling, Essai, Ilmu Komunikasi, ODOPers, Refleksi, Selaksa Rasa

Formalitas Saja Bagai Tanaman tanpa Akar


Totalitas dikerahkan demi sebuah seremoni. Sekadar memenangkan kompetisi tanpa memupuk konsistensi sehari-hari. Memoles segalanya pada satu kegiatan, tapi semuanya menguap di hari-hari biasanya. Segalanya terhenti pada atribut. Sekadar formalitas. Bukan habit yang ditumbuhkan. Seperti menanam kacang hijau pada kapas yang hanya tumbuh sekadarnya dengan cepat. Tetapi tak bertahan lama dibanding membuatnya mengakar ke tanah. 
Pernahkah kita terjebak dalam persiapan sementara? Menyiapkan segalanya dalam waktu singkat dengan memaksakan kemampuan diri. Mencoba tampil memukau sesaat tetapi lupa menempa diri dari hari ke hari. Astaghfiruka Rabbi…

Membangun habit adalah kuncinya. Bukan cuma menunaikan formalitas semata. Asalkan persyaratan tuntas. Asalkan ini… Asalkan itu… Belajar dari tanaman yang menghujam ke tanah. Membangun habit. Memecahkan kebekuan dan kejenuhan. Habit yang terus dilatih dari waktu ke waktu. Melatih diri berkomunikasi produktif, melatih kemandirian, dan membuat time schedule dengan menetapkan tujuan jelas atas segala tindakan. Karena formalitas saja hanya berujung dangkal di permukaan. 

Kembali pada hakikat keistimewaan komunikasi adalah ketika kita mau mengubah diri dan kebiasaan-kebiasaan dalam berinteraksi agar mengakar kuat dalam diri. 

-Muhammad Ahmad Al-‘Aththar, The Magic of Communication, Zaman, Jakarta:2012.

#RamadhanInspiratif #day23 #challenge #aksara #ODOPfor99days