Pengantar Ilmu Komunikasi (1)

Bismillah… Ya Rabb, berikanlah hamba ilmu yang bermanfaat, yang bisa menopang gerak langkahku agar pembelajaran ini tak sia-sia. Aamiin…

Semangat belajar selangkah demi selangkah!

Sekarang Pengantar Ilmu Komunikasi dulu yach!

PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI

Samudera Ilmu komunikasi yang tengah kita selami berasal dari tiga muara, yaitu dari Publisistik, Jurnalistik, dan Retorika. Publisistik berkembang di benua Eropa tepatnya di Jerman, sedangkan Jurnalistik dan Retorika berkembang di Amerika.

Ilmu Komunikasi di Eropa mengalami perkembangan melalui publisistik (Jerman:publizistik), bermula pada Revolusi Industri abad 19. Saat itu ditandai dengan munculnya percetakan-percetakan yang telah menjadi bagian hidup masyarakat, sehingga peranan pers mulai tampak.

Max Weber (1864-1920) telah menjadikan publisistik sebagai landasan ilmu. Pada tahun 1910, Max sebagai sosiolog membagi sosiologi menjadi dua bagian, yaitu sosiologi organisasi (kurang berkembang) dan sosiologi pers (zeitungwissenschaft : ilmu persuratkabaran).

Ferdinnand Tonnies (1885-1936) dalam kritiknya tentang pendapat publik, mengupas opini publik, bahwa : opini sebagai es, yaitu opini yang tertanam kuat pada masyarakat. Opini sebagai air, yaitu opini yang mengalir ke bawah; dipercaya karena berasal dari orang penting. Opini sebagai angin, yaitu opini yang berlalu begitu saja (kecuali opininya dilandasi pendapat yang empiris)

Setelah masanya Max, sosiologi pers tidak hanya terbatas pada persuratkabaran, tapi juga berkembang pada retorika, radio, dan film. Dengan perkembangan itu, akhirnya muncul sebagai ilmu baru yang disebut publisistik (offentliche aussage : pernyataan publik) oleh Walter Hagemann (1966). Menurut Hageman, publisistik adalah ajaran tentang pernyataan umum mengenai isi kesadaran yang actual (die lehre von der offentliche aussage aktueller bewustseinsinhalte). Kemudian E. Dofivat mensistematiskannya (1968), menurutnya, publisistik adalah segala usaha menggerakkan dan membimbing tingkah laku publik secara rohaniah (geitstige unterrichtung und leitung). Menurut Dofivat ada 6 unsur pokok publisistik, yaitu :

  1. Offenlichkeit (ditentukan dan ditujukan pada publik)
  2. Aktualitet (actual)
  3. Gesinnung (didasarkan pada norma dan ideologi)
  4. Uberzeugung oder kollectieve austichtung (dengan cara persuasi atau koersi kolektif)
  5. Menggunakan bentuk pesan dan pernyataan yang jelas dan mengesankan.
  6. Die publizistische personlichkeit (digerakkan oleh orang-orang yang mempunyai karakter dan menjiwai misi yang diembannya).

Perkembangan Ilmu Komunikasi di Amerika melalui tahapan-tahapan jurnalistik dan retorika.

Perkembangan dari arah jurnalistik baru ilmu persuratkabaran saja. Menurut Weaver and Gray (1980), sejarah jurnalistik di USA terbagi dalam empat masa, antara lain :

  1. Benjamin Franklin (1700-1870). Jurnalistik sebagai seni.
  • Di USA dan Eropa dipelajari dengan sistem magang.
  • Franklin memulai karirnya di Boston kemudian di House of Coston (London) lalu diikuti oleh penulis lain dan menyempurnakan keahlian menulisnya pada pendidikan “Liberal Arts” di universitas swasta. Pada masa itu, penelitian jurnalistik dan dokumentasi kurang sistematis dan tidak ilmiah. Studi umumnya hanya berkisar tentang persuratkabaran dan penerbitannya.
  • Pada 1810, J. Thomas (The History of Printing in America)

2. Robert Lee (1870-1930). Jurnalistik sebagai bagian dari ilmu sosial dan belum berdiri sendiri.

  • Mulai diajarkan secara formal di universitas.
  • Merupakan bagian dari departemen bahasa (Inggris)
  • Yang diajarkan masih hal-hal yang bersifat teknis sehingga kurang dihargai oleh para akademisi.
  • Dari program ini lahir doktor yang merupakan tokoh jurnalistik yaitu : Nafsiger, Siebert, dan Casey.
  • Pada masa ini, lahir buku karangan Harold Lasswell (Propaganda Technique : The World War) merupakan studi pertama yang menganalisa isi media dengan metoda yang sistematik dan ilmiah.

3.  Harold Lasswell (1930-1950). Jurnalistik sebagai Komunikasi Massa.

  • Pada masa NAZI Jerman, digunakan untuk propaganda.
  • Hal ini menarik perhatian Lasswell sebagai sarjana ilmu politik untuk menyusun disertasi  tentang teknik mempengaruhi pembentukan pendapat dan sikap publik.
  • Sumbangan terbesarnya pada ilmu komunikasi : Metodologi.
  • Lasswell merupakan orang pertama yang menggunakan metode analisisnya tentang struktur dan fungsi komunikasi; merintis jalan bagi penelitian-penelitian komunikasi selanjutnya dalam masyarakat.
  • Perhatian pada efek media massa segera dikembangkan oleh Carl I. Hovland dan dua orang Jerman yaitu Paul Lazarsfeld dan Kurt Lewin.
  • Formula Lasswell : “who, says what, in which channel, to whom, with what effect”

4.  Wilbur Schramm (1950). Komunikasi Massa sebagai ilmu komunikasi.

  • Schramm sebagai sarjana bahasa Inggris tertarik ilmu komunikasi karena ditugaskan membenahi departemen komunikasi massa di Universitas IOWA, lalu ia memimpin penelitian komunikasi di Stanford, West Centre.
  • Schramm merintis penelitian efek media pada pendidikan, pembangunan nasional, komunikasi pedesaan, dsb.
  • Schramm banyak menulis pada majalah atau penerbitan, sehingga mempertemukan jurnalistik dengan speech.[1]

Perkembangan dari arah Speech Communication (komunikasi berpidato).

Dilewat saja, tidak usah ditulis yah, diserap aja dari kertas mentahnya. ^^

 

Dasar Ilmu Komunikasi

Komunikasi sebagai perilaku insani vs komunikasi sebagai ilmu

Tanpa belajar ilmu komunikasi, manusia sudah berkomunikasi. Tapi sebagai ilmu, komunikasi memiliki aturan-aturan ilmiah seperti halnya ilmu-ilmu sosial lainnya. Komunikasi sebenarnya tidak semudah yang kita duga, kegagalan memahami pesan akan mengakibatkan kesalahpahaman, perselisihan, bahkan bencana (Seperti yang terjadi saat AS Jenderal McArthur menyalahartikan arti kata mokusatsu yang diucapkan pemerintah Jepang saat AS memberikan ultimatum. AS menganggap Jepang mengabaikan (no comment) ultimatum tersebut, padahal arti kata sebenarnya “kami akan menerima ultimatum tuan tanpa komentar”. Namun apa hendak dikata, AS telanjur ‘menghadiahi’ kata-kata tersebut dengan menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.[2])

Mengapa kita harus susah payah mempelajari sesuatu yang kita lakukan setiap hari? Kita juga toh tidak mempelajari bagaimana cara makan atau berjalan atau cara tidur. Terbiasa berkomunikasi sebenarnya belum berarti memahami komunikasi. Menurut Porter dan Samovar, memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi itu berlangsung, mengapa itu terjadi, akibat-akibat apa yang terjadi, dan akhirnya apa yang kita perbuat untuk mempengaruhi dan memaksimumkan hasil-hasil dari kejadian tersebut.

Empat Fungsi Komunikasi menurut William I. Gorden[3]

1.   Sebagai Komunikasi Sosial

Komunikasi penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi-diri, kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain/ bekerja sama dengan anggota masyarakat. Implisit dalam fungsi komunikasi sosial ini adalah fungsi komunikasi kultural. Seperti kata Edward T. Hall, “budaya adalah komunikasi” dan “komunikasi adalah budaya”.

2.  Sebagai Komunikasi Ekspresif

Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan tersebut terutama dikomunikasikan melalui pesan-pesan nonverbal. Emosi-emosi juga dapat disalurkan lewat bentuk-bentuk seni seperti puisi, novel, musik, tarian, atau lukisan. Di sisi lain, komunikasi ekpresif misalnya mahasiswa memprotes kenaikan harga BBM dengan cara mogok makan, membakar ban, bahkan memotong urat nadinya sendiri. Itulah rangkaian ekspresi dalam komunikasi yang lebih diungkapkan melalui pesan nonverbal.

3.  Sebagai Komunikasi Ritual

Komunikasi ritual biasanya dilakukan secara kolektif. Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dan sepanjang hidup, yang disebut para antropolog sebagai rites of passage, mulai dari upacara tujuh bulanan, kelahiran, sunatan, ulang tahun, pertunangan, siraman, pernikahan, ulang tahun perkawinan, hingga upacara kematian. Dalam acara-acara itu orang mengucapkan kata-kata atau menampilkan perilaku-perilaku simbolik. Mereka yang berpartisipasi dalam bentuk komunikasi ritual tersebut menegaskan kembali komitmen mereka terhadap tradisi keluarga, komunitas, suku, bangsa, Negara, ideologi, atau agama mereka. Ritual sering merupakan peristiwa sederhana. Misalnya sebelum berangkat kuliah, terbiasa berpamitan pada orangtua seraya mencium takzim tangan mereka, hal itu berfungsi sebagai perekat hubungan antarpribadi.

Manusia memang bukan makhluk rasional semata-mata. Kalau selamanya rasional, untuk apa membuat upacara-upacara yang menghambur-hamburkan uang? Itu semata dilakukan untuk ritual yang menjadi kebutuhan manusia. Terkadang komunikasi ritual ini bersifat mistik dan mungkin sulit dipahami oleh orang-orang di luar komunitas tersebut.

4.  Sebagai Komunikasi Instrumental

Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum : menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan, dan juga menghibur. Intinya : persuasi. Kemampuan berkomunikasi berperan penting untuk mencapai posisi puncak dalam manajemen.

Proses Komunikasi

Komunikasi sebagai suatu proses yang secara sederhana melibatkan komunikator, komunikan, pesan, saluran, dan efek. Secara umum proses komunikasi mensyaratkan adanya kesamaan-kesamaan makna yang dipengaruhi oleh kesamaan rujukan dan pengalaman.

Pakar komunikasi kontemporer di Amerika yang tergabung dalam The United Aristotelian Description of Communication membagi komponen komunikasi menjadi sepuluh komponen, yaitu :

  1. Source, yaitu sumber atau individu yang menyampaikan pesan. Boleh jadi, menurut Mulyana (2004:140), seorang individu (berbicara, menulis, menggambar, menulis isyarat) atau suatu organnisasi komunikasi (seperti sebuah redaksi surat kabar, penerbit, stasiun televisi, atau studio film).
  2. Encoding, yaitu proses penyandian atau pengalihan pikiran ke dalam lambang-lambang.
  3. Message, yaitu pesan yang merupakan seperangkat lambang-lambang yang bermakna yang disampaikan oleh komunikator. Lambang-lambang berupa pesan verbal maupun nonverbal.
  4. Channel, yaitu media atau saluran tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan, saluran tersebut berupa media cetak atau elektronik.
  5. Noise, yaitu gangguan yang menerpa proses komunikasi sebagai akibat diterima atau tidaknya pesan pada diri komunikan.
  6. Receiver, yaitu penerima pesan dari komunikator. Komunikan ini bisa sendirian atau sekelompok orang. Bahkan, suatu komunitas tertentu, seperti pendengar radio, penonton televisi, atau pembaca koran.
  7. Decoding, yaitu proses penangkapan atau penerimaan pesan oleh komunikan dari komunikator. Proses decoding ini memerlukan kesiapan komunikan untuk menerima pesan apa pun dan dalam kondisi apa pun.
  8. Receiver response, yaitu tanggapan atau seperangkat reaksi pada komunikasi setelah diterimanya pesan. Hal ini berkenaan dengan reaksi spontanitas yang dirasakan oleh komunikan.
  9. Feedback, yaitu umpan balik atau tanggapan komunikan kepada komunikator. Umpan balik ini berasal dari dalam diri atau dari luar.
  10. Context, yaitu situasi atau lingkungan yang mencakup rasa persahabatan atau permusuhan, formalitas atau informalitas, situasi serius atau santai. Situasi yang diperbolehkan pada saat wisuda mungkin tidak diperbolehkan ketika kita berada di rumah sakit, atau di masjid.[4]

Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar berikut :

Model Komunikasi Devito


[1] Catatan “usang” perkuliahan Pengantar Ilmu Komunikasi semester 1.

[2] Lihat Soelaeman B. Adiwidjaja. “Sumber Kesalahpahaman”. Pikiran Rakyat, 13 Desember 1999.

[3] Deddy Mulyana. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Bandung:ROSDA, 2008, hlm. 5-38.

[4] Ujang Saefullah. Kapita Selekta Komunikasi (Pendekatan Budaya dan Agama). Bandung:Simbiosa Rekatama Media., 2007, hlm.6-7.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s